
Duduk diam di sofa, memandang ke luar jendela. Perasaanku masih sangat kacau sekarang, memilih keputusan ini benar-benar membuatku terluka. Keputusan yang sangat benar untuk semua orang, tapi membuat aku sangat terluka.
Kenapa? Kenapa harus aku?
Perbedaan ini ternyata memang tidak bisa lagi di persatukan. Sudah mencoba sejauh ini untuk tetap mempertahankan hubungan kami, tapi semuanya tetap berakhir. Tetap takdir tidak berpihak pada kami.
Tuhan, kenapa seperti ini?
Akhir yang tidak aku harapkan sama sekali, berahap ingin berakhir bahagia. Tapi, ternyata akhirnya tidak seperti itu, semuanya tetap takdir yang memilih. Bukan kita yang memilih takdir.
Hiks..Hiks...
Aku segera mengusap air mata yang mengalir begitu saja. Aku bisa terlihat baik-baik saja di luaran, tapi hatiku benar-benar terluka. Cinta yang terhalang keyakinan, tetap tidak akan bisa bersatu. Benteng yang terlalu tinggi untuk bisa di gapai.
Saat sendiri seperti ini, luka di hati ini semakin terasa perih. Semua kenangan bersama Ganesh, semakin memenuhi fikiranku. Semuanya terlalu indah, kenangan kita terlalu banyak untuk di lupakan secepat ini.
Bahkan entah butuh waktu berapa lama untuk aku bisa melupakan semua kenangan kami. Semuanya terlalu sulit untuk aku jalani sekarang. Hidup yang terasa hampa, sepi dan tidak tahu arah tujuan. Begitulah yang aku rasakan saat ini. Meski raga ini terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi, hati ini tidak! Aku terluka dengan semua ini. Keputusan yang aku ambil sendiri.
Hiks... Hiks...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku terbangun saat hampir petang, tidak sadar jika aku tertidur di atas sofa. Mata yang terasa sembab, aku berdiri dan berjalan ke arah meja rias. Menatap mataku yang bengkak dengan wajah yang pucat. Penampilan yang kacau untuk diriku saat ini.
Kepala ini terasa pening, penghilatan pun mulai berkunang-kunang. Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur, semuanya terasa berputar. Aku tertidur di atas tempat tidur, mencoba meredakan rasa sakit di kepala ini.
Ceklek
__ADS_1
Aku mendengar suara pintu yang terbuka, ingin melihat siapa yang masuk ke kamarku. Tapi mataku terasa sangat berat untuk terbuka. Akhirnya aku hanya diam dan tetap memejamkan mata.
Tempat tidur yang sedikit bergoyang membuat aku sadar jika ada yang duduk di pinggir tempat tidurku. Lalu, ada sebuah tangan mengelus kepalaku.
"Ra, badan kamu panas banget. Kita ke dokter yuk"
Akhirnya aku tahu siapa yang masuk ke kamarku, suara lembut Ibu mengalun indah di telingaku. Tapi, tidak ada tenaga untuk aku hanya sekedar menyaut ucapan Ibu. Bahkan untuk membuka mata saja, sangat sulit.
"Tunggu dulu ya, Ibu buatkan kamu bubur sama bawa obat buat kamu" Suara Ibu kembali terdengar, di susul dengan tempat tidur yang sedikit bergoyang. Terdengar pintu terbuka dan tertutup kembali. Aku benar-benar merasa lemah sekarang, aku merasa dingin dengan suhu tubuh yang naik.
Aku merasakan cairan yang menetes di sudut mataku. Di saat seperti ini, air mata masih terus mengalir tanpa bisa lagi aku tahan. Aku lelah Tuhan, kenapa kisah kami harus berakhir seperti ini. Cinta dan takdir tidak lagi berpihak pada kami. Nyatanya Benteng Penghalang Kita tetap lebih kuat dari apapun yang pernah kami perjuangkan.
Terdengar pintu kamar yang kembali terbuka, di susul dengan derap langkah. Aku memaksakan membuka mata, meski terasa berat. Aku melihat Ibu, Ayah dan seseorang yang datang menghampiriku. Aku kira itu adalah seorang dokter, terlihat dari pakaiannya dan dengan apa yang dia bawa.
"Ra, kamu di periksa dulu ya" kata Ibu sambil mengelus kepalaku setelah dia menyimpan nampan di atas nakas samping tempat tidur. Mungkin Ibu membawa bubur yang telah dia buat.
Aku hanya mengedipkan mata saja sebagai jawaban, mulutku terasa sulit untuk mengucap kata. Apalagi dengan tenggorokan yang terasa sangat kering.
"Nona Seira hanya kecapean dan terlalu banyak fikiran, jadi imun tubuhnya turun. Mungkin juga karena kurang tidur. Perbanyak istirahat, tolong resep ini di tebus di apotek ya Pak." jelas Dokter setelah dia selesai memeriksa.
"Baik Dok, terimakasih"
Aku hanya memejamkan mata sambil mendengarkan perbincangan mereka. Memang benar apa kata dokter barusan. Sejak hari dimana Ayah memberikan aku pilihan yang sangat sulit itu, hingga aku benar-benar memilih keputusan yang membuat semua orang senang. Tapi, sejak saat itu hidupku hancur. Bahkan hanya untuk bisa merasakan tidur nyenyak pun, aku tidak lagi bisa merasakannya.
"Ra, makan dulu biar Ibu suapin" Ibu mengelus kepalaku dengan lembut
"Iya Ra, Ayah mau ke apotik dulu buat tebus obat kamu ini" kata Ayah
__ADS_1
Ibu membantu aku untuk bangun, dan menyandar di sandaran tempat tidur dengan bantal sebagai sandaran. Lalu, Ibu mengambil semangkuk bubur di atas nakas dan menyuapiku.
Aku menatap wanita paruh baya yang sedang menyuapiku itu. Dia wanita yang telah banyak berjuang untuk ku. Wanita yang melahirkanku dan mengurus aku sampai sekarang. Tidak tega rasanya jika aku harus mengecewakan nya.
Jika semua ini akan membuat Ibu dan Ayah bahagia. Maka aku rela mengorbankan perasaan dan cinta yang selama ini aku perjuangkan bersama Ganesh.
"Bu"
Ibu yang sedang mengaduk bubur dan menyendok lagi untuk di suapkan padaku, dia mendongakan wajahnya "Iya Ra?"
Aku langsung memeluk Ibu dari samping, membuat dia sedikit terkejut dengan tindakan ku itu. Bahkan mangkuk bubur itu hampir saja terjatuh.
"Kenapa Ra?" tanya Ibu, tentu dia pasti bingung dengan apa yang aku lakukan secara tiba-tiba
"Terimakasih Bu, terimakasih untuk semuanya. Maafkan Seira jika selama ini Seira selalu membuat Ibu dan Ayah marah dan kecewa"
Aku hanya merasa bersalah dengan semua ini. Melihat air mata Ibu yang mengalir di waktu itu, membuat hatiku benar-benar tersayat. Aku merasa jika aku terlalu memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Tidak memikirkan perasaan mereka yang terluka dengan ulahku.
Ibu menyimpan kembali mangkuk bubur di atas nakas, tangannya mengelus punggung ku dengan lembut. Dia juga mencium puncak kepalaku. "Ibu dan Ayah hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Ra. Bukannya kami tidak suka dengan Ganesh, tapi Ibu kecewa dengan dia. Karena dia, kamu bahkan tidak lagi jujur pada kami tentang pernikahan yang telah dia jalani itu"
Aku terdiam, memang bukan salah Ganesh. Tapi, aku juga bersalah karena menuruti perkataan Ganesh yang memintaku untuk tidak memberi tahu Ibu dan Ayah tentang pernikahan dia itu. Tapi, saat itu aku hanya memikirkan hubungan kami saja. Tidak dengan perasaan Ayah dan Ibu. Maafkan aku Ayah, Ibu.
"Maaf, Bu. Maafkan aku"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru.. bisa baca karya temanku ini ya..