Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Jangan Bermain Api!


__ADS_3

Sampai di rumah, aku hanya merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Memikirkan yang terjadi saat di villa. Semuanya terlihat aneh, jika benar yang di katakan Ganesh kalau Tyas itu adalah wanita penggila harta. Tidak mungkin jika dia bisa bersikap setulus itu padaku. Aku tidak bodoh, aku bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan yang berpura-pura tulus.


Ting..


Suara notifikasi pesan menyadarkanku dari lamunan. Segera ku ambil ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidur.


Alex, ada apa dia menghubungiku?


Aku membuka pesan dari Alex, sudah cukup lama juga dia tidak menghubungiku.


Alex


Ra, ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting!


Penting? Apa hal penting yang ingin Alex bicarakan padaku?


Ada apa Lex? Aku free malam ini, ayo ketemu.


Akhirnya aku mengajaknya untuk bertemu lebih dulu, semuanya karena rasa penasaranku tentang hal penting yang akan Alex bicarakan padaku.


"Duh, kenapa aku jadi deg-degan gini ya?"


Jantungku berdebar kencang, aku jadi was-was dengan apa yang akan Alex katakan padaku. Apa itu hal sangat penting? Tapi, hal apa?


Ting..


Suara notifikasi pesan membuat aku segera membuka pesan itu. Sangat penasaran dengan balasan Alex dan apa yang akan di bicarakan pria itu.


Alex


Oke, nanti jam 7 aku jemput.


Aku tidak membalas lagi pesan itu, mematikan layar ponsel dan menyimpan kembali di atas nakas. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, semua bayangan kebersamaan aku dan Ganesh selalu terlintas. Bagaimana kami pertama kali bertemu di tempat kerja, saling mengenal dan pada akhirnya menjalin hubungan hingga tiga tahun lamanya. Bahkan hampir empat tahun beberapa bulan lagi.


Namun, apa yang terjadi? Semuanya berakhir begitu saja hanya karena keinginan Kakek dan juga perbedaan kita yang terlalu besar.


Alex menjemput ku jam 7, itu artinya aku harus segera bersiap sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alex membawaku ke sebuah ruangan VIP di sebuah restaurant ternama. Entah apa yang ingin dia bicarakan sehingga memesan ruangan ini. Seolah pembicaraan kami adalah hal penting yang tidak boleh terdengar oleh orang lain.

__ADS_1


Aku menatap hidangan di atas meja, cukup banyak makanan dan hidangan penutup disana. Ada apa ya? Kok aku malah merasa aneh dengan semua ini.


"Lex, sebenarnya ada ap..."


"Makan dulu Ra, nanti akan aku jelaskan kenapa aku mengajakmu kesini" Alex memotong ucapanku itu.


Akhirnya kami makan malam dengan tenang. Tidak! Hanya Alex sepertinya yang bisa memakan makanannya dengan tenang. Sementara aku sudah tidak sabar dengan apa yang ingin alex bicarakan padaku.


Selesai makan pelayan membereskan bekas makan kami, dan hanya menyisakan minuman dan hidangan penutup saja di atas meja.


"Lex"


Aku memanggilnya pelan, aku sudah tidak bisa lagi menunggu dengan apa yang Alex ingin bicarakan denganku. Kata penting di pesan yang dia kirimkan padaku, benar-benar membuat aku sangat penasaran. Memangnya sepenting apa?


Alex yang tadi sempat memainkan ponselnya, mendongak dan menatap ke arahku. Dia menyimpan ponselnya di atas meja. Menatapku dengan serius membuat aku menjadi semakin was-was dengan apa yang akan Alex katakan.


Dia sebenarnya mau bicara apa?


"Apa kau datang ke sebuah tempat kemarin?" tanya Alex


Pertanyaan apa itu? Hal penting inikah yang Alex maksud? Memangnya aku pergi kemana? Aku hanya pergi ke villa.... Oh ya Tuhan, apa Alex berada di sana dan melihat aku berada disana? Tidak.. Itu tidak mungkin..


Terpaksa aku berbohong pada Alex, aku hanya tidak ingin Alex tahu jika aku dan Ganesh masih berhubungan sampai sekarang. Maafkan aku Alex, terpaksa aku berbohong padamu.


Alex mengangguk-nganggukan kepalanya, seolah dia memahami apa yang aku katakan atau dia tahu jika aku sedang berbohong.


"Berarti aku telah salah melihat kemarin, aku seolah melihat seseorang yang berada di villa perbukitan hijau dan aku kira itu kamu" kata Alex


Villa perbukitan hijau adalah sebutan untuk villa-villa yang ada di sana. Karena adanya perbukitan dengan rerumputan yang hijau.


Alex melihatku? Tidak mungkin, dia ngapain datang kesana?


"Ohh. Iya... mungkin memang kamu salah lihat"


Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatap wajah Alex karena dia akan mengetahui jika aku sedang berbohong.


"Mungkin. Sepertinya aku salah lihat, mana mungkin kamu bersama Ganesh disana. Kan Ganesh sudah menikah" kata Alex lagi, kata-katanya seolah sedang menyindir.


Hah.. Aku semakin gelagapan sekarang, bagaimana lagi aku menghadapi Alex yang seperti ini. Di-dia sepertinya melihatku disana bersama Ganesh. Tapi, aku tidak bisa mengaku sekarang. Aku tidak ingin ada yang tahu hubunganku dengan Ganesh masih berjalan sampai sekarang, meski Ganesh telah menjadi suami orang lain.


"I-iya, mana mungkin aku bersama Ganesh di sana. Kan ka-kami sudah berpisah" Bodoh.. Kenapa aku menjawab dengan gugup begitu, Alex pasti curiga. Tapi aku tidak boleh terlihat jika aku sedang gugup karena berbohong padanya.

__ADS_1


Alex kembali mengangguk-nganggukan kepalanya "Baiklah, ayo kita pulang. Aku akan mengantarkan kamu pulang, takut terlalu malam"


Alex berdiri dan berjalan duluan menuju pintu keluar, namun tiba-tiba dia berhenti sebelum tangannya benar-benar membuka pintu ruangan VIP itu.


"Aku hanya mengingatkanmu Ra, jangan bermain api jika tidak ingin terkena panasnya" kata Alex, lalu pria itu membuka pintu dan keluar dari ruangan VIP itu.


Aku masih mematung mendengar ucapan Alex barusa. Apa maksudnya? Aku tidak sedang bermain api, aku hanya sedang mempertahankan cintaku. Apa itu salah?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan bermain api jika tidak ingin terkena panasnya.


Perkataan Alex malam itu terus terngiang di telingaku. Apa maksud dari pria itu? Aku tidak mengerti, kenapa Alex mengatakan itu? Memang apa yang aku lakukan?


Hari ini aku berangkat bekerja seperti biasa, selesai sarapan aku bersiap untuk segera pergi bekerja. Taxi online yang aku pesan sudah berada dekat dengan rumahku, sebentar lagi akan sampai.


"Ganesh tidak menjemputmu lagi Ra?"


Pertanyaan Ayah berhasil membuat langkahku yang berjalan menuju pintu utama terhenti seketika. Aku menoleh ke arah Ayah dan tersenyum ke arahnya.


"Ganesh masih di luar kota Yah, masih banyak pekerjaan disana"


Pekerjaan bulan madu maksudnya...


"Ohh. Yasudah, kamu hati-hati" kata Ayah


"Iya Yah, aku berangkat dulu ya"


Aku segera berlari keluar rumah, menutup pintu dengan sedikit keras dan aku menyandar di pintu rumah yang tertutup itu. Memegang dadaku yang berdebar kencang.


"Untung saja Ayah percaya padaku"


Aku hanya takut salah bicara pada Ayah ataupun Ibu tentang Ganesh. Sampai saat ini mereka belum mengetahui soal pernikahan Ganesh dan Tyas.


Ayah, maafkan Seira karena sudah banyak berbohong pada Ayah dan Ibu.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga dong.. Aku lagi semangat nulis cerita ini, tapi dukungannya kurang bikin mood hancur tau.


Note : Akan ada chapter untuk prov Ganesh, Alex bahkan Tyas. Ikuti saja alurnya dan nikmati ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2