BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#50


__ADS_3

"...gimana enak ngga Sin?" tanyaku.


" hmm..en.ak kok pak.." ucapnya yang membuatku tersenyum kecut ternyata dugaanku salah.


Hingga akhirnya pandanganku yang semula lesu di hadapan bubur kembali semangat memandang Sinta yang tengah menutup mulutnya dan langsung berusaha lari ke kamar mandi.


Saat itu semua panik mendekat, tapi aku hanya berdiam diri dengan senyum penuh arti di meja makan.


" huek....huek..." terdengar suara orang mutah dalam kamar mandi dekat dapur yang padahal aku belum kasih tau kalo itu ada kamar mandi, kan benar kalo Sinta itu sangat mencurigakan, batinku bahagia, aneh ya harusnya ada kesal dan marah tapi nyatanya aku malah senang, hahhaha.


" bunda nggapapa?" tanya Rasya mengandeng Sinta ke arah meja makan dengan hanya dibalas anggukan saja.


" Sint nih minum dulu, setelah itu habiskan buburmu mumpung masih anget, kata orang sih kalo sakit harus tetep dipaksain makan," nasihat Diana.


" hmm..iya mba.." ucapnya langsung kembali mengaduk bubur di depannya.


Setelah itu aku langsung menghampiri almari buat ngambil roti tawar. Setelah dioleskan dengan selai ku taruh ke piring kecil di depan Sinta.


" nih makan," ucapku dingin dan kembali duduk sambil memakan buburku lagi.


" ngga usah pak, " ucapnya sambil menyodorkan piring tadi ke arahku namun langsung ku tahan.


" makan atau aku bakal suruh kamu habisin buburnya," tegasku yang langsung membuatnya menangguk dan mulai memakan.


" makasih ya, pak," ucapnya yang ku balas deheman padahal mah dihati udah seneng banget, soalnya rencana ku berhasil.


"...aku harus menyelidiki lebih jauh tentang Sinta takutnya kayak di cerita cerita, kalo setelah kecelakan terus amesia kemudian nikah sama orang yang ngga dikenal, astagfirullah jangan sampai lah kayak gitu...."pikirku.


Setelah acara makan telah selesai dan kami pun untungnya udah solat dzuhur, sampai akhirnya Tisya terbangun dari mimpinya dengan tangis teriakannya mampu membuat seisi rumah pun langsung tergesa gesa mendatangi bocah itu.

__ADS_1


Sinta pun sama sesaat sampai di kamar dia langsung mengangkat bayi tersebut dalam gendongannya.


" pak apa boleh saya nyusuin langsung bayi anda?" tanyanya yang ku angguki, tapi beberapa menit setelah dia meminta izin dia belum juga memulai menyusui malah diam aja sambil mengoyang goyangkan Tisya yang masih terus menangis.


" yaudah susuin sekarang, keburu anak saya dehidrasi gegara kehausan," ucapku sinis padanya yang membuatnya tertunduk lesu.


" hmm....iya pak, tapi tolong bapak sama mbak Diana keluar dulu, biar saya mudah nyusuinnya," ucapnya kembali menyadarkanku kalau dia bukan mahromku, yang tentu saja langsung aku dan Diana pergi menuruti permintaanya.


" Zaed..emang dia mirip banget ya sama istrimu?" tanya Diana saat kita hanya duduk berdua di sofa ruang tamu.


" iya, dia mirip banget sama istriku, cara bicaranya, bodynya, suaranya, semualah," ucapku serius yang dibalas anggukan sedihnya.


Setelah beberapa menit telah berlalu bahkan menit ngga hanya menunjukan pada satuannya saja, tetapi sampai sampai menunjukan puluhan, sekitar empat puluh menitan tapi wanita itu tak kunjung keluar, aku terus menatap kamar anak anak yang tak kunjung dibuka sambil terus melirik jarum jam yang berdetak di dinding.


Terlebih lagi aku hanya sendiri, Diana telah tertidur di ruang tamu, karena dia bilang ngantuk. Ku coba langkahkan langkah demi langkah pada pintu anak anakku yang terdengar sangat sepi.


Ku beranikan buat membuka pintu di depanku itu, setelah pintu itu mampu terbuka dengan hati hati ku coba intip keadaan di dalam ruangan itu yang terlihat sangat senyap sepi.


Ku hembuskan napas perlahan, merasa tenang melihat wanita itu memeluk kedua anakku, entah wanita itu siapa sebenarnya, tapi dia mampu menarik pesonaku tuk jatuh terpikat olehnya.


Setelah beberapa jam lalu aku melihat anak anakku di kamar, kini mataku mulai terbuka sempurna di sofa kamar anak anak, karena setelah melihat mereka tertidur tadi rasanya mataku mulai tak kuat buat tak ku pejamkan.


Pandangan pertamaku ialah mereka yang masih nyenyak di alam mimpinya yang membuatku tersenyum lega karena melihat posisi mereka yang dari tadi bahkan tidak berubah sedikitpun, Rasya masih memeluk Sinta dan Tisya, dan putri kecilku pun tidur di tengah tengah menghadapkan kepalanya pada Sinta, sedangkan tangan Sinta masih bertengger di pantat kecil Rasya.


Sungguh pemandangan yang mengindahkan, namun seketika getaran pesan dari operator mampu menghentikan aksi lihat melihatku, tapi bukan pesan itu yang menariku buat melihat, tapi sepasang angka yang bertengger di hpku sebagai penanda jam yang membuatku terlonjak kaget.


" astagfirullah, udah jam setengah lima, aku belum solat asar, pasti Sinta juga belum nih," ucapku langsung menjadi tergesa gesa.


" Sintt.." panggilku tanpa menyentuhnya yang langsung membuatnya mengeliat dan mulai membuka kan matanya.

__ADS_1


" iya sayang, ada apasih?" ucapnya sudah terduduk sambil mengucek matanya.


" sa..ya..ng????" ucapku terbata bata yang membuatnya melotot.


" maaf pak, saya tadi belum sadar, sa.." ucapnya langsung terpotong dengan kalimatku.


" udah nanti aja alasannya, sekarang udah setengah lima, kita belum solat asar tadi soalnya aku juga ketiduran,"


" setengah lima, ya ampun," ucapnya langsung buru buru ke kamar mandi dalam kamar.


" mukenanya nanti aku taruh di kasur ya," teriaku sambil mengambilkan mukena Silla yang memang ada di dalam kamar anak anak.


" iya," jawabnya dibalik kamar mandi.


Setelah solat asar yang ternyata kedua anakku pun juga sudah terbangun, kini aku menunggu Sinta yang sedang mandi di kamar anak anak sekaligus menjaga anak anak biar ngga jatuh dari ranjang.


" makasih ya pak, pakaiannya pas di tubuh saya,"


ucap Sinta setelah keluar dari pintu kamar mandi tersebut dengan baju yang tadi ku pinjamkan dari baju Sila beserta cadarnya.


" iya sama sama, " ucapku sembari tersenyum senang dapat kembali melihat kembali Silla. meski aku ngga tau itu Silla atau bukan.


" unda andi," ucap Rasya sambil melebarkan tangannya tapi langsung ku cegah.


" sayang bunda kan udah mandi nanti basah lagi dong, kalau harus mandiin kaka," ucapku menjelaskan yamg membuatnya mengerucutkan bibirnya kesal.


" yaudah, ayah yang andiin, tapi unda juga harus temenin di alem, nanti unda ulang yah alo di inggal sendiri," jelas Rasya yang ku angguki dan tercetak senyum yang sangat tertarik jelas di bibirku, pinter juga Rasya, batinku.


" gimana sint?" tanyaku dengan wajah berharap.

__ADS_1


" yaudah nggapapa pak, tapi aku juga pengin mandiin Tisya takutnya manti keburu malem, ngga papa kan Rasya, bunda mandiin adek?" tanya lembut yang dihadiahi anggukan dan senyum ceria Rasya, malah bukan rasa cemburu, tapi rasa ikut bahagia yang membuatku senang.


__ADS_2