Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Mendapatkan Restu


__ADS_3

"Kenapa gak nginep aja, Queen. Kan Mami masih kangen sama kamu"


Maminya Alex masih saja melarang aku untuk pulang. Padahal ini sudah cukup malam, tapi dia seolah tidak rela aku pulang.


"Nanti aku kesini lagi Tan, kalo libur kerja aku janji deh bakal main kesini dan habisin waktu sama Tante"


Mami memegang kedua tanganku, dia menatapku "Kenapa masih memanggil Tante, panggil Mami mulai sekarang. Lagian kamu 'kan calonnya Alex"


Hah? Benarkah? Aku tidak sedang berkhayal 'kan? Apa ini sebuah restu, ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan saat akan bertemu dengan orang tua Alex. Mami sudah menunjukan lampu hijau untuk hubunganku dan Alex.


"I-iya Tan.. Eh.. Mami"


Aku jadi gelagapan sendiri, memanggil Maminya Alex dengan sebutan itu benar-benar membuat jantungku berdebar senang. Padahal dulu juga aku sering memanggil orang tua Ganesh dengan sebutan Papa dan Mama, sama seperti Ganesh memanggil mereka. Tapi, ini rasanya berbeda. Aku merasa jika Mami telah benar-benar merestui hubungan aku dan Alex.


"Sudahlah Mam, biarkan pacarku ini pulang dulu. Sudah terlalu malam jika Mami terus-terusan melarang dia untuk pulang" kata Alex, sambil merangkul bahu Ibunya.


"Yaudah, tapi janji ya kalo libur kerja kamu harus datang kesini dan menemani Mami belanja dan nyalon" kata Mami dengan antusias


"Ck. Mami ini, hobby nya cuma belanja sama nyalon" kata Alex sambil menggelengkan kepala heran.


Aku tersenyum saja, memang berbeda ya kebiasaan setiap orang. Meski aku sudah pernah mengenal keluarga terhormat lainnya. Tapi, sifat dan kebiasaannya sungguh berbeda.


Jika dulu, Mama dan Tante Syifa tidak terlalu suka shopping. Mereka terlalu elegan untuk seorang istri dari pengusaha kaya. Terlalu ramah dan sederhana, membuat aku juga kagum dengan kepribadiannya. Tapi, tidak memungkiri jika aku bukanlah wanita seperti itu. Aku tetap suka belanja dan pergi ke salon. Tapi, tetap dengan batasan.


"Yaudah, kalo gitu aku pamit dulu ya Mami, Om"


Mami menggeleng dengan telunjuk yang mengacung di depannya, bergerak ke kanan dan kiri "Tidak lagi panggil Om, tapi Papi!"


"Iya Ra, kamu sudah menjadi bagian keluarga kita" kata Papi, ikut menimpali


Aku tersenyum kikuk, rasanya sangat senang saat mendapatkan restu dari kedua orang tua kekasih ku. Sungguh hati ini benar-benar bahagia sekarang.


"I-iya Mam, Papi"


Akhirnya aku benar-benar pulang setelah melewati sedikit drama kecil. Di dalam mobil, aku tidak bis menyembunyikan rasa senang ini. Jelas sekali melihat kedua orang tua Alex yang menerimaku dengan tulus.


"Mami emang kayak gitu Ra, dia ingin sekali punya anak perempuan. Jadinya, dari dulu saat kamu sering datang ke rumah kami, dia sudah begitu antusias"


Aku melirik ke arah Alex dan tersenyum "Aku tidak keberatan dengan perlakuan Mami padaku. Justru aku bahagia karena Mami benar-benar menerimaku sebagai kekasihmu"

__ADS_1


Tangan kiri Alex mengelus kepalaku dengan Sayang, aku tersenyum mendapatkan perlakuan ini dari Alex.


"Jadi, apa kau siap menikah denganku?" tanya Alex


Aku terdiam mendengar pertanyaan Alex. Apa aku benar-benar akan siap menikah dan memulai hidup baru bersama Alex? Tapi, ini adalah janjiku padanya.


Apalagi yang aku tunggu? Alex telah menunjukan cinta dan kasih sayangnya. Keluarganya pun telah memberikan lampu hijau untuk hubungan kami. Apalagi yang harus aku ragukan sekarang ini?


Tuhan, apa ini adalah awal dari kebahagiaan ku?


"Alex, aku tidak tahu ini adalah keputusan yang benar atau salah. Aku hanya menaruh kepercayaan ku padamu, aku percaya kamu bisa menjaga dan mencintaiku selama hidupku. Aku sudah mengalami kegagalan yang menyakitkan dalam bercinta. Tapi sekarang ini, aku hanya bisa berharap jika kamu akan menjadi pengobat luka ini. Aku bersedia menikah denganmu Lex"


Tuhan, aku tidak tahu apa ini keputusan yang benar atau salah. Semuanya aku serahkan saja padamu, Tuhan. Biarkan takdir ini membawaku ke kebahagiaan itu. Semoga.


Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia pasti cukup terkejut dengan ucapan ku. Dia membuka sabuk pengaman dan langsung mengubah posisinya menjadi menghadap ke arahku.


"Kamu serius Ra? Mau menikah denganku?"


Aku mengangguk saja menjawab pertanyaannya itu.


"Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi suami yang baik untukmu. Tapi, aku akan berusaha untuk membuat kamu bahagia berada di sampingku selama hidupmu"


"Mari kita mulai hidup baru bersama, Lex. Aku memilihmu sebagai pendamping hidupku. Aku hanya percaya jika kamu bisa membuat ku bahagia"


Alex mengangguk, dia menggenggam tanganku dan menciumnya. "Iya, Ra. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia"


Akhirnya, kami memutuskan untuk memulai hidup baru. Memulai kisah cinta baru dalam hidup berumah tangga. Aku hanya menaruh harapan pada Alex, semoga pria itu akan membuat ku bahagia dan tidak membuat ku kecewa.


"Kita akan melaksanakan pernikahan ini, bulan depan" kata Alex


"Apa tidak terlalu cepat?"


Aku merasa waktu yang di sebutkan Alex, terlalu cepat. Tapi aku juga tidak akan menolak, jika memang Alex sudah yakin untuk menjadikan pernikahan kita bulan depan.


"Tidak, aku rasa itu waktu yang cukup untuk kita mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan kita" jelas Alex


Aku mengangguk saja "Baiklah, aku menurut saja apa katamu"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Entahalah.. Aku merasa jika keputusan ini adalah yang terbaik dalam hidupku. Tapi, aku hanya takut jika kegagalan yang pernah aku alami dalam berhubungan. Akan terulang lagi.


Hubunganku dan Alex baru berjalan beberapa bulan saja. Sementara hubunganku dan Ganesh yang sudah berjalan 4 tahun lamanya, tetap kandas. Wajar jika aku masih merasakan takut dengan kegagalan ini.


"Ra, kamu sudah pulang"


Ketukan di pintu kamar dan suara teriakan Ibu menyadarkan ku dari lamunan. Mungkin Ibu terbangun, dan memastikan jika aku sudah pulang. Karena tadi pulang terlalu larut, aku tidak bertemu dulu dengan Ayah dan ibu. Mereka sudah terlelap.


"Iya, Bu"


"Boleh Ibu masuk, Nak?"


Aku bangun dan duduk bersila di atas tempat tidur "Masuk aja Bu"


Pintu kamar terbuka, Ibu masuk dan berjalan mendekat ke arahku. Duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya mengelus pahaku dengan lembut.


"Bagaimana tadi? Apa orang tua Alex, menyambutmu dengan baik?" tanya Ibu, aku jelas melihat kekhawatiran di balik tatapan matanya.


Aku mengangguk dengan senyuman antusias "Tentu Bu, Mami nya bahkan tidak mengizinkan aku pulang tadi. Dia begitu baik"


Ibu tersenyum "Syukurlah, Ibu senang mendengarnya"


"Emm. Bu, Alex..." Aku ragu untuk mengatakan tentang pernikahan yang telah kami rencanakan "Emm. Alex mengajak aku menikah bulan depan"


Ibu terdiam, dia mungkin terkejut dengan ucapan ku itu "Terus, apa kamu menyetujuinya?"


Aku mengangguk pelan "I-iya Bu"


Ibu langsung tersenyum merekah "Ibu setuju Nak, Ayah juga pasti akan setuju dengan keputusan kalian itu. Menikahlah dan hidup bahagia bersama Alex"


Aku memeluk Ibu dengan bahagia, ternyata mendapatkan restu dari dua belah pihak begitu membahagiakan.


"Terimakasih Bu"


Pov Seira End ya...


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Note : Chapter selanjutnya akan pov Alex ya.. hehe

__ADS_1


__ADS_2