BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#42


__ADS_3

" Mas dimana bayi kita?"


tanya Silla sesaat kita sudah perpindah dari ruang bersalin.


" ada di ruang bayi, mungkin sebentar lagi perawat bakal bawa anak kita ke sini, tunggu ya...


hmmm...makasih ya sayang udah memberikan ku keturuan yang begitu cantik,"


ucapku lembut mengelus puncak kepalanya.


" Sama sama mas, makasih juga mas, udah nyemangatin Silla tadi,


rasanya tadi Silla takut banget dan udah ngga kuat, tapi alhamdulilah tuhan mengirimkan mas buat kekuatan Silla, dan Silla pun akhirnya berhasil mengeluarkan buah hati kita.....makasih ya mas..." ucapnya sambil meneteskan airmata.


" sama sama sayang,


mas bangga punya istri seperti kamu..." ucapku langsung memeluk tubuhnya yang kembali mungil seperti sedia kala.


Hingga akhirnya panggilan seorang bayi membuat pelukan kami terlepas.


"Yah...unda...." panggil putra pertamaku.


"....Wahh anak ayah baru dateng....tadi Rasya kemana?" tanyaku sambil mengalihkan gendongannya dari tubuh Ibu.


"...ono auh, yak ampu...yah" (disono jauh, banyak lampu, yah) sambil jari telunjuknya mengarahkan ke suatu tempat, mungkin arah tempat tadi.


" tadi ibu sama ayah ajak Rasya di taman,


soalnya pas bangun Rasya langsung nangis," ucap ibu menjelaskan, ohh ya ini udah pagi sekitar jam limanan.


" Dimana bayi kalian? Apa jenis kelaminnya? Gimana keadaanya?" tanya ibu penasaran dengan cucu keduanya.


" Bayi kita ada di ruang bayi Bu, alhamdulilah dia baik baik saja, jenis kelaminnya perempuan, dia sama cantiknya kayak Silla..." ucapku sambil melirik Silla yang udah merona.


" wahh alhamdulilah dah lengkap cewek cowo....." ucap serempak ibu dan ayah.


" udah kamu beri nama Zaed?" tanya Ayah.


" udah yah, namanya Ratisya Firdha Raharsya panggilannya Tisya kamu suka ngga dek namanya?..." ucapku.


" nama yang cantik, aku suka kok Mas," ucap Silla yang membuatku lega, karena emang dari awal Silla menyerahkan namanya ke aku, soalnya Rasya dia yang namain jadi untuk itu anak keduaku ia ingin aku yang beri nama.


" bagus kok kak.." ucap Ibu yang ku balas anggukan dan senyum yang masih tetap terukir di bibir manisku.


" dek nggapapa kan kalo mas tinggal? Mas pengen ke masjid dulu soalnya mas belum solat subuh.." izinku.

__ADS_1


" ohh iya mas..aku nggapapa kok di tinggal sendiri, ibu sama ayah juga solat dulu aja..."


" kami udah solat pas kamu lahiran tadi,


Rasya juga tadi ikut solat, jadi kamu ke masjid aja kak, biar ibu yang jagain, nak Silla" balas Ibu.


" ohh yaudah bu...ayah ke masjid dulu ya, Rasya disini temani Bunda, ok?"


ucapku mulai melepaskan gendonganku padanya tapi dianya ngga mau, malah memeluk erat tubuhku.


" itut, yah..." ucap Rasya.


" yaudah deh kalo putra ayah mau ikut, yuk...


aku titip Silla ya bu, yah...." ucapku yang diangguki mereka dan mulai meninggalkan ruangan.


Setelah itu aku dan Rasya ke masjid, setelah selesai solat kita mampir buat beli makanan minuman di kantin rumah sakit, dan setelah itu masuk lagi ke dalam ruangan Silla, yang ternyata dia lagi menyusui putri kecilku dengan di temani Ibu.


" wahh..putri ayah haus banget ya..." ucapku ketika masuk ke ruangan smabil mengendong Rasya masuk ke dalam.


" tuh dedek asa?" tanya Rasya sambil mengelus pipi bayi yang masih merah di gendongan Silla yang sibuk menyusu.


" iya, kak, ini adek Rasya, namanya dek Tisya, sayang ngga sama adek?" ucapku.


" oooo amanya de isa...asa ayang anget yah.." ucap Rasya yang membuat Ibu ngga kuat buat ngga mencubit gemas pipinya.


tanyaku karena ngga ngelihat ayah dari sudut ruangan.


" ohh ayah lagi jawab telepon di lu.. Lah itu dia." ucap ibu terpotong ketika pintu kembali terbuka dan muncul ayah.


" ada apa? Bu, kita pulang dulu yuk, kasihan adek di rumah sendiri, nggapapakan Zaed kami tinggal pulang? soalnya Ayah juga mau ke bandara pagi ini..." ucap Ayah, memang dia sangat sibuk keluar kota buat ngurus cabang cabang usahanya sekaligus buat nemuin kliennya karena ayah sekaligus berprofesi jadi fotografer.


" iya nggapapa yah, aku juga udah ngambil cuti beberapa hari ini, " balasku.


" yaudah kita pamit ya, nak, mungkin siangan nanti ibu kesini lagi, setelah semua keperluan ayah sama Ayya udah selesai..." pamit ibu.


" iya bu, ngga usah khawatir aku udah nggapapa kok, aku udah mendingan, kalo ibu capek bisa istrirahat dulu di rumah nanti," jawab Silla.


" ibu ngga capek kok, nanti biar Ibu ajak Ayya biar nanti ngga keburu buru balik...


yaudah ya ibu sama ayah balik dulu,


Bunda dan Ayah Silla sudah dalam perjalanan, kata bunda kamu mungkin bakal sampek pagi ini tapi mereka mau mampir ke rumah sini dulu katanya, jadi tunggu aja ya sayang..." jelas ibu yang diangguki aku dan Silla.


Setelah kepergian ayah sama Ibu, disini tinggal lah aku, Silla dan kedua anakku. Putriku masih sibuk menyusu yang terus Rasya dan aku perhatikan.

__ADS_1


Dan akhirnya bayi merah tersebut mengeluarkan ****** Silla, mungkin dia sudah kenyang, tapi setelah itu dia malah langsung menguap yang membuatku dan Silla sangat gemas, dengan bibir kecilnya membuka dan langsung mencoba di tutupi dengan satu jari tangan Silla membuat ku begitu gemas. Dan setelah selesai menyusu kemudian Silla memperbaiki letak bajunya.


" unda..asa uga engen ayak adek..." ucap Rasya yang membuatku dan Silla kaget dan saling pandang.


" Rasya pengen minum susu?" tanyaku padanya yang langsung dianggukinya antusias.


" Yaudah biar Ayah coba buatin, ya.." ucapku mau melangkah menuju tas susu Rasya tapi dicegah dengan tangan mungilnya.


" ndak au itu, au usu unda..."


( ngga mau itu, mau susu Bunda) ucap Rasya yang membuatku dan Silla tambah kaget.


" hmm..rasanya sama kok sayang, bentar ya ayah buatin..." ucapku yang langsung mendapat tangisan putra kecilku.


Hua...Hua...


" sssstt, tenang ya anak bunda, ayah coba gendong Tisya dulu, biar aku bisa nyusuin Rasya...." ucapnya mencoba menyodorkan Tisya ke tanganku yang langsung ku terima tapi dengan tatapan keterkejutan.


Yang seketika membuat Rasya berhenti menangis dan mencoba memposisikan duduk di pangkuan Silla.


" dek..." ucapku dengan tatapan sulit diartikan.


" nggapapa Mas, kata dokter juga Asi Silla lancar dan banyak, jadi jangan khawatir Tisya ngga bakal kekurangan kok..." jelasnya yang akan memulai membuka bajunya tapi terhenti karena ucapanku.


" dek tapi kan dia hmm..." ucapku ragu yang langsung di gelenginya.


" sini sayang, gimana Rasya suka ngga? Rasya anak bunda seutuhnya ya kan nak,"


ucap Silla mencoba menyusui Rasya sambil mengelus punggung kecilnya yang sibuk menyusu sesekali sambil melirik dan tersenyum sama aku yang langsung ku balas anggukan dan senyuman.


Bangga banget deh punya istri baik, kayak Silla.


" Enak sayang?" tanyaku pada putraku yang dianggukinya dengan masih sibuk menyusu.


" Awwww...


Jangan digigit sayang, pelan pelan ya, soalnya sakit bunda kalo kakak gigit," ucapnya yang membuatku meliriknya yang masih menahan sakit dan langsung diangguki patuh Rasya yang mulai menyusui dengan pelan ngga tergesa gesa lagi.


" pelan pelan ya jagoan,


ayah ngga bakal minta kok...awww kok bunda cubit ayah sihh..."


ucapku sambil memperlihatkan ekspresi kesakitan yang dibalas gelak tawa lirihnya biar ngga ngebangunin putri kecilku.


Rasanya bahagia banget saat ini memiliki istri tangguh kayak Silla dan kedua anak yang melengkapi hidupku dan Silla selamanya...makasih tuhan.

__ADS_1


jangan lupa tinggalin jejaknya...💓💓


__ADS_2