BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#49


__ADS_3

" assalamualaikum," salam orang dibalik pintu dengan suara yang sangat ku rindukan.


" waalaikumussalam" ucapku cepat cepat membuka pintu.


" Si..la?"


kagetku yang diam mematung di depan pintu sambil terus menatap wanita di depanku cukup lama. Walaupun berbalut cadar tapi mata Silla masih mengingatkan akan sosoknya, apalagi suara lembutnya.


" siapa Zaed?" tanya Diana yang hanya lewat di telingaku saja bahkan buat menjawab saja lidahku sangat kelu.


" kok malah pada diem disini sih, disuruh masuk lah Zaed, ayo mba masuk dulu," ucapnya mempersilahkan masuk yang membuat wanita itu berjalan masuk melewati samping badanku yang masih terus ku perhatikan, setelah sadar aku langsung melangkahkan masuk ke dalam ruang tamu dengan tepat berada di depannya dia duduk.


" mau minum apa mba?" tanya Diana sopan.


" ngga usah repot repot mba," ucapnya yang membuatku terus meninggat apa benar itu suara Silla.


" ngga repot kok, bentar ya aku buatin, Zaed dimana dapurnya?" tanyanya padaku yang membuatku kaget.


" HEH?APA?"tanyaku kaget berusaha mengalihkan penglihatanku ke Diana.


" dapurnya dimana? Aku mau buatin minuman untuk mbanya," tanya ulang Diana.


" itu disitu," tunjuk yang dianggukinya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Namun netraku masih tertuju wanita di depanku, dimana terdapat wanita bercadar yang tengah duduk menunduk dihadapanku. Hingga akhirnya pertanyaan sukses terlontar di bibirku.


" kamu siapa?" tanyaku untuk yang pertama.


" saya temannya dokter Mawar, saya yang memiliki asi itu," ucapnya yang ku angguki dengan terus berusaha keras menginggat suara Silla yang sangat mirip dengan wanita bermata indah itu di depanku.


" ohh..nama kamu siapa?" tanyaku lagi.


" nama saya Si..."ucapnya yang langsung ku potong.


" SILLA?" ucapku penuh semangat yang langsung terpatahkan dengan gelengannya.

__ADS_1


" bukan pak, nama saya Sinta" ucapnya terus menunduk.


" ohh nama kamu Sinta, perkenalkan namaku Diana," ucap Diana setelah menaruh minuman di atas meja.


" salam kenal. Mba Diana" ucap lembut wanita itu.


" hmm...kalian sepasang suami istri?" tanya Sinta yang akan ku jawab namun terpotong dengan balasan Diana lebih dulu.


" emang kita kelihatan suami istri ya? Haha tuh Zaed orang lain aja mandang kita udah cocok, mending kita nikah aja, doain ya mba biar dia segera mau menikahi saya," ucap Diana yang hanya membuatku diam.


" ahh..iy.a mba..semoga ya.." ucap Sinta.


" apa aku bisa lihat kartu nama kamu?" tanyaku mencoba mengalihkan pembincaraan.


" maaf pak, saya sangat menjaga privasi saya, saya ngga bisa nunjukin kartu seperti itu, " ucapnya.


" saya cuma mau melihatnya saja, ngga bakal saya apa apain juga," ucapku dingin yang mendapat pelotoan Diana tetapi langsung ku hiraukan.


"....maaf pak, .kalo bapak tetap maksa maka saya akan pergi dan berhenti memberikan asi saya," ucap wanita itu serius yang membuatku seketika takut kehilangannya, dan mungkin hanya bisa pasrah sampai aku harus tau siapa Sinta itu sebenarnya.


" saya cuma kaget aja sama kamu, kalau kamu tau , kamu itu sangat mirip dengan istri saya, matamu, tubuhmu. suaramu, saya cuma pengen memastikan saja kalau kamu bukan istri saya, apa saya boleh lihat wajah kamu?"


" maaf pak," ucapnya sambil mengelegkan kepala.


" yaudah biar Diana saja yang lihat, ini foto istriku Di, coba kamu lihat mirip ngga," ucapku sambil memyodorkan foto Silla yang ada di dompetku.


" maaf pak, lebih baik saya pulang saja.." ucap Sinta ingin beranjak dari duduknya.


" tunggu tunggu.....


maafin saya, yaudah saya nyerah, saya ngga bakal ganggu privasi kamu lagi, tapi tolong bantu putri saya, karena dia bisa hidup sampai sekarang berkat Tuhan mengirimkan asimu," ucapku lirih.


" maakasih atas pengertiannya, bapak, saya bakal bantu bapak asal bapak ngga usah tanya tanya perihal privasi saya," ucapnya yang ku angguki.


" Di, antarkan dia ke kamar anak anak, aku mau beli makanan dulu..." ucapku yang diangguki dia yang langsung membuatku melangkah ke bagasi buat ambil motor.

__ADS_1


Niat dari awal aku ingin membeli bubur ayam, karena aku tau Silla paling ngga suka dengan yang namanya bubur. Dan sekedar buat ngetest apa Sinta suka atau tidak.


Setelah membeli empat kotak bubur ayam, aku dengan semangat mulai membuka pintu yang ternyata sudah di sambut Rasya dengan wajah dengan wajah bantalnya.


" yahhh...undaa ulang...." ucap Rasya girang sambil menariku ke hadapan Diana atau lebih tepatnya di hadapan Sinta di samping Diana.


" sayang itu bukan bunda, itu tante Sinta bukan tante itu bukan bunda Silla," ucapku mencoba menjelaskan sambil mensejajarkan tubuhku di depannya.


" itu undaa...huaaa...huaa..." tangis Rasya yang membuatku sangat binggung yang langsung dicoba di tengkan Diana.


" cup..cup..cup.. tenang ya sayang, kamu boleh nggangep tante Diana bunda kamu kok," ucap Diana sambil mengelus kepala Rasya lembut tapi di hadiahi gelengan pada bocah tiga tahun itu.


" ngga au...undaaa..asa angen..." ucap Rasya terus menangis hingga akirnya lontaran kalimat Sinta mampu menghentikan tangisan Rasya.


" bunda juga kangen sama Rasya, kamu boleh panggil tante bunda kok, Bunda mau jadi bunda kamu," ucap Sinta yang dihadiahi pelukan erat Rasya dan dibalas pelukan hangat Sinta. Melihat pemandangan ini sangat mengingatkan kenangan indahku sama Silla.


" yaudah yuk, kita makan aku udah belikan bubur ayam nih, " ucapku.


" ayo yahh, horeee makan bubul ayam baleng unda, yuk bund," ucap Rasya sambil mengandeng Sinta ke meja makan namun seketika terhenti dengan ucapan Sinta.


" Maaf sebelumnya saya ngga bisa iku makan, saya mau pulang dulu, maaf ya Rasya bunda buru buru mau pulang, besok kapan kapan aja ya makan barengnya, ya sayang," ucap Sinta lembut kepada Rasya yang langsung membuatnya datang kepadaku langsung memeluk kaki ku sambil menangis keras.


" unda..ngga ayang asa agi, yah...huaaaa..." ucap Rasya di tengah tangisannya. Apa yang ku bisa bantu? Aku cuma mengelus tanpa menasehatinya karena jujur aku juga mau Sinta makan bersama, jadi saat ini aku sangat bersyukur karena Rasya nangis, karena berkatnya bisa buat Sinta langsung iba, dia mulai mendekatiku dan Rasya yang ada di dekapanku.


" yaudah deh..bunda makan disini dulu bareng Rasya, tapi jangan nangsi ya..." ucap Sinta lembut sembari diangguki lemah Rasya.


" yaudah deh yuk kita makan," ucapku sambil berjalan ke arah meja makan buat mempersiapkan peralatan makan dengan dibantu Diana karena Sinta terlihat sedang mengendong Rasya yang terus nempel kepadanya.


" yukk kita makan..." suruhku pada ke empat manusia yang di depannya sudah tersaji bubur ayam.


" enak Zaed, dimana kamu beli?" tanya Diana yang menghentikan aksi kunyah sekaligus menghentikan aktivitas liriku pada Sinta yang mencoba menyuapkan beberapa sendok bubur di mulutnya dengan tempo yang sangat pelan.


" itu..belinya cuma di depan kok, nanti kalo kamu pengen beli lagi aku anterin," jelasku yang dianggukinya.


" gimana enak ngga Sin?" tanyaku.

__ADS_1


" hmm..en.ak kok pak.." ucapnya yang membuatku tersenyum kecut ternyata dugaanku salah.


__ADS_2