
Karena Ganesh sedikit terlambat untuk menjemputku, jadi aku menunggu dia di depan rumah. Saat mobil Ganesh datang aku langsung masuk saja ke dalam mobilnya tanpa menunggu Ganesh turun dan membukakan pintu mobil untuk ku. Seperti yang sering dia lakukan selama kami pacaran.
"Tumben telat?"
Ganesh mulai melajukan mobilnya, dia menoleh sekilas padaku "Ada urusan sama Kakek sebentar tadi"
Urusan? Entahlah kenapa aku berfikir jika urusan yang di maksud oleh Ganesh adalah tentang perjodohan dia dan Tyas. Entah fikiranku yang terlalu sentsitif jika menyangkut tentang Kakek atau memang benar apa yang aku fikirkan.
"Emm. Ayah pengen ketemu kamu nanti pas pulang kerja. Apa bisa?"
Aku sedikit ragu mengatakan itu. Ya.. Karena aku saja merasa tidak yakin jika Ayah hanya ingin mengobrol biasa dengan Ganesh. Aku rasa memang ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan dengan Ganesh. Dan aku merasa gelisah sendiri memikirkan itu.
"Oh yaudah, nanti aku mampir. Lagian hari ini gak terlalu banyak kerjaan" kata Ganesh santai
"Emm. Aku minta maaf ya kalo nanti Ayah bicara aneh-aneh sama kamu"
Aku takut jika kamu akan marah dan akhirnya benar-benar meninggalkan ku. Sebelum kita benar-benar berjuang sampai titik terakhir kesempatan yang ada.
Ganesh tersenyum sambil mengelus kepalaku dengan gemas "Memangnya Ayahmu mau bicara aneh-aneh seperti apa? Sudahlah, kamu tenang saja. Aku pasti bisa mengatasi semuanya"
Tapi 'kan aku tetap takut jika Ayah akan menyuruh Ganesh untuk meninggalkan ku. Aku belum siap untuk itu, meski seharusnya aku lebih siap. Mengingat hubungan di antara kami mulai meretak karena perbedaan yang ada.
Sampai di depan perusahaan, Ganesh turun dan membukakan pintu mobil untuk ku. Setelah itu dia memberikan kunci mobil pada penjaga keamanan untuk membantu memarkirkan mobilnya.
Ganesh kembali padaku dan menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam perusahaan. Semua karyawan yang berpapasan dengan kami pasti mengangguk hormat. Aku tahu jika itu untuk Ganesh.
"Aku kerja dulu ya, semangat kerjanya Sayang"
Aku mengecup pipi Ganesh sekilas sebelum keluar dari dalam lift. Untung saja kami menggunakan lift khusus untuk pemimpin perusahaan. Jadi tidak ada orang lain di dalam lift ini selain aku dan Ganesh.
Ganesh membalas mencium keningku "Kamu juga ya, jangan terlalu banyak mikirin hal lain Sayang. Yakinlah aku selalu mencintaimu"
__ADS_1
Aku mengangguk lemah, mana mungkin aku tidak kefikiran soal permasalahan kita. "Tenang saja, kalo sudah masuk dunia kerja, aku akan profesional dan tidak akan memikirkan apapun selain pekerjaan"
"Baiklah, nanti tunggu aku di lobby ya. Kita pulang bareng" kata Ganesh
Aku mengangguk lalu melangkah keluar dari dalam lift. Berjalan menuju tempat kerjaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya semua pekerjaan ku terselesaikan dengan baik. Meski fikiran dan perasaanku sedang sangat kacau. Tapi, aku bisa mengatasi semuanya dengan baik.
Aku menunggu di lobby kantor, Ganesh sudah mengirim chat jika dia akan segera turun ke lobby kantor. Jadi, aku menunggunya di sini sekarang.
Menunggu dengan gelisah karena Ganesh tak kunjung datang. Beberapa kali menoleh ke arah lift, tapi Ganesh masih belum muncul. Hingga hampir setengah jam aku menunggu, barulah Ganesh datang. Dia segera menghampiriku dengan tergesa.
"Maaf Sayang, tadi tiba-tiba ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu" kata Ganesh dengan wajah penuh rasa bersalah, mungkin karena telah membuatku menunggu.
"Iya gak papa, meski cukup pegal si menunggu lama disini"
Ganesh mendekat ke arahku, dia mengelus kepalaku dan menciumnya "Uhh.. Sayangnya aku lagi ngambek nih. Maaf ya Seira Sayang, aku benar-benar menyesal"
Aku tidak mampu menahan senyum saat Ganesh berperilaku seperti ini. Dia begitu menggemaskan dan mampu membuat aku merasa begitu bahagia dengan sikapnya ini.
"Yaudah ayok pulang, aku sudah di tunggu sama calon mertua" kata Ganesh sambil menarik lembut tanganku dan membawa ke luar.
Calon mertua? Entahlah aku selalu berfikir apa mungkin cita-cita kita akan kesampaian di saat benteng penghalang kita semakin tinggi untuk di gapai.
Aku dan Ganesh masuk ke dalam mobil, Ganesh mulai melajukan mobilnya meninggalkan GE. Sepanjang di perjalanan, aku terus memikirkan pertemuan Ayah dan Ganesh nanti. Jujur saja aku begitu cemas, takut jika Ayah akan berbicara yang tidak-tidak pada Ganesh. Seperti saat Kakek berbicara padaku, seolah kami memang sudah tidak punya kesempatan untuk bersatu.
"Kenapa Ra?" tanya Ganesh, yang tentunya dia pasti heran dengan sikapku yang tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini. Biasanya aku akan mengoceh segala hal pada Ganesh jika pulang kerja seperti ini. Menceritakan banyak hal tentang pekerjaan ku hari ini.
Namun, sejak kejadian di villa waktu itu semuanya berubah. Sejak aku tahu jika Kakek ingin menjodohkan Ganesh bersama wanita pilihannya dan itu membuat aku cukup sadar diri jika kita berdua memang tidak semudah itu untuk bisa bersatu.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Ganesh dan memaksakan untuk tersenyum "Gak papa, cuma takut aja nanti Ayah akan bicara yang menyakitimu"
Ganesh tersenyum menenangkan, dia terlihat begitu tenang tanpa terlihat gugup sedikit pun saat akan bertemu dengan Ayah. Padahal dia sendiri tahu jika hubungan kami sedang tidak baik-baik saja.
"Tenanglah, aku akan melakukan yang terbaik untuk kita. Lagian Ayahmu tidak mungkin menyakitiku. Dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, kau tahu sendiri tentang itu" kata Ganesh santai
Ya.. Ayah memang pria baik dan bertanggung jawab. Aku bangga menjadi anaknya. Tapi, Ayah paling tidak bisa terima jika anaknya tersakiti. Aku takut jika Ayah akan mengetahui soal perjodohan Ganesh yang di rencanakan oleh keluarganya.
Sampai di depan rumah, aku semakin deg-degan. Aku takut jika semuanya akan berakhir hari ini. Benar-benar berakhir.
"Ayah, Ibu aku pulang"
Aku menggandeng tangan Ganesh dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ibu dan Ayah berada di ruang tamu. Sepertinya mereka memang sedang menunggu kedatangan kami.
"Sudah pulang Ra, ayo ajak Ganesh nya duduk" kata Ibu lembut
Ganesh menghampiri Ayah dan Ibu, lalu menyalami mereka. Ganesh duduk di sampingku, aku lihat wajahnya biasa saja dan terlihat begitu tenang. Tidak seperti aku yang panik dan tegang begini.
"Apa kabarnya Nak Ganesh?" Tanya Ayah
"Alhamdulillah baik Om. Om dan Tante juga apa kabar?"
"Tante sama Om baik" jawab Ibu, mewakili Ayah
Aku hanya diam dengan wajah tegang, aku benar-benar seperti sedang di sidang. Suasana nya benar-benar menegangkan.
"Om langsung saja ke intinya ya, Om dengar Kakek nya Nak Ganesh berencana menjodohkan Nak Ganesh dengan perempuan lain. Apa itu benar?"
Deg..Deg...
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiah dan vote juga.. terimakasih