
Kini awan telah mengelap, mentari pun perlahan terbenam ke ufuknya, tiada bosan ku menyuapi putri kecilku yang sedari tadi ngga mau menelan susu kedelai yang ku suapkan lewat sedok kecil yang membuatku harus exstra bersabar agar sedikit demi sedikit asupan dapat masuk ke rongga pencernaannya.
" Maaf pak, sepertinya bayi anda tidak menyukai susu itu," ucap hati hati perawat yang ikut membantuku menyuapi Tisya.
" iya sus sepertinya dia ngga suka sama susunya, bagaimana ini dengan asupan anak saya, kalo dia ngga mau nelen susunya?" tanyaku sedih melihat kondisinya sekarang.
" tenang pak, untuk saat ini asupan bayi bapak terpenuhi dengan cairan infusnya," ucapnya yang membuatku menjadi bernapas sedikit lega untuk sekarang ini, hingga akhirnya dokter yang bertugas mengecek kondisi bayiku telah datang.
" bagaimana dok, kondisinya?" tanyaku saat dokter wanita itu selesai memeriksa.
" sudah lebih baik pak, daripada kemarin," ucap dokter itu yang membuatku sedikit bernapas lega.
" alhamdulilah, ohh ya dok, sepertinya anak saya tidak menyukai susu kedelai, setiap saya coba suapkan dia ngga mau nelen, cuma sedikit yang ketelen itu pun karena ngga sengaja masuk, dan yang lainnya malah keluar lagi dari mulutnya.." tanyaku.
" memang susu yang paling baik itu cuma asi pak, jadi kalo menurut saya coba bayi bapak carikan asi, saya juga punya kenalan dokter yang punya temen yang asinya berlebih jadi mau disumbangin, apa bapak mau? Kalo bapak mau saya bakal bantu bicaraain nya dengan teman saya," ucap dokter itu ramah.
"hm...begini dok, sejujurnya saya binggung, soalnya kalo misal bayi saya minum asi orang lain, jadi dia punya ibu susuan yang harus saya ketahui latar belakangnya, karena nanti akan menyangkut mahrom anak saya.." ucapku jujur.
" bapak tenang saja, temen saya itu orang agamis jadi menurut saya temennya juga agamis yang artinya tau agama, jadi mesti mereka paham dengan yang dipikirkan bapak, jadi gimana pak?
Mau atau tidak, soalnya asupan bayi bapak sekarang terpenuhi berkat adanya infus, dan ngga mungkin bakal di infus teruskan?"
ucapnya yang membuatku mengganguk paham.
" yaudah saya setuju, mohon bantuannya ya dok.." ucapku yang dibalas senyum ramahnya.
....
".....pak, ini asinya, tadi teman saya baru ngirim ke rumah sakit buat jaga jaga kalau ada bayi yang butuh," ucap dokter bercadar di depanku sambil menyerahkan sekotak penghangat yang isinya asi temannya.
" makasih ya dok, maaf dok apa saya bisa ketemu dengan yang punya asi ini? Karena ini nanti berhubungan dengan mahrom anak saya dok.."
ucapku sambil menerima sekotak itu.
" bisa pak, tapi kalau untuk sekarang sekarang ini dia sedang sibuk mengurus perceraiannya dengan suamainya, sepertinya dia sangat sibuk diwaktu waktu ini," ucap dokter yang ku angguki paham,
sejujurnya ingin bertanya lebih jauh perihal perceraian temannya, tapi menurutku itu ngga sopan dengan status aku hanyalah orang asing yang baru bertemu.
" jadi nanti bapak bisa ambil setiap pagi ke ruangan saya, berhubung rumah saya dekat dengan dia jadi saya bisa langsung ngambilnya pak," ucap ibu dokter muda tersebut.
" makasih ya dok maaf merepotkan, ucapkan juga terimakasih saya untuk teman anda dok, berkat bantuan kalian anak saya bisa meminum asi kembali, setelah kematian mendiang istri saya,"
ucapku sangat berterimakasih.
" iya sama sama, ngga merepotkan kok, pak,"
ucap lembut wanita bercadar itu.
Ya tuhan dulu aku mencampakan wanita bercadar sekarang aku di tolong wanita bercadar, maafkan lah aku yang bodoh ini tuhan..."
...
Setiap paginya seperti biasa aku mengambil asi di depan ruangan dokter itu, dan secara perlahan keadaan Tisya cukup membaik. Kini sudah tiga hari ia menginap di rumah sakit ini dan meminum asi orang lain tapi untungnya Tisya mau dan malahan doyan dengan asinya.
__ADS_1
Sama halnya dengan pagi ini aku berjalan ke ruangan dokter bercadar itu sambil menenteng kue buatan ibu yang khusus buat di berikan untuk dokter bercadar itu.
" tok..tok...tok...assalamualikum dok.."
salamku ketika akan memasuki ruangannya.
" waalaikumusalam masuk aja pak,"
ucap dokter tersebut yang langsung ku langkahkan kaki ku kedalam ruangannya dan akhirnya terlihat pula dia yang sedang membuka lembaran demi lembaran kertas yang menurutku itu data pasien.
Ohh ya dia adalah dokter spesialis kanker dan dia bernama Dokter Mawar.
" ini dok, titipan dari ibu saya untuk dokter dan teman anda " ucapku menyerahkan dua kotak berisi kue.
" makasih ya pak, ohh ya ini asinya,"
ucap dokter menyerahkan kotak pemanas kecil karena setiap aku ambil aku pasti juga menyerahkan kotak pemanas lain yang udah berisi dot bersih buat nampung asinya kembali.
" makasih ya dok, ohh ya siang ini Tisya bisa pulang, jadi sekalian saya ingin pamit.
Dok, boleh saya tau alamat teman dokter yang punya asi ini?"
" alhamdulilah kalau Tisya sudah boleh pulang,
gini aja pak mending anda yang ngasih tau saya alamat rumah bapak biar nanti temen saya bisa ke rumah bapak,
soalnya dari kemarin dia pengin berkunjung ke rumah bapak, kalau nanti dia belum berkunjung di rumah bapak, bapak ke sini aja buat ngambil asinya karena jadwal saya selalu sibuk jadi saya ngga bisa nganterin ke rumah bapak," jelas dokter itu setelah itu ku tuliskan alamat plus nomor telepon ku agar mudah untuk menghubungi nanti.
....
" yuk, kak mandi.." ucapku yang di balas anggukan malasnya sambil masih sibuk mengucek mata yang membuatku sangat gemas.
....
" yah, og unda ndak ketini?" tanyanya saat mulai ku sabuni sekujur kulit mungilnya.
" sebenernya, bunda sekarang sudah bertemu Allah, jadi sekarang bunda ngga bisa kesini lagi, jadi selamanya kakak sama adek, ayah yang bakal jaga. Karena Allah lebih sayang ke bunda daripada kita sayang ke bunda, jadi Allah pengin bunda buat segera kembali menemui Allah.." jelasku masih sibuk menyabuninya.
" tapi asya uga angen, asya pengen ketemu unda.." ucapnya yang membuatku ikut sedih.
" kita pasti bakal ketemu bunda lagi tapi ngga tau itu kapan, yang penting sekarang kakak jadi anak yang baik dulu, biar nanti kalo udah waktunya bertemu bunda, bunda bisa bangga ke Rasya karena punya anak tampan dan baik seperti kamu,"
ucapku yang diangguki dengan semangat dan itulah yang jadi kekuatanku selama seminggu ini setelah kepergiannya.
" nanti kita bisa pulang ke rumah," ucapku yang membuatnya bersorak hore.
" Horee..bisa main lagi" ucapnya yang membuatku ikut senang, karena dibalik kesenanganku terdapat kesenangan orang orang tersayangku.
Setelah itu ku angkat dia yang udah berbalut handuk yang telah menyelimuti tubuh basahnya.
" Bund, Bu, aku nanti titip anak anak ya aku pengin ke supermarket dulu beli berbagai perlengakapan buat mereka soalnya popoknya Tisya juga udah mau habis sekalian mau nyetok juga minyak sama bedaknya anak anak.." ucapku sambil memakaikan bajunya Rasya.
" biar ibu aja Kak, yang beli, besok ibu juga mau belanja bulanan," tawar ibu yang membuatku menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
" ngga usah bu, aku pengen biasain belanja, biar nanti bisa terbiasa belanja sendiri,"
ucapku yang di balas keempat orang tersenyum sedih kepadaku. Kok keempat? Ayah Rahmad, Ayahku, ibu, bunda, kalau Rasya memperlihatkan wajah ngga paham, ya kan masih kecil mungkin dia juga ngga paham...
" yaudah nggapapa, semangat ya nak, kamu pasti bisa hidup tanpa Silla, kami selalu ada jika kamu butuh kami," ucapnya yang ku balas anggukan dan senyum tulusku.
Setelah itu, ku langkahkan kaki ku ke mall bukan ke supermaket, soalnya aku juga pengen beli parfum yang biasanya istriku beli, dan sudah ku bawa parfumnya yang ada di rumah, karena sempat sebelum Tisya boleh pulang aku pernah pulang ke rumah buat ngambil baju ganti Rasya dan malah seketika itu terpana dengan kehadiran parfum Silla yang hanya itu saja merknya yang ia pakai selama menikah dengan ku.
Jadi buat nyetok parfum Silla dengan kapasitas yang banyak biar bisa dipakai bertahun tahun. Soalnya aku takut jika sudah puluhan tahun nanti parfum yang biasa di pakainya di hentikan atau di tiadakan dan di ganti yang baru, kalo misal itu yang terjadikan aku ngga bakal bisa mencium baunya yang bikin kangen buat selalu pulang ngga telat ke rumah.
Sudah dua kantong plastik besar yang ku tenteng yang berisi segala keperluan yang bakal di butuhin anak anak nanti mulai dari popok, sampo, sabun, minyak, bedak, padahal sih masih banyak di rumah tapi pengen aja beli, hingga uangku terkuras sampai puluhan juta.
Buatku sih ngga masalah toh..aku juga masih bekerja dan untuk apa uangku kalau bukan buat mereka, lagipula aku juga memiliki bisnis yang sangat lumayan sekaligus jadi guru, yang bisa terus nambah saldo tabunganku.
Kalo menurutku uangku sangat terkuras gegara beli banyak parfumnya Silla, tapi ngga papa daripada harus nahan kangen baunya.
......
Ku langkahkan kakiku ke rumah sakit yang masih sama dengan dua bulan yang lalu, saat Tisya di rawat gegara alergi susu, kini usia Tisya udah menginjak empat bulan yang masih meminum asi temen dokter bercadar yang masih ngga tau siapa. Sementara Rasya udah berumur tepat tiga tahun di bulan ini.
Sambil mengendong Rasya karena Tisya ada di rumah sama Ibu jadi ngga ikut.
" tok..tok...tokk...assalamualaikum dok," salam ku di depan ruangannya.
" waalaikumussalam sini masuk Rasya..."
ucapnya yang membuat Rasya girang melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut dan langsung menghadiahi dokter itu pelukan hangat yang di sambut uluran lembut di punggungnya yang membuatku tersenyum ikut bahagia.
" Rasya udah makan belum?" tanyanya.
" udah bu..." jawabnya.
Ngga tau siapa yang ngajarin dia panggilnya bu bukan tante udah di suruh panggil tante malah dia maksa buat panggil bu, mungkin gegara ibu dan bunda yang panggil Mawar dengan panggilan bu jadi ikut ikutan.
" Mawar ini aku bawain bekel pasti kamu belum sarapan kan?" tanyaku yang dianggukinya sambil terkikik yang masih bisa ku dengar cengegesannya. Ohh gegara dia ngga mau di pangil dok, jadi dia nyuruh aku buat panggil nama aja karena emang kita seumuran.
" huh..kebiasaan deh..nanti kalo sakit yang jadi dokter siapa?" omelku padanya, karena kita sekarang cukup dekat jadilah sudah menjadi sangat akrab.
" hehee...iyaiyaa..makasih ya..Zaed" ucapnya yang ku angguki.
"ohhh ya nanti kayaknya temenku mau ke rumah mu, jadi tunggu ya, aku udah kasih alamatnya ke dia kok," ucapku yang kuaangguki lagi.
" makasih ya war, udah bantu kita terus,"
" nggapapa, santai aja, kita kan juga sebagai umat muslim harus saling membantu, oh ya ini asi nya,"
"makasih.." ucapku
Setelah kepergianku keluar dari ruangan tersebut, aku langsung menuju parkiran yang malah ngga sengaja menabrak cewek yang tengah asik teleponan.
" maaf ya mba.." ucapku ketika melihatnya jatuh ke bawah.
" iy...eh Zaed kan?" ucap wanita itu yang langsung membuatku terpana.
__ADS_1
" Diana?"
maaf kalo ada yang ngga nyambung di kehidupan nyata, karena itu hanya fiktif belaka :)