
Senang sekali saat bisa bernostalgia saat masa-masa sekolah dulu. Masa remaja adalah masa paling indah.
"Makasih ya, Lex. Udah bawa aku ke tempat ini"
Alex tersenyum "Sama-sama Ra, aku juga senang bisa ke warung sate itu lagi"
Mungkin Alex juga merasakan hal yang sama denganku. Bahagia saat bisa mengenang masa remaja yang indah dan tanpa beban itu. Dewasa memang sangat melelahkan. Setiap masalah silih berganti menghampiri kita, tidak bisa banyak mengeluh apalagi menangis seperti seorang remaja yang sedang putus cinta. Setelah dewasa kita lebih memendam apa yang sedang kita hadapi dan memikirkan solusinya sendiri. Seolah tidak ingin orang lain tahu tentang masalah yang kita hadapi saat ini.
"Emm. Lex, maaf ya akhir-akhir ini kamu ajakin aku makan bareng. Tapi, aku nolak terus"
Jujur, aku merasa tidak enak dengan itu. Selalu menolak ajakan makan siang Alex. Tapi, aku juga hanya tidak ingin menimbulkan salah faham antara aku, Alex dan Ganesh.
"Gak papa, aku ngerti kok" kata Alex dengan tersenyum santai
Dia memang masih sama. Tidak suka memperbesar hal kecil menjadi masalah yang besar. Alex adalah orang yang santai, dia selalu bisa menyikapi setiap masalah dengan tenang. Tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu.
Mobil sampai di depan perusahaan GE, aku turun setelah mengucapkan terimakasih. Alex kembali melajukan mobilnya meninggalkan kawasan GE. Sementara aku masuk ke dalam perusahaan, jam makan siang sebentar lagi habis. Para karyawan sudah banyak yang berlalu lalang di lobby kantor setelah mereka makan siang di luar. Ada juga yang makan siang di kantin perusahaan.
"Makan dengan siapa?"
Hah.. Aku terkejut mendengar suara dingin itu, aku menoleh dan ternyata Ganesh sedang berdiri disana. Kenapa aku tidak menyadari keberadaannya, bahkan hampir saja aku melewatinya begitu saja.
"Emm. Aku makan siang dengan teman"
Ganesh semakin menatapku dengan tajam, aku tahu arti tatapan itu. Ganesh sedang tidak suka atau tidak yakin dengan perkataanku.
Apa mungkin dia melihatku dengan Alex ya?
"Teman yang mana? Semua teman kantormu tidak ada yang makan bersamamu" ketus Ganesh penuh dengan nada sindiran.
__ADS_1
Aku gelagapan, sepertinya Ganesh memang mengetahui jika aku pergi makan siang bersama Alex. Sudah pasti aku tidak punya alasan apapun lagi sekarang.
"Emm. Sayang, aku makan siang bersama Alex. Teman sekolah dulu"
Akhirnya aku berkata jujur saja, percuma jika terus berbohong. Ganesh sudah terlanjur curiga denganku, atau bahkan dia sudah tahu jika aku memang pergi makan siang bersama Alex.
"Ikut ke ruanganku sekarang!"
Aku hanya mengangguk mengikuti perintah Ganesh itu. Dia sedang marah dan aku tidak boleh membantah keinginannya. Dia hanya akan mengomeliku di ruangannya. Hal yang sudah biasa dia lakukan jika aku telah berbuat salah atau membuatnya kesal.
Masuk ke dalam lift, bahkan tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Ganesh. Beginilah marahnya seorang pria yang ramah. Menjadi dingin dan diam seribu bahasa.
Saat aku masuk ke ruangannya pun, dia masih diam dan menatapku dengan dingin. Ohh.. Sungguh suasana seperti ini selalu menegangkan.
"Duduk" titah Ganesh saat dia sudah duduk di kursi kebesarannya. Aku menurut saja, duduk di kursi yang berhadapan dengannya, hanya terhalang oleh meja kerja.
"Jadi, kau pergi makan dengan Alex?" tanya Ganesh dingin
"I-iya, dia memang mengajakku untuk makan siang bersama. Sudah lama juga tidak makan siang bersama dia. Kamu jangan marah dong, aku sama Alex tidak punya hubungan apapun. Kami hanya teman!"
Aku menjelaskan dengan tegas, aku dan Alex memang hanya teman. Bahkan untuk menjadi sahabat saja aku tidak sedekat itu dengannya. Meski Alex pernah mengatakan jika dia siap menjadi sahabatku dan mendengar setiap keluh kesahku. Tapi, aku belum bisa mengatakan setiap masalah yang sedang aku hadapi ini pada siapapun, termasuk Alex.
Ganesh berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arahku dan memutar kursi yang aku duduki membuat aku terkejut saja. Dia sedikit membungkukan badannya dengan satu tangan bertumpu pada meja kerja dan satunya lagi berpegangan pada pegangan kursi yang aku duduki.
Deg...
Jantungku berdetak kencang, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wajah Ganesh semakin dekat dengan wajahku. Aku refleks saja memejamkan mata, dan benar saja apa yang aku fikirkan terjadi. Ganesh mencium bibirku, saling melum*at halus dan mengecap rasa manis di bibir masing-masing.
Berciuman cukup lama, aku lampiaskan semua rasa cintaku pada Ganesh dengan ciuman ini. Meluapkan segala beban yang kami rasakan sekarang. Melupakan sejenak jika di antara kami masih berdiri benteng yang terlalu kokoh untuk bisa di hancurkan.
__ADS_1
Brakkk...
Pintu ruangan terbuka dengan kasar, sepertinya Ganesh lupa untuk menguncinya. Kami melepaskan tautan bibir kami dengan terkejut. Aku mengusap bibirku yang basah, sisa bertukar saliv barusan.
"Aku kesini mau menyerahkan berkas yang di minta Papa untuk di serahkan padamu" Erland berjalan dengan santai seolah tidak melihat apapun. Dia menyimpan berkas yang di bawanya di atas meja kerja Ganesh.
Aku menunduk malu, sangat malu dengan adegan yang baru saja terjadi. Semakin malu saat Erland menatapku dengan pandangan jijik. Ohh.. Tuhan apa aku sehina itu?
"Lain kali kunci pintu jika kalian ingin melakukan hal menjijikan itu" kata Erland, begitu menusuk ke dalam hatiku. Memang benar apa yang Erland katakan.
"Jaga ucapanmu, Erl" kata Ganesh dengan telunjuk yang menunjuk ke arah Erland. Dia mungkin tidak terima dengan apa yang barusan sepupunya itu katakan.
"Ohh lupa ya, kalo Abang ini sudah punya istri. Lalu adegan tadi apa? Benar 'kan apa yang aku katakan. Adegan menjijikan yang tidak seharusnya kalian lakukan" tekan Erland di setiap katanya
Deg..
Ya, memang benar apa yang di katakan Erland. Tidak seharusnya kami melakukan itu. Ganesh ini sudah menjadi suami orang lain.
"Maaf Erland"
Aku menunduk saat mengucapkan kata 'maaf' itu. Aku benar-benar tidak sanggup menatap wajah sepupu Ganesh itu. Terlalu malu.
"Kalian tidak perlu malu atau merasa bersalah dengan apa yang kalian lakukan itu. Minta maaf pada orang yang tidak sengaja kalian sakiti dan libatkan dalam hubungan terlarang ini. Dan merasa malulah pada Tuhan kalian"
Erland berlalu ke luar ruangan setelah mengatakan itu. Aku terduduk lemas di kursi, bagaimana mungkin Erland yang usianya di bawah kami bisa berkata sebijak itu. Dia bisa mematahkan harapan kami yang memang sejatinya hal yang sangat salah. Kami tidak seharusnya melakukan ini dan mengharapkan bisa bersama di saat semuanya tidak mungkin terjadi. Kau benar Erland.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru. Kalian bisa mampir di karya temanku.