Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Semakin Sulit


__ADS_3

Aku masih menatap kosong ke arah air danau yang tenang. Bingung dengan semua yang telah terjadi, Ganesh menolak berpisah meski kenyataannya aku juga tidak mau berpisah dengan Ganesh.


"Ra?"


Aku sedikit terkejut mendengar seseorang memanggil. Menoleh ke arah sumber suara dan ternyata Alex berdiri di samping bangku taman yang aku duduki. Dia tersenyum, lalu duduk di sampingku.


"Kok belum pulang Lex?"


Alex menatap lurus ke arah danau, wajahnya terlihat begitu tenang "Aku nungguin kamu, tadinya emang mau pulang. Tapi, aku gak yakin kamu akan baik-baik saja"


Aku terharu dengan ucapan Alex, bagaimana pria ini begitu mengerti keadaanku saat ini. Aku memang sedang tidak baik-baik saja. Hubunganku dengan Ganesh sedang berada di titik terendah.


"Yuk pulang" Alex berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menatapnya sejenak sebelum akhirnya menerima uluran tangan Alex dan beranjak dari duduk.


Entah kenapa aku hanya mengikuti saja kemana Alex akan membawaku. Tangan kami masih saling menggenggam. Alex membawaku ke tempat mobilnya terparkir. Mungkin dia akan langsung mengantar ku pulang.


"Mau makan dulu Ra?" Tanya Alex


Aku menggeleng pelan "Tidak lapar Lex, langsung pulang saja"


"Kamu belum makan loh Ra, aku laper banget nih. Temani aku makan dulu ya, please" kata Alex dengan wajah memelas.


Aku tidak tega juga melihat raut wajahnya itu, jadi aku pun mengiyakan ajakannya. Meski aku tahu jika itu hanya akal-akalan Alex agar aku juga ikut makan. Aku cukup menghargai niat baiknya itu, aku tahu jika Alex selalu baik pada teman dekatnya. Dia memang selalu memperhatikan pola makan ku saat kita sekolah dulu.


Dia begitu baik, namun kenapa masih single ya??


Ingin sekali aku menanyakan hal itu, namun aku tidak seberani itu untuk menanyakan hal yang bersangkutan dengan pribadinya.


Mobil sampai di parkiran sebuah restoran cepat saji, aku dan Alex segera turun. Masuk ke dalam restoran dan segera memesan makanan. Hari sudah mulai gelap dan suara adzan terdengar begitu nyaring dari bangunan sebrang restoran ini.


Jika sedang bersama Ganesh, maka dia akan berhenti di depan bangunan mesjid itu dan melaksanakan kewajibannya dan aku menunggunya di mobil. Sungguh di saat seperti itu benteng penghalang kita benar-benar terasa semakin nyata.


"Ra, Ra... Seira"


Aku mengerjap saat Alex melambaikan tangannya di depan wajahku. Makanan yang kami pesan telah tertata rapi di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa Ra? Kok sering banget melamun seperti ini?" tanya Alex


Aku hanya tersenyum, meski terkesan terlalu memaksakan. Tidak mungkin aku menceritakan apa yang aku alami pada Alex, meski Alex adalah teman lamaku. Tapi, dia tetap seorang pria yang tidak punya hubungan apapun denganku. Apalagi jika aku menceritakan tentang hubunganku dengan Ganesh. Tidak pantas rasanya.


"Tidak papa Lex, aku hanya sedang lelah saja"


Lelah dengan semua ini, kenyataan dan takdir yang tidak mengizinkan aku dan Ganesh bersatu. Cinta bukanlah segalanya, semuanya tetap harus di sertai dengan kesamaan. Tidak ada perbedaan seperti ini. Iman yang membedakan kita dan akan selalu menjadi penghalang kita.


Alex mengangguk, sepertinya pria itu tidak ingin terlalu ikut campur urusanku. Aku cukup senang dengan sikapnya ini, dia selalu bisa menempatkan diri untuk membuat orang yang di dekatnya merasa nyaman.


"Ayo makan, aku lapar sekali" kata Alex yang mulai menyantap makanannya


Aku hanya mengangguk dan ikut memakan makanan ku. Suasana menjadi hening, kami hanya fokus dengan makanan yang sedang di santap saat ini.


Tidak ada rasa apapun, semuanya terasa hambar di mulutku. Aku hanya memaksakan menghabiskan makanan ini karena merasa tidak enak dengan Alex.


"Setelah ini mau langsung pulang saja?" Tanya Alex


"Iya, aku lelah ingin segera istirahat"


Selesai makan, Alex langsung mengantar pulang. Sampai di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar. Sementara Alex menyapa orang tuaku, setelah itu aku tidak tahu. Apa Alex langsung pulang atau malah mengobrol dulu dengan Ayah atau Ibu.


Saat ini aku hanya merebahkan tubuh di tempat tidur setelah aku mandi tadi. Rasanya aku malas untuk keluar kamar, bahkan untuk melakukan apapun lagi selain tiduran seperti sekarang.


Ting..


Ponselku berbunyi, tandanya ada notifikasi pesan masuk. Aku segera meraihnya dan membuka pesan itu.


Ganesku


Besok aku akan menjemputmu untuk bekerja.


Aku terdiam membaca pesan dari Ganesh, memang sudah waktunya besok aku kembali bekerja. Meski rasanya malas sekali untuk bekerja dan melakukan rutinitas setiap harinya. Dalam keadaan perasaan yang kacau dan mood yang buruk, memang sangat berpengaruh dalam segala hal.


Aku menyimpan kembali ponsel di atas nakas, tidak membalas pesan Ganesh. Aku hanya ingin tidur dan berharap besok pagi akan lebih baik lagi. Semoga...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ra, Ganesh sudah jemput itu" teriakan Ibu membuat aku segera bergegas keluar dari kamar. Sudah saatnya kembali ke dunia kerja dan melupakan sejenak setiap masalah ini.


Aku menuruni anak tangga, Ganesh terlihat sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Ayah yang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Sebentar lagi Ayah dan Ibu juga akan berangkat bekerja.


"Bagaimana kabar keluarga, Nak Ganesh?" tanya Ayah


"Alhamdulillah baik Om"


Ayah mengangguk mendengar ucapan Ganesh "Salam untuk keluarga semua ya, maaf Om sama Tante belum bisa berkunjung"


"Ah ya tidak papa Om, nanti akan saya sampaikan"


Aku terdiam di anak tangga, rasanya aneh saat melihat Ayah dan Ganesh yang berbicara begitu canggung dan formal. Berbeda sekali saat Ayah berbicara dengan Alex. Mereka sudah seperti Ayah dan anak saja. Tapi, kenapa dengan Ganesh Ayah terlihat begitu segan dan canggung.


Apa ini juga termasuk penghalang kita? Semuanya seolah menunjukan jika aku dan Ganesh semakin mustahil untuk bisa bersatu. Kita terlalu berbeda dan terlalu banyak penghalang di antara kita berdua.


Semuanya seolah tidak memberi sedikit celah saja yang bisa membuat kami mungkin untuk bersatu.


"Ayo Nesh, kita berangkat sekarang"


Ganesh menatapku dan dia mengangguk, menyalami Ayah dan Ibu sebelum kami pergi. Di dalam mobil, hanya ada keheningan saja. Aku masih belum ingin banyak bicara seperti biasanya.


"Tunggu aku bisa meyakinkan Kakek untuk tidak terus menjodohkan aku dengan wanita itu" kata Ganesh tiba-tiba


Aku memejamkan mata, rasanya ini mustahil. Apa Kakek bisa di bantah? Apa Kakek bisa menerima penolakan Ganesh begitu saja. Rasanya tidak mungkin. Aku melihat sendiri bagaimana antusias nya Kakek untuk menjodohkan Ganesh. Bahkan Papa pun mendukungnya, lalu aku harus bagaimana? Menerima semuanya, meski menyakitkan. Apa mungkin aku bisa melakukan itu?


"Aku sedang tidak ingin membahasnya" jawabku lirih, bahkan tanpa menoleh sedikit pun pada Ganesh. Aku hanya tidak sanggup menatap wajah tertekan Ganesh dengan permintaan Kakeknya itu.


Bersambung


Kemarin gak up, maafin aku yang banyak kekurangan ini. Tidak bisa up di dua novel dalam satu hari. Aku masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan novel You Are My Life.. Jadi aku hanya bisa bagi-bagi waktu untuk bisa up Benteng Penghalang Kita sama novel itu. Tolong di maklumi, karena di dunia nyata aku juga banyak kesibukan.


Jangan lupa dukungannya...

__ADS_1


__ADS_2