BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#25


__ADS_3

Walau hati tlah berlabuh lama, dalam dermaga mu,


Walau cinta tlah ku persiapkan hanya untukmu,


Tapi dalam sekejap, hanya secuil kebenaran tlah mampu meruntuhkan segalanya,


Janjiku..kan ku usahakan rasa ini kan menghilang walau sakit kan jadi ancaman,


~Zaed


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Akhirnya sampai lah aku di sini, di kota yang calon istriku tinggali kami sempat chatan untuk ketemuan di sebuah taman yang sekarang sudah ku pijakki, sungguh aku tak menyangka jika Allah kan memudahkan segalanya.


Terlihat wanita yang telah ku tunggu sedari tadi telah muncul dengan balutan kain hitam panjang yang membalut utuh sekujur tubuhnya dengan di dampingi wanita berjilbab panjang di sampingnya dengan gendongan bayi di dekapannya.


Hatiku sungguh berdebar kencang saat dia mulai melangkah mendekat di sandaraan kursi yang mulai ku tempati.


Semangat!!!!!


Ku kuatkan mental agar semakin yakin perihal tujuan yang akan ku sampaikan kepadanya.


Mulai lah dia berjalan tepat di samping diriku, bentuk tubuhnya yang tetap sama seperti dulu, dengan tatapan mata indahnya yang terlihat memukau seperti sedia dulu kala.


Wajah putih mulusnya tetap cantik bercahaya yang masih menempel di paras ayunya. Namun seketika tubuhku tersentak ketika mendengar suara yang sungguh menggagetkan ku.


Ucapan itu membuatku yang langsung terdiam kaku sembari menterjemahkannya.


“ Sini mba, biar Rasya ku gendong,


Sini sayang,ohw…anak bunda,”


ucapnya ketika bayi yang berada di gendongannnya mengeliat.


“ An….ak?” ucapku masih terlihat bodoh untuk mencerna setiap ucapan yang di katakannya.


“ ya Zaed, dia anak laki lakiku yang bernama Rasya,” ucapnya begitu santai kepadaku.


Bagaikan tersegat listrik tubuhku hanya mampu diam membeku dengan tatapan merah yang sudah menahan kecewa dan kesedihan atas kebenaran yang ia ucapkan padaku.


“ Kamu sudah menikah?” tanyaku terlihat bodoh, ya mestilah dia sudah menikah dia aja udah punya anak, tapi mengapa otak ini sulit untuk mencerna dan menerima kebenaran sesungguhnya itu.


“ya seperti yang kamu pikirkan,” ucapnya yang begitu tenang.


“ Bagaimana dengan balasan mu waktu kita wisuda SMA? Apa kamu lupa?,”


ucapku lebih meninggikan suara yang langsung membuatnya menyuruh wanita yang dari tadi ada di sampingnya menjauhi kami dengan membawa bayi yang ada di gendongannya.


“ Maaf Zaed kamu terlamabat, aku lebih dulu dimiliki dan ditemukan oleh orang lain,”


ucapnya lirih namun masih mampu aku dengarkan.


“ Apa kamu bahagia?” ucapku melemah terkesan pasrah dengan tetesan air mata yang udah ngga bisa aku bending lagi.


Tapi cukup lama tak ada jawaban yang membuatku ingin melontarkan kata lagi, namun langsung ku urungkan ketika mulai mendengar ucapan yang terlontar di bibirnya.


“hmmm….ya pastilah aku bahagia,” ucapnya yang terdengar terbata bata dan meninggalkan bekas air di depan kain cadarnya.

__ADS_1


“….okelah kalo kamu bahagia, aku janji kan melupakanmu, selamat menumpuh hidup baru mu semoga kamu selalu bahagia Silla,


dan aku minta kamu pergi dari sini sekarang, karena hanya itu yang ingin aku bicarakan,”


ucapku dengan senyum getir di bibirku.


“ terima kasih Zaed, ku doakan agar kamu bisa segera mendapat wanita baik


Assalamualaikum….” Ucapnya akhirnya pergi.


“ waalaikumusalam…” ucapku sudah tak kuasa untuk menangis sejadi jadinya.


Ku tundukan kepalaku, ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, sekarang yang ku rasa hati ini sangat hancur sehancur hancurnya.


Hatiku merasa kecewa dengan penghianatan nya.


“ Tuhan, apakah ini jawaban istikhara ku? Apakah ini jawaban yang paling terbaik yang kau berikan?”


ucapku menadahkan kepala di atas langit yang masih terlihat cerah walau senja mungkin sudah akan meneggelamkan tubuhnya, langit pun terlihat begitu memesona dengan terbangan beberapa burung bebarengan yang sedikit lebih membuatku tenang.


Ku yakinkan bahwa inilah jawaban terbaik dari Sang Pemberi Kuasa. Ku pejamkan mataku menikmati setiap alunan angin yang sangat menenangkan hati dan jiwa.


“ HARUS KUAT, KAMU PASTI KUAT, ALLAH SUDAH MERENCANAKAN JALAN TERBAIK NAMUN BUKAN DENGANNNYA, mungkin dengan bidadari lain yang ku tak tau siapa gerangan,”


ucapku menyemangati untuk selalu positif thinking dengan segala yang Allah akan ujikan dan berikan.


Ku terus teguhkan hati untuk menerima kenyataan kalo ternyata dia sudah bahagia dengan bahtera rumah tangganya, tapi kenapa Rifqi dan keluarganya tidak mengatakaannya.


" ya Allah aku yakin, aku pasti bisa, bantu aku ya Allah buat melupakan perasaan ini," ucapku sadar jika aku harus segera melupakannya


Hingga terdengarlah lantunan adzan maghrib yang sangat indah mengenakkan telingaku, lantunan adzan itu dalam sekejap membuyarkan segala kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang ku alami hari ini.


“ ASTAGFIRULLAH..”


ucapku baru sadar jika dia sudah menjadi istri seseorang, jadi tak baik jika aku trus menyukainya.


Tapi tak tau mengapa ketika aku fokuskan untuk membuka setiap ikatan tali yang menali di sepatu ku,


aku merasa ada sesorang memperhatikanku yang ku tebak Silla, tapi ku hiraukan dan ku biarkan karena ngga baik juga membalas lirikan wanita yang telah bersuami.


“…ternyata wajah bayi yang ada di album tadi siang itu anaknya Silla bukan anaknya Rifqi tapi kenapa ngga ada gambar suaminya?" pikirku penasaran.


"ohh ya...makanya dia udah jarang main sosmed akhir akhir ini, ternyata alasannya karena dia udah punya anak jadi lah dia focus mengurusi bayi nya yang kayaknya umur satu tahunan,”


pikirku mulai sadar saat ku langkah kan di tempat wudhu.


" astagfirullah, kenapa juga aku harus mikirin kehidupan orang lain," ucapku tersadar jika tidak baik mengurusi hidup orang.


Setelah solat yang ku tunaikan, dan doa yang tlah ku panjaatkan,


entah kenapa diri ini merasa nyaman dan ingin menetap sedikit lebih lama di dalam masjid yang sungguh nyaman ini, dengan terus merapalan dzikir yang selalu ku panjatkan pada Allah swt.


Ku ucapkan dzikir tuk menenagkan hati, ku dalami, ku resapi setiap kata yang ku ucapkan, yang ku inginkan agar dzikir ini mampu membuatku tabah dan ikhlas atas segala yang sudah di jalan kan Nya.


Cukup lama bibir ini merapalakan setiap kata dzikir dan cukup lama menetap di dalam masjid hingga akhirnya terdengarlah bunyi telefon di gawaiku yang telah tercetak jelas nama Sabrina,


ku langkah kan kaki ku ke luar untuk menjawab telepon supaya ngga menggangu orang orang yang mengaji di dalam masjid.

__ADS_1


“ assalamualaikum sab,”


“ wa..ala..ikum..musalam zaed, “ ucapnya terbata bata dan terdengar suara tangisan yang cukup jelas di indera pendengaranku.


“ kamu baik baik saja kan Sab????” ucapku seketika kawatir mendengar tangisannya.


“ Zaed…ayah, Zaed, ayah udah ngga ada Zaed,” ucapnya yang terus menangis yang membuatku shock dan tambah panik membayangkan keadaannya sekarang.


“ kamu tenang…aku bakal langsung ke sana, kamu sabar ya tunggu aku,”


ucapku sambil menghentikan taksi untuk membawaku di bandara secepatnya.


“ tapii..urusan mu Zaed?” ucap Sabrina yang membuatku gemas bisa bisanya dalam keadaan seperti ini dia masih memikirkan urusanku.


“ udahlah kamu ngga usah pikirkan itu, yang penting kamu baik baik di sana ku usahakan secepatnya sampai,” ucapku yang langsung memutuskan panggilan sepihak, untuk secepatnya mengatur kepulanganku.


Akhirnya sampailah aku di kota halaman, ku pijakan kaki ku langsung di rumah sakit yang tadi sudah di kirimkan Sabrina.


Ku langkahkan kaki ku cepat dengan perasaan cemas dengan keadaan Sabrina yang sangat rapuh itu jika sudah mengenai masalah ayahnya.


Ku tambah kecepatan langkahku ketika melihat Sabrina sudah ada di pelukan yang ku duga itu bibinya.


“ Sabrina….” panggilku ketika sudah berada di dekatnya, dia alihkan pandangannya kepadaku dan akhirnya dia berlari memelukku.


Namun sesaat dia baru melepaskannya ketika sadar dengan tidak ku balas pelukannya tapi juga tidak ku tolak pelukannya.


“…..maaf Zaed” ucapnya menunduk.


“ iya ngga papa, ayok duduk kamu tenangkan dulu perasaanmu,” ucapku yang masih melihatnya menangis.


Ku dudukan diriku bersebelahan di dekatnya waau dekat namun masih ada jarak.


“ Zaed, aku sekarang beneran udah ngga punya siapa siapa lagi, aku sendiri….” Ucapnya terus menangis dalam menunduk dengan tepukan lembut bibi di punggungnya, yang mengisyaratkan ketenangan.


“kamu tenang aja, aku bakal selalu berada di dekatmu, aku bakal nikahin kamu,” ucapku yakin, yang malah meembuat kedua wanita di sampingku terkejut.


“hah…. nggomong aapaan kamu, jangan bercanda dalam keadaan seperti ini Zaed,” ucap Sabrina kesal sekaligus terkejut.


Ku langkah kan kaki ku untuk berada tepat di depannya, ku jongkok kan tubuhku di depanku dan ku tatap lembut wajah dan mata indanya.


“ Aku ngga bisa berkata romantis, tapi ku usahakan setiap kata yang keluar dari bibirku bukanlah sebagai candaan atau pun kebohongan, aku hanya ingin mengatakan….Maukah kamu menerima lamaranku? Maukah kamu menjadi istriku, Sabrina?”


ucapku penuh keyakinan karena aku sadar bagaimana rasa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, lagi pula aku juga sangat yakin jika Silla sudah bahagia dan aku harus menemukan kebahagianku tanpanya.


“ bagaimana dengan Silla?” ucapnya penuh kebingungan.


“ aku sudah tidak punya urusan lagi dengannya, saat ini aku sunnguh yakin bahwa aku ingin menikahi mu segera dan menjagamu selamanya,” ucapku penuh keyakinan dengan setiap kata yang terlontarkan dalam bibiku.


🌺🌺🌺🌺


Bagaimana? Bagaimana?


Jangan lupa vote, like dan koment.


Dan yang paling penting jangan lupa selalu menetap dirumah.


#stay at home

__ADS_1


#dirumahaja


__ADS_2