
Selama berjalan masuk masjid bagian akhwat, Ayya masih aja kesal dan diam teringat ucapan kakaknya yang terkesan memberikan harapan lebih buat Kak Bina, membuat wanita disampingnya itu merasa tidak enak hati melihat perubahan wajah Ayya.
"...dek, adek kenapa diam aja?" tanya Sabrina.
" aku ngga kenapa kenapa kok, kak.." ucap Ayya yang terus menunduk.
Setelah mendapat duduk yang nyaman, meraka langsung mulai mempersiapkan buku catatan dan bolpoint untuk mencatat kajian tersebut agar tidak lupa, bagaikan angin lalu.
Jangan lupa ya klo ke kajian bawa buku catetan, biar ilmunya ngga berterbangan sia sia ke awan awan, kan sayang klo sampek lupa, hehehe, cuma sakadar menggingatkan
....
Karena kajian belum di mulai, akhirnya mulai lah pembicaraan singkat antara keduanya untuk mengisi kegabutan.
"hmmm....dek aku boleh tanya ngga?" tanya Sabrina yang hanya diangguki Ayya.
" Ayya tidak suka sama kakak?" tanya Sabrina yang sekali lagi diangguki Ayya.
Setelah melihat jawaban jujur nan polos dari Ayya membuat Sabrina tersenyum kecut.
"....klo boleh kakak tau kenpa Ayya ngga suka sama kakak?"
__ADS_1
" aku ngga suka sama kak Bina, soalnya kak Bina suka kan sama Kak Zaed? Padahal kan kak Zaed udah miliknya kak Silla, kak," jujur Ayya dengan suara pelan dengan terus menunduk.
"...emang muka kakak, terlihat banget ya kalo suka sama kakak kamu?" tanya Sabrina yang hanya diangguki Ayya.
" Ayya jujur sekali ya, kakak suka dengan orang yang jujur, tapi sayang kak Zaed itu belum menikah dan belum adanya ikatan yang telah mengikatnya, jadi Kak Zaed itu belum menjadi milik siapa pun.
Jodoh itu Allah yang ngatur, mungkin jodoh kak Zaed bisa aja Kak Silla, tapi itu masih dengan kata mungkin, Allah maha membolak balikan hati, klo memang Kak Zaed udah dijodohkan oleh Allah dengan orang lain kamu ngga bisa apa apa dan bahkan kakak pun juga tidak bisa berbuat apa apa."
ucap Sabrina lembut sambil mengusap kepala Ayya yang tertutup jilbabnya.
Ayya hanya menganggukan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi omongan Sabrina.
drrrrtt...
" ***.." ucap Sabrina yang terpotong oleh suara disebrang sana, yang membuatnya langsung menangis.
"...kakak ngga papa?" tanya Ayya.
-----------------------
Setelah mendapat kabar dari pembantunya Sabrina bahwa Ayah Sabrina itu terkena serangan jantung mendadak, aku dan Ayya tidak tega untuk meninggalkan Sabrina seorang diri di Rumah sakit, apalagi sekarang dalam keadaan yang sangat kacau, dia terus saja menangis sembari menunggu dokter yang masih memeriksa ayahnya di dalam.
__ADS_1
" Sabrina sudah jangan menangis, kamu harus percaya klo ayah mu pasti baik baik saja," ucapku jongkok tepat di depan kursi yang ia duduki.
"...Zaed aku takut, aku cuma punya ayah, aku ngga punya keluarga lagi, klo sampek ayah ngga ada, aku cuma sendiri Zaed..." ucapnya terus terisak sembari menutup wajahnya dengan tangannya yang terus terisak.
" Sabrina kamu masih ada aku, aku bakal selalu ada sama kamu, kamu harus kuat ya, berdoa yang terbaik untuk ayah mu," ucap Zaed terus menyemangati Sabrina.
Wanita yang berada didepanku pun mulai tenang mulai menampakan wajahnya, dia langsung menatap diriku yang masih jongkok tepat didepan kursinya,
yang langsung ku sambut senyum tulus ku padanya sebagai senyuman yang mengisyaratkan bahwa ngga bakal terjadi apa apa.
Ketika aku menatapnya, wajah yang cantik tak luntur di paras wajahnya walau air mata masih berbekas di pipinya, aura ketenangan pun terpancar pada wajah tenangnya yang membuat siapa pun yang melihat tak akan bosan, tatapanku seketika terbuyar dengan ucapannya.
" Zaed, apa kamu serius untuk selalu ada di sampingku.." tanya dirinya, yang ku langsung ku angguki dengan penuh keyakinan.
" yaa aku akan selalu menjagamu, aku janji padamu," ucapku tulus dengan senyum agar dia percaya akan ketulusan omonganku.
🌻🌻🌻🌻
#18 klo kalian ngeh itu ada kesalahan Sabrina waktu manggil Zaed dengan sebutan Rifqi, aku udh revisi trs yang terkirim malah jd doble, pdhl udh aku hps yg salah tp ttp ngga bisa kehapus ke kalian, mohon maaf🙏🙏
Jangan lupa like, vote and comment, terimakasih💓
__ADS_1