
Ingat Ra, tidak semuanya bisa berjalan sesuai dengan keinginanmu. Sekarang, biarkan takdir yang memilih, dan kamu hanya bisa menjalaninya.
Aku berdiri di teras depan rumahku, menunggu Alex menjemput malam ini. Hatiku sudah tak karuan, cemas, gelisah, gugup. Semuanya aku rasakan saat ini. Padahal, saat bertemu keluarga Ganesh saja dulu, tidak segugup ini yang aku rasakan.
Tin.. tin.. tin..
Mobil Alex telah sampai di depan gerbang rumah. Aku segera berjalan menghampirinya sambil berteriak untuk memberi tahu Ayah dan Ibu kalau aku sudah pergi.
"Aku berangkat, Yah Bu"
Masuk ke dalam mobil, Alex langsung menyambut ku dengan senyuman nya. Aku memasang sabuk pengaman di tubuhku.
"Langsung pergi ke rumah kamu?"
Duh.. hatiku semakin gugup saja.
"Memangnya mau kemana dulu?" tanya Alex, dia pasti bingung karena pertanyaan aneh ku itu.
Aku menggeleng cepat, aku memang sedang sangat gugup sampai menanyakan hal seperti itu. Tentu saja kita akan langsung ke rumah Alex, memangnya mau kemana lagi. Tujuan kita malam ini memang ke sana 'kan. Aku saja yang bodoh sampai menanyakan hal itu.
Mobil melaju memecah keheningan kota di malam hari. Lampu-lampu terlihat bercahaya begitu indah, masih banyak ruko-ruko yang buka dan banyak pengunjung silih berganti datang ke sana. Ada juga yang membeli makanan di pedagang kaki lima.
Suasana malam seperti ini, membuat aku tenang. Melihat aktifitas beberapa orang di malam hari dari jendela mobil. Cukup membuat aku sedikit tenang.
Alex memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah besar dan mewah. Tapi, tunggu! Ini bukan rumah Alex yang pernah aku kunjungi di saat masih sekolah dulu. Apa mungkin Alex sudah pindah?
Alex membuka sabuk pengamannya, dia menoleh ke arahku "Ayo turun Ra"
Aku menatapnya, bingung "Ini rumah kamu Lex?"
Alex mengangguk "Iya, rumah siapa lagi. Ini rumah aku dan kedua orang tuaku"
"Emm. Tapi, seingat aku saat dulu pernah datang ke rumahmu, bukan ini"
Alex tersenyum, mungkin dia baru megerti kebingungan ku ini "Rumah yang dulu, kami jual karena perusahaan dulu pernah mengalami krisis keuangan. Sampai aku pindah dulu ke luar negara dan tinggal bersama Nenek di sana. Sementar Papi dan Mami masih disini untuk mengurus perusahaan yang sedang krisis keuangan itu"
"Ohh. Pantas saja dulu saat aku datang ke rumahmu, kosong"
"Hah? Kau datang ke rumahku? Kapan?"
Hah apa? Aku baru sadar dengan apa yang barusan aku ucapkan. Hal yang menjadi rahasiaku selama ini, tanpa sadar malah aku sendiri yang telah membocorkan nya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Alex dimana ya? Kok dia tidak kelihatan?"
Aku bingung saat tidak melihat teman yang selalu satu kelompok dan satu kelas denganku itu tidak ada di acara makan dan minum di malam perpisahan kita.
"Loh, kamu tidak rahu Ra? Alex akan pindah ke luar negara dan melanjutkan kuliah di sana"
Jawaban teman sekelasku membuat aku terkejut. Aku benar-benar tidak tahu jika Alex akan pergi ke luar negara. Bahkan akan pindah dan menetap di sana.
"Ra, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Penting"
"Apasi Lex, emang sepenting apa? Aku mau pergi dulu sama teman-teman. Nanti saja ya, bicaranya"
Aku teringat percakapan aku dan Alex satu hari sebelum perpisahan sekolah kita. Pantas saja, saat acara perpisahan sekolah kita tadi siang Alex terlihat kurang bersemangat.
Mungkin dia ingin berpamitan padaku hari itu, tapi aku malah tidak memberinya waktu untuk berbicara.
"Kapan? Alex kapan perginya?"
Tuhan, aku benar-benar menyesal karena mengabaikan nya selama ini. Aku hanya menghindari perasaannya padaku. Tidak ingin jika pertemanan kita akan berakhir buruk karena perasaan cinta yang tumbuh di antara kita.
"Kita tidak tahu Ra, mungkin besok atau mungkin juga sekarang"
"Jalan Pak, cepetan ya saya lagi buru-buru"
Aku menyebutkan alamat rumah Alex pada supir taxi itu. Seiring taxi yang aku tumpangi melaju, aku hanya bisa menatap ke luar jendela dengan perasaan gelisah. Takut jika Alex benar-benar telah pergi dan aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Pleasse.. Tunggu aku Lex.
Tak terasa air mata ini sudah mengalir membasahi pipiku. Semua kenangan saat bersama Alex, berlarian di ingatanku.
Sampai di depan gerbang rumah Alex, aku segera turun dari taxi setelah membayarnya. Aku memencet bell yang berada di dinding samping gerbang rumah Alex ini. Memencet bell berkali-kali, tapi masih tidak ada yang keluar dari rumah itu.
"Alex.. Lex.. Alex.. Ini aku Seira, Alex keluar aku ingin bertemu dan bicara denganmu"
Aku sudah mencoba berteriak memanggil Alex dengan tangan yang tidak berhenti menekan tombol bell.
Namun, semuanya sudah benar-benar terlambat. Tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah Alex. Mungkin keluarga ini sudah benar-benar pergi ke luar negara dan aku tidak akan bisa bertemu dengan Alex lagi.
Kaki ini rasanya sangat lemas sampai tidak bisa lagi menopang berat tubuhku. Aku terduduk lemas di aspal. Memegang gerbang rumah Alex dengan menyedihkan.
__ADS_1
"Alex.. Maafkan aku"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ra, heii"
Aku tersadar saat Alex melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersenyum, mungkin Alex tidak perlu tahu tentang semua itu.
"Iya?"
"Kamu datang ke rumah aku? Kapan? Malah bengong, bukannya jawab" jelas Alex
Aku tersenyum, dan menggeleng pelan "Enggak, udah ahh tidak perlu di bahas. Itu hanya waktu dulu. Aku saja lupa kapan dan mau apa ke rumah mu waktu itu"
Alex mengangguk mengerti, dia lalu mengajak aku masuk ke dalam rumahnya yang mewah ini.
Dua kali punya pacar, rumahnya selalu mewah si. Hehe
"Ya ampun, ini beneran Queen"
Tiba-tiba Mami nya Alex memeluk ku dengan hebohnya. Aku tersenyum saat panggilan dia padaku masih sama seperti dulu. Queen.
"Malam Om, Tante"
Papi Alex tersenyum dan melambaikan tangannya padaku sebagai membalas sapaanku barusan. Dia sedang menelepon seseorang, mungkin rekan bisnisnya.
"Tante apa kabar?" Aku menyalami Maminya Alex dengan sopan. Wanita paruh baya ini masih terlihat cantik dan awet muda di usianya sekarang.
"Baik Queen, kamu apa kabar? Tante tidak menyangka loh, kalo kamu yang bakal Alex bawa ke rumah ini untuk pertama kalinya" kata Maminya Alex dengan antusias
Aku melirik ke arah Alex atas ucapan Maminya itu, tapi Alex malah mengangkat kedua bahunya acuh.
Jadi, aku adalah wanita pertama yang Alex bawa ke rumah ini. Benarkah?
"Yasudah, ayo kita makan malam saja"
Maminya Alex langsung menggandeng tanganku menuju ruang makan di rumahnya ini. Papi dan Alex pun segera menyusul.
Kami makan malam dengan tenang, hanya terdengar ocehan Mami saja yang tidak hentinya mengatakan jika dia seolah tidak percaya melihatku ada disini setelah sekian lama.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..