BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
44


__ADS_3

" kecelakaan? Apa yang terjadi dengan istri saya pak?" tanyaku pada polisi tersebut.


" saya tidak tau korban kecelakaan istri bapak atau bukan karena korban sampai saat ini belum dapat kami temukan, dan mobil dengan plat nomor xxxx sudah meledak" ucap polisi di sebrang sana.


" ya tuhan itu mobil istri saya pak,


apa bapak tidak menemukan siapa pun disana? Dimana tempat kejadiannya pak?" tanyaku penuh kekhawatiran.


" jalan xxx silahkan anda datang kemari, saya akan menjelaskan kejadiannya secara detail di......." ucapnya langsung ku putuskan sambungan telepon sepihak dan langsung berlari ke dalam kantor buat ngambil kunci, handpone, dan dompet setelah meminta guru matematika lain untuk mengantikan kelas ku.


Aku berlari sekuat tenaga menuju parkiran mobilku ngga peduli tatapan terkejut anak murid diluar yang tengah menatapku aneh, ngga sedikit pula dapat ku dengar bisikan siswi siswi yang mengatakan aku terlihat sangat gagah dan keren saat belari. Tapi aku tak peduli itu karena dipikiranku hanya satu yaitu SILLA...


Setelah menemukan mobil ku, aku langsung tancapkan gas dengan kecepatan penuh menuju alamat yang telah polisi tadi katakan.


.....


Setelah sampai di tempat kejadian aku bisa melihat ayah dan bunda di kejauhan, bunda yang sedang menangis di pelukan ayah.


Hatiku rasanya sangat sakit membayangkam apa yang terjadi saat ini, ketika melihat garis kuning polisi melintang mengelilingi mobil yang sangat mirip kepunyaan istriku yang saat ini dalam kondisi mengenaskan dan masih munculnya asap ledakan akibat beberapa waktu lalu, kiraanku.


Kakiku kian melemas sesaat, tapi tetap ku paksakan tuk mendekati pijakan ayah bunda, yang saat ini berada di dekat mobil merah yang ku harap itu bukanlah mobil milik Silla. Mobil itu dalam posisi ambruk ke samping di tepi jurang. Tapi aku masih harus berpikir positif!!!


Ngga mungkin kan tuhan mengambinya secepat ini.


" Bunda..." panggilku saat mendekati sepasang suami istri ini yang sibuk berpelukan.


" Zaed..." balas Bunda yang mulai melepaskan pelukan ayah dengan memperlihatkan wajah sembabnya kepadaku.


" ini ada apa bund, ngga mungkin kan ini Silla? Ngga mungkin kan bund?"


tanyaku memilukan sungguh melemas dengan buliran air mata yang sudah membasahi wajah tampanku.


" sabar Zaed, bunda juga ngga ngerti dengan semua ini, tadi setelah Silla sampai ke rumah bunda, Silla nitipin anak anak ke bunda katanya Silla pengen ke minimarket soalnya kangen makan es krim,


tapi....tapi malah jadi gini Zaed akhirnya...kalo tau kayak gini jadinya Bunda ngga bakal Zaed ngijinin dia buat pergii..maafin bundaa Zaed...." jelas Bunda sambil menangis kembal8 yang membuatku lemas dan akhirnya terduduk lemas di kerasnya aspal tanpa alas.


" tenang bunda...ini semua sudah takdir dan ngga ada yang salah disini...kita berdoa yang terbaik saja buat Silla, ya Bund.." ucap ayah yang masih mampu terdengar di sepasang telingaku.


" ngga mungkin tuhan!!! Dia wanita baik..ngga mungkin Kau mengambilnya secepat itu...hiks...hikss...


Please...Jangan ambil Silla dulu, aku masih membutuhkannya, anak anak juga membutuhkannya, kami semua masih membutuhkan kehadirannya tuhan," teriakku sangat keras menyedihkan dengan tangisan yang masih mengenang di pelupuk mataku, yang langsung dibantu berdiri ayah sambil merengkuhku dalam dekapannya.


Tapi hanya tatapan kosong yang terpancar di retinaku, tubuh ku saja tak mampu hanya untuk membalas rengkuhan ayah.


"Aku harus kuat ini pasti ngga mungkin Silla. Aku harus menanyakan kejadiannya dan harus mencari keberadaannya sekarang. " batiku menyemangati.


Aku langsung mencoba berlari mendekati polisi dan ingin menanyakan kejadiannya.


" Bagaimana bisa terjadi kecelakaan pada istri saya pak polisi?" tanyaku pada pak polisi.


" Begini pak, berhubung jalan ini sepi jadi kami tidak menemukan satu pun saksi mata, tapi menurut perkiraan kami kecelakaan ini terjadi saat mobil istri bapak menabrak pohon dekat jurang karena tabrakan mobil istri bapak dan pohon cukup keras berhasil membuat mobilnya ambruk ke samping dan setelah itu meledak.


Tapi disini, anehnya kami tidak menemukan korban di dalam mobil, kami takutnya korban terjatuh dalam jurang di sana pak,


tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin pak untuk mencari keberadaan korban," ucap polisi tersebut yang membuatku lemas duduk tersimpuh tepat di depannya yang langsung di bantu buat berdiri olehnya.


Ku langkah kan kaki ku mendekati jurang yang sangat dalam yang dipenuhi air sungai dengan gelombang yang cukup deras, tangis ku ngga bisa ku bendung lagi, kaki ku lemas ngga kuat berdiri diatas sini dan akhirnya kedua kakiku bersimpuh dengan terus membayangkan Silla yang terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam itu.


" tuhan apa salah istriku? Dia wanita baik kenapa nasibnya malang sekali?" teriaku dari atas jurang.


" tuhan jangan hukum Silla, hukum saja diriku yang berlumuran dosa ini tuhan!!! Hiks hiks hiks..." tangisku kembali meraung raung.


"....udah Zaed kita harus ikhlas dan tegar apa yang telah terjadi, inget anak anak dirumah, mereka juga membutuhkan kamu, kamu harus kuat, nak" ucap ayah Silla.


" yah..tapi Zaed butuh banget Silla, Zaed ngga bisa hidup tanpa dia, Zaed ngga bisa ngebesarin anak anak seorang diri," ucapku memilukan yang langsung mendapat pelukan ayah.


" kamu doain Silla yang terbaik saja, jika jatah waktu Silla di dunia ini udah berakhir apa boleh buat Zaed, kamu harus ikhlas, kamu tenang aja ayah bunda dan ibu ayah kamu, kami semua siap membantu kamu membesarkan anak anak, Zaed,"


ucap Ayah menengkan tapi malah membuatku tambah menangis.


....


Setelah itu ayah mengajakku buat pulang kerumah, untuk melihat anak anak ku di rumah ayah bunda. Sesampainya di rumah ayah perasaan hatiku sangat terasa hampa selama perjalanan ku coba tenangkan diriku supaya anak anak ngga ikut sedih perihal ini.


" ayah..." sambut putraku yang udah basah kuyup gegara bantu Pak Tono cuci mobil di halaman.


" duuh..kok anak ayah yang tampan ini basah basahan sih? Kalo masuk angin gimana?" tanyaku pada bocah dua tahun itu yang malah dibalas tawa renyahnya.


" maaf ya den, tadi saya yang ngajak den Rasya buat main air soalnya baby Tisya dari tadi rewel terus jadi den Rasya tadi juga ikut nangis terus, jadi saya ajak aden Rasya main biar ngga nangis terus."


jelas Pak Tono,membuatku berpikir mungkin bayi kecil itu tau keadaan bundanya.


Memang benar ikatan batin seorang ibu dan anak sangatlah erat ditambah Tisya masih kecil jadi lebih sensitif perasaanya.

__ADS_1


" ohh ya makasih pak tono, udah ngajak main Rasya, saya masuk ke dalam dulu ya pak," pamitku pada pak Tono.


" iya den.."


" yah...nda ana?" (yah....bunda mana?)


tanya putra kecilku ini yang membuat hatiku kembali tersentil.


" hmm..bunda malam ini, bobok ke rumah kakung sma Uti dulu ya sayang, jadi nanti kakak tidur bareng ayah dulu..." ucapku menahan tangis yang langsung dianggukan kepalanya lemah.


Ohh ya kakung uti itu panggilan ayah ibuku, kalo kakek nenek panggilan ayah bunda Silla.


" ayah mandiin kakak sekarang ya..." ucapku yang diangguki nya kembali dengan raut sedih.


Mungkin dia merasa kurang nyaman, soalnya sehari harinya dia habiskan waktunya bersama Silla.


Setelah memandikan dan memakaikan pakaian ke putraku aku langsung meuju dapur dengannya untuk membuat susu untuknya. Karena Rasya hanya minum asi Silla dalam sebulan dengan ragam bujuk rayu akhirnya dia mau meninggalkan asi Silla dan beralih kembali ke susu formula, karena usia dia juga sudah memasuki usia dua tahun yang harusnya udah ngga minum asi lagi.


" hmmm...sayang biasanya bunda kasih berapa sendok susunya?" tanyaku binggung,


karena biasanya aku cuma jagain anak anak doang di kamar mereka, ngga sampek buatin susu.


Disini aku baru tau, bagaimana kehadirannya sungguh sangat berarti.


" (dijawab gelengan olehnya)pon nda ja yah..."


(telepon bunda aja yah) sahut putraku yang membuatku tak bisa lagi menahan air mataku.


Ku sejajarkan tubuhku pada tubuh mungilnya yang langsung ku hadiahi pelukan erat dengan airmata yang udah tumpah membasahi pipiku.


" hiks...hiks..." tangisku ngga bisa ditahan tuk tak terucap.


" yah..." akhirnya panggilnya yang membuatku menghentikan isakan tangisku dan mulai menatapnya lembut, ia edarkan tangan mungilnya untuk mengelus kedua pipiku yang udah basah dengan air mata, sungguh hatiku saat ini sangat sakit sekali membayangkan putra di depanku ini jika tau keadaan ibunya yang tenggelam tak tau dimana.


" ata...unda ndak oleh angis, "


(kata..bunda ngga boleh nangis)


ucap cadel anakku, emang Silla ibu yang sangat pintar hingga anakku yang baru berumur dua tahun lebih ini sudah mengenal berbagai kata dan mampu menaggapi omongan orang lain, maka dari itu aku dan Silla selama ini sangat berhati hati mengajarkan setiap ucapan yang akan ia lontarkan sebab anakku ini memiliki daya ingat yang sangat kuat.


" maafin ayah ya...ngga bisa nahan tangis ayah..." ucapku yang dijawab anggukan kepalanya.


Melihat Rasya membuatku kembali mengenang masa masa indah dimana masih ada Silla yang membuatku rinduku tambah mengebu.


" lho kenapa ini pada pelukan?" tanya seseorang yang muncul di belakang Rasya.


" asa...mualaikum utii" salam Rasya yang membuat ibu menciumnya gemas.


" waalaikumusalam sayang, gimana Rasya sehat?" tanya ibu dan aku hanya menjadi penonton saja.


" ehat, unda ana tii, " tanya Rasya membuatku kaget ngga cuma aku sih tapi Ibu juga terlihat kaget.


" hmm..bunda lagi istirahat sayang, bunda kayaknya kecapean..." jawab ibu dengan sesekali meliriku.


" unda apek...kenapa uti ketini? Uti ndak ndagain unda? ata atyah unda inep umah utii," ucap Rasya panjang.


" ohh iya...hmm B..Bunda dirumah uti, tapi kayaknya Bunda kecapean deh...makanya bunda minta Uti kesini buat jagain Rasya, soalnya bunda ngga bisa kesini," ucap ibu menenagkannya yang malah membuatku meneteskan kembali airmataku tapi langsung ku hapus dengan cepat sebelum Rasya tau.


" Asya angen unda.." ucap Rasya memeluk ibu erat.


Ini aja baru sehari bagaimana jika selamanya, apa aku harus berbohong terus tuhan? Batinku menyerah.


"tadi Rasya kenapa pelukan sama ayah?" ucap ibu mengalihkan pembicaraan.


" ayah angis ndak isa ikin susu," jawab Rasya yang membuatku tertawa miris.


" yaudah biar Uti ya yang buatin susunya," ucap ibu yang langsung diangguki Rasya.


Selama ibu membuat susu aku terus bertanya seberapa banyak airnya, berapa sendoknya, kenapa harus pakek air dingin juga, kenapa dotnya harus sekali pakai langsung dicuci dan lainnya lah pokonya banyak. Soalnya aku pikir, aku harus bisa memenuhi keperluan anak anakku jika nanti memang tuhan ingin hanya aku yang membesarkan mereka.


" adek udah bobok bu?" tanyaku pada ibu yang masih mengawasi Tisya dalam box bayi.


" iya, sayang tisya udah bobok.." jawab ibu.


Ohh ya aku meminta buat tidur dalam sekamar dengan Rasya, Tisya dan Silla harapku jika ada mukjijat yang membawanya kembali kesini malam ini.


" yaudah yok, bobok Rasya..." ajakku pada putraku yang masih menatap adek kecilnya disamping ibu yang langsung dianggukinya.


" yah....ata unda osok igi ulu,"


ucap Rasya yang menghentikan langkahku ketika mau merebahkan tubuhku di kasur empuknya.


Emang kenangan baik Silla akan selalu terpatri dalam hidup ku dan anaku kelak.

__ADS_1


" yaudah yok, gosok gigi dulu,"


ucapku langsung mengikutinya dari belakang buat masuk ke kamar mandi.


" yah..acain a muk ayak unda iasanya"


ucap Rasya kalo kali ini ngga bisa ku pahami dan saat kita sudah berada di atas ranjang.


" Baca apa sayang? Muk?"


tanyaku padanya yang langsung di balas gelengan kepalanya.


" ukan..a muk" balas dia ikut gemas dengan nada yang mulai meninggi.


" amuk? Amuk apaan itu sayang?" tanyaku yang juga ikut gemas.


" Mungkin maksud Rasya Al-Mulk, soalnya Silla ngga bisa tidur kalo ngga baca Al-Mulk dulu..." ucap Bunda yang sedang masuk kamar dengan dot berisi susu buat Rasya.


Ya..ampun sayang, kenangan mu masih saja terngiang di dunia ini, terimakasih sayang udah meninggalkan kenangan manis disini, batinku sangat bangga padanya.


" ohhh anak ayah pengen dibacain surah Al-Mulk?" tanyaku yang dibalas anggukan antusiasnya.


" Zaed, Rasya udah gosok gigi kan?"


tanya bunda yang ku angguki.


Setelah Rasya menerima dot susunya dan mulai mengedot saat itu pula lantunan ayat al-mulk terucap di bibirku. Dalam setiap ayat yang ku baca itu sambil ku resapi kenangan manis ku dengan Silla, dia ngga bakal mau tidur sebelum ku lafalkan al mulk di sampingnya, dan begitupun Rasya dan mungkin Tisya yang ngga bakal bisa tidur jika tak mendengar lafalan al-mulk dari bibir Silla, mungkin aku harus bisa membiasakan membacakannya biar mereka ngga merasa kesepian atas kepergian Silla.


...


" Ooee...oeee" tangis bayi kecilku yang membuatku langsung terbangun dari mimpiku.


Ku gendong putriku dengan ayunan sangat lembut dan lambat sambil meyusuinya dengan dot yang isinya asi Silla.


Beruntung Silla meninggalkan beberapa asi di botol yang di taruh Bunda di lemari es. Setelah Tisya kembali tenang namun dia masih enggan tertidur.


Setelah selesai meminum asi aku langsung saja menaruhnya kembali ke box bayi aku sangat berharap jika dia ngga nangis lagi saat ku letakan kembali. Alhamdulilahnya takdir berpihak kepadaku saat ini, Tisya masih tenang sambil menatap cerah ke atas. Saat ku kira dia mampu ku tinggal, langsung aja ku langkahkan kaki ku ke ruangan dingin untuk mengambil air wudhu.


Setelah wajahku kembali cerah dengan air wudhu ku siapkan sendiri alat solat tepat disamping box bayi Tisya dan tepat disamping ranjang Rasya yang masih terlelap.


" Tuhan pagi ini aku kan menghadapmu seorang diri, tapi ku harap kau kan kirimkan dia lagi untuk menemaniku menghadap Mu tuhan,


aku ikhlas pagi ini tak bersamanya, tapi ku mohon pagi pagi selanjutnya biarkan dia bersamaku, aku tak bisa hidup tanpanya" batinku ketika akan memulai solat.


Ku gerakan tubuhku di tengah hawa dingin pagi ini seorang diri untuk menghadap sang Maha Pencipta, walau tak ada makmum di belakangku tapi aku bersyukur ditengah sujudku aku masih berada di tengah tengah malaikat malaikat kecil ku.


" Tuhan, ku hadapkan diriku seorang diri di tengah dinginnya embun pagi ini. Tuhan aku hanyalah lelaki lemah ciptaanmu yang berlumuran akan dosa, ku rasa tiada pantas diri ini buat meminta, tapi apa daya diri ku ini tak dapat hidup tanpa bantuan dan kuasa Mu,


Ku ucapkan banyak terima kasih atas pemberian perasaan kuat yang engkau berikan hari ini, tapi tuhan hanya dirimu yang mampu mengetahui isi relung hatiku sebenernya.


Hatiku saat ini sakit tuhan, aku ngga kuat menjalani hidup ini tanpa adanya dia di sampingku.


Tuhan pagi ini yang ku pinta hanya satu, kabulkan apapun yang di pinta istriku, jika ia kedinginan tugaskan malaikatmu tuk menyelimutinya, jika dia kegelapan tugaskan malaikat mu untuk meneranginya, jika dia kesakitan tugaskan malaikatmu untuk mengangkat rasa sakitnya.


Tuhan jaga istriku dimana pun dia sekarang berada, ku titipkan sebuih rindu dan ku pinta kirimkan rinduku padanya tuhan, dan pintaku jangan siksa istriku dan anak anakku siksa saja aku tuhan, aku ikhlas.


Dan orang yang pantas mengantikan dirinya sekarang di dinginnya air sungai hanyalah aku.


Hanya aku tuhan, jangan Silla...."


tangisku tak bisa dibendung lagi.


Aku memang bisa bersikap seolah tegar di depan semuanya tapi aku akan terlihat sangat lemah di hadapanNya karena aku hanya makhluk tanpa daya yang harus menerimanya dengan lapang dada.


Setelah selesai berdoa menghadap tuhanku, untuk menunggu adzan ku buka ayat al qur'an dan mulai membacanya sambil sesekali melirik putriku yang masih terjaga dengan ketidaktidurannya, mungkin ia ingin menemani sang ayah, batinku.


Hingga akhirnya adzan pun berkumandang membangunkan semesta. Dan saat itu pula Rasya pun ikut terbangun dari tidurnya, karena setiap subuh dia selalu ikut aku ke masjid buat solat berjamaah denganku walau kadang Rasya malah tertidur di masjid, tapi kata Silla ngga papa dibiarin aja yang penting dia bisa terbiasa ke masjid. Ya memang sedari kecil Silla udah mengatakan ke Rasya kalo lelaki itu solatnya di masjid jadilah setiap magrib, isya dan subuh aku mengajaknya ke masjid kalo zuhur sama ashar Silla yang menemani putraku ke masjid.


Sungguh dia memang wanita yang patut diacungi dua jempol, dia wanita lembut dan sabar walau terkadang manja kekanak kanakan tapi itu wajar dengan sifat wanita umumnya.


" yah...ungu Asya udu ya..." ucapnya langsung berlalu ke kanar mandi dan wudhu karena Silla selalu membimbingnya sejak awal jadilah sekarang sudah terbiasakan.


......


" bu, bund, aku titip anak anak bentar ya...aku pengen lari pagi"


pintaku pada kedua ibu ku yang tengah meracik sayur sayuran. Kalo Rasya sama Tisya udah main ke taman belakang rumah sama kedua ayah buat berkebun sebab belakang rumah bunda ada kebun sayuran yang tumbuh dengan baik dan lebat.


" iya tenang aja, udah sono pergi nanti keburu siang.." ucap ibu yang langsung ku salami kedua ibu tersebut dan berlalu pergi.


Setiap langkahan lariku ku habiskan untuk mendengarkan earphoneku hmm...bukan lagu sih tapi juga bukan solawatan akan terkesan jorok tapi suara itu sangat ku rindukan, suara desa**n bercin**ku dengan Silla.


Karena pernah sekali aku memvidiokan kita berhubungan tanpa sepengetahuannya, waktu itu aku berpikir buat kenangan masa masa muda yang nantinya bakal ku lihatkan Silla saat kita sama sama sudah beruban.

__ADS_1


Tapi malang, takdir telah menjemputnya terlebih dulu, dan pada akhirnya kenangan vidio ini hanya menjadi kenangan untukku seorang.


💔


__ADS_2