
Tidak! Ini bukan hal yang harus aku takutkan sekarang. Sudah waktunya aku belajar tidak memperdulikan pria itu. Dia sudah menjadi masa lalu untukku.
Fokus pada pekerjaanmu, Seira. Jangan memperdulikan dia.
Sudah seharusnya aku mengantisipasi jika hal ini pasti saja terjadi, saat aku memilih untuk menjadi sekretaris pengganti untuk Alex. Sudah tahu perusahaan Alex dan GE mempunyai kerja sama, jadi aku harus siap dengan pertemuan antar kerja sama ini.
Hah...
Menghembuskan nafas kasar sebelum aku melangkah mendekat ke arah meja di dalam ruangan VIP ini. Alex menarik kursi dan mempersilahkan aku duduk di sana. Aku duduk dengan wajah datar, menatap lurus tanpa ingin menatap ke arah pria yang duduk di sampingku.
Aku melirik dengan ujung mata, Ganesh tentu sedang memperhatikan ku. Tidak! Tolong jangan tunjukan wajah seperti itu. Hati ini akan semakin sakit saat Ganesh menatapku dengan tatapan penuh rindu dan terluka.
Tuhan... Aku tetap tidak bisa semudah itu melupakan pria di sampingku ini. Apalagi jika dia berada di dekatku seperti ini.
"Tuan Ganesh, perkenalkan ini adalah Seira Queenera. Dia adalah sekretaris pengganti selama sekretaris lama saya mengambil cuti" kata Alex yang langsung memperkenalkan diriku secara formal. Meski mungkin dia tahu tentang hubungan aku dan Ganesh. Namun, ini tentang pekerjaan. Tidak bisa di kaitkan dengan kehidupan pribadi.
Aku mengangguk hormat pada Ganesh dan Asistennya yang aku kenal dengan nama Adlan. Dia adalah seseorang yang setia dengan Ganesh. Teman sekaligus sahabat yang menjadi asisten juga.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Ganesh dan Tuan Adlan" Aku menyapa mereka dengan sopan dan penuh rasa hormat. Namun aku melihat raut wajah Ganesh yang berubah, seolah tidak suka dengan ucapanku barusan.
"Baik, mari kita langsung mulai saja" kata Alex memecahkan suasana canggung yang tercipta. Aku menoleh ke arah Alex yang mengedipkan matanya seolah memberi aku keyakinan dan percaya diri akan pembahasan meeting kali ini yang akan aku persentasikan.
Aku berdiri dan mulai membuka berkas dan laptop milik Alex. Mulai menjelaskan rencana perusahaan kami tentang kerja sama ini. Menjelaskan serinci-rinci nya. Aku akhirnya bisa lebih tenang dan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cukup baik.
__ADS_1
Aku mengucapkan terimakasih setelah persentasiku selesai. Sebenarnya sepanjang aku mempersentasikan pembahasan kerjasama tadi, aku tidak nyaman dengan tatapan Ganesh yang terus terarah padaku. Tatapan yang penuh rindu dan terluka. Sungguh aku tidak bisa melihat tatapannya itu. Aku juga tidak akan kuat melihat penampilan dia yang tidak seperti biasanya.
Jika Ganesh yang aku kenal adalah pria yang perfect. Tapi kali ini aku melihat penampilan dia yang kacau. Rambut yang tidak lagi tersisir rapi, pakaian yang kusut dan lingkar hitam di kedua bola matanya. Sungguh penampilan Ganesh sangat memprihatinkan.
Apa dia sefrustasi itu?
Entahlah.. Aku sendiri tidak merasa bahwa keadaan diriku lebih baik daripada Ganesh. Aku juga sangat frustasi dengan semua ini. Tapi, semuanya sudah menjadi keputusanku. Takdir telah memilih kita untuk berpisah. Tidak mampu lagi jika aku harus melawan takdir yang jelas-jelas tidak berpihak pada kita.
"Jadi, bagaimana Tuan Ganesh? Apa ada yang tidak anda setujui tentang kontrak kerjasama kita yang baru ini?" tanya Alex
Mungkin Alex bingung karena Ganesh malah diam saja, aku tahu kenapa Ganesh tidak sedikit pun memberi respon pada kontrak kerjasama perusahaan Alex dan GE ini. Karena dia tidak fokus, sejak tadi dia tidak fokus pada setiap detail isi dari kontrak baru untuk kerjasama perusahaan ini. Aku tahu sekali bagaimana Ganesh sedang tidak fokus atau sedang banyak masalah. Ekspresi wajahnya sudah tidak bisa lagi membohongiku.
"Saya akan menghubungi nanti saat kami setuju dengan pembaharuan kontrak kerjasama ini"
Bukan Ganesh yang menjawab, tapi Adlan. Pria itu seolah tahu situasi yang sedang tidak baik-baik saja. Apalagi saat melihat Tuannya yang dari tadi hanya diam. Jika aku berada di posisi Adlan, aku juga akan melakukan hal yang sama.
Aku bernafas lega saat Alex mempercepat meeting kali ini. Setidaknya aku bisa lebih cepat pergi dari hadapan Ganesh yang selalu membuat hatiku terluka saat melihatnya. Apalagi dengan keadaannya sekarang yang terlihat kacau.
Aku ikut berdiri saat Alex berdiri, Alex menjabat tangan Adlan "Terimakasih atas waktunya"
Adlan mengangguk "Kami akan segera mengabari tentang kerjasama itu"
"Baiklah kami tunggu kabar baiknya" kata Alex, beralih menjabat tangan Ganesh.
__ADS_1
Aku juga ikut menjabat tangan Adlan dengan sedikit mengangguk hormat. Saat akan menjabat tangan Ganesh, aku sedikit ragu. Haruskah aku menjabat tangannya setelah cukup lama kami tidak lagi bertemu dan berpegangan tangan.
"Bisa minta waktunya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan dengan sekretaris anda" Ganesh akhirnya berucap, setelah dia hanya diam sejak meeting ini dimulai. Aku cukup kaget dengan apa yang Ganesh ucapkan itu.
"Baiklah, saya izinkan anda berbicara dengan sekretaris saya ini. Selesaikan segala masalah diantara kalian berdua" kata Alex sebelum dia berlalu pergi keluar ruangan ini. Adlan menganggukan kepalanya dengan hormat sebelum dia juga ikut keluar, meninggalkan kami berdua di dalam ruangan ini.
Suasana di ruangan ini terasa senyap, aku hanya berdiri diam tanpa ingin berkata apapun. Aku bingung harus memulai darimana. Merasa tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan pada Ganesh. Karena kenyataannya, kami telah selesai sampai disini.
Ganesh kembali duduk dan menyuruh aku juga ikut duduk. Akhirnya kami duduk dengan saling berhadapan sekarang. Namun, masih saling diam. Tidak ada kata yang keluar dariku begitupun dari Ganesh. Kami masih diam dengan fikiran masing-masing.
"Alasannya apa Ra?" tanya Ganesh tiba-tiba
Aku menatapnya, wajah penuh keputus asaan dan tatapan mata yang terluka dan seolah kehilangan tujuan hidup. Aku ingin menangis melihat wajah Ganesh, pria yang masih bertahta di hatiku.
Aku tahu apa yang di maksud dari ucapannya, alasan kenapa aku menghilang tiba-tiba dan meninggalkannya. Aku memang pergi tanpa memberikan penjelasan atau alasan yang jelas untuk Ganesh. Aku akui memang aku salah dalam hal ini. Tapi, semuanya begitu tiba-tiba. Permintaan Ayah dan Ibu yang membuat aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Bahkan hanya untuk bertemu sebentar dengan Ganesh dan menjelaskan semuanya. Aku tidak punya waktu untuk itu.
"Kenapa meninggalkan aku, menghilang tanpa kabar? Semua akses sosial media dan nomor ponselku kamu blokir. Apa sebenci itu kamu sama aku, Ra? Aku tahu aku salah karena telah menikahi wanita lain di saat kita masih bersama dan saling mencintai. Tapi, apa harus dengan cara seperti ini Ra? Aku kelimpungan mencarimu dan berusaha agar bisa bertemu denganmu, bagaimana pun caranya"
Aku terdiam mendengar setiap penuturan Ganesh. Tatapan mataku mulai buram karena air mata yang menggenang. Mendengar setiap pertanyaan Ganesh membuat hatiku semakin hancur. Kenapa bisa seperti ini? Aku juga sangat terluka dengan semua ini. Dan ternyata Ganesh juga sama terlukanya.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
Apa Kisah Ganesh dan Seira akan berlanjut atau berakhir? Entahlah..