
Antara memilih takdir atau takdir yang memilih?
Itulah istilah yang tepat untuk hubungan kami, aku dan Ganesh masih bertahan dalam hubungan yang aku sadari jika ini salah. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Jadi, aku tidak akan mundur untuk saat ini. Apalagi Tyas saja yang berstatus sebagai istri sah Ganesh, menyuruh aku untuk tetap bertahan bersama suaminya.
Itu semua pasti karena Tyas juga tidak mencintai Ganesh dan terpaksa menjalani pernikahan ini.
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini hmm?"
Ganesh datang menghampiriku yang sedang berdiri di bawah pohon rindang yang berada di halaman villa ini. Menatap perbukitan yang hijau dan sangat indah di pandang mata.
"Menikmati suasana disini saja, nyaman banget ya. Sejuk"
Ganesh berjalan ke belakang ku dan memeluk dari belakang dengan dagunya yang berada di bahuku "Kamu suka suasana disini?"
Aku mengangguk dan tersenyum, aku memang suka suasana disini. Entah bagaimana keluarga Ganesh memilih villa keluarga, selalu di tempat yang tepat dan menenangkan seperti ini suasananya.
"Diam saja disini sampai aku pulang, nanti kita pulang bersama" kata Ganesh semakin menempelkan pipinya ke pipiku
"Emm. Aku hanya bilang satu hari saja perginya, jadi besok sore aku harus sudah pulang"
Aku mendengar Ganesh menghembuskan nafas kasar "Kenapa cepat sekali, aku masih sangat merindukan mu"
Aku tersenyum mendengar keluhan manja dari pria yang memeluk ku itu. Aku menoleh ke arah pipinya dan mengecup pipi mulus itu. Ganesh itu seorang pria, tapi entah kenapa wajahnya begitu mulus dan bersih. Mengalahkan para wanita yang melakukan perawatan setiap hari.
"Sudahlah, kamu senang-senang disini bersama istri kamu"
Aku mengatakan itu tulus, aku bisa sedikit menerima jika Ganesh juga memberikan perhatiannya pada Tyas. Karena dia juga istrinya, meski akulah wanita yang di cintainya. Aku cukup mengerti dengan keadaan saat ini. Hanya saja, aku tetap tidak akan rela jika Ganesh berani mengingkari janjinya yang tidak akan menyentuh Tyas sampai kami benar-benar bisa bersama.
"Aku tidak akan merasakan senang bersama wanita itu" kata Ganesh dengan tegas
"Jangan seperti itu, kamu harus menghargainya sebagai istrimu. Aku tidak akan marah jika kamu membagi waktu untuk aku dan Tyas. Dia juga berhak atas kamu"
Bahkan mungkin lebih berhak daripada aku, dia istri Ganesh dan aku hanya kekasihnya yang bahkan tidak mendapat restu dari keluarganya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bersamamu, tidak ingin bersama siapapun lagi apalagi wanita itu!" tegas Ganesh
Aku melepaskan kedua tangannya yang memeluk perutku, berbalik dan menghadap ke arah Ganesh. Aku genggam kedua tangan kekar Ganesh, saling menatap dengan pancaran yang sama. Cinta. Kami yang saling mencintai dan selalu memancarkan cinta itu di balik tatapan mata.
"Saat ini kita hanya menunggu masanya, antara memilih takdir atau takdir yang memilih. Semuanya akan ada waktunya dimana kita benar-benar bisa bersama atau malah berpisah. Tapi, apapun yang akan terjadi suatu saat nanti, aku minta kamu harus bisa menerimanya. Kita coba untuk menerima suratan takdir yang ada, kedepannya"
Memang itu yang harus aku dan Ganesh lakukan sekarang. Menyiapkan diri saat suatu saat nanti takdir berkata lain. Takdir menyuratkan tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Saatnya aku mulai menyiapkan diri untuk itu.
Ganesh menatapku lekat, dia seperti sedang mencerna setiap ucapanku "Aku tidak bisa Ra, aku hanya ingin bersamamu"
"Kita berdoa saja semoga kita benar-benar bisa bersama selamanya"
Aku tersenyum setelah mengatakan itu, hanya sedikit meyakinkan Ganesh saja. Meski aku juga tidak yakin jika kita benar-benar bisa bersama untuk selamanya. Saat ini saja rintangan terlalu sulit dalam hubungan kami.
Kami berpelukan, rasanya hanya dengan seperti ini kami bisa saling menguatkan satu sama lain. Menghadapi semua masalah yang mungkin akan bertambah dan terus bertambah kedepannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menginap satu malam di villa ini, aku tidur di kamar yang berada di lantai bawah. Sementara Ganesh tidur di lantai atas, mungkin bersama istrinya. Aku tidak akan marah dan mempermasalahkan itu. Aku cukup mengerti dengan keadaan sekarang.
Melewati ruang tengah, aku menuju ruang makan untuk mengambil minum. Disana sudah ada Tyas yang sedang menata makanan di atas meja. Sepagi ini dia sudah memasak, sungguh istri idaman. Apa Ganesh tidak melihat kelebihan istrinya ini ya..?
"Pagi Kak" sapa Tyas dengan senyuman ramahnya
Aku tersenyum, aku meraih teko air putih dan menuangkannya ke dalam gelas. Lalu meminumnya.
"Pagi Tyas, sudah masak ya jam segini"
Baru jam setengah 7 pagi loh, dia sudah selesai masak.
"Iya Kak, ayo sarapan dulu" kata Tyas sambil menarik kursi meja makan dan menyuruh aku duduk di sana.
Aku sedikit tidak enak mendapat perlakuan khusus dari Tyas. Gadis ini benar-benar tulus padaku, bahkan tidak ada perlakuan tidak baik darinya padaku. Aku.. Si wanita yang merebut suaminya.
__ADS_1
"Ganesh mana Tyas? Kok belum turun?"
Tyas membalikan piring di depanku yang sudah dia siapkan dan mengisi piring itu dengan nasi dan beberapa lauk pauk. "Tidak tahu Kak, mungkin belum bangun"
Hah? Tidak tahu? Apa mereka tidak tidur satu kamar atau bagaimana? Kenapa Tyas sampai tidak tahu soal Ganesh. Aku merasa bingung dengan semua ini.
"Terimakasih" Aku mengucapkan terimakasih dengan yang di lakukan Tyas. Mengisi piringku dengan makanan yang telah di masaknya.
Tyas tersenyum, sangat manis senyumannya itu "Sama-sama Kak, ayo di makan"
Aku mengangguk "Iya"
Tyas ikut duduk di kursi meja makan itu, dia juga mengambil makanan untuk dirinya. Aku pun mulai memakan masakan Tyas ini, dan baru satu suap saja aku sudah merasa nikmat luar biasa. Masakan Tyas benar-benar enak, bahkan ini mengalahkan masakan Ibu. Hebat.. Tyas memang wanita hebat. Bahkan aku saja tidak bisa memasak.
"Bagaiamana Kak?" Tanya Tyas, dia penasaran dengan pendapatku tentang masakannya ini.
Aku mengacungkan ibu jari pada Tyas, dengan mulut yang masih penuh mengunyah makanan. Masakan Tyas membuat aku sulit untuk berhenti menyuap.
"Enak banget Yas"
Tyas tersenyum senang mendengarnya "Habiskan kalau begitu, Kakak bisa nambah lagi sepuas Kakak"
Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih dengan suara yang tidak terlalu jelas karena makanan yang berada di mulut yang penuh.
Di saat kami asyik makan, tiba-tiba Ganesh datang. Wajahnya masih khas bangun tidur, dia menarik kursi di sampingku. Aku merasa tidak enak pada Tyas yang duduk di sebrang kami. Meski dia terlihat biasa saja, tapi aku tahu jika Tyas juga merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
"Ambilkan sarapanku" kata Ganesh
Aku segera meraih piring yang berada di depan Ganesh, namun tanganku langsung di tahan olehnya. Aku menoleh ke arah Ganesh, menatapnya bingung.
"Kamu duduklah dan lanjutkan makanmu, biarkan wanita itu saja yang mengambilkan sarapan untuk ku. Aku tidak mau mengganggu makanmu itu, Sayang"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. Hadiahnya mana nih..