
" Sabrina sudah jangan menangis, kamu harus percaya klo ayah mu pasti baik baik saja," ucapku jongkok tepat di depan kursi yang ia duduki.
"...Zaed aku takut, aku cuma punya ayah, aku ngga punya keluarga lagi, klo sampek ayah ngga ada, aku sendiri Zaed..." ucapnya terus terisak sembari menutup wajahnya dengan tangannya yang terus terisak.
" Sabrina kamu masih ada aku, aku bakal selalu ada sama kamu, kamu harus kuat ya, berdoa yang terbaik untuk ayah mu," ucap Zaed terus menyemangati Sabrina.
Wanita yang berada didepanku pun mulai tenang mulai menampakan mukanya dan langsung menatapku yang masih jongkok tepat di depan kursinya, yang langsung ku sambut senyum tulus ku padanya.
Ketika aku menatapnya, wajah yang cantik tak luntur di paras wajahnya, aura ketenangan pun terpancar pada wajah tenangnya.
" Zaed, apa kamu serius untuk selalu ada di dekatku..." tanya dirinya, yang ku anggukan.
" yaa aku akan selalu menjagamu, aku janji padamu," ucapku tulus dengan senyum penuh keyakinan.
"....kita akan selamannya menjadi teman, dan aku akan selalu menjagamu," lanjut ucapanku.
" ternyata hanya Silla yang kamu cintai Zaed, bagaimana klo kamu tau jika aku mencintai kamu, apa kamu bakal membalasnya atau kamu malah akan meninggalkanku," batin Sabrina sembari tersenyum kecut.
Setelah itu terdengar suara seseorang yang membuka knop pintu ruang inap ayah Sabrina di rawat, seketika itu keluar lah seorang dokter yang langsung kami hampiri dan menanyakan keadaan ayah Sabrina.
" Bagaimana dok, keadaan ayah saya?" tanya Sabrian penuh kekhawatiran.
" alhamdulilah, keadaan pasien sudah membaik dan sekarang sudah sadar," ucap dokter yang langsung mendapat jawaban syukur yang kami ucapkan.
" Alhamdulilah..." ucap kita serempak.
__ADS_1
" Apakah boleh di jenguk, dok?" tanyaku pada dokter yang ada di depanku.
" ya silahkan," ucap dokter yang langsung pamit meninggalkan kami.
Setelah masuk, betapa aura kebahagian yang sangat terpancar dalam wajah lega Sabrina, Sabriana langsung memeluk ayahnya penuh tangis haru.
Sabrina itu hanyalah tinggal dengan ayahandanya, dia sempat mengatakan padaku jika ibunya telah wafat sedari dia masih kecil. Jadi sangat wajar kalo dia sangat takut klo ditinggal ayahnya, karena di dunia dia hanya tinggal sama ayahnya dan Sabrina ngga punya saudara, dia anak satu satunya.
"...ayah jangan sakit lagi, ayah jangan tinggalin aku sendiri di dunia ini...ayah harus jaga kesehatan ayah, jangan sampek ayah sakit begini lagi, aku takut sendiri ayah.." tangis Sabrina di pelukan ayahnya yang membuat aku haru, dan Ayya ikut nangis di dekapaanku.
" kenapa harus takut sendiri, kan ada nak Zaed juga yang pasti akan menjaga mu, iya kan nak,.." ucap ayah Sabrina sembari menatapku yang hanya ku balas senyuman.
----------------------------
Saat ini ialah hari dimana terakhirku menjaga ujian semesteran.
Disini, aku duduk di kursi belakang pengawas ujian sembari membuka kelender hp yang sudah aku tandai dengan setitik tanda merah didekat tanggal yang akan menanggali hari esok.
Karena hari ini hari terakhir ujian semesteran online maka besok nilainya bisa langsung dibagikan dan lusa akan diberlakukan libur semseter yang akan ku gunakan untuk melanjutkan misi 8 tahunku yang sempat tertunda.
Ya...hari esok adalah hari penantianku, karena aku bukan wali kelas jadi esok juga hari liburku untuk datang ke kediaman orang taunya untuk mengungkapkan maksudku ingin meminangnya,
dan akan meminta izin untuk menemuinya di kotanya yang berbeda dengan kediaman orang taunya. Sungguh hatiku sangat berbunga bunga.
Ingatan anggukan jawaban Silla ketika waktu wisuda SMA terus saja berputar di kepalaku,
__ADS_1
" Aku mencintaimu, aku mohon tunggu akuu, " kataku spontan yang membuatnya kaget dan langsung menatapku dengan tatapan sulit diartikan, tapi yang membuat ku sangat terkejut ialah anggukan jawaban setelah tatapan terkejut yang ia perlihatkan dan kemudian dia beranjak pergi.
Bayang bayang aku menembaknya terus saja berputar di kepalaku seakan tak mau berhenti.
Tapi seketika pikiranku buyar ketika melihat terdapat anak yang sedang mencari jawaban di hp yang ada di bawah lacinya.
Aku mulai mendekatinya, aku berjalan dengan sangat pelan dan tenang hingga tak menimbulkan suara sedikit pun dan tepat berada di sampingnya, aku langsung saja memajukan kepalaku di dekat lehernya yang terus menunduk fokus mencari sesuatu di google. Aku langsung aja rebut hp yang tadi berada di genggamannya.
"...nanti diambil di ruang kepanitian ya mbak..." ucapku yang langsung mendapat perhatian semua anak murid di kelas itu.
" sudah lanjutkan semuanya, kerjakan dengan jujur dan teliti," ucapku yang langsung berjalan memutari siswa ujian.
Aku emang sangat tidak suka dengan orang yang tidak jujur, bagiku biarlah nilai pas pasan yang penting jujur yang nomer satuu, eyakk..
Aku bukan termasuk guru galak, tapi aku termasuk guru yang sangat disiplin. Tapi mungkin seringkali salah diartikan oleh murid, padahal dengan aku menerapkan kejujuran dan kedisiplinan kan juga untuk keuntungan masa depan murid ku juga...
Ohhh ya
Selama delapan tahun ini aku ngga hanya memantaskan agamaku saja, tapi aku juga memantaskan perekonomianku agar nanti klo Silla menjadi istriku dia akan merasa bahagia dengan jeri payahku tanpa adanya campur tangan orangtua.
Aku memiliki kafe yang sekarang sudah ada dua cabang, padahal Ibuku selalu saja pengin aku mengurusi usahanya tapi aku tetep bersikekeh untuk menjalankan usahaku dulu, kalo nanti ibuku sudah tidak mampu mengurusi usahanya aku baru turun tangan untuk membantunya, tapi klo ibu menyerahkan usahanya dengan percuma aku masih belum bisa menerimanya untuk saat ini.
Jadi kerja sampingan ku saat libur sekolah, aku pasti meluangkan waktu untuk mengurusi kafe ku. Tapi untuk liburan kali ini aku ingin menemukan nyonya bos yang akan menjadikannya sebagai permaisuriku dan bidadariku, aamiin
🌺🌺🌺
__ADS_1
Jangan lupa like,vote, and comment🙂💓