
Ku langkahkan kaki ku di pekarangan mertuaku, anehnya tidak ada keramaian seperti tadi ketika aku akan pergi lari saat itu masih terdengar gurauan para kakek di kebun, tapi sekarang mendadak sepi dan lebih anehnya lagi, mobil para orang tuaku sudah menghilang di depan pekarangan rumah hanya tersisa mobilku yang masih berada di tempat semula.
Langsung aja ku buka engsel pintu yang ternyata tidak terkunci.
" Rasya....Tisya...kalian dimana?"
ucapku sedikit berteriak di dalam rumah sebab aku bahkan tidak menemukan satu orang pun di dalam rumah ini.
Hingga akhirnya bik Sumi keluar dari arah dapur dengan wajah cemas.
" kemana bik orang orang? Kok sepi banget sih?" tanyaku pada Bi Sumi
" hmm...itu den, ibu, bapak sama yang lainnya ke rumah sakit, den" balas bibi
" ke rumah sakit? Siapa yang sakit bi?" tanyaku mulai khawatir.
" itu den, non tisya tadi mutah mutah,"
ucap bibi yang membuatku sangat terkejut dan langsung berlari dalam kamar buat ngambil kunci mobil dan dompet.
Tidak ada pikiran mau mandi tak ada pikiran buat sekedar ganti baju karena di pikiranku saat ini hanya Tisya, putri kecilku.
" Bi, tolong jaga rumah ya, aku mau ke rumah sakit sekarang..."
ucapku terburu buru dengan setelan baju polos agak basah karena keringat dan hanya celana training serta sepatu lari ku yang masih menempel di sepasang kaki.
Dalam perjalanan aku menghubungi ayah, buat menanyakan rumah sakit yang sekarang mereka datangi, dan untungnya saat itu ayah langsung terhubung dan memberitahukan RS tersebut.
Dan akhirnya mobilku pun telah sampai di parkiran rumah sakit yang telah di kirimkan ayah. Saat aku akan keluar dari pintu mobil kebetulan sekali aku bertemu dengan Pak Tono yang langsung ku dekati dia dengan langkah lari.
" Pak, Tisya di rawat di ruang apa?" tanyaku pada pak Tono.
" di ruang xxx, den" balas pak Tono yang kuangguki.
" Bapak mau pulang?" tanyaku padanya.
" iya den, mau ngambilin keperluan Non Tisya, Den Rasya, sama keperluan bapak ibu..." ucap Pak Tono.
" apa Tisya harus menginap pak?" ucapku tambah khawatir yang dianggukinya.
" yaudah pak, hati hati di jalan, saya masuk dulu..." ucapku langsung berlari ke dalam rumah sakit dan mencari ruangan yang tadi di katakan Pak Tono.
Sesampainya di ruang itu dan akhrinya aku bisa melihat semua orang yang ku kenal berada di luar ruangan tersebut.
Ku cepatkan langkah kaki ku menuju ke arah mereka. Dan sesampainya di sana aku langsung menetralkan nafasku yang sudah ngos ngosan sedari tadi terus berlari.
__ADS_1
" Zaed..." ucap ayah kaget dengan kedatanganku.
" Gimana yah, keadaan Tisya?" ucapku cemas dengan masih menetralkan napasku.
" Dia udah nggapapa kok, tadi Tisya mutah mutah sekaligus diare, tapi untungnya nggapapa kata dokter, Tisya hanya alergi susu sapi dan dia harus nginep beberapa hari disini buat mastiin keadaan Tisya membaik lagi.."
jelas ayah yang membuatku sedikit bernapas lega, dapat ku lihat sekarang putri kecilku tertidur dengan selang infus yang menghiasi di tangan kecilnya...
" ma..maafin ibu ya Zaed, gegara ibu kasih Tisya susu formula malah jadi hampir ngebahayin cucu ibu sendiri." ucap ibu bergetar dengan terus menangis.
" udah nggapapa bu, lagian Tisya udah nggapapa kok, emang asi Silla udah habis bu?" tanyaku yang mendapat anggukan ibu.
" yaudah bu, titip Tisya dulu, aku pengen tanya langsung keadaan Tisya ke dokter..." ucapku yang diangguki mereka semua.
...
" Gimana dok, keadaan anak saya?" tanyaku pada dokter yang menangani Tisya.
" Gini pak, anak anda punya alergi terhadap laktosa dalam susu sapi, menurut saran saya karena umur bayi anda masih tergolong sangat kecil maka sebaiknya masih tetap mengonsumsi asi karena sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, walaupun protein dalam susu sapi lebih tinggi tetapi asi tetap lebih baik, lagi pula bayi anda juga alergi dengan laktosa dalam susu sapi jadi saya sangat sarankan lebih baik bayi bapak tetap mengonsumsi asi,"
jelas dokter perempuan di depanku yang membuatku hanya mampu tertunduk lesu.
" maaf dok..hmm gini, istri saya lusa kemarin kecelakaan di dekat jurang dan menurut perkiraan istri saya sudah tiada karena sampai saat ini belum ditemukan, apakah ngga ada lagi susu yang bisa anak saya konsumsi selain asi?"
ucapku menjelaskan detail, supaya dokter tersebut paham dengan keadaan yang dialami Tisya biar bisa melakukan tugasnya dengan baik, yang malah membuat dokter di depanku tersebut terkejut.
" iya nggapapa dok, jadi gimana dengan nutrisi anak saya?" tanyaku to the point.
" hmm...jadi begini pak, karena bayi anda alergi dengan laktosa dalam susu sapi saya anjurkan untuk memberinya susu kedelai, karena khasiatnya susu kedelai dan susu sapi tidak ada bedanya buat pertumbuhan dan perkembangan bayi..."
ucap dokter tersebut yang langsung ku angguki paham.
Setelah selesai tanya tanya ke dokter, aku langsung melangkahkan kaki ku di depan ruang inap bayiku, yang terlihat ayah dan bunda yang berada di luar sementara ibu dan ayahku berada di dalam bersama dengan Rasya juga, karena kata dokter jangan banyak banyak yang jenguk supaya bayi ku tidak terganggu dalam istrirahatnya.
" Gimana nak, apa kata doktet?" tanya pak Rahmad saat aku sampai di sana.
"....nggapapa kok yah, susu adek bisa diganti dengan susu kedelai," ucapku dengan senyum yang ku paksakan.
" ohh..syukurlah kalo begitu..." ucap bunda dan Pak Rahmad bebarengan.
Setelah itu ayah dan ibu keluar di dalam ruangan tersebut dengan Rasya di gendongan ayahku, yang langsung menerima uluran tangan Rasya untuk membopongnya dalam dekapanku.
" yah..atuk..." ( ayah ngantuk)
keluh Rasya dalam gendonganku.
__ADS_1
" mau di gendong Bunda? Biar ayah bersih bersih dulu, " ucap bunda karena aku masih mengenakan pakain lari ku tadi, bunda seolah ingin mengambil gendongan dariku tapi dibalas gelengan dan tangisan bukan amukan ya..cuma meneteskan air mata tanpa meraung yang membuatku malah menjadi tidak tega karena ngga biasanya anak ini menangis tanpa suara.
" udah bun, nggapapa yuk kak kita ke taman, titip adek ya bun, bu, yah," ucap ku yang dianggukinya dan mulai melangkahkan kakiku di rerumputan taman yang begitu asri.
Sesampainya di taman aku memilih bangku yang teduh yang berada tepat di bawah pohon sambil melihat lalu lalang orang yang datang dan pergi dalam rumah sakit.
Dan akhirnya wanita bercadar dengan pakaian serba hitam dengan mendorong tiang infus dapat mengalihkan pandaganku sekaligus Rasya yang mencoba meronta dari pangkuanku yang tadinya sudah mau tertidur tapi malah berjalan ke arah wanita tersebut dengan terus memanggilnya dengan sebutan Bunda, saat mulai kuturunkan dalam pangkuanku.
" UNDA...."
teriak kencang Rasya yang mampu mengalihkan pandangan wanita tersebut tapi dirinya hanya berdiam diri di tempat dengan menoleh ke arah Rasya
" sayang itu bukan bunda..."
ucapku menengkan karena dia terus memanggil perempuan itu dengan sebutan bunda sambil terus menangis karena tidak ada respon dari wanita tersebut.
" Unda...angen..." ucap Rasya sambil akan berlari ke arahnya tapi langsung ku dekap dalam pelukanku tepat di depan wanita tersebut.
" maaf, mungkin dia mengiranya kamu bundanya karena kamu juga pakai cadar, soalnya bundanya udah tenang di sisi-Nya, jadilah mungkin sekarang dia kangen.."
jelasku yang mendapat anggukan dan tatapan yang sulit di artikan darinya.
Dari matanya mirip sekali dengan mata Silla hanya bedanya mata tersebut polos tanpa riasan, ngga mungkin kalo Silla.
Juga ngga mungkin kalo dia Silla mengingat wanita itu mengenakan pakaian serba hitam karena biasanya Silla mengenakan pakaian berwarna cerah dengan masih tertutup cadar." pikirku
" aku permisi dulu ya, assalamualaikum..."
pamitku sambil mengendong Rasya yang masih mencoba melepasakan dalam dekapan.
Setelah itu ku coba tenangkan dengan bacaan ayat al qur'an yang membuatnya lebih tenang dan akhirnya menghantarkan dia menuju alam mimpi. Memang benar kekuatan al qur'an mampu menengkan jiwa dan pikiran.
Setelah mencoba menidurkan dia di sofa samping box bayi rumah sakit Tisya karena tadi ibu dan ayahku menyuruhku buat menggantikan runag Tisya ke ruang inap VIP biar lebih nyaman buat ngejenguk.
Ohh ya Ayah dan Bunda pergi keluar ke kantin rumah sakit buat cari makan, sebab, tadi ku paksa agar mereka makan terlebih dahulu karena aku tau dari tadi ayah dan bunda belum sarapan.
Kalo ayah dan ibu mereka sudah pamit pulang dulu buat menemani Ayya adek kecilku yang ada di rumah sendirian. jadilah di ruang ini hanya ada 3 nyawa, nyawaku dan nyawa kedua anak ku yang sudah berkelana di alam mimpi.
Ku elus pipi tembemnya Tisya yang masih terjaga di alam mimpi, rasanya ngga tega melihat bayi sekecil ini sudah merasakan tajamnya jarum infus, kalo bisa ia yang menggantikan ia pasti akan langsung maju tanpa pikiran panjang, tapi tak ada yang mampu ia lakukan saat ini selain hanya berdoa buat kesembuhan putri kecilku.
" sayang...kamu yang kuat ya, ayah selalu menjaga kamu, selalu disamping kamu, ayah bakal berusaha sekuat tenaga ayah buat membahagiakan kalian, walapun kelak tanpa adanya bunda tapi ayah sanggup berperan ganda untuk kalian, ayah akan terus berlatih buat bisa jadi ayah sekaligus bunda yang baik buat kalian, jadi ayah mohon cepat sembuh....
Jangan kecewakan ayah dengan menemui bunda, karena ayah ngga bisa hidup dengan salah satu dari kalian, biarlah bunda yang meninggalkan ayah sekarang, tapi ayah mohon dalam waktu sekarang jangan kalian yang meninggalkan ayah disini, di dunia yang penuh kegelapan tanpa hadirnya kalian,
love you, my little princess.." ucapku sembari mencium tangan kecilnya yang terpasang selang infus.
__ADS_1
💔