BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#52


__ADS_3

Ku coba buka sedikit yang terlihat wanita atau bidadari yang ngga bisa aku bedakan cantiknya. Dengan balutan mukena wanita cantik itu melantunkan ayat demi ayat al quran, yang membuatku seketika terpana dengan suara serta wajah bercahayanya tanpa tertutup polesan make up sekaligus tanpa tertutup kain yang menempel apapun di wajahnya.


Setelah melihat wajah cantiknya membuat hatiku jadi dag dig dug ngga karuan. Walau hanya melihat sekilas wajah sampingnya namun membuatku seketika terpana,


Ketika sadar, langsung saja ku benarkan letak pintu itu tanpa suara. Ku senderkan tubuhku di balik tembok luar kamar dengan mengelus dada pelan yang terus terasa berdenyut maraton.


" ya Allah...." ucapku terus mengelus lembut dadaku yang terus berdenyut.


Setelah aku mulai tenang aku langsung melangkahkan kakiku keluar buat berangkat lagi ke sekolah walau terus terlintas terbayang bayang wajah cantiknya, dalam pikiranku.


Kini awan telah mengelap, sekitar jam sepuluhan aku masih termangu diam di kursi teras rumah ku.


Setiap tetes kopi telah ku seruput dalam kehangatan menemaniku malam ini.


Dengan bintang yang bertebaran sembarang di langit, dengan cahaya bulan yang meredup, dan dengan di temani angin semilir yang mampu menenangkan jiwa dan pikiran. Aku tetap terfokus dalam satu bayang.


Tapi semakin lama angin malam yang semula jadi teman seketika menjadi musuh pada tubuhku. Angin malam itu trus kan memaksa tuk menusuk tulang belulang tubuh yang hanya berlapiskan kulit tipis, yang membuatku seketika merinding kedinginan.


Karena itu ku putuskan buat melangkah kan kakiku ke dalam rumah. Sebab, Jika terus terusan berlama lama diluar bisa beku tubuhku berbalut angin malam.


Saat akan melangkahkan kaki ke arah tangga kamar namun sekejap terhenti, dan malah terhuyung mengayunkan langkah ke arah kamar tamu.


Dimana itu tempat Diana dan Sinta tidur berdua di dalam kamar tamu, karena tadi Rasya dipaksa buat tidur dengan Diana, tapi Rasya terus menolak dah malah jadi rewel.


Sehingga membuat Sinta menidurkan anak anakku terlebih dahulu dan setelah itu tidur bareng dengan Diana di kamar tamu.


Sejak tadi Diana terus mengoceh melarang Sinta ngga boleh lagi tidur dengan anak anak cukup menidurkan saja. Dan aku paham atas kecemburuannya itu, tapi hanya ku hiraukan.


Setelah mereka masuk kamar, ku habiskan sekitar tiga jam an buat ngopi sendiri di luar sambil menunggu seisi rumah tuk terlelap.


Ku buka ruangan yang syukurnya terang, dengan lampu masih dipertahankan tuk menyala. Ku langkahkan kakiku buat mendekat ke arah Sinta yang tidur masih mengenkan cadar.


Dengan hati ragu ku putuskan buat membuka cadarnya. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit wajahnya mampu ku lihat tanpa ku membuka ikatannya penutupnya.


Dan.... akhirnya aku dapat melihat mulut dan hidungnya yang sangat pas dan cantik.

__ADS_1


Wajahnya yang polos tanpa balutan make up tapi mampu memikat hatiku. Sungguh kuasa Allah sangat hebat mampu menciptakan bidadari dunia sepertinya.


.....


Malam ini ialah malam selanjutnya dari aksi kemarin malam ku mengintip wajah Sinta. Dengan bertidak seolah biasa saja sejak pagi, siang, sore bahkan malam ini yang tidak seperti biasanya.


Karena terdengar suara sahut sahutan guntur yang begitu nyaring di dunia, yang membuatku terkadang kaget sesaat mengoreksi hasil latihan latihan anak murid.


Setelah semua pekerjaan beres, ku langkahkan kakiku di depan kamar anak anak untuk memastikan jika mereka sudah tertidur. Tapi sungguh pemandangan yang mengagetkan, terlihat wanita bercadar yang memaksa menutup mata ketika terdenger guntur yang begitu keras di dalam rumah sambil memeluk erat putraku dengan salah satu tangan dengan tangan yang lain merengkuh Tisya dalam pangkuan gendongannya.


".....kamu ngapain masih disini, ngga kembali ke kamar tamu?" ucapku yang membuatnya seketika langsung membuka mata.


" m..maaf pak, s..saya...." ucapnya ragu ragu yang langsung ku potong.


" terserah kamu mau tidur dimana, aku mau ke kamar dulu.." ucapku.


Saat ingin melangkahkan kaki ku keluar kamar namun terhenti dengan mati listrik mendadak yang membuat ruangan itu sangat gelap sekaligus terhenti sebab terdengar teriakan seseorang.


" Aaaa..." teriaknya membuat diriku terkejut yang membuat langkah kakiku terhenti dan langsung membalikan tubuhku ke arah ranjang tanpa suara. Hingga akhirnya terdengar suara tangis di sebelah yang membuatku berucap.


" kamu nangis?" tanyaku.


" hm..ka..mu..ma..sih disini?" tanyanya terbata bata dengan suara sesegukan.


" iya aku disini, kamu kenapa nangis?" tanyaku sekali lagi.


" a....aku..."ucapnya ragu ragu dan lama yang membuatku langsung memotong ucapanya.


" kamu takut gelap?" tanyaku yang dibalas deheman aja.


Duarrr...


Suara guntur mampu membuat jantungku berdetak lebih kecang terkaget kaget, dan membuatku hanya bisa mengelus dada dengan suara tangis itu kembali terdengar di sepasang telingaku.


" kamu nangis lagi? Kenapa sih nangis terus?" tanyaku gemas melihatnya nangis tanpa sebab.

__ADS_1


"i..itu a..ku ta..kut geledek.." ucapnya terbata bata yang membuatku tak tega.


" udah ngga usah nangis lagi, aku disini kok, aku bakal nemenin kamu. Yang penting kamu percaya disini ada aku, aku tepat di samping Rasya jadi jangan nangis kamu ngga sendiri disini, mending kamu sekarang tiduran aja, aku tungguin disini sampek listrinya nyala lagi, ohh..ya aku ngga bakal ngapa ngapin kamu..."


ucapku dengan menyalakan senter hp yang ada di gengamanku untuk menerangi wajahnya yang terlihat hanya mengangguk paham.


" aku matiin lagi ya senternya, soalnya ini baterainya tinggal 30%," ucapku yang dianggukinya lagi.


Sesaat setelah percakapan tadi hanya ada keheningan saja, sampai akhirnya aku memutuskan buat melantunkan al Waqiah surah kesukaan Silla, sampai ayat yang terakhir dengan jeda sekitar lima menitan sampai akhirnya listrik kembali nyala.


Drrttt...


Hingga telepon mengagetkan diriku yang tengah sibuk menatap ketiga orang yang terlelap dengan damai.


" iya, halo?" sapaku masih menatap mereka yang masih tenang tertidur.


" Zaed, temenin aku di rumah, aku sharelock ya, soalnya aku sendirian di rumah, aku juga agak pusing, Zaed," ucapnya yang terdengar sangat lemah yang membuatku seketika khawatir.


" iya.....aku otw sekarang, " ucapku yang diiyakan orang sebrang sana.


Setelah ini, aku langsung mengambil Tisya yang masih ada di dekapan gendongannya takut takut di terjatuh mengingat wanita itu sudah terpejam.


Setelah memindahkan Tisya ke box bayi dan setelah itu membenarkan letak selimut sampai menutup leher Rasya dan wanita itu.


Aku langsung membuka engsel pintu ingin keluar, tapi terhenti dengan ucapan seseorang yang membuatku berbalik badan.


" bapak mau kemana?" ucap wanita itu sambil membenarkan letak duduknya.


" aku mau ke rumah Diana, aku titip anak anak, kamu nanti kunci aja rumahnya, kayaknya aku bakal nginep nemenin dia malam ini, " ucapku yang dibalas anggukannya lemahnya.


" apa malam ini Mbak Diana ngga tidur disini, pak?" tanyanya.


" engga, makanya aku mau nemenin dia malam ini di rumahnya soalnya dia cuma sendiri, udah ya ......assalamualaikum," ucapku kembali menarik engsel pintu dan keluar kamar ketika sudah mendapat jawaban salam darinya.


💔

__ADS_1


__ADS_2