Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Terbongkar!


__ADS_3

Aku membuka pintu ruangan Ganesh, tadi pagi Ganesh tidak datang menjemputku. Entah apa alasan dia, karena dia sama sekali tidak menghubungiku jika tidak akan datang menjemput. Siang ini juga dia tidak mengirimiku pesan, dia tidak mengajakku makan siang bersama seperti biasa.


Aku merasa aneh dengan sikap Ganesh ini, tidak biasanya dia tiba-tiba ngilang seperti ini. Tiba-tiba tidak datang menjemput dan tidak mengabariku sama sekali, bahkan dari semalam. Aku mengirimi dia chat beberapa kali, tapi tidak ada satupun yang dia balas. Entah apa yang membuat Ganesh tiba-tiba seperti ini.


Masuk ke dalam ruangan, aku melihat Ganesh sedang fokus pada berkas di tangannya. Kacamata baca yang dia pakai selalu membuat aku kagum dengan ketampanan Ganesh. Setiap dia memakai kacamata baca itu saat sedang bekerja justru semakin menambah karisma dia. Ahh.. Entahlah.. Aku memang bucin.


"Nesh, kamu baik-baik saja 'kan?"


Ganesh mendongak, dia membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit turun dari posisi seharusnya. Aku menggeser kursi di depan meja kerja Ganesh dan duduk di sana.


"Semalam aku chat kamu, tapi tidak kamu balas. Terus tadi pagi juga gak ngabarin kalo gak bisa jemput"


Sebenarnya ada apa? Aku merasa ada yang berbeda denganmu akhir-akhir ini.


Ganesh menghembuskan nafas berat, dia membenarkan posisi duduknya. Menyandar di sandaran kursi. "Aku hanya sedang banyak fikiran Ra, maaf kalo akhir-akhir ini sikap aku sedikit berbeda"


Itu artinya dia sadar jika sikapnya berubah padaku. Bahkan sudah beberapa hari ini. Sebenarnya apa yang sedang di fikirkan oleh Ganesh sampai sikapnya bisa berubah seperti ini padaku.


"Apa yang kamu fikirkan Nesh? Kamu bisa cerita sama aku, mungkin solusinya bisa kita fikirkan sama-sama"


Ganesh menggelang, dia sepertinya tidak ingin memberi tahuku apa yang sedang mengganggu fikirannya "Tidak Ra, hanya masalah kerjaan saja"


"Baiklah, sekarang ayo kita makan siang"


Aku tidak ingin terlalu mendesak dia untuk mengatakan apa yang sedang di fikirkannya. Aku tidak ingin Ganesh merasa terpaksa saat menceritakan masalah apa yang sedang dia fikirkan itu. Aku ingin Ganesh bercerita sesuai keinginan hatinya, tidak merasa terpaksa oleh siapapun.


Ganesh mengangguk, dia berdiri dari duduknya dan menghampiri aku yang berdiri di samping kursi yang aku duduki tadi. Cup.. Ganesh mencium keningku sebelum dia menggandeng tanganku keluar dari ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masuk ke dalam rumah setelah melakukan rutinitas pekerjaan di kantor. Tubuhku cukup lelah hari ini. Namun, ada hal aneh yang membuat rasa lelahku seolah menguap seketika. Tatapan Ayah dan Ibu yang duduk di sofa ruang tamu benar-benar membuat aku bingung.

__ADS_1


Ada apa ini? Kenapa Ayah dan Ibu menatapku seperti itu?


Aku berjalan pelan ke arah mereka, semakin dekat dengan mereka maka hatiku semakin cemas. Aku tahu sedang ada yang tidak beres.


"Bu, Ayah"


Aku menyalami mereka bergantian, tatapan mereka benar-benar membuat aku tidak nyaman. Tatapan kecewa dan marah terlihat jelas dari matanya.


Aku duduk di sofa yang berada di depan mereka, hanya terhalang meja. Ada apa ini? Kenapa tatapan Ayah terlihat begitu marah padaku, sementara Ibu menatapku dengan penuh kecewa.


"Bagaimana hubunganmu dengan Ganesh?" tanya Ayah dengan tatapan dingin


Deg..


Apa ini? Kenapa Ayah menanyakan itu. Apa Ayah tahu jika Ganesh sudah menikah.


"Ba-baik Yah, kenapa Ayah tanya begitu?"


Aku semakin gelisah melihat Ayah yang memalingkan wajahnya. Dia seolah tidak ingin lagi menatapku. Tuhan.. Apalagi ini?


Tanganku gemetar dengan saling bertaut. Benar.. Ayah dan Ibu pasti sudah tahu semuanya. Tapi, dari mana mereka tahu tentang itu? Tuhan.. Bagaimana ini?


Aku hanya mampu menundukan wajah "Maaf"


"Kenapa kau melakukan itu? Apa kau bodoh Hah? Menjadi orang ketiga dari pernikahan dia" sentak Ayah, membuat aku benar-benar terkejut. Ayah jarang sekali marah apalagi sampai membentak ku seperti ini.


"Apa kau tidak punya harga diri Hah? Lepaskan saja lelaki itu. Ini adalah cara Tuhan untuk memisahkan kalian karena kalian memang tak mungkin bisa bersatu. Kenapa kalian malah melawan takdir hah?"


Aku hanya menunduk mendengar setiap ucapan Ayah. Dia benar-benar sangat marah kali ini. Aku tahu bagaimana hancurnya perasaan seorang Ayah saat tahu jika anaknya malah menjadi orang ketiga dari pernikahan Ganesh dan Tyas. Ayah dan Ibu pasti malu.


"Maaf Ayah, tapi Seira mencintainya"

__ADS_1


Masih mengucapkan alasan itu, karena sampai sekarang hanya cinta yang mampu membuat kita bertahan di pilihan yang salah ini.


"Cukup Seira! Cinta benar-benar telah membutakanmu. Ganesh sudah menikah, dia sudah menjadi suami orang lain. Kenapa kamu tidak menyerah saja, ini semua adalah takdir Tuhan. Kau tahu itu" teriak Ayah


Kenapa kami harus menyerah? Apa cinta saja tidak cukup? Iman masih di atas segalanya ternyata. Tidak hanya butuh cinta.


Ibu hanya memegang tangan Ayah yang sedang di landa emosi itu. Bahkan sudah ada air mata yang mengalir di pipi Ibu. Aku semakin merasa bersalah karena selain Tyas, orang tuaku juga terluka karena perbuatan ku. Maafkan aku Ayah, Ibu.


"Maaf"


Saat ini hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. Ayah dan Ibu sudah terlanjur sakit dan kecewa dengan perbuatanku. Tapi, kenapa aku selalu salah. Kenapa hubungan kami selalu di anggap salah, saat dulu Ganesh belum menikah pun hubungan kami selalu salah dan selalu banyak yang menentang. Ternyata Benteng Penghalang Kita tidak bisa kita hancurkan. Terlalu kuat dan tinggi, sehingga untuk menggapainya pun sangat sulit.


"Tenang Ayah, tenangkan hatimu. Kita bicarakan ini baik-baik"


Suara lembut Ibu yang menenangkan Ayah juga membuat aku sedikit merasa tenang. Aku tahu jika tidak semudah itu untuk menyembunyikan segala kebohongan ini selamanya. Semuanya tetap akan terbongkar juga.


Jangan bermain api, jika tidak ingin terkena panasnya.


Apa ini maksud dari ucapan Alex waktu itu? Sebuah kebohongan tetap akan terbongkar juga seperti saat ini. Sepandai apapun kita mencoba menyembunyikan nya.


Ayah terlihat lebih tenang setelah Ibu memberinya minum. Dia menghela nafas berat, masih enggan untuk menatapku. Mungkin Ayah terlalu jijik menatap anaknya yang telah mempermalukan keluarga. Menjadi orang ketiga dari sebuah pernikahan.


"Maafkan Seira Ayah, Seira tahu kalo apa yang telah Seira lakukan memang sangat tidak pantas dan sangat memalukan. Tapi, Seira hanya sedang mempertahankan cinta Seira. Selama 4 tahun kami saling mencintai, dan Seira cukup egois untuk ini. Seira tahu itu. Tapi apa selama 4 tahun itu, harus berakhir begitu saja? Apa Seira harus melepaskan Ganesh dengan segampang itu. Tolong mengerti keadaan Seira Ayah, Bu"


Ayah akhirnya menatapku, bukan lagi tatapan penuh kasih sayang melainkan tatapan penuh kemarahan dan rasa kecewa "Tinggalkan Ganesh, Seira!"


Deg...


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih

__ADS_1


Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru, boleh mampir di karya temanku ini.



__ADS_2