
Aku masih memikirkan gadis bernama Tyas itu. Aku tidak merasa jika gadis itu adalah gadis seperti yang di katakan oleh Ganesh. Entahlah...
Ganesh membawaku ke bawah, dia akan mengantar ku pulang. Aku memaksanya untuk berpamitan dulu dengan keluarganya, karena awalnya Ganesh tidak ingin bertemu dengan keluarganya sebelum dia mengantarkan aku pulang.
"Ma, Pa, Gezia aku pamit pulang ya. Oh ya Kakek dimana? Aku juga belum ketemu sama Tante sama Om"
Di sana hanya ada Papa, Mama dan Gezia. Kakek dan gadis itu sudah tidak ada di sana. Karena kisruh yang terjadi, aku bahkan tidak bertemu dengan Om Erwin dan Tante Syifa, juga anak-anaknya.
"Kakek sudah istirahat Ra, kecapean kayaknya. Maklumlah kalau sudah berumur ya begitu" kata Papa
Aku mengangguk mengerti, Mama memeluk ku "Hati-hati ya Ra, maaf untuk kejadian tadi"
Aku membalas pelukan Mama dengan hangat "Tidak papa Ma, aku mengerti"
Meski aku cukup sakit hati saat tahu jika wanita yang akan di jodohkan dengan Ganesh begitu dekat dengan keluarganya. Namun, entah kenapa aku tidak bisa menyalahkan gadis itu. Aku merasa dia juga punya permasalahan sendiri.
Akhirnya aku pulang tanpa berpamitan pada Kakek, Tante Syifa dan Om Erwin. Aku melirik Ganesh yang sedang fokus menyetir. Dia hanya diam dengan wajah dingin. Aku tahu jika dia sedang dalam keadaan kacau sekarang. Aku saja tidak menyangka jika gadis itu akan hadir di acara tadi.
Aku mengelus tangan kekar Ganesh yang memegang kemudi dengan erat, terlihat sekali jika dia sedang di selimuti emosi. "Sudah ya, jangan di ambil pusing soal kejadian tadi. Aku gak papa"
Ganesh menoleh sekilas padaku, lalu kembali fokus pada kemudinya "Bagaimana aku bisa tenang dan diam saja saat mereka dengan beraninya membawa wanita sialan itu datang di acara keluarga. Padahal mereka tahu jika aku akan membawa kamu"
Aku tahu Ganesh bersikap seperti ini karena aku. Dia takut aku merasakan sakit hati karena melihat kejadian tadi. Melihat wanita.. Aahh.. Rasanya tidak pantas aku menyebutnya seorang wanita. Karena dia jelas lebih muda dari aku, dia seorang gadis manis yang lugu. Dan entah kenapa aku tidak merasa marah padanya, aku hanya sedikit terkejut saja.
"Sudahlah, aku cukup mengerti kok. Situasinya sudah berbeda sekarang, aku bukanlah calon kamu yang mereka harapkan, Ganesh"
Memang benar 'kan, aku bukanlah calon menantu yang mereka harapkan. Mereka masih bersikap baik saja padaku sudah sangat bersyukur sekarang. Aku sudah mulai pasrah pada takdir, aku hanya akan mengikuti arus dan tidak akan melawan arus dalam hubunganku dengan Ganesh.
Ganesh melirik ku dengan dingin "Aku tidak peduli jika bukan kau yang mereka harapkan, tapi aku selalu mengharapkan kamu"
__ADS_1
Aku tersenyum saja mendengar ucapan Ganesh, tidak mungkin membantahnya untuk saat ini. Aku tahu jika Ganesh sedang di landa emosi.
"Yasudah, sekarang kamu jangan terlalu memikirkan itu. Kita ikuti saja alurnya"
Ganesh hanya diam mendengar ucapan ku itu. Ikuti saja alurnya, yang aku tahu arus akan membawa kami kemana. Arus hanya akan membawa kami ke jurang perpisahan. Rasanya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kami bisa bersama selamanya. Benteng Penghalang Kita lagi-lagi tidak akan bisa kita tembus.
Sampai di depan halaman rumah, aku berpamitan dengan Ganesh dengan mencium pipinya sekilas sebagai tanda perpisahan hari ini.
"Aku pulang ya, jangan cemberut terus. Jelek tau"
Aku sedikit terkekeh, mencoba menghibur priaku yang sedang dalam mood buruk. Terbukti, Ganesh ikut tersenyum mendengar ucapan ku itu.
Dia mengelus kepalaku dan... Eh.. Tiba-tiba dia menarik kepalaku hingga wajah kami begitu dekat dan semakin dekat.
Cup.. Ganesh mengecup bibirku. Tidak. Bukan hanya kecupan, tapi berlanjut pada luma*tan halus di bibirku. Aku membalasnya dengan begitu lembut. Aku juga begitu merindukan ciuman lembutnya ini, sejak permasalahan kami itu. Bahkan saat bertemu saja, kami selalu berdebat dan fokus dengan pemikiran masing-masing. Memikirkan bagaiaman hubungan kami kedepannya.
Ganesh melepaskan tautan bibir kami setelah dia cukup puas dengan ciuman itu. Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan wajah sedikit merona malu. Memang bukan pertama kalinya kami berciuman seperti ini. Tapi, tetap saja aku selalu merasa sedikit malu.
"Ishh... Aku turun ya, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut!"
"Iya Sayang"
Aku keluar dari mobil Ganesh, menunggu di depan pintu pagar rumah sampai mobil Ganesh menjauh dari sana. Setelah mobil Ganesh tak terlihat oleh pandangan mata, aku segera masuk ke dalam rumah.
"Sudah pulang Ra, bagaimana acaranya?" tanya Ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Ayah.
Aku mendekat ke arah mereka, duduk di sofa tunggal di sana "Baik Bu, semuanya berjalan lancar"
"Emm. Bagaimana dengan hubungan kalian?" tanya Ayah tiba-tiba, hal yang selalu aku hindari saat Ayah atau Ibu membahasnya.
__ADS_1
Aku bingung untuk menjawab apa, pertanyaan tentang hubungan kami selalu menjadi tofik yang sensitif. Aku selalu tidak suka akan hal itu, pertanyaan mereka semua selalu membuat aku merasa jika semuanya seolah akan segera berakhir. Tiga tahun kami bersama, apa akan berakhir seperti ini?
Pada akhirnya aku sadar, jika kata mungkin tidak akan pernah ada untuk kami. Tidak ada kemungkinan apapun untuk hubungan aku dan Ganesh bisa bertahan selamanya. Semuanya terlalu mustahil, entah sampai kapan kami bisa bertahan dalam hubungan yang begitu rumit.
"Kami baik Yah, tidak ada yang berbeda. Aku dan Ganesh tetap berhubungan seperti biasa"
Hanya saja, entah sampai kapan kami akan bertahan dengan hubungan di antara perbedaan yang jauh dan sulit di gapai.
"Syukurlah, Ayah hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu Ra. Semoga kamu menemukan jodoh yang benar-benar cocok untukmu di masa depan" kata Ayah, menatap serius padaku
Aku sangat tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Ayah. Apa maksudnya menemukan jodoh yang terbaik di masa depan? Memang aku dan Ganesh sudah benar-benar mangakhiri hubungan kami? Hubungan kami hanya ada masalah, dan untuk saat ini aku dan Ganesh masih berusaha bertahan. Walau tidak tahu sampai kapan kami akan bertahan.
"Ganesh yang terbaik Yah, dia selalu mengerti aku"
Ayah menghela nafas pelan, dia menatapku dengan serius "Yang menurutmu terbaik, belum tentu yang di takdirkan Tuhan padamu"
Aku terdiam, memang benar apa yang di katakan Ayah. Tapi, apa harus sejelas itu dia menjelaskan tentang perbedaan antara kami yang jelas berada di jalan buntu dan tidak menemukan solusi apapun.
"Aku masih akan bertahan Yah, entah sampai kapan itu"
Aku berdiri dan melangkah menuju tangga, namun langkahku terhenti saat suara Ibu terdengar begitu lirih di telingaku.
"Ibu dan Ayah sudah tua, kami ingin segera melihatmu menikah dan memiliki seorang anak"
Deg
Bersambung
Maaf telat up..
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih