BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#53


__ADS_3

Sesampainya di rumah yang telah di kirimkan Diana, aku langsung membuka pintu itu tanpa mengetok karena tadi dia minta aku langsung buka pintu aja soalnya ngga dikunci.


" Diana...kamu dimana?"


panggilku sedikit teriak sesaat memasuki rumah yang sama besarnya dengan rumahku.


" Heyy Zaed......."


ucap Diana mulai membuka pintu atas yang ku duga itu pintu kamarnya.


Tapi yang membuatku terpana ialah tampilannya malam ini yang sungguh berbeda, dengan hanya memakai tanktop ketat yang dipadukan dengan hotpans, yang langsung membuatku mengalihkan pandanganku ke arah lain.


" kamu mau duduk dimana? Di ruang tamu? Ruang kelaurga? Apa sofa kamarku?" godanya yang membuatku mengela napas berat.


" udah di ruang tamu aja, katanya tadi kamu pusing, kenapa kamu malah pakai pakaian seperti ini, emang kamu ngga kedinginan? nanti sakit mu bisa tambah parah..." ucapku langsung duduk di ruang tamu tanpa permisi buat sekedar menghindarinya.


" hahhaha...tenang aja Zaed, nanti kalo aku kedinginan, kan ada kamu yang bakal hangatin aku," ucapnya dibuat manja yang membuatku tersenyum kecut.


" menurutku kamu udah baikan, mending aku pulang aja deh..." ucapku sambil mau berdiri.


" kamu duduk disini dulu, aku cuma pengin kamu minum minuman yang aku buat dulu baru deh...kamu boleh pergi.." ucapnya menghadap di depanku yang ku balas senyum yang ku paksakan.


" ngga usah repot repot, mending kamu isttirahat aja, aku pulang dulu..." ucapku mau melangkah yang langsung di hadangnya dengan tatapan mau menangis.


" Zaed..aku cuma pengen kamu minum minumanku doang....


kalo ngga mau aku bakal buka seluruh pakaianku di depanmu sekarang..." ucapnya ingin menangis sambil akan membuka pakaiannya yang langsung ku tahan tangan nya.


" yaudah...sekarang kamu buatin aku minum, aku bakal nunggu disini, tapi setelah itu aku ingin pulang..." ucapku yang dianggukinya.


Setelah itu dia pergi ke arah dapur untuk membuat minum, ku dudukan lagi tubuhku di sofa ruang tamunya.


" ini coba rasakan, pas ngga manisnya?" ucapnya sambil menyodorkan kopi yang masih beruap yang langsung ku coba.


Ku sruput sampai tandas dengan cepat saat minuman itu sudah tak panas, agar bisa cepat pulang karena jujur aku ngga nyaman dengan tingkah manja dengan pakaian laknat itu.


" udah habis, enak kok, udah ya aku mau pulang.." ucapku langsung mau berdiri namun seketika kepalaku jadi berdenyut dan tubuhku mulai panas.


" kamu kenapa Zaed...sini biar aku bantu..." ucapnya sambil ingin mendekat tapi langsung ku hadang dengan tanganku di depannya menyiratkan jangan mendekat tapi dia malah mulai mendekatkan dirinya dengan ku tanpa menghiraukan kode tanganku.


" sini duduk dulu..aku tau yang kamu rasakan..."


ucapnya sambil mengelus pahaku dengan gerakan sensual.


" jangan sentuh sentuh...." ucapku langsung menghempas tangan nakalnya dengan kasar.


" sentuh kayak gimana sih? Kayak gini maksud kamu?" tanyanya kembali mengelus tubuh bagian bawahku yang membuatku langsung menepisnya kasar.


Aku langsung mencoba berdiri namun buru buru dihadangnya. Dengan gerakan cepat dan sebelum dia berbuat macam macam, aku langsung mendorong tubuhnya kasar hingga dia terhempas di lantai dingin. Ku langkahkan kakiku terburu buru dengan tubuh yang ku paksakan buat berdiri tetap tegak keluar rumah.


....

__ADS_1


Tok..tok...tok....


Tok....tok...tokk


Aku mulai mengetok pintu rumah dengan tergesa gesa, karena tubuh ku, udah terasa sangat panas kepala ku pening menginggat reaksi obat yang tadi di minuman itu sangat cepat.


" BUKA!!!" ucapku ngga sabaran karena ngga dibuka buka sambil mengedor gedor pintu rumah.


Ceklek...


" akhirnya..."batinku.


" Maaf pak lama, soalnya tadi saya mencari cadar dulu, " ucap Sinta takut takut.


" yaudah, nggapapa..." ucapku sembari sempoyongan masuk kedalam rumah.


" bapak kenapa?" tanyanya.


" saya ngga kenapa kenapa,


Jedukk... Aww"


ketika lutut ku tersengol kaki meja ruang tamu.


" aduhh..bapak hati hati dong jalannya..."


ucapnya ikut ngilu saat lutut ku kejedot kaki meja yang langsung ku dudukan tubuhku di sofa karena udah ngga tahan buat ngelihat jelas ke arah depan.


" panas? Ini baru selesai hujan lho pak masa panas.....ehh...bapak kenapa buka baju disini? Bapak itu kenapa sih?"


ucapnya yang udah ngebalikin tubuhnya membelakangiku.


" Pasti tadi dia menaruh obat perangsang itu dalam minuman ku, Argghhh," ucapku sembari mengacak rambut frustasi.


" obat perangsang?" tanyanya masih membelakangiku.


Dan akhirnya perucapan ini pun terlontarkan juga


" tolong bantu aku, buat nyalurin hasratku, "


ucapku udah ngga kuat banget, sambil mendekati dan menatap manik matanya.


" sa-ya ngga bisa pak, lagipula kita juga bukan mahrom, pak," ucapnya menunduk.


" ahhhh terserahlah, kalo sampek saya mati gegara ngga bisa nyalurin hasrat saya, ini bakal jadi salah kamu, " ucapku langsung menaiki tangga dan masuk ke kamar.


" apa efeknya bisa sampek mati, pak?" teriaknya cukup keras.


"YA....


Brakkkk...." ucapku singkat frustasi sembari menutup kencang pintu kamar.

__ADS_1


Sesampainya di kamar rasa panas di tubuhku semakin menjadi rasanya ingin meledak otakku meninggat hal yang tidak tidak.


Ku lucuti dan lempar seluruh kain yang masih menempel di tubuhku dengan asal, setelah itu ku nyalakan shower yang udah ku atur dengan air yang paling dingin.


Walau ini udah sekitar jam sebelas malam, tetap ku paksakan buat mandi.


Ku tenangkan tubuh serta kepalaku di bawah pancuran shower berharap bisa mengalirkan pikiran pikiran kotorku bebarengan dengan aliran air yang telah membasahi seluruh tubuhku.


Tetapi masih belum mengurangi hawa panas di tubuh, yang membuatku malah jadi tambah frustasi.


Ceklek...


Hingga akhirnya fikiran ku sedikit teralihkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka dengan munculnya wanita bercadar di depan pintu yang masih menunduk.


" ngapain kamu disini?"


tanyaku begitu dingin untung aja aku masih sadar belum begitu kabut dengan obat brengsek itu.


" a aku disini ehmmm..ngapain bapak mandi jam segini?" tanyanya balik yang kurasa dia mencoba mengalihkan pertanyaanku.


" suka suka saya, lagipula kamu ngga bisa kan bantu saya, lebih baik kamu keluar dari sini, saya mau melanjutkan mandi," ucapku dingin dan begitu santai dengan kondisi bugil di depannya.


" jangan mandi jam segini kamu bisa sakit, a..aku bakal bantu kamu," ucapnya terus menunduk yang membuatku ragu dengan ucapannya.


" saya udah ngga butuh kamu lagi, sana kamu pergi!!!" ucapku lebih keras dari volume yang tadi, dan berusaha mengabaikannya dengan lanjut menyegarkan tubuhku di bawah pancuran shower.


Dalam mandi ku aku berusaha ngga membalikan badanku kepadanya,


"....tapi mengapa dari tadi belum terdengar suara pintu terbuka, apa dia belum keluar ya..hadeuh kenapa tubuhku malah jadi tambah panas sih"


fikirku sambil kembali menjambak rambut dengan sangat kuat tapi kian melemas jambakan ketika merasakan kedua tangan yang memelukku.


" AAPA APAAN KAMU?" bentaku kepadanya yang seenak enaknya aja meluk tanpa izin dan malah membuat tubuh bagian bawahku tambah menegang.


" Sttt


nikamtin aja aku tau kamu butuh aku," ucapnya masih memeluk ku.


" aku ngga butuh kamu, cepat lepaskan,"


ucapku mencoba melepas pelukan.


Tapi bukannya melepaskan tapi malah jadi tambah erat.


" iya Mas, aku tau kamu ngga butuh aku, tapi tubuh kamu butuh aku saat ini,"


ucapnya begitu lembut seperti Silla yang membuat tubuhku tambah menegang dan melemas.


Duarrr,


spa hayoo? Sinta or Silla?😆

__ADS_1


__ADS_2