Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Apa Keputusan Yang Benar?!


__ADS_3

Entah apa yang aku lakukan sekarang, aku hanya menuruti keinginan Ganesh saja. Tapi, kenapa saat sampai di villa tempat Ganesh dan Tyas berbulan madu, aku malah merasa tidak yakin dengan keputusan yang aku ambil ini.


Melihat bagaiaman senyuman Tyas yang menyambutku dengan ramah dan tidak ada tatapan benci sedikit pun. Gadis itu begitu ramah dan tulus. Perasaanku mulai tak tentram, aku mulai bertanya-tanya apa keputusan ini benar? Aku datang menemui Ganesh di saat pria itu sedang berbulan madu bersama istrinya. Meski istri yang tidak dia cintai.


"Duduk dulu Kak, biar Tyas buatkan minum. Kakak mau minum apa?" tanya Tyas begitu ramah dan sopan


Aku sedikit kikuk mendapat perlakuan baik dari Tyas. Gadis ini sama sekali tidak menganggap aku musuhnya, padahal aku sudah merebut suaminya. Meski aku tahu jika akulah yang lebih dulu menjadi wanita yang di cintai Ganesh. Tapi, tetap saja saat ini akulah yang merebut pria itu dari istri sahnya.


"Apa saja, pasti aku minum kok"


"Baik Kak, sebentar biar Tyas buatkan dulu minumnya"


Setelah Tyas berlalu ke dapur, aku memfokuskan pandangan ku pada sebuah foto besar yang terpajang di villa ini. Foto keluarga besar Aditama dan ini adalah foto pernikahan Ganesh dan Tyas waktu itu. Semua anggota keluarga ada di dalam foto itu bersama dengan sepasang pengantin, Tyas dan Ganesh. Kakek duduk di kursi dan berada di tengah-tengah mereka sebagai orang tertua di keluarga Aditama ini.


Ganesh terlihat begitu tampan dan menawan dengan jas putih yang dia pakai saat hari pernikahannya itu. Tyas juga terlihat cantik dan manis dengan gaun muslimahnya dengan warna senada.


Ini villa yang berbeda dengan yang pernah aku kunjungi dengan Ganesh dan keluarganya itu. Ganesh sengaja mengirimkan orang untuk menjemputku dan sekalian untuk memberi alasan pada Ayah dan Ibu. Aku bilang jika aku akan pergi ke luar kota untuk beberapa pekerjaan. Dan orang suruhan Ganesh itu bilang jika dia adalah supir kantor yang akan menjemput ku untuk pekerjaan itu.


Meski aku merasa bersalah telah berbohong pada Ayah dan Ibu, tapi semuanya sudah terlanjur. Jadi aku terpaksa melanjutkan kebohongan ini.


Ganesh muncul dari lantai atas, sepertinya dia habis dari kamar dan baru keluar sekarang. Aku berdiri dan tersenyum ke arahnya, berjalan mendekat ke arah Ganesh yang sedang menuruni anak tangga.


Ganesh juga tersenyum padaku, dia mempercepat langkah kakinya dan kami berpelukan. Melepas rindu selama beberapa hari ini. Ganesh mencium puncak kepalaku beberapa kali, dia juga beralih mencium kedua pipi dan juga bibirku. Sedikit lama di bagian bibir, kami berciuman seperti biasanya untuk melepas rindu.

__ADS_1


Ada yang berbeda dengan ciuman kali ini, kenapa aku merasa was-was saat berciuman dengan Ganesh. Aku merasa ada yang mengganjal di hatiku, seolah alam bawah sadarku menyadarkan jika aku tidak boleh melakukan ini.


Deg...


Aku terpaku melihat seseorang yang berdiri di balik tangga dengan nampan di tangannya. Aku segera mendorong tubuh Ganesh agar melepaskan tautan bibir kami. Aku menatap tidak enak pada Tyas yang melihat adegan tadi.


Ganesh menatapku dengan bingung "Kenapa Sayang?"


Aku melirik ke arah Tyas sebagai jawaban dari pertanyaan Ganesh itu. Ganesh pun ikut melihat ke arah Tyas, gadis itu berdiri kaku di tempatnya. Sepertinya Tyas terkejut dengan apa yang barusan dia lihat. Oh Tuhan.. Aku merasa bersalah sekali padanya. Tyas benar-benar gadis lugu yang polos dan pastinya dia tidak pernah melihat adegan seperti ini.


Tyas berjalan melewati aku dan Ganesh, dia menundukan wajahnya seolah tidak melihat apapun. Aku menatap Ganesh dengan perasaan tidak enak, namun pria itu malah terlihat acuh tak acuh.


"Kamu susul itu istri kamu, dia pasti sedih lihat kita malah bermesraan depan dia. Maaf ya Nehs, aku gak bisa jaga hati istri kamu"


"Ngapain aku susulin dia, yang aku harapkan ada disini itu kamu. Bukan dia!" kata Ganesh


Aku melirik ke arah Tyas yang sedang duduk di sofa ruang tengah tadi. Tyas pasti mendengar apa yang Ganesh katakan barusan. Aku semakin tidak enak dengan Tyas.


Aku mencubit gemas lengan Ganesh, pria itu benar-benar tidak peka ya. Keadaan ini sudah sangat canggung, kenapa dia malah semakin membuat canggung saja.


"Jangan seperti itu, dia itu istrimu. Kau tetap harus menghargainya"


Aku tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap di depan Tyas. Aku malu dan merasa bersalah padanya. Maaf Tyas, aku melakukan ini juga atas keinginanmu. Semoga kamu juga bisa segera bertemu dengan pria idaman mu itu.

__ADS_1


Aku berjalan pelan menghampiri Tyas yang duduk di sofa ruang tengah. Gadis itu terlihat diam memandang keluar jendela. Sudah pasti hatinya terluka, meski dia tidak mencintai Ganesh. Tapi, Tyas tetaplah istrinya sekarang.


Aku duduk di kursi tunggal disana, ingin mengucap maaf tapi mulut ini terasa kelu untuk berucap. Aku tatap punggung Tyas yang membelakangi ku, dia sedang menghadap jendela. Mungkin memandang pemandangan di luar sana.


Tapi, tunggu...


Kenapa punggungnya bergetar, apa Tyas menangis? Oh Tuhan, aku akan semakin merasa bersalah jika benar Tyas menangis. Dia menangis karenaku! Aku salah! Tapi, aku juga tidak menginginkan ini semua terjadi. Kenapa Cinta kami yang harus terhalang benteng yang begitu tinggi. Kenapa kami harus berbeda, Tuhan?


"Tyas" Aku memanggilnya dengan pelan, aku menatap punggung Tyas yang masih sedikit bergetar. Dia terlihat mengusap pipi dengan kedua tangannya. Mungkin mecoba menghapus air mata yang mengalir di pipi.


Tyas berbalik badan, dia tersenyum ke arahku. Meski aku melihat matanya yang sedikit basah, masih terlihat sisa air mata di sana. Namun, Tyas tetap menunjukan sisi ramahnya itu, tersenyum dengan begitu tulus padaku.


Aku berpindah duduk ke sofa panjang yang di duduki Tyas. Aku menggenggam tangannya, menatap wajahnya yang natural tanpa polesan make up.


"Maaf Tyas, jika kau tidak siap dengan semua ini. Aku akan meninggalkan Ganesh"


Aku berkata dengan hati yang bergetar, jika benar aku harus meninggalkan Ganesh. Maka akan aku lakukan asalkan Tyas bersedia menjaga Ganesh dan mencintai Ganesh seperti aku mencintainya. Aku akan mencoba ikhlas dan menerima kenyataan ini, jika memang ini akhirnya dari hubunganku dengan Ganesh.


Tyas mengusap punggung tanganku yang memegang tangannya, dia tersenyum hangat padaku. "Tidak perlu Kak, yang di inginkan Mas Ganesh adalah Kakak bukan aku!"


Bersambung


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. terimakasih

__ADS_1


__ADS_2