Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Bukan Miliku Seorang


__ADS_3

Aku menaruh hadiahku di atas meja dan menggeserkannya ke depan Ganesh "Happy Anniversary ke 4 tahun, Sayang"


Ganesh tersenyum dan meraih kotak kecil itu dan membukanya. Dia kembali tersenyum saat melihat isi dari hadiah yang aku berikan. Sepertinya Ganesh cukup suka dengan hadiahnya.


"Bagus, kamu sering banget deh beri aku hadiah jam tangan kayak ini" kata Ganesh sambil melepaskan jam tangan mahal yang di pakainya dan mengganti dengan jam tangan hadiah dariku.


Aku terharu melihat Ganesh yang langsung memakai jam tangan hadiah dariku itu "Sayang, ini beda tahu. Sini aku pinjem dulu deh"


Aku meminta Ganesh menyerahkan jam tangan itu sebelum dia selesai mamakainya. Ganesh menurut saja, dia menyerahkan jam tangan itu padaku. Aku membalikan jam tangan itu dan membuka bagian belakang jam tangan. Disana terpampang foto kami berdua di dua sisinya. Mungkin hampir mirip kalung dengan liontin love yang bisa dibuka dan terpasang sebuah foto di dalamnya. Aku sengaja memesan jam tangan ini dari jauh-jauh hari. Dan akhirnya jam tangan ini selesai dan cukup memuaskan untuku.


Ganesh tersenyum, dia mengambil kembali jam tangan itu dan melihat dengan intens "Kamu sengaja bikin jam tangan ini?"


Aku mengangguk "Ya, bagaimana bagus 'kan?"


"Dan satu lagi, lihat ini" Aku menunjukan tangan kiriku yang juga memakai jam tangan yang sama persis dengannya.


"Kamu pakai juga?" tanya Ganesh seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Aku mengangguk sambil tersenyum "Tentu saja, biar kita sama-sama bisa melihat foto kita dimana pun kita berada. Kalo-kalo kamu rindu sama aku gitu. Hehe"


"Emangnya kamu gak rindu sama aku?" tanya Ganesh balik dengan senyuman mengejeknya


Aku hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Ganesh itu. Tentu saja aku akan rindu berat padanya. Beberapa hari saja Ganesh tidak menemuiku atau menghubungiku, aku sudah kelabakan. Hehe


"Emm. Nesh, kita pulang yuk. Udah malem banget. Kasihan nanti istrimu pasti menunggu kamu pulang"


Tiba-tiba saja aku teringat dengan Tyas. Mau bagaimana pun kisah mereka, tetap saja Tyas adalah istri Ganesh. Sudah seharusnya aku mengingatkan itu, meski aku tahu jika percuma saja karena kami sudah terlanjur melakukan kesalahan ini. Tapi setidaknya, aku mengingatkan Ganesh jika dia juga harus memikirkan Tyas sebagai istrinya.


"Untuk apa memikirkan dia, aku masih ingin bersamamu malam ini. Tidak perlu kau memikirkannya, paling dia juga sudah tidur" ketus Ganesh

__ADS_1


Ya ampun, Ganesh masih saja sama. Keras kepala dan sulit menerima omongan orang lain jika dia belum merasakan sendiri jika apa yang orang itu bicarakan padanya adalah untuk kebaikannya.


"Tapi aku juga sudah lelah, pengen cepet tidur. Pulang saja yuk, besok juga kerja"


Akhirnya biarkan aku yang mengalah, berbohong hanya agar Ganesh pulang sekarang dan tidak terlalu larut malam untuk sampai di rumahnya. Aku takut jika Tyas menunggu Ganesh pulang, kasihan jika dia menunggu sampai larut.


"Kamu sudah ngantuk ya?" tanya Ganesh memastikan, aku langsung mengangguk cepat. Meski pada kenyataannya aku tidak ngantuk sama sekali. Aku hanya ingin Ganesh pulang cepat karena sekarang dia juga mempunyai istri yang lebih mempunyai hak atas dirinya di banding aku.


"Baiklah, jika begitu ayo kita pulang sekarang"


Ganesh berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Kami keluar dengan bergandengan tangan mesra. Sebenarnya aku belum rela menghabiskan malam romantis ini bersama Ganesh. Tapi, aku tidak boleh egois lagi. Cukup tentang hubungan kami ini, aku bersikap egois. Untuk waktu Ganesh, aku harus rela berbagi dengan Tyas sebagai istri sahnya.


Karena sejatinya sekarang Ganesh bukanlah hanya milikku seorang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini aku di kejutan dengan sebuah kalung yang bergelayun di depan wajahku. Saat aku keluar rumah, tepat di saat aku membuka pintu ada sebuah kalung yang bergelayun di depanku. Ternyata itu adalah Ganesh.


"Sangat suka, terimakasih ya Sayang"


"Iya, sama-sama. Kau memang sangat cantik menggunakan kalung ini. Benar-benar sangat cocok untukmu" kata Ganesh tersenyum bangga padaku.


Ya, memang Ganesh selalu bisa memilihkan sesuatu yang pas dan cocok untukku. "Sangat bagus, aku suka Sayang"


"Aku senang jika kau suka, sekarang ayo kita berangkat" ajak Ganesh sambil menggandeng tanganku


Sepanjang perjalanan aku terus melihat liontin kalung ini dengan sedikit merabanya. Benar-benar indah dan sangat cantik. Sudah pasti harganya sangat mahal, tidak akan sebanding dengan jam tangan yang aku hadiahkan untuknya.


Sampai di tempat kerja, aku mulai bekerja setelah kami berpisah di lift tadi, seperti biasa. Hari ini mood ku sangat bagus. Suasana semalam dan hadiah dari Ganesh pagi ini benar-benar membuat mood ku sangat baik.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang ini Ganesh ada pertemuan dengan rekan kerja dia. Jadi, aku tidak bisa makan siang bersamanya. Tapi ada pesan dari Alex yang megajakku makan siang bersama. Karena aku merasa bersalah sudah beberapa kali menolak ajakannya itu, jadi siang ini aku memutuskan untuk menerima ajakannya itu.


Sebelum pergi, aku tidak lupa untuk memberi tahu Ganesh.


Aku makan siang bersama teman di luar kantor ya.


Pesan terkirim, namun belum terbaca oleh Ganesh. Mungkin dia masih sibuk. Aku keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju lift. Sampai di lobby kantor ternyata Alex sudah menunggu di luar lobby.


Aku segera menghampirinya "Hai Lex, maaf menunggu lama"


"Tidak papa, Ra. Aku baru saja sampai"


"Langsung pergi saja yuk, sudah laper nih"


Alex sedikit terkekeh "Masih sama aja ya, Ra. Susah nahan kalo sudah lapar"


Aku tertawa saja menanggapi ucapan Alex, memang benar jika aku sangat tidak bisa menahan lapar. Itu sudah kebiasaanku sejak masih sekolah.


Akhirnya kami sampai di tempat yang di tuju oleh Alex. Aku tertawa melihat Alex membawaku bukan ke restaurant seperti biasa, tapi dia membawaku ke tempat jualan kaki lima di pinggir jalan. Sebuah warung sate yang dulu sering kami kunjungi saat masih sekolah. Tentu aku bahagia bisa datang ke tempat legend ini. Sudah sangat lama aku tidak datang dan makan di tempat ini. Mungkin ya.. saat masih sekolah terakhir kali aku datang kesini.


"Gila.. Ini si gila Lex, gak nyangka banget aku kalo kamu bakal ajak aku kesini. Wahh tempatnya sudah agak berbeda ya. Dulu kursi dan meja makannya juga tidak sebagus ini"


Aku mengusap meja yang berada tepat di depanku. "Makasih Lex"


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


Mungkin aku akan up tiap hari jika tidak ada kesibukan dan halangan. Setiap jam 11 malam ya.. mulai sekarang aku biasakan up tepat waktu saja...


__ADS_2