
Dua minggu berlalu, tidak terasa sudah satu bulan lebih sejak aku memutuskan untuk meninggalkan Ganesh. Meski sudah selama itu, tetap saja hati ini masih membeku dan tidak lagi terbuka untuk orang lain. Kegagalan ini membuat hatiku trauma untuk memulai kisah yang baru.
"Ra, semuanya sudah siap?" Alex berdiri di ambang pintu, hari ini memang ada meeting di luar. Meski aku masih sedikit trauma dengan acara meeting di luar ini. Takut hal yang pernah terjadi akan terulang lagi.
"Siap Tuan"
Aku berdiri dan membawa berkas yang sudah aku siapkan, menenteng tas laptop. Kami keluar dari ruangan untuk segera menuju tempat meeting.
Di dalam mobil, aku hanya melihat keluar jendela. Pemandangan di luar seolah berlari mengejar seiring mobil yang aku tumpangi melaju. Fikiranku masih tertuju pada perkataan Ayah waktu itu.
Membuka hatiku kembali untuk pria lain?
Bisakah aku melakukan itu? Di saat hatiku sudah membeku dan seolah tidak ingin terbuka lagi untuk siapapun. Aku melirik ke arah Alex yang sedang fokus pada kemudinya.
Apa ini? Kenapa hatiku tiba-tiba terasa berdesir, melihat pahatan wajah Alex dari samping saja sudah terlihat tampan. Pria blasteran dengan hidung mancung dan mata yang biru. Sangat tampan. Eh
Aku menyadari pemikiran ku itu, menggeleng untuk mengusir segala fikiran kotor di kepalaku. Alex memang tampan, tapi apa Alex orangnya? Tidak! Itu tidak mungkin. Aku dan Alex hanya berteman, tidak lebih!
Ayah berdo'a semoga saja ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatimu itu.
Aku jadi teringat dengan perkataan Ayah, seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatiku. Adakah? Hatiku sudah sangat hancur dan terluka. Apa masih bisa di sembuhkan? Bahkan dengan hadirnya orang baru dalam hidupku. Aku tidak yakin tentang itu.
"Ra, aku minta maaf atas kejadian waktu di restoran itu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain"
Suara bariton Alex tiba-tiba menyadarkan aku dari segala lamunan. Aku menoleh ke arahnya "Tidak papa Lex, aku mengerti kok"
"Makasih Ra, sudah mengerti posisi aku waktu itu"
Aku mengangguk dan tersenyum, memang aku mengerti posisi dan keadaan Alex. Mau bagaimana pun perusahaannya dan GE memang sudah lama terlibat kerjasama. Jadi, sudah sewajarnya jika suatu saat akan ada pertemuan antara mereka. Dan karena aku menjadi sekretaris nya sekarang. Maka aku harus profesional akan hal itu.
"Iya Lex, aku ngerti kok. Lagian hubungan aku dan Ganesh sudah berakhir. Tidak ada apa-apa lagi di antara kami"
__ADS_1
Meski aku sendiri merasa sakit menyatakan hal itu. Memang hubungan kami sudah berakhir, tapi rasanya aku tidak rela harus mengatakan itu semua. Hatiku masih terasa sakit.
"Menurutku, lebih baik kamu bicarakan semuanya pada Ganesh. Biarkan dia mengerti dan bisa menerima semua keputusan kamu itu" kata Alex
Aku mendengar apa yang di ucapkan Alex memang benar. Tapi, apa Ganesh benar-benar akan bisa menerima semua keputusanku ini? Aku tidak yakin tentang itu.
"Iya Lex, nanti saat aku siap. Aku akan menjelaskan semuanya pada Ganesh. Tapi tidak untuk sekarang"
Aku masih belum siap menceritakan semuanya di depan Ganesh tanpa adanya tangisan. Aku akan semakin terlihat lemah di mata Ganesh jika aku menceritakan semuanya sambil menangis. Ganesh akan bisa melihat jika aku tidak benar-benar bahagia dengan keputusan yang aku buat sendiri. Ganesh akan tahu serapuh apa aku, setelah memutuskan untuk meninggalkannya.
"Baiklah"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hidup masih harus berjalan, meski hati hancur dan terluka. Itulah yang aku rasakan saat ini. Meski keadaan hati ini masih belum juga membaik, tapi hidupku masih harus terus berjalan. Hidup tidak melulu tentang cinta. Tapi, dalam hidup juga membutuhkan cinta.
Weekend ini aku baru selesai beribadah, entah kebetulan apalagi atau memang sengaja Alex beribadah di tempat ini juga. Padahal jarak rumahnya dan tempat ini cukup jauh.
Sebenarnya aku sangat malas pergi, ingin diam sendiri di dalam kamar dan merenungi setiap masalah yang selalu menghampiriku. Meski aku tahu akhirnya akan menangis, tapi tidak papa. Karena dengan menangis hati ini merasa sedikit lega.
"Emm. Aku..."
"Pergi saja Ra, di rumah juga kamu cuma berdiam diri di kamar" Ibu menyahut sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Aku menoleh ke belakang, dimana Ayah dan Ibu berdiri disana. Memang benar apa yang di katakan Ibu, jika hari weekend seperti ini maka aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Itu terjadi setelah aku dan Ganesh benar-benar berakhir. Tepatnya, aku yang mengakhiri semuanya.
"Baiklah" Akhirnya aku hanya bisa menyetujui ajakan Alex itu. Kami memasuki mobil setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu. Mobil mulai melaju memecah keramaian kota di akhir pekan.
"Kita mau kemana Lex?"
"Ke tempat yang menyenangkan, supaya kamu gak galau terus" kata Alex dengan senyuman meledeknya.
Aku memukul kesal lengan Alex yang meledek ku itu "Apaan si Lex, aku gak galau kok. Biasa aja"
__ADS_1
"Udah deh Ra, kamu itu gak bisa bohong sama aku. Aku tahu kalo kamu itu belum bisa move on dari Ganesh"
Hah...
Aku menghembuskan nafas berat, memang benar jika aku belum bisa move on dari Ganesh. Waktu sebulan tidak akan cukup untuk bisa melupakan semua kenangan kita selama 4 tahun ini. Entah butuh berapa bulan lagi untuk aku bisa melupakan semuanya. Rasanya sangat sulit.
"Jadi, sekarang aku akan membawa kamu ke tempat yang bisa membuat kamu melupakan sejenak semua masalah yang mengganggu fikiranmu"
Aku tersenyum, Alex memang paling bisa untuk menghibur seseorang. Dia selalu bisa membuat tersenyum di saat fikiranku mumet seperti ini.
Ternyata Alex membawaku ke sebuah wisata taman bermain. Banyak wahana yang bisa kami naiki disini, aku benar-benar menaiki hampir semua wahana permainan. Mulai dari yang biasa saja sampai yang membuat jantung hampir copot. Tapi, aku merasa lega karena bisa berteriak sepuasnya. Setidaknya bisa membuat hatiku lebih baik. Bisa melupakan sejenak semua masalah di fikiranku ini.
"Gimana Ra? Lebih baik?" tanya Alex, setelah kami selesai menaiki wahana permainan terakhir.
Hari ini sangat menyenangkan, apalagi di akhiri dengan Alex membelikan aku permen kapas berbentuk angsa putih. Sangat imut dan lucu, sampai aku saja tidak tega untuk memakannya.
Aku mengangguk saja menanggapi pertanyaan Alex, memang hatiku sudah lebih baik sekarang. "Terimakasih ya Lex"
Alex mengelus kepalaku dengan sedikit mengacak rambutku "Sama-sama, yang penting kamu senang"
"Aku sangat senang"
Kami sedang berjalan menuju parkiran, sambil menyemil permen kapas di tanganku. Hari ini memang sangat menyenangkan bagiku, apalagi beban di hatiku terasa lebih berkurang. Terasa sedikit lega sekarang.
"Syukurlah kalau kamu senang"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. Aku benar-benar menunggu dukungan dari kalian semua... 🥺 Sebelum aku benar-benar menyerah.. 😭
Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru.. kalian boleh mampir di karya temanku ini..
__ADS_1