
"Pokoknya Kakek gak mau tahu ya Ganesh, kamu harus menikah dengan gadis pilihan Kakek! Jika tidak, maka silahkan tinggalkan keluarga Aditama dan GE"
Deg..
Aku masih diam mematung di balik dinding penghalang ruang keluarga dan ruang tamu di Villa ini. Ucapan Kakek benar-benar membuat aku merasa linglung. Menikah? Dengan pilihan Kakek? Itu artinya bukan aku orangnya. Jelas sekali itu bukan aku, lalu siapa perempuan itu. Perempuan yang beruntung mendapatkan restu dari Kakek.
Tuhan, aku harus bagaimana?
"Papa tidak masalah jika kamu ingin terus melanjutkan hubungan kamu dan Seira. Tapi, sampai kapan? Apa kamu tidak memikirkan masa depan selanjutnya dalam hidupmu? Tidak akan terus seperti ini, Papa semakin tua apalagi dengan Kakek mu. Jujur saja Papa ingin segera melihat kamu menikah dan memiliki seorang anak. Papa ingin menimang cucu pertama Papa dari anak pertama Papa"
Ganesh terdiam mendengar ucapan Papa, aku hanya bisa mengintip di balik dinding. Aku tahu jika Ganesh juga merasakan kebimbangan yang sama. Kami saling mencintai, tapi benteng di antara kita terlalu tinggi.
"Aku gak bisa Pa, aku.. Aku mencintai Seira" tegas Ganesh, priaku itu sepertinya tidak mau menyerah memperjuangkan hubungan kita.
"Baiklah, jika kamu ingin menentang keinginan Kakek. Maka tinggalkan keluarga Aditama dan GE" tegas Kakek tak mau kalah dengan Ganesh
Tes..
Air mata itu akhirnya lolos juga, tidak tahan melihat Ganesh tertekan seperti ini. Aditama adalah keluarganya dan GE adalah masa depannya. Lalu, bagaimana mungkin Ganesh meninggalkan keduanya.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan Kakek" lirih Ganesh yang masih terdengar jelas oleh telingaku.
Dada ini semakin sesak, aku memukulnya dengan kepalan tangan berharap sesaknya bisa hilang. Inikah akhir dari semuanya? Berakhir menyedihkan seperti ini?
Hiks..
Aku terisak sambil berlari menuju kamar, aku tidak bisa menerima semua ini. Ganesh menyetujuinya, dia akan menikahi perempuan pilihan Kakek. Lalu, bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan?
Aku menyembunyikan wajahku di atas bantal, dadaku begitu sesak. Hiks..Hiks.. Bahkan isakan tangis semakin keras dan tak bisa lagi aku tahan. Ya Tuhan.. Sesakit ini.
Ganesh, aku mencintaimu.
Sepertinya kata itu sudah tak akan berarti lagi saat ini. Ganesh telah memilih pilihan Kakek, dan hubungan kita sudah di ambang kehancuran sejak saat ini. Entah apa yang akan terjadi besok dan seterusnya setelah ini.
Aku masih tidak percaya dengan ini, apa ini hanya mimpi? Jika iya, tolong segera bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Tapi, semuanya nyata. Bukan mimpi seperti yang aku harapkan. Aku jelas mendengar Ganesh menyetujui permintaan Kakek untuk menikahi perempuan pilihannya dan itu bukan aku.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku mengerjap saat sayup terdengar suara yang memanggilku dengan lembut. Perlahan aku buka mataku, entah jam berapa aku tertidur setelah menangis sejadi-jadinya semalam. Aku merasa mataku agak bengkak sekarang, bahkan sedikit sulit untuk membuka kelopak mata. Mungkin karena menangis terlalu lama semalam.
"Sayang ada apa dengan matamu? Apa kau menangis semalam?"
Benarkan jika mataku pasti terlihat bengkak, Ganesh menatapku dengan khawatir. Aku tahu jika dia begitu peduli padaku. Tapi, sejak apa yang ku dengar tadi malam membuat aku mau tak mau harus mulai melangkah mundur dari sekarang.
Aku menghambur ke pelukannya, menangis sejadi-jadinya di pelukan Ganesh. Aku tahu jika pria itu terkejut dengan sikapku ini. Namun, saat ini aku hanya ingin meluapkan segala sesak di dadaku dalam pelukan pria yang sangat aku cintai ini.
"Sayang kenapa? Hei.. Seira?"
Hiks..Hiks..
Aku melerai pelukan kami, menatap mata Ganesh dengan pandangan yang buram karena terhalang air mata yang menggenang.
"Ganesh, apa ini akhir dari semuanya? Apa perbedaan kita memang tidak bisa di satukan?" tanyaku lirih, menatap manik hitam itu.
"Ra.."
"Baiklah, kamu bersiap dulu ya. Aku tunggu di depan"
Ganesh berlalu keluar dari kamar. Mungkin ini yang terbaik untuk kami saat ini. Butuh waktu sendiri untuk menenangkan fikiran.
Setelah berpamitan pada semuanya, aku dan Ganesh segera pulang. Di dalam mobil, hanya ada suasana sunyi sepi. Aku yang sibuk dengan fikiranku sendiri dan Ganesh yang fokus pada kemudinya.
Sampai beberapa menit berlalu, aku mulai menyadarkan diri dari semua fikiran itu. "Aku bisa mengikuti agamamu dan Kakek bisa merestui kita"
Ganesh terlihat terkejut mendengar itu, dia menoleh ke arahku sekilas sebelum kembali fokus pada kemudinya.
"Jangan bercanda Ra"
Aku menggeleng cepat, aku pegang lengan Ganesh yang berada di kemudi "Aku tidak bercanda Ganesh. Aku serius dengan ucapanku"
Ganesh menggeleng pelan "Tidak Ra, kamu tidak serius. Kamu hanya terpancing emosi karena Kakek yang menjodohkan ku. Bahkan untuk ingin mengikuti agamaku, kamu harus ikhlas dan benar-benar dari hati kamu. Bukan karena cinta atau apapun itu"
__ADS_1
Aku terdiam mendengar ucapan Ganesh, aku memang siap untuk mengikuti agamanya. Namun, aku juga tidak tahu apa aku ikhlas dari hati atau hanya karena aku tidak mau berpisah dari Ganesh. Aku tidak tahu.
Mobil telah sampai di depan pekarangan rumah, aku tidak banyak berkata lagi. Langsung turun tanpa menunggu Ganesh membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ra, Ra.."
Aku bahkan tidak memperdulikan teriakan Ganesh yang memanggilku. Saat ini aku hanya ingin menenangkan diri dan fikiranku. Masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut oleh Ibu dan Ayah. Mereka menatapku dengan heran.
"Kenapa Ra? Abis liburan kok mukanya di tekuk kayak gitu?" Tanya Ibu
"Tidak papa Bu, Seira hanya capek saja. Seira mau tidur dulu, istirahat"
Aku berlalu begitu saja dari depan Ayah dan Ibu. Masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Aku menatap langit-langit kamar, fikiranku masih melayang ke kejadian di Villa kemarin malam. Permintaan Kakek pada Ganesh terus terngiang di telinga.
Tok tok tok..
Suara pintu kamar yang di ketuk membuat aku bangun terduduk di pinggir tempat tidur "Masuk"
Ibu masuk ke dalam kamar, aku tahu jika Ibu tidak bisa di bohongi. Dia tentu melihat keadaanku yang tidak baik-baik saja. Mata yang sembab dan wajah polos tanpa riasan, bukan aku yang seperti biasa.
Ibu duduk di sampingku "Ada apa Ra?"
Aku memeluk Ibu, saat ini aku hanya butuh pelukan untuk sedikit menenangkan kegelisahan akan hubungan aku dan Ganesh.
"Bu, apa boleh jika Seira mengikuti agama Ganesh?" tanyaku lirih, meski aku sudah tahu jawabannya.
Ibu melepaskan pelukanku, dia menatap ku dengan tidak suka "Jangan mengorbankan keyakinanmu demi cinta Seira. Lupakan Ganesh dan carilah pendamping yang sama"
Sudah ku duga, ini jawabannya. Tidak mungkin Ibu mengizinkannya. Bisa saja aku memaksa dan memilih pergi dari keluarga ini dan menikah dengan Ganesh sesuai agamanya. Namun, apa hidupku akan bahagia jika menikah tanpa restu orang tua? Aku tidak mau menjadi anak durhaka.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahn dan vote juga ya...
Sumpah sedih banget si pas nulis ini, tapi ini hanya kisah fiksi. Tidak di ambil dari kisah nyata ya, hanya terinpirasi saja. Semuanya murni dari imajinasiku.
__ADS_1