
Akhirnya aku memutuskan untk mengambil cuti kerja beberapa hari ke depan. Aku memutuskan komunikasi dengan Ganesh. Saat ini aku hanya ingin menenangkan diri dengan kenyataan yang harus aku terima kedepannya. Aku menonaktifkan ponsel agar Ganesh tidak menghubungi. Sudah saatnya berfikir apa yang akan dilakukan ke depannya.
Ibu dan Ayah juga cukup mengerti keadaanku. Mereka tidak banyak bertanya padaku. Semuanya benar-benar membuat hidupku seakan tak lagi sama. Membuat semuanya terasa hampa dan tidak tahu arah tujuan lagi.
Duduk di sofa dengan menghadap ke jendela kamar yang langsung terarah ke kolam berenang. Air kolam yang tenang, aku hanya mampu menatap menerawang kesana.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?"
Meski memutuskan komunikasi dengan Ganesh untuk sementara waktu, tetap saja di fikiranku selalu ada pria itu. Pria yang aku cintai dan menemani ku selama tiga tahun ini.
"Ra.."
Ibu membuka pintu kamarku setelah mengetuknya beberapa kali. Aku bahkan tidak mengalihkan pandangan ku dari air kolam di luar sana. Ibu masuk dan mendekat ke arahku. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Di luar ada yang nyariin kamu" kata Ibu
Ganesh...
Aku langsung menolah ke arah Ibu "Siapa Bu?"
Sudah pasti Ganesh yang datang, siapa lagi yang mencariku. Ganesh pasti khawatir karena tidak bisa menghubungi ku dan mendapat kabar dariku. Pasti dia mencemaskan ku.
"Kamu lihat saja sendiri, yuk" kata Ibu sambil mengulurkan tangannya, mengajakku untuk segera beranjak dari duduk dan keluar untuk menemui tamu yang datang.
Aku keluar kamar dengan bersemangat, betapa aku merindukan Ganesh setelah beberapa hari aku tidak bertemu bahkan berkomunikasi dengannya.
Aku melihat seseorang yang sedang mengobrol dengan Ayah di ruang tamu. Pria itu hanya terlihat punggung nya saja, tapi aku sudah yakin jika itu adalah Ganesh. Aku berjalan cepat ke arahnya, Ayah tersenyum ke arahku.
"Gaaaa..."
Ucapanku terhenti saat pria itu berbalik melihat ke arahku. Pria itu tersenyum ramah ke padaku yang masih diam mematung. Dia bukan Ganesh. Bukan pria yang aku harapkan datang.
"A-Alex" lirih dengan nada kecewa, aku begitu kecewa dengan ini. Kenapa bukan Ganesh? Yang aku harapkan adalah Ganesh. Bukan Alex. Apa Ganesh sama sekali tidak merindukan ku dan tidak berniat menemuiku terlebih dahulu? Ganesh.. Kamu kemana? Kenapa tidak datang menemuiku?
"Ha Ra, apa kabar?" Alex berdiri dan menyapa
Aku mencoba tersenyum, meski terasa sulit untuk melakukan itu "I-iya Lex, aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Sudah cukup baik" jawab Alex
Entah kenapa Alex selalu menjawab seperti itu setiap aku bertanya kabar padanya. Aku tidak mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
"Yaudah kalian ngobrol saja, Ibu buatkan dulu minum untuk Nak Alex" kata Ibu
"Terimakasih Bu" kata Alex
Ibu?..
Bahkan Ganesh saja masih memanggil Ibu dengan sebutan Tante. Lalu kenapa Alex berani sekali memanggilnya seperti itu. Dan sejak kapan mereka begitu akrab, ya.. walaupun aku tahu jika dulu Alex juga sering datang ke rumah.
Aku duduk di samping Alex dengan jarak aman, perasaanku masih tidak baik. Hubunganku dengan Ganesh tidak tahu kelanjutannya akan bagaimana.
"Ayah tidak menyangka loh Ra, kalo Nak Alex ini ternyata seorang Direktur utama di kantor pusat tempat Ayah bekerja" kata Ayah yang terlihat begitu bangga dengan apa yang baru saja dia ketahui.
Aku hanya tersenyum saja karena aku sudah tahu soal itu. Sejak sekolah dulu, Alex memang seorang siswa paling berada di antara yang lainnya. Meski itu milik orang tuanya, namun tetap dia akan mewarisinya mengingat dia sama denganku. Hanya seorang anak tunggal.
"Iya Yah, aku tahu. Perusahaan Alex dan GE terlibat kerja sama"
Ayah mengangguk mengerti, GE masih berada di atas perusahaan Alex. Namun, bukan berarti perusahaan Alex tidak besar dan terkenal. Perusahaannya juga cukup terkenal dan besar. Hanya saja koneksinya belum seluas GE.
"Yudah kalo gitu Ayah tinggal dulu ya Nak Alex. Kalian ngobrol saja dulu" kata Ayah
"Iya Ayah"
Setelah Ayah pergi, hanya ada keheningan di antara kami. Aku yang masih dalam mood buruk, rasanya malas untuk banyak bicara saat ini. Fikiranku hanya tertuju pada Ganesh dan hubungan kami kedepannya.
"Jalan yuk Ra, kamu lagi gak kerja 'kan?" kata Alex
Aku menoleh ke arah Alex, sebenarnya aku sedang malas pergi kemana-mana. Tapi, sepertinya ini cukup efektif untuk sedikit mengalihkan fikiranku yang sedang kacau ini.
"Ayok, jalan kemana?"
"Ya, kemana aja. Terserah kamu"
Aku mengangguk, "Yaudah, aku siap-siap dulu"
"Oke"
Aku segera bersiap, meski fikiranku masih tertuju pada Ganesh dan hubungan kita ke depannya akan bagaimana. Tapi, saat ini aku hanya ingin sejenak untuk melupakan masalah itu.
"Kami berangkat dulu Bu, Yah. Pinjem dulu Seira nya, gak akan aku apa-apain kok. Hehe" kata Alex dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
"Dasar kamu ini Lex, gak pernah berubah ya dari dulu" kata Ibu sambil memukul pelan bahu pria itu
__ADS_1
Alex hanya cengengesan saja mendengar ucapan Ibu. Aku berpamitan dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibu sebelum pergi begitu pun dengan Alex.
Di dalam mobil, aku hanya diam menatap ke luar jendela. Rasanya lelah dengan semua ini, fikiranku benar-benar kacau. Aku mengambil ponselku di dalam tas selempang kecil, aku mengaktifkan kembali ponselku dan suara notifikasi terus berbunyi sampai beberapa kali.
**Ganeshku
Ra, kamu dimana?
Kamu ambil cuti ya?
Jawab Ra, kenapa ponsel mu tidak bisa aku hubungi?
Kamu kemana Ra? Aku khawatir.
Ra, maaf. Aku tidak bisa menolak permintaan Kakek.
Apa kita bisa bertemu? Kita harus membicarakan ini semua.
Alex
Hai, Ra apa kabar?
Kok gak aktif Ra? Kamu kenapa?
Kamu baik-baik aja kan?
Ra, aku ke rumah kamu ya sekarang. Aku benar-benar khawatir sama kamu**.
Beberapa pesan masuk dari teman kerja juga, tapi yang paling banyak dari Ganesh dan Alex. Aku membaca semua pesan itu, dan aku merasa kecewa dengan Ganesh untuk pertama kalinya. Kenapa pria itu tidak seperti Alex. Jika dia memang khawatir dengan keadaanku, kenapa dia tidak langsung datang ke rumahku dan menemuiku seperti yang di lakukan Alex.
Apa Ganesh sudah menyerah dengan semuanya?
Aku memutuskan untuk membalas pesan dari Ganesh. Mungkin memang tidak seharusnya kami terus seperti ini. Perang dingin tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik segera kami meluruskan semua masalah ini dan mencari solusinya. Meski aku tidak yakin akan ada solusi yang tepat untuk hubungan kami.
Nanti sore kita ketemu di tempat biasa.
Send.. Aku mengirim pesan balasan pada Ganesh, setelahnya aku kembali menyimpan ponselku ke dalam tas.
Bersambung
Dukungannya dong.. Like komen mana nih? Hahh.. Kurang semangat nulisnya kalo liat gini. Tapi Yaudahlah, udah terlanjur aku publik ini cerita, jadi harus aku selesaikan semua yang telah aku mulai.
__ADS_1