
" Mas...kamu ngga salah kok, adek yang ngga berguna lagi Mas, a-aku...aku ngga bisa hamil lagi Mas," ucapnya buat ku bagaikan tersambar petir disiang bolong.
" maksud adek apa? Jangan bercanda sayang,
kamu aja bisa ngelahirin Ratisya," ucapku kembali mengelus kepalanya.
" iya adek bisa ngelahirin Ratisya tapi itu dulu, Mas,
saat rahimku belum diangkat Mas," ucapnya menangis.
Dengan kalimat ucapannya itu, mampu kembali mengagetkan ku, tapi langsung ku mencoba memeluk menenangkannya.
" tenangkan diri adek dulu, setelah adek tenang, Mas minta adek buat jujur dan cerita perihal semuanya," ucapku lembut penasaran tapi ku coba bicara pelan pelan.
" jadi gini mas....sebenernya selama ini aku mengidap kanker rahim," ucapnya lirih namun masih mampu tuk ku dengar bahkan mampu mengejutakanku.
" kanker rahim?" tanyaku yang dianggukui dan malah disenyuminnya yang langsung membuatku membawanya ke dalam pelukan.
Aku merasa seperti lelaki lemah dan cengeng saat ini bahkan mungkin bisa jadi selamanya jika terus didekat kan dengan Silla.
Karena berulang kali aku menangisi perihalnya, dan kini pun sama berkali kali butiran air mata menetas di ujung pelopakku. Searasa jadi lelaki yang ngga berguna, yang ngga ada yang bisa aku bantu lakukan dengan masalah yang menimpanya.
" mas jangan nangis, yaudah deh kalo mas masih nangis ngga usah aja ya...aku lanjutin ceritanya," candanya yang dibuat buat karena aku tau dia hanya menunjukan wajah sok tegarnya.
" iyaiya mas udah ngga nangis lagi kok," ucapku berbohong mencoba tegar.
" lanjut ya.....
mas inget ngga sewaktu aku mual mual pagi hari kurang lebih 2 bulan sehabis ngelahirin Tisya? yang malah anehnya mas beranggapan aku hamil waktu itu, padahalkan kita lagi berhubungan baru sekali tepat malamnya itu, sehabis aku nifas.
Hehheee jujur ya mas, waktu itu aku juga berpikir sama kayak kamu, apa aku hamil tapi saat itu aku takut ngecewain kamu. Jadilah waktu itu aku titipin Tisya sama Rasya ke rumah bunda buat periksa ke dokter kandungan dan kata dokter ini bukan hamil,
__ADS_1
tapi malah dokter itu nyaranin aku periksa ke dokter spesialis kanker.
Yaudah deh dengan penuh keraguan dan ketakutan sekaligus penasaran, setelah itu aku periksa ke dokter kanker tersebut, dan dia nyatain kalo aku positif kanker, ternyata mual mual saat itu salah satu gejala kanker, Mas,
Ohh ya, Mas, dulu bunda sama nenek, juga pernah terkena kanker rahim tapi alhamdulilah bunda bisa di sembuhkan, tapi kalo nenek meninggal karena operasi saat itu, dan salah satu penyebab kanker itu faktor genetik atau faktor keturunan, Mas,
Dan dokter nyaranin aku buat operasi, untungnya saat itu baru stadium dua yang artinya belum menyebar ke organ lain, sehingga setelah itu, dilakukan operasi pengangkatan seluruh rahim, yaudahh itu aja, hehe " ucapnya seolah itu biasa dan bisa jadi candaan.
Tapi langsung ku dekap dia dalam pelukan rasa kantuk dan capek bercinta tadi seketika hilang berubah jadi tangis menyedihkan hanya dari suaraku bahkan Silla masih mempertahankan diam dalam kepura puraan tegarnya.
" aku ngga papa kok mas," ucapnya berusaha menenangkanku.
"....Untung banget ya Mas saat itu aku ngga bawa anak anak mungkin gegara aku ngga izin ke kamu jadilah pulang dari dokter aku merasa pusing banget dan berakhir kecelakaan." ucapnya masih bisa cengengesan.
" terus keadaan adek gimana sekarang?" tanyaku penuh kawatir.
" hmm ya kayak gini mas, seperti yang kamu lihat,
aku sekarang bukanlah wanita sepenuhnya lagi....
kita sama sama ngga punya rahim, hahaha menyedihkan sekali ya akuu...."
ucapnya sembari tertawa mengenaskan yang langsung ku rengkuh dia dalam dekapan eratku.
Ngga peduli keadaan telanjang kami, aku masih aja mengeratkan pelukan ku padanya sampai kepura puraan tegarnya hilang berganti dengan suara tangis menyedihkan darinya.
Aku tau dia wanita lemah apalagi dia melewati ini semua sendirian tanpa ada dukungan siapapun. Karena kami semua hanya tau jika Silla dulu udah ngga ada.
" Mas aku bukan wanita seutuhnya sekarang,
aku ngga punya rahim hiks hiks..." ucapnya begitu memilukan.
__ADS_1
" ssstt....kamu tetap akan jadi wanita seutuhnya selamanya walaupun sekarang rahim kamu udah diangkat, tapi satu hal yang harus kamu ingat dan syukuri jika kamu pernah memiliki rahim disini,," ucapku sembari mengelus perut bawahnya.
"...walaupun tuhan hanya meminjamkan rahim sebentar ke kamu, tapi kamu harus bersyukur karena tuhan masih memberikan waktu pada anak kita selama sembilan bulan, bersemayam disini dulu,
kamu jangan pernah salahkan tuhan atas semua ini, apalagi nyalahin diri sendiri karena ini semua udah takdir,
Aku cinta sama kamu itu tulus ada disini, di hatiku, aku bakal menerima apapun dari kamu, yang tuhan telah berikan, karena kamu wanita paling sempurna bagiku, hanya kamu yang pantas mendampingku, ngga ada yang pantas selain kamu, sayang," ucapku sambil meletakkan kedua telapaknya di dada telanjangku tuk membuktikan bahwa masih ada dan selalu akan ada getaran degub jatungku yang selalu maraton jika berada di dekatnya.
" aku sayang banget mas sama kamu, tapi aku juga bakal ikhlas kok kalo kamu mau nikah lagi, lagi pula melihat keadaanku seperti ini,
aku yakin kamu masih muda pasti kamu menginginkan keturunan lagi dan aku mengerti akan hal itu makannya aku ikhlas kamu menikah lagi, karena aku cuma bisa ngasih satu keturunan buat kamu,
hahaha menyedihkan sekali ya Mas," ucapnya sambil tertawa pilu.
" sssstt sampai kapan pun aku bakal teguh dalam komitmen ku, buat nikah sekali seumur hidup apapun itu keadaanya, kalo masalah anak aku ngga banyak nuntut, aku di berikan Rasya sama Tisya aja, aku udah sangat bersyukur dan bahagia.
Dan selalu inget ucapanku ini dek, bahwa kebahagianku ngga bakal bertambah dengan hadirnya anak anak kandungku di rahim wanita lain, memang bohong kalo aku ngga menginginkan banyak anak kecil di rumah ini, aku ingin rumah ini ramai dengan tawa anak kecil tapi bukanlah sebagai anakku tapi kan jadi cucu kita kelak, sayang,"
ucapku yang membuatnya tersenyum haru yang langsung menghadiahiku dengan pelukan erat darinya yang ku balas ngga kalah erat buat ngebuktiin kalo aku memang ngga bisa kehilangannya dan ngga mungkin meninggalkannya. Karena kami adalah satu,
satu yang ngga bisa dipisahkan.
" Hanya percuma jika wanita wanita lain itu datang..... karena tetap namamu yang akan terngiyang menghantui pikiran, hati, dan jiwaku. I love you sayang," ucapku penuh kasih dan cinta.
" I love you too Mas," ucapnya terus berada di dekapanku untuk menyalurkan cinta dan kerindunan.
Oee...oee
Hingga akhrinya suara nyaring Tisya mampu membuyarkan pelukan hangatnya yang membuat kita jadi terkekeh geli.
Sebelum aku melepaskan pelukan aku merasakan basah di tanganku yang berada tepat di bawah perutnya.
__ADS_1
" Dek, kok tanganku ngerasa kayak basah basah gimana gitu..." ucapku khawatir tanpa memindahkan posisi tanganku semula.
Haduhh..apalagi yang terjadi sama Silla😟