Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Bangkit Dari Keterpurukan


__ADS_3

Keadaanku cukup membaik setelah meminum obat. Benar.. Mungkin hanya karena aku kecapean dan terlalu banyak fikiran sekarang yang membuat tubuhku menjadi drop seperti ini.


Sudah dua hari aku tidak masuk bekerja. Hanya tiduran di atas kasur. Tubuhku benar-benar lemah.


Aku menatap ke arah pintu kamar yang terbuka, muncul Ibu di susul oleh seseorang di belakangnya. Alex.. Itu Alex yang datang.


"Hai Ra, bagaimana keadaannya?" tanya Alex


Aku tersenyum lemah "Cukup baik, terimakasih sudah repot-repot datang menjenguk"


Alek menyimpan bunga dan parsel buah yang di bawanya di atas nakas, lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. Tepat di sampingku yang sedang duduk bersandar dengan kaki yang berselonjor.


"Gak repot kok, aku hanya sedang menjenguk temanku sendiri. Iya kan?" tanya Alex, seolah dia butuh persetujuan dengan kata teman yang dia ucapkan padaku.


Aku hanya mengangguk saja, ya.. kita memang teman. Hanya teman! Tidak lebih.


"Emm. Ra, ada yang ingin aku bicarakan"


Lagi-lagi aku melihat wajah ragu Alex saat dia berbicara seperti itu. Apa yang ingin dia bicarakan? Aku selalu was-was sendiri dengan kalimat itu, apalagi dengan wajah ragu Alex. Semakin membuat aku cemas dengan apa yang ingin Alex bicarakan.


"Ohh.. Baiklah, Ibu keluar sebentar ya" kata Ibu tiba-tiba, saat dia dari tadi hanya duduk diam di atas sofa. Mungkin Ibu mengerti situasi, Alex sedang ingin berbicara berdua denganku.


Alex menoleh ke arah Ibu dan sedikit mengangguk hormat "Terimakasih, Bu"


Bu?


Aku masih merasa heran sampai saat ini, kenapa Alex bisa semudah itu memanggil Ayah dan Ibu dengan sebutan itu. Sementara Ganesh dulu, hanya bisa memanggil mereka Om dan Tante. Alex juga bisa seakrab itu dengan mereka, sangat berbeda sekali saat Ayah dan Ibu berhadapan dengan Ganesh. Terlihat canggung dan bahkan untuk mengobrol pun, tidak bisa santai. Sesantai saat mereka sedang mengobrol bersama Alex.


Memangnya apa yang membuat Ayah dan Ibu bisa seakrab itu dengan Alex? Sementara dengan Ganesh sangat susah untuk akrab seperti itu?


Ibu keluar kamar dan kembali menutup pintu kamar. Aku menatap Alex dengan penuh tanya? Sangat penasaran dengan apa yang ingin dia bicarakan? Apa ini ada hubungannya dengan Ganesh lagi? Karena terakhir kali Alex berbicara seperti itu, dia selalu membicarakan tentang Ganesh. Apa ini juga sama?

__ADS_1


"Ra, apa kamu akan terus seperti ini?"


Hah?


Aku bingung dengan pertanyaan Alex ini, memangnya aku kenapa? Aku merasa biasa saja.


Alex menatapku dengan lekat, membuat aku gugup sendiri dan segera mengalihkan pandanganku.


"Kamu harus bisa bangkit Ra, hidup masih terus berjalan meski sekarang kamu mungkin kehilangan tujuan hidup kamu. Tapi, ini semua adalah takdir Ra. Kamu harus bisa menerimanya dan mencoba untuk menerima semua kenyataan ini. Keputusan yang kamu ambil ini, sudah baik. Tapi, kenapa kamu malah seperti ini? Kamu seolah tidak menerima semuanya dan terus terdiam dalam keterpurukan itu"


"Kamu harus bangkit dan melangkah maju ke depan, hidupmu masih panjang dan masa depanmu juga masih panjang Ra. Ayolah.. Kamu pasti bisa untuk menerima semua ini dengan hati yang ikhlas dan tidak lagi terpuruk dengan pilihan yang telah kamu pilih sendiri. Percayalah, jika orang tua kita sampai ikut campur dengan pilihan hidup kita, aku yakin jika mereka itu lebih tahu mana yang terbaik untuk kita"


Aku hanya diam mendengar ucapan Alex yang panjang lebar itu. Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh Alex. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Aku harus bisa memandang masa depan yang masih panjang, dan terus melangkah ke depan tanpa lagi menoleh ke belakang. Dimana masa lalu menyakitkan itu berada.


"Kamu bisa Ra, pasti bisa" Alex meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia menatap mataku dengan lekat, sekian detik mata kami hanya saling bertatapan. Aku bisa melihat ketulusan di balik tatapan mata Alex.


Aku mengangguk pelan, entah kenapa jantungku tiba-tiba saja berdebar kencang membuat aku gugup dan segera melepaskan tatapan kami.


"Iya Lex, aku akan mencobanya. Terimakasih karena sudah memberiku semangat dan nasihat yang begitu berarti"


Alex tersenyum senang, dia terlihat puas dengan jawabanku itu "Bagus. Sudah saatnya bangkit Ra, tidak perlu terus-terusan berada di keterpurukan ini"


Aku mengangguk sambil tersenyum. Ya.. Memang benar apa yang di katakan Alex. Sudah saatnya aku kembali menjalani hidup yang lebih baik, tidak lagi berada di keterpurukan ini.


"Terimakasih Lex"


Karena Alex, aku mulai sadar jika hidupku tidak melulu tentang cinta. Aku harus bisa lebih baik lagi mulai dari sekarang. Biarlah yang sudah berlalu, biarkan berlalu. Ini pilihanku dan aku harus bisa menerimanya. Biarkan Ganesh dan Tyas bahagia. Mereka pasti bisa bahagia suatu hari nanti. Tidak ada Benteng Penghalang Kita di antara mereka, jadi tidak ada alasan untuk mereka tidak bisa bersatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari berada di rumah cukup membosankan untuku. Hari ini aku kembali masuk bekerja dengan semangat baru. Ucapan Alex kemarin benar-benar memotivasiku untuk bisa lebih baik lagi. Semangat bekerja dan hanya fokus pada masa depan. Biarkan masa lalu hanya menjadi bagian dari kita sebagai kenangan yang akan selalu aku simpan dalam memory.

__ADS_1


Bekerja dengan semangat baru benar-benar membuat pekerjaanku hari ini cukup lancar. Tidak ada lagi drama malas bekerja atau tidak fokus pada pekerjaan hari ini.


Ting


Aku mengambil ponsel yang terletak di samping laptop. Membuka pesan yang masuk ke ponselku itu.


Alex


Ra, ayo makan siang bersama. Aku yang traktir


Pesan dari Alex dengan emotikon nyengir di akhir kalimatnya. Aku tersenyum melihat itu, segera aku membalas pesan dari Alex. Sudah waktunya jam makan siang sekarang. Perutku juga mulai berdisko untuk segera di beri asupan makanan.


Iya, aku ke lobby sekarang.


Send..


Pesan terkirim dan langsung terbaca oleh Alex. Aku memasukan ponsel ke dalam tas selempang, dan menentengnya keluar dari ruangan. Berjalan menuju lift dan berhenti di lobby kantor.


Menunggu Alex yang belum sampai di sofa tunggu yang berada di lobby kantor. Tak lama kemudian, lift khusus untuk beberapa orang penting di perusahaan ini terbuka. Alex muncul di sana dan berjalan cepat untuk menghampiriku.


Alex mengulurkan tangannya padaku "Ayo Nona, kita isi perut yang sudah keroncongan ini"


Aku tertawa melihat tingkah Alex ini, dia terlalu humoris untuk seorang bos pemilik perusahaan. Akhirnya aku meraih uluran tangannya dan berdiri dari duduk.


"Siap Tuan"


Kami berjalan keluar dengan bergandengan tangan.


Bersambung


jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga

__ADS_1


Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru.. kalian boleh mampir di karya temanku ini.



__ADS_2