
Ganesh memang benar-benar keterlaluan, aku jadi canggung dan tidak enak pada Tyas. Gadis itu hanya tersenyum dan menuruti apa saja yang di katakan suaminya. Kenapa aku jadi kesal sendiri dengan sikap Ganesh kali ini. Dia seperti bukan lagi Ganesh yang aku kenal, yang selalu menghargai dan menghormati wanita.
"Kamu itu kenapa si Nesh? Tyas itu istri sah kamu. Meski kamu tidak mencintainya, setidaknya kamu bisa sedikit saja menghargainya. Aku tidak akan marah jika kamu juga memberi perhatian pada Tyas. Dia juga berhak atas kamu, sudah berapa kali aku bilang"
Aku benar-benar kesal dengan sikap Ganesh, dia seolah tidak menganggap Tyas sebagai istri sahnya dan memperlakukan dia dengan tidak baik seperti ini. Aku juga wanita, aku tahu pasti Tyas merasa terendahkan harga dirinya dengan perkataan Ganesh tadi.
Kalau saja Tyas berkata padaku jika dia mencintai Ganesh. Maka aku akan mundur saat itu juga meski akan sedikit sulit untuk menghilangkan cintaku pada Ganesh, aku hanya tidak ingin menyakiti hati seorang istri yang mencintai suaminya.
Tapi, Tyas berkata jika dia juga punya pria idaman lain yang dia cintai. Itulah alasan kenapa aku masih mempertahankan hubungan aku dan Ganesh. Aku tidak ingin jika pria itu juga akan tersakiti dengan kenyataan jika istrinya mempunyai pria idaman lain. Itulah, kenapa aku masih bertahan sampai sekarang. Selain aku juga masih sangat mencintainya.
Ganesh yang sedang duduk dan menatap laptop yang menyala di meja kerjanya. Sepertinya dia tetap bekerja meski dalam jarak jauh.
"Aku hanya ingin menyadarkan dia, jika sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya sebagai istriku. Jika dia duluan yang meminta cerai, maka aku akan aman di mata Kakek dan keluargaku" jelas Ganesh
Jadi, Ganesh hanya menginginkan Tyas meminta cerai duluan dengan cara membuat gadis itu tersakiti dan teraniaya seperti ini. Ganesh memang benar-benar ya...
"Tapi gak sampai segitunya juga Nesh, dia itu wanita. Sudah seharusnya kamu menghargai dia, sedikit saja"
Ganesh mengangkat kedua bahunya acuh, dia masih fokus pada layar laptop di depannya "Aku tidak peduli perasaan dia. Semakin dia tersakiti, maka semakin aku bisa segera lepas dari dia"
Aku menghembuskan nafas kasar, memang beginilah Ganesh. Dia keras kepala dan susah untuk di luluhkan setelah dia mempunyai keputusan sendiri.
"Terserah kamulah, aku capek ngomong sama kamu"
Aku berjalan menjauh dari tempat Ganesh, duduk di sofa yang berada di pojok ruangan. Aku menatap kesal pada Ganesh yang masih fokus pada laptop.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Suara ketukan pintu dari luar mengalihkan pandangan ku, pintu terbuka dan munculah Tyas dengan sebuah nampan di tangannya.
"Permisi Kak, Tyas mau anterin minum untuk Mas Ganesh" kata Tyas tersenyum ke arahku, dia seolah tidak enak padaku. Padahal aku biasa saja, aku mengerti jika keadaannya sekarang sudah berbeda. Ganesh bukan lagi hanya miliku seorang, dia juga milik Tyas. Dan aku mengerti itu.
"Iya Yas, masuk aja"
Tyas berjalan mendekat ke arah meja kerja Ganesh yang bahkan pria itu tidak melirik sedikit pun pada istrinya yang datang.
Tyas menaruh secangkir kopi untuk Ganesh di atas meja kerjanya "Minumnya Mas"
"Hmm"
Aku benar-benar kesal melihat sikap Ganesh pada Tyas. Kenapa pria itu menjadi dingin begitu, Ganesh yang aku kenal seolah lenyap dan berubah menjadi Ganesh yang dingin dan menyebalkan seperti sekarang.
"Tyas ayo keluar, aku ingin bicara denganmu"
Tyas tersenyum dan mengangguk "Iya Kak"
Akhirnya aku dan Tyas berada di halaman rumah, duduk di sebuah bangku panjang. Dan menatap keindahan alam perbukitan yang hijau itu.
"Tyas, kalo suatu saat nanti kamu mencintai Ganesh. Kamu bilang sama aku ya, aku akan meninggalkan dia dan membiarkan kamu bahagia bersama suami kamu. Aku bukan pelakor seperti di cerita fiksi, yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan pria yang dia cintai"
Aku menghela nafas berat dengan sebutan yang aku ucapkan untuk diriku sendiri. Pelakor? Memang pantas sebutan itu untuku, mengingat apa yang aku lakukan sekarang. Aku masih berhubungan dengan pria yang sudah mempunyai istri. Sebutan apalagi yang pantas untuku jika bukan seorang pelakor.
"Aku tidak setega itu untuk menyakiti seorang istri yang mencintai suaminya. Saat ini aku masih bertahan bersama Ganesh, selain karena aku mencintainya juga karena perkataanmu waktu itu. Kamu yang memintaku untuk tetap bersama Ganesh karena kamu juga mempunyai pria lain yang kamu cintai"
Aku tidak ingin Tyas salah faham. Jadi aku mengucapkan segala alasan kenapa aku masih bertahan bersama Ganesh saat ini. Aku tidak mau Tyas mencap aku sebagai pelakor jahat yang tega menyakiti istri yang mencintai suaminya.
__ADS_1
Tyas tersenyum sambil menatap lurus ke depan, senyumnya sungguh menenangkan "Aku tahu. Kak Seira bukanlah orang jahat. Kakak orang baik yang rela kekasihnya menikahi wanita lain di saat kalian saling mencintai"
Kenapa aku berfikir jika Tyas tidak seburuk yang di fikirkan Ganesh. Gadis ini tidak terlihat jahat dan gila harta, seperti yang Ganesh ucapkan.
"Sudahlah Kak, jangan terlalu memikirkan itu. Semuanya kita serahkan saja pada Tuhan dan kita hanya perlu menerima takdir" kata Tyas, gadis itu berdiri dari duduknya "Aku masuk dulu"
Setelah Tyas berlalu pergi, tinggalah aku sendiri disini. Menatap hamparan hijau di perbukitan itu. Ucapan Tyas benar, memang kita hanya tinggal menerima takdir saja. Tapi, apa itu bisa? Sekarang saja aku dan Ganesh tidak bisa menerima takdir yang mengharuskan Ganesh dan Tyas menikah. Kami seolah menolak takdir itu. Entahlah..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari aku sudah harus pulang, meninggalkan sepasang suami istri yang tak saling mencintai itu. Meski Ganesh merengek agar aku tetap tinggal, tapi aku tetap tidak bisa. Aku harus pulang karena Ayah dan Ibu mungkin saja curiga saat aku tidak pulang hari ini. Aku sudah banyak berbohong pada mereka.
"Sayang yakin gak mau tinggal disini satu hari lagi saja" rengek Ganesh, pria itu selalu menunjukan kemanjaannya di depan ku seperti ini. Sudah melebihi bayi saja.
"Gak bisa Sayang, nanti kalo kita ada waktu lagi kita bisa bertemu lagi ya"
Tyas datang dari rumah dengan membawa sebuah paper bag di tangannya, dia menghampiriku dan memberikan paper bag itu padaku "Ini tadi Tyas bikin kue, di bawa ya. Semoga Kakak suka, salam juga buat Ayah, Ibu Kak Seira"
Oh Tuhan.. Kenapa gadis ini begitu baik, hatinya benar-benar tulus dan lembut. Dia sungguh gadis yang baik dan aku semakin merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan, aku telah merebut suaminya.
Maafkan aku Tyas.
"Terimakasih banyak Tyas, iya nanti pasti aku salamin pada Ayah dan Ibu"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiah juga dong...
__ADS_1
Kisah mereka akan semakin rumit ya.. Tidak ada peran antagonis disini. Hanya ego yang tinggi dan keras kepala yang membuat kisah ini semakin rumit.