BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#51


__ADS_3

Walau jemari tak bisa bersalaman


Walau wajah tertutup akan penghalang


Dan jarak kan menjadi batasan


Namun semoga pintu maaf kan slalu terbuka lebar


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441💓


Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir dan bathin


" Bunda pulang dulu ya sayang,"


ucap Sinta sambil menyodorkan tangannya ke Rasya yang langsung memeluknya erat sambil terus menangis tanpa suara. Tapi tetesan air mata berkali kali jatuh di pelupuknya yang jika dilihat akan membuat iba.


" sayang lepasin...ya, bunda harus pulang ini udah mau adzan isya, besok lagi ya kita mainnya," ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukannya yang terlihat begitu erat.


" unda au ulang kemana? Umah unda isini, angan ingalin asa ama ade, ayah agi,"


ucapnya disela tangisannya yang membuat mataku ikut memanas, tapi terus ku tahan agar tak keluar.


" besok kita main lagi ya, sekarang bunda harus pulang," ucapnya sambil memaksa Rasya untuk melepaskan.


Ketika sudah terlepas Rasya malah langsung lari memeluk erat kaki ku dan seketika itu juga ku angkat dia dalam gendonganku, dia memeluk erat leherku dengan terus menangis.


" unda..jahat au ninggalin ita yah.." ucapnya sesengukan.


" sayang, bunda ngga jahat, kan memang dia bukan bunda Silla, dia Bunda Sinta, bunda kamu bunda Silla, ayah kan juga pernah bilang kalo bunda udah tenang sama Allah, nak.." jelasku penuh kelembutan.


" itu undaa yahh.." teriaknya terus menangis.


" kita harus terbiasa tanpa bunda,


selamanya kak Rasya, Dek Tisya cuma punya ayah, kita akan bahagia walaupun tanpa Bunda, ayah janji ayah akan berusaha agar jadi bunda sekaligus ayah yang baik untuk kalian," jelasku tak kuat tuk tak meneteskan mata, dan akhirnya aku pun larut dalam tangisanku.


" ndak au yahh...huu unda..." tangis Rasya yang ku dekap penuh kehangatan.


Hingga akhirnya sepasang kaki melangkah mendekatiku dan Rasya, dengan tangan yang terulur menyentuh puncak kepala Rasya.


" bunda masih boleh nginep disini ngga?"


tanya Sinta lembut yang mampu membuat putra tampanku membalikan kepalanya.


" olehh unda.." ucapnya masih menangis.


" yaudah jangan nangis terus, anak laki laki kan ngga boleh cengeng," ucapnya dengan mengelus lelehan airmata dipipi Rasya, ngga tau kenapa tadi aku ngerasa pas di kata "cengeng" dia ngelirik menyindir ku yang membuatku langsung menghapus sisa airmataku.


" Zaed...aku juga mau nginep disini boleh? Aku ngga mau kalian berduan," ucap Diana memecah keheningan.


Ya memang sedari tadi kedua cewek itu engan pergi, atau lebih tepatnya Sinta yang ngga diperbolekan pergi.

__ADS_1


" tapi aku cuma punya kamar tamu satu," ucapku binggung.


" yaudah biar Sinta aja yang pakek, nanti aku tidurnya sama kamu aja," ucap Diana cengengesan, yang membuatku melirik ke arah Sinta yang melotot ke arahnya.


" janganlah, nanti istri ku cemburu, mending kalian tidur berdua di kamar tamu atau engga mending kamu aja yang tidur di kamar tamu biar nanti Sinta tidur di kamar anak anak," ucapku sambil melirik Sinta yang menanggukan kepalanya.


" yee tidul baleng unda..." sorak bahagia Rasya.


" malam ini aja kamu tidur sama anak anak, besok malam aku gantian yang tidur bareng anak anak, aku ngga mau anak anak lebih deket sama kamu ketimbang sama calon ibunya," jelas Diana dengan tatapan sinis ke arah Sinta yang ku hiraukan.


" iya mba," jawabnya takut takut.


Rasanya hari ini adalah hari bahagia, malam ini seperti biasa aku masih tertidur sendiri di kamar namun rasanya hari ini tak sehampa hari hari kemarin.


Ku ambil sebotol kecil parfum dari kaca yang telah ku borong kemarin dan mulai ku semprotkan pada bagian dadaku yang tertutup piayama dan bagian bantal serta guling yang menjadi teman tidurku.


"....sabar ya guling, kau ngga bakal lama lagi ku dekap, karena sebentar lagi ada nyawa yang bakal ku dekap, jadi tunggulah waktu itu tiba dan kau akan ku hempaskan," ucapku seolah jadi antogonis.


"....Emang dasar ngga tau terima kasih udah ditemani kemarin kemarin sudah ada yang baru aja tega hempas yang lama gitu, aja..."


ucapku seolah menjawab pertanyaanku sendiri mewakili guling dihadapanku, yang langsung tertawa geli mendengar suara buat buatanku.


Hahhaa emang udah gila nih akuu...


Malam ini aku terbangun dari tidur nyenyakku, karena ketokan dari luar, yang menggangu pendengaranku. Dengan tempo malas ku langkahkan kaki ku arah pintu yang ngga berhenti di ketok.


"...iya ada apa sih, masih ngantuk nih," ucapku sembari membuka pintu dengan sangat malas.


Dengan perhatian kecilnya ini mampu mengingatkan ku pada Silla.


" ohh ya... Aku ikut sahur tapi aku mau solat dulu, soalnya aku belum solat," ucapku.


" ya pak, saya tunggu aja di meja makan soalnya juga, saya udah selesai masak," ucapnya yang ku angguki sebelum dia pergi ku ingatkan sekali lagi yang membuatnya berbalik menghadapku.


" jangan makan dulu, tunggu aku selesai solat, kita makan bareng," ucapku yang dianggukinya.


Pagi ini, seperti biasanya cerah tanpa hujan. Hari ini awan menyamai suasana hatiku yang sangat cerah. Rasanya bahagia banget tadi pagi aku bisa sahur bersama dengan Silla ehh ralat Sin..ta dengan makanan lezat khas tangannya yang mampu mengobati rinduku dengan masakannya selama dua bulan ini.


" Zaed...kamu ngga sarapan?" tanya Diana sambil memakan sisa masakan sahur tadi yang telah Sinta panaskan.


" engga aku lagi puasa," ucapku seadanya.


" ohhh.." ucapanya kembali mengunyah makanan yang telah disajikan Sinta.


Drtt...drt...


" ya bu, assalamualaikum," ucapku memulai pembicaraan.


" waalaikumusalam, maaf ya kak ibu sekarang ngga bisa ke rumah kamu, ibu agak meriang di tambah lagi ibu juga lagi bantuk, ibu takut nanti nularin ke cucu kecil ibu," ucap ibu dengan terdapat suara orang batuk di sebrang sana yang ku duga itu suara ayah,


biang keroknya Ibu jadi terkontaminasi batuknya Ayah.

__ADS_1


" yaudah bu nggapapa, lagipula udah ada temenku yang bantu jaga," ucapku menenagkan ibu.


" uhukk..uhukk...maaf ya sekali lagi, ibu tutup ya teleponnya, soalnya kepala ibu puyeng banget kak, assalamulaikum," ucapnya langsung memutus sepihak.


" waalaikumussalam," jawabku telat setelah telepon tersebut terputus.


" ada apa Zaed?" tanya Diana.


" itu ibu ku sakit jadi ngga bisa jaga anak anak, kayaknya aku ngga jadi ke sekolah, soalnya ngga ada yang bakal jaga anak anak, klo di tinggal sendiri aku ngga tega," ucapku pasrah karena aku yakin pasti gaji bulananku akan dipotong lagi, karena aku udah kebanyakan izin.


" saya aja pak yang jaga anak anak, mending bapak ke sekolah aja, biar anak anak saya yang jaga," ucap Sinta penuh kelembutan.


" emang nggapapa?" tanyaku ragu yang dijawab anggukannya.


Setelah mendapatkan penjaga anak anak rasanya hatiku sedikit lebih lega, dan kini aku telah berkendara di dalam mobil sendiri.


Berhubung tadi Diana terburu buru ke kantor jadilah dia naik taksi duluan karena mau mampir ke rumahnya dulu buat ganti baju, jadi kini yang ada di mobil hanyalah diriku dengan suara nyanyian di ponselku.


Namun seketika ponselku bergetar mematikan sejenak suara merdu penyanyi di hp yang sedang ku nyalakan.


Setelah mendapat getaran pesan aku kemudian menepikan mobilku karena ngga biasanya ada chat di aplikasi chatingku di pagi penuh kesibukan ini.


" Maaf pak menganggu paginya, saya ketua kelas dari kelas XI AKL 2, saya lupa mengingatkan bapak buat bawa flashdisk nilai malam tadi,


Jadi saya ingatkan pagi ini ya pak, hehhe.....


Jangan sampai tertinggal pak flasdisknya


cukup hati saya saja yang bapak sengaja tinggalkan, jangan flasdisknya,


kami ngga bisa nahan penasaran barang sehari saja, jangan lupa ya pak, kalo sampai lupa, bapak harus kasih nilai kelas kami seratus semua💓😆"


isi pesan salah satu murid yang membuatku bergidik geli untung aja moodku lagi baik jadilah aku berniat membalasnya.


" LEBAY" balasku seolah penuh penekanan.


"💓"


yang malah di balas love oleh sisiwi ku, siswi? karena ku lihat dari profilnya ternyata dia cewek.


Setelah mendapat pesan tadi, ku buka dompet yang biasanya berisi bolpoint, spidol, dan beberapa flasdiskku. Setelah ku lihat satu per satu flaskdisk itu ternyata ngga ada yang tertulis nilai UH. Karena setiap flasdisk ku namai materi pembelajaran, nilai UTS, nilai UAS, dan nilai UH yang dugaanku tertinggal di meja kamar.


Ku putar balik mobilku dengan kecepatan lebih, padahal ini masih jam enam lebih lima belas tapi ya buat jaga jaga aja biar ngga telat absen nanti.


Setelah sampai di depan rumah, mobilku sengaja ngga ku masukan karena aku udah terlanjur buru buru biar nanti lebih gampang berangkatnya.


Ku buka knop pintu rumah yang untungnya ngga terkunci, ku buka pelan dan mulai naik ke atas buat ngambil flashdisku, saat setelah menemukan kuputuskan langsung saja berangkat tanpa izin terlebih dahulu sama anak anak.


Namun langkahku terhenti mendengar sosok yang sedang mengaji di balik kamar anak anak. Ku coba buka sedikit yang terlihat wanita atau bidadari yang ngga bisa aku bedakan cantiknya.


Dengan balutan mukena wanita cantik itu melantunkan ayat demi ayat al quran, yang membuatku seketika terpana dengan wajah bercahayanya tanpa tertutup polesan make up sekaligus tanpa tertutup kain yang menempel di wajahnya.

__ADS_1


wakhirnya bisa ngelihat mukanya juga, ya bang Zaed😆


__ADS_2