BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#48


__ADS_3

" Diana?"


" Akhirnya kita bertemu lagi, ngapain kamu kesini? padahalkan ini masih pagi, tanya Diana padaku.


" ohh ini aku ngambil asi disini, lah kamu ngapain juga ke sini?" tanyaku balik.


" ohh ini, aku lagi nyebar undangan reuni kebetulan temenku dokter disini,"


jelasnya yang ku angguki dengan cukup canggung karena udah lama ngga bertemu apalagi pertemuan pertama kita pas keadaan yang ngga baik baik aja. Hehhe kalian pasti taulah, dimana aku mau loncat ke sungai saat akan menjadi lelaki pengecut dan bodoh dengan mengakhiri hidup dengan bunuh diri.


" ohh..maaf ya tadi aku ngga sengaja nabrak kamu..." ucapku sambil senyum canggung.


" hmm...engga dimaafin..." ucapnya yang membuatku seketika melongo.


" hahhaa..ekspresi kamu lucu banget Zaed....tenang aku bakal maafin kamu, kalo kamu mau numpangin aku di mobil mu, soalnya tadi mobilku mogok dijalan."


ucapnya yang langsung membuatku menganggukan setuju.


" yaudah yuk, kita ke mobilku, ohh ya...emang urusan nyebar undangannya udah selesai?" tanyaku.


" hmm..udah kok, ini anak kamu?" tanyanya yang ku angguki.


" iya ini putra pertamaku, namanya Rasya, kalo putriku ada di rumah namanya Tisya..." jelasku.


" wah nama yang bagus seperti wajahnya tampan kayak bapaknya, hehehe" ucapnya ngelucu yang membuatku seketika ikut tertawa juga.


....


" Zaed...kamu minggirin mobilnya deh,


itu Rasya udah bobok, mending aku aja yang pangku, biar kamu ngga kesusahan nyetirnya.."


ucapnya yang ku angguki patuhi langsung menepikan mobilku di sisi samping jalan raya.

__ADS_1


" ini kamu mau diantar kemana?" tanyaku karena sedari tadi dia cuma bilang jalan dulu aja.


" aku mau ikut ke rumahmu aja, nggapapa kan?" tanyanya yang membuatku kaget tapi setelah itu ku angguki pelan.


" Di, aku boleh tanya ke kamu ngga? Tapi jangan tersinggung," ucapku meminta izin.


" boleh, tanya aja...aku orangnya ngga baperan kok, santai aja..." ucapnya yang membuatku sedikit lega.


" hmm...gini..aku mau tanya kenapa kamu ngga pakai jilbab? Padahal kan udah jelas jelas itu kewajiban yang Allah perintahkan.." ucapku pelan hati hati yang malah dijawab tawa renyahnya.


" hahhaa...emang aku kelihatan kayak orang islam ya?" tanyanya kepadaku.


" emang kamu bukan islam?" tanyaku binggung yang dijawab gelengan olehnya.


" maaf ya aku ngga tau, aku kira kamu islam, agama kamu apa?" tanyaku penasaran.


" aku ngga punya agama..." jawabnya santai yang membuatku melongo kaget.


" aku ngga percaya keberadaan tuhan, aku percaya kita ada karena hasil penyatuan ovum dan ******,


"....tapi kalo nanti kamu jadi suamiku dan mau ngajarin aku buat percaya sama tuhan mu, aku siap kok, Zaed," tambahnya dengan cengengesan yang ku balas tawa anehku.


" istrimu beneran sudah meninggal?" tanyanya lagi yang membuat hatiku seketika tersentil.


" hmm iya, dia ngga ada kabar selama dua bulan ini, mungkin dia sekarang udah nyaman disisi Allah..." ucapku dengan nada sedih yang sangat ketara.


" ohhh sabar ya Zaed, jadi selama dua bulan ini kamu ngga bisa nyalurin hasrat kamu dong, hahaha..." candanya.


" hah? Maksudnya?" aku ngga paham arah pembicaraannya.


" itu loh, romantisan romantisan sepasang kekasih dengan peluh keringat di sekujur tubuh...hahha...masa udah nikah apalagi udah punya anak masa ngga paham sih kamu..." ucapnya terus tertawa.


" aku paham...dan aku tau pasti kamu tau jawaban pertanyaan konyolmu itu," ucapku dengan nada dibuat kesal.

__ADS_1


" hahha santai broo, kalau nanti kamu ngga kuat aku siap kok jadi teman hasratmu, lagipula aku juga masih virgin dan aku pengin kamu jadi orang pertama yang ngerasain," ucapnya yang serius membuat bulu kudukku geli sendiri.


" kenapa aku?"


" karena aku suka sama kamu sejak pertama kita bertemu," jujurnya yang membuatku menganga sangat ngga percaya.


"....tenang aja Zaed, aku ngga perlu kok kamu balas, yang penting aku udah ngungkapin jadi aku sedikit lega," ucapnya yang hanya ku angguki lemah saja, karena jujur aku ngga tau harus nanggepi apa.


Sesampainya di pekarangan rumahku dan mobilku telah melewati pagar hitam masuk ke dalam jalan bagasi mobil. Setelah memasukan mobilku, aku langsung ingin turun namun di cegah dengan ucapannya.


" Zaed, bukain pintunya ya aku masih belum terbiasa gendong anak kecil, jadi ngga bisa buka sendiri," ucapku yang ku balas senyuman dan anggukan.


Setelah itu aku keluar berlari sambil bantu dia membukakan pintu mobil dan sekaligus membantu dia buat benerin gendongannya.


Karena terlalu serius membantunya sampai ngga tau kalo ada orang yang tengah menatapku di depan gerbang pagar rumah dengan tatapan sedihnya.


" Assalamualaikum..." ucapku membukakan pintu sendiri sambil mempersilahkan Diana masuk ke rumah.


" Waalaikumussalam, wah untung kamu udah pualng sayang, ini ibu mau pulang dulu soalnya tadi ibu di telpon Ayya katanya Ayah sakit di rumah, kamu bisa ngejagain anak anak sendiri ngga? Kalo ibu tinggal?" tanya ibu terlihat raut khawatir yang membuatku tak tega untuk tak menyuruhnya pulang, jujurnya aku ngga mau kalo harus berduaan sama Diana di dalam rumah, tapi apa boleh buat.


" yaudah nggapapa bu, aku bisa kok jagain anak anak send.." ucapku yang langsung di sambar Diana.


" saya yang bakal bantu Zaed nejagain anak anak, jadi Ibu ngga perlu khawatir," ucap lembut wanita disampingku yang membuat netra ibu tertuju padanya.


" kamu siapa nak?" tanya ibu yang langsung disalimi Diana sambil memperkenalkan diri.


" saya Diana bu, temannya Zaed," ucapnya yang dibalas senyuman dan anggukan ibu.


Setelah kepergian ibu, kini hanyalah tinggal aku dan Diana yang berada di ruang TV. Hingga akhirnya terdengar suara ketokan pintu yang mengalihkan netraku dan netranya dari TV menuju pintu depan.


" bentar ya Di, aku buka pintu dulu," ucapku yang mendapat anggukan dia.


" assalamualaikum," ucap orang dibalik pintu dengan suara sangat tak asing bahkan itu suara yang sangat ku rindukan.

__ADS_1


" waalaikumussalam" ucapku cepat cepat berlari membuka pintu.


" Si..la?" kagetku yang diam mematung di depan pintu.


__ADS_2