BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#54


__ADS_3

" AAPA APAAN KAMU?" bentak ku kepadanya yang seenak nya aja meluk tanpa izin. Yang malah membuat tubuh bagian bawahku tambah menegang.


" Sttt nikamtin aja aku tau kamu butuh aku," ucapnya masih memeluk ku.


" aku ngga butuh kamu, cepet lepasin,"


ucapku mencoba meronta melepaskan pelukannya.


Tapi bukannya melepaskan dia malah mengeratkan pelukannya.


" iya Mas, aku tau kamu ngga butuh aku, tapi tubuhmu ngga bisa menolak, tubuh mu butuh aku saat ini,"


ucapnya begitu lembut mengingatkan kembali pada Silla.


Dengan pelukannya tersebut bukannya menenagkan tapi malah membuat tubuhku tambah menegang melemas.


" Silla? " ucapku membalikan tubuh telanjangku dihadapannya.


Seketika saat dia sadar menatapku dalam keadaan telanjang, langsung saja dia menunduk merona.


" aku udah ngga kuat lagi.....tubuh ku panas banget, aku udah mencoba menahannya, tapi aku udah ngga kuat, aku udah ngga punya daya, aku butuh kamu..." ucapku lemah menunduk pasrah jika dia kembali menolak.


" aku bakal bantu kamu Mas, ini juga kewajiban aku..." ucapannya langsung membuat diriku terpanah dengan kata "kewajiban" di akhir kalimatnya.


Hingga tanpa sadar, dia sudah membalikan tubuhnya membelakangiku dan mencoba membuka seluruh pakaiannya di hadapanku yang membuatku hanya dapat menelan ludah.


Saat sudah tak ada lagi kain yang menempel di tubuhnya,


walau dia masih dalam keadaan membelakangiku tapi mampu menegangkan sesuatu yang berharga yang menjadi miliku selama hidup ini.


Saat diri ini, sadar dengan tatapan liar serta jalan pikiran kotor yang terus tertuju di tubuh bugilnya,


Membuatku langsung menundukan wajah ku ke bawah dan juga terus merutuki pikiran kotor ku yang masih saja memaksa tuk terus menatapnya.....


" Mas...hmm ayo..."


ajaknya yang terdengar malu malu yang membuatku langsung mendongkrakkan kepala ku, menatapnya.


Saat itu, pandanganku tertuju dengan pahatan apik yang tuhan ciptakan pada wajah cantik wanita di depanku, sampai wajahnya saja membuatku sangat terkejut dan terpana.


" Si-la?" ucapku terbata bata hingga tangis sebagai peneman air pancuran yang trus membasahi wajah basahku akibat pancuran shower tadi.


" iya Mas, aku Silla " ucapnya dengan senyuman cerianya, yang langsung segera ku dekap erat tubuhnya berharap jika ini bukan mimpi.


Hingga cukup lama sampai akhirnya si brengsek nafsu birahiku udah ngga bisa di tahan lagi, yang merusak kegiatan peluk memelukku.


" sayang mas.....udah ngga kuat,"


ucapku memelas seraya melepaskan pelukanku.

__ADS_1


" lakukan yang mas inginkan..." ucapnya begitu lembut yang membuatku langsung menyerang dirinya karena telah mendapat lampu hijau darinya.


.


.


.


.


Setelah olahraga malam yang aku lakukan tadi dengan Silla dengan durasi cukup lama. Walau dia sulit untuk mengimbangi keganasanku di ranjang, tapi akhirnya dapat terselesaikan juga.


Mungkin karena efek obat perangsang ditambah juga rasa rindu yang kian menggelora hampir dua bulan ini tak merasakan kehangatan cintanya, membuatku menghajar habis tubuh eloknya.


" Mas, tadi itu rekor banget, malam ini bakal jadi malam terlama dari malam malam yang pernah kita lewati, kayaknya mas....


kamu ganas banget deh, aku jadi takut....


biasanya ngga sampai selama itu, capek tau..." cerocos Silla kesal yang membuatku tertawa.


" Sebenernya malam malam kemarin aku juga masih kuat kok buat lakuin kayak tadi, tapi gegara tiap kita lakuin kamu terus teriak memohon buat udahan,


ya udah dengan terpaksa aku bebasin kamu,


karena, aku sebagai suami yang baik kasihan lah liat istriku merem melek nahan sakit sekaligus keenakan,


" Maaf ya Mas.......


Mas.....apa mas bisa segitu mudahnya menyerahkan tubuh mas ke wanita lain, kayak tadi?" tanya nya serius sambil masih memeluk tubuhku dibawah selimut.


" Engga lah dek,


sebenernya aku udah feeling kalo itu kamu, aku juga pernah sekali ehh bukan sekali tapi, dua kali malahan melihat wajah mu tanpa cadar secara sengaja maupun ngga disengaja,


Saat pertama kali ngelihat kamu ngga pakai cadar, awalnya aku sangat terkejut dan beranggapan kalo aku cuma halusinasi perihal Silla, pertama kalinya lihat pas kamu lagi ngaji yang hanya dengan berbalutan mukena.


....setelah pagi melihat wajah polosmu, malamnya aku tambah penasaran, jadi aku mantapkan hati buat nekat ngintipin kamu di kamar, saat itu kamu udah tidur dengan Diana tapi masih juga dengan balutan cadar. yaudah deh setelah itu aku buka dengan keraguan tapi hasilnya memuaskan dan aku ngga kecewa.


Karena sebelum itu, aku sangat percaya kalo kamu Silla istriku," ucapku menjelaskan.


" Wooo..Mas ngeri deh, berani ngitipin anak gadis di kamar, itu kejadiannya kapan sih Mas? " godanya.


"....hahaha, kamu bukan gadis lagi sayang, kamu udah jadi wanitaku, kalo gadis mah masih virigin....hahahha," ucapku yang langsung di tabok perut polosku yang saat ini ngga tertutup apapun.


" awal kejadiannya pas Mas lupa bawa flashdisk nilai kemarin, kalo proses ngintipnya tepatnya malem tadi, hehhe," ucapku cengengesan mengingat kenekatanku waktu itu.


" woo Mas parah, nakal,


jangan ngintipin cewek lain lagi.." ucapnya mencoba mencubit perutku kembali namun ku hadang tangan jahilnya dan langsung ku hadiahi kecupan lembut pada jemarinya.

__ADS_1


" Engga bakal lah,


Maafin Mas ya, tapi... itu juga salah adek, kenapa ngga bilang yang sebenernya kalo itu kamu,


kan Mas jadi penasaran, apa benar Sinta itu istriku atau bukan" ucapku.


" yahh itu salah Mas lah!" ucapnya seperti biasa ngga mau disalahkan.


" lho kok salah Mas sih dek?" tanyaku binggung sambil berusaha menyanggah tuduhannya.


" iyalah.....


kalo mas dari awal ngga deket deket sama mba Diana, pasti saat pertama kali kesini, aku ngga bakal nyangka kalo itu istrimu," ucapnya membuatku kaget.


" lah kamu ngira aku sama Diana suami istri gitu? tanyaku yang mendapat anggukan darinya.


" gimana ngga nyangka kek gitu, saat awal kesini aja, aku udah ngelihat mas lari sok romantis bukakin pintu mobil dan muncul wanita cantik itu," sindirnya yang membuatku tertawa mengingat mengerti kapan kejadian kesalahpahaman itu.


" jangan berpikiran yang engga engga, waktu itu aku bukain pintunya karena Diana belum terbiasa bawa bayi di gendongan, jadi aku bantu dia buka pintu mobil sekaligus coba bantu dia berdiri dengan tetap ngegendong Rasya yang asik bobok, supaya ngga kebangun,..."jelasku


"....aku sama dia ngga lebih sebatas temen kok, aku juga udah janji sama diriku sendiri kalo aku bakal menikah sekali seumur hidup,"


lanjut ucapanku dengan penuh keyakinan.


"....tapi sekarang aku lebih..hm..suka kalo mas berkeinginan nikah lagi, a....aku ikhlas kok kalo mas mau nikah sama Mba Diana,


dia....wanita baik dan kelihatannya sayang sama anak anak, aku juga tau kalo Mas juga pengen kan ngerasain punya keturunan laki laki, dan pasti Mas juga pengen kan punya keturunan lagi.." ucapnya pelan terseret kayak orang nahan tangis.


" aku ngga mau nikah lagi, kita kan udah punya Rasya anak lelaki pertama kita," tegasku serius tapi sekaligus gemas mendengar ucapan yang bagiku sangat konyol dari bibirnya, sampai akhirnya tanganku pun mampu terulur tuk mengacak gemas puncak kepalanya.


" tapi dia kan cuma.." ucapnya sebelum dilanjutkan langsung ku sanggah dan ku potong.


" sssssttt, dia adalah anak kandung kita selamanya, " balasku dengan anggukan dan senyuman.


"....lagi pula kalo aku pengen punya anak laki laki lagi kan gampang dek, ada kamu juga kan,


aku bakal rajin rajin usaha tiap malem biar Rasya sama Tisya bisa dapet adek secepatnya, hahahhaa," candaku yang malah di balas tangisan bukan tabokan, apalagi di tambah pelukan Silla semakin erat yang membuatku kaget tak mengerti.


" lho adek kok malah nangis,


ada yang salah di kalimat yang Mas katakan?"


tanyaku yang dibales gelengan.


....lah terus adek kenapa nangis?" tanyaku sembari mengelus lembut punggung polosnya tuk menyalurkan ketenangan.


" Mas ngga salah kok, adek yang ngga berguna lagi Mas, a-aku...aku ngga bisa hamil lagi Mas," ucapnya buat ku kaget bak tersambar petir disiang bolong.


" maksud adek apa? Jangan bercanda deh, sayang, kamu aja bisa ngelahirin Tisya," tanyaku serius sambil menatap manik matanya.

__ADS_1


__ADS_2