Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Menjadi Sahabat?!


__ADS_3

Aku masuk ke dalam rumah, hari ini benar-benar melelahkan. Cukup banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, juga dengan perasaanku yang sedang kacau. Belum mendapat kabar dari Ganesh membuat aku kacau, memikirkan hal-hal yang aku takutkan telah terjadi pada Ganesh dan Tyas.


Malam ini setelah makan malam bersama Ayah dan Ibu, aku memilih untuk tiduran di kamar. Meski tidak benar-benar tidur, aku hanya rebahan di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Berharap Ganesh akan segera menghubungi ku. Bahkan aku sudah sangat ingin mengirimkan chat padanya, namun tidak mungkin. Aku takut jika chat yang aku kirim akan di buka dan baca oleh orang lain.


"Jika aku tidak menghubungi kamu lebih dulu, tolong jangan menghubungiku duluan. Karena keluargaku tidak tahu jika aku masih berhubungan denganmu. Mereka tahunya jika aku sudah tidak lagi menjalin hubungan denganmu"


Perkataan Ganesh waktu itu cukup membuat aku mengerti dengan keadaan ini. Aku tidak mungkin menghubunginya terlebih dulu, sementara sekarang Ganesh bukan hanya miliku saja, raganya sudah milik dua orang wanita. Namun, semoga saja hatinya tetap hanya miliku.


Aku mengingat ucapan Alex tadi pagi, perkataannya cukup mengganggu fikiranku sekarang. Benarkah pria itu hanya ingin menjalin persahabatan denganku? Kenapa aku ragu dengan itu.


"Kau tahu darimana soal itu?"


Alex menoleh ke arahku "Tidak penting aku tahu darimana. Yang jelas aku mengkhawatirkan mu Ra, apa kamu baik-baik saja?"


Apa aku baik-baik saja? Aku pun tidak tahu. Perasaanku seakan hampa, tapi aku tetap mencoba untuk terlihat baik di depan orang lain. Karena sejatinya aku pun merasa hampa, seolah ada yang hilang dari hidupku. Semua yang ku jalani seolah tidak ada tujuannya. Semuanya sia-sia.


"Tentu aku baik-baik saja, aku dan Ganesh telah berpisah dengan baik-baik"


Aku tersenyum untuk menutupi kebohongan itu. Jelas sekali jika Alex begitu mengkhawatirkan aku. Tapi, aku tidak bisa memberikan harapan apa-apa padanya. Hatiku masih milik Ganesh.


Alex mengangguk dan tersenyum, senyuman yang aku lihat adalah senyuman lega dan bahagia. Apa dia bahagia karena keadaanku baik-baik saja, tapi aku melihatnya bukan karena itu. Alex tersenyum karena aku berpisah dengan Ganesh. Aaa. Tidak-tidak.. Tidak mungkin Alex seperti itu.


"Syukurlah Ra, kalo kamu baik-baik saja. Aku senang mendengarnya" kata Alex tersenyum


Aku tahu jika Alex mengatakan itu dengan tulus, dia memang teman yang baik. "Terimakasih Lex"


"Emm. Ra, setelah ini apa aku bisa lebih dekat lagi dengan kamu?" tanya Alex


Apa?


Aku terkejut mendengar ucapan Alex, maksud dari kata dekat yang di ucapkan Alex aku tahu kemana tujuannya. Dia ingin lebih dekat denganku lebih dari sekedar teman.

__ADS_1


"Mak-maksudnya Lex?" Meski aku cukup mengerti maksud dari ucapan Alex, tapi aku tetap menanyakannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin dekat saja denganmu. Misalkan dari teman menjadi seorang sahabat. Kau bisa menceritakan segala keluh kesahmu padaku" kata Alex santai


Sahabat?


Benarkah Alex hanya ingin mejadi sahabatku. Apa tidak ada niatan lain dengan ucapannya tadi? Entahlah.. Yang jelas aku sekarang menerima niat baiknya. Menjadi sahabat dengan Alex.


"Baiklah, kita adalah sahabat"


Apa ada sahabat yang murni di antara dua insan yang berbeda. Pria dan wanita, aku merasa ragu tentang itu.


"Makasih Ra, sudah mau menjadi sahabatku" kata Alex, terlihat bahagia sekali


Aku mengangguk saja sambil tersenyum.


Drett...Drett..


Akhirnya yang aku tunggu datang juga, Ganesh menelpon ku sekarang. Setelah tiga hari dia menghilang tanpa ada kabar. Mungkinkah Ganesh tengah berbulan madu? Ahh.. Tidak-tidak.. Dia sudah janji untuk tidak menyentuh Tyas. Tapi, bagaimana jika Ganesh tetap tergoda dengan Tyas?


Aaa.. Aku frustasi sendiri dengan pemikiran itu. Aku segera mengangkat telepon dari Ganesh.


"Hallo, Sayang maaf ya aku lama gak ngabarin kamu"


Suara berat Ganesh langsung terdengar dari sebrang sana membuat aku tersenyum seketika. Sungguh aku sangat merindukan suara pria ini.


"Aku kira kamu telah melupakan aku dan sedang asyik berbulan madu dengan istrimu"


Entah kenapa aku menjawab ucapan Ganesh dengan sedikit ketus. Kesal sendiri saat membayangkan jika Ganeshku tengah bermesraan dengan wanita lain, meski itu adalah istrinya.


Biarkan aku egois saat ini, Tuhan. Aku hanya tidak ingin Ganesh berpaling dariku, meski itu pada istrinya sendiri.

__ADS_1


"Apaan si Ra, aku gak mungkin mau menyentuh dia. Ya.. Memang benar jika tiga hari kemarin aku di suruh Kakek, untuk membawa dia berbulan madu di villa kami. Tapi, aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali"


Aku mendengus kesal, jadi mereka benar-benar pergi berbulan madu. Ya.. Meski Ganesh bilang jika dia tidak menyentuh Tyas. Tetap saja aku cemburu, di saat seperti ini bahkan Tyas bisa lebih banyak waktu bersama Ganesh dan lebih bebas jika dia ingin bertemu Ganesh, meski di depan keluarganya. Tidak sepertiku yang mulai sekarang akan mempunyai batas waktu jika ingin bertemu dengan Ganesh.


"Terus sekarang kamu dimana? Kenapa tidak bisa menghubungiku sebentar saja selama tiga hari kemarin?"


"Aku masih di villa karena Kakek mengharuskan aku untuk mengajak dia berlibur di sini selama seminggu atau lebih. Di sini sinyal cukup jelek, ini saja aku harus berjalan sampai di dekat perbukitan yang cukup tinggi untuk bisa mendapatkan sinyal" jelas Ganesh, sepertinya pria itu juga tidak nyaman dengan situasi ini.


"Lama banget, aku merindukanmu"


Aku memang benar-benar merindukannya, sejatinya aku tetap tidak akan rela sepenuhnya saat mendengar pria yang aku cintai sedang berada di tempat yang indah bersama wanita lain, meski telah menjadi istrinya.


"Bagaimana jika kau datang kesini" kata Ganesh


Apa? Aku terkejut dengan ucapan Ganesh, apa dia gila sampai menyuruhku datang ke tempat mereka berbulan madu. Dia benar-benar gila..


"Hahaha. Tidak mungkin Nesh, aku tidak ingin merusak bulan madu kalian" Meski aku cemburu dengan keadaan ini. Kenapa Ganesh malah berbulan madu dengan wanita lain. Bukan denganku.


"Biarkan saja dia, kau tidak perlu memperdulikan dia. Aku ingin kamu disini, dan menemaniku Seira. Kau cepatlah ambil cuti dan segera datang kesini" kata Ganesh, begitu yakin dengan keputusannya.


"Ta-tapi Ganesh, Tyas...."


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkannya. Kau datanglah kesini untuk kita rayakan liburan bersama"


Aku terdiam mendengar perkataan Ganesh yang bahkan dia memotong ucapanku. Bolehkah jika aku datang kesana? Lalu, bagaimana dengan Tyas?


Bersambung


Nunggu kalian antusias sama ni Novel biar aku segera buat kisah Ganesh. Hehe...


Dukungannya jangan lupa ya... plisss... biar semangat nulisnya..

__ADS_1


Biarlah Seira menjadi wanita egois dulu, sebelum dia sadar dan mengerti keadaan.. hehe


__ADS_2