Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Keinginan Ibu dan Ayah


__ADS_3

"Ibu dan Ayah sudah tua, kami ingin segera melihatmu menikah dan memiliki seorang anak"


Deg


Aku berdiri terpaku, ini pertama kalinya Ibu mengungkapkan hal itu. Dia dan Ayah ingin segera memiliki cucu, sementara hubunganku dengan Ganesh sedang tidak baik-baik saja. Pertama kalinya Ibu mengungkapkan keinginannya ini. Selama ini aku hanya mengira jika Ibu sering mengungkit tentang perbedaan aku dan Ganesh, karena memang Ibu kurang setuju aku berhubungan dengan Ganesh. Ternyata alasannya adalah ini.


Aku berbalik dan menatap ke arah mereka berdua, dua orang yang membesarkan ku dengan kasih sayang sepenuh hati. Mau semarah atau sekecewa apapun aku pada mereka, tetap aku akan kembali lagi pada mereka. Karena Ayah dan Ibu adalah tempat aku kembali.


"Buu..."


Aku berjalan kembali ke sofa, duduk di sana. Ibu dan Ayah menatapku dengan serius. Aku rasa wajar saja jika mereka menginginkan aku segera menikah dan memiliki anak. Usiaku sudah matang dan sudah pantas untuk berumah tangga. Namun, kisah cintaku tidak semudah itu untuk kami bisa sampai ke titik itu. Entah kami akan bisa sampai ke pelaminan atau tidak. Aku harap bisa.


"Bu, aku dan Ganesh belum siap untuk itu"


"Apa kamu tidak kasihan pada kami, jika kamu masih terus bertahan dengan Ganesh. Maka sampai kapan Ayah dan Ibu menunggu Ra? Kami juga orang tua yang ingin melihat anaknya menikah dan hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak. Ibu dan Ayah sudah semakin tua, apa kamu tidak kasihan pada kami?" kata Ibu, menatapku dengan serius


Aku menunduk, benar apa yang Ibu katakan. Tapi, aku tetap teguh dengan pendirian ku saat ini. Aku tidak akan mengakhiri semuanya jika memang Ganesh saja masih bertahan dan mencoba memperjuangkan hubungan kita. Biarkan saja orang berkata jika cinta telah membutakan kami, toh memang itu kenyataannya. Aku telah di butakan oleh cinta.


"Aku tidak bisa Bu, maaf"


Aku berdiri dan berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Aku tidak ingin mendengar perkataan Ibu atau Ayah yang selalu menjurus ke hal yang aku hindari. Perpisahan aku dan Ganesh.


Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, aku ingin sendiri untuk sekarang. Menenangkan diri dari perkataan Ibu barusan.


Kenapa harus seperti ini, Tuhan?


Aku melemparkan tas selempang ke atas tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhku di atas sana. Tengkurap dengan wajah di sembunyikan di balik bantal. Akhirnya kembali pecah, tangis yang aku tahan sedari tadi pecah juga saat ini.


Rasanya aku tidak kuat dengan semua ini, tapi aku harus tetap kuat dan memaksakan untuk kuat. Kejadian tadi di rumah Ganesh, pertanyaan Kakek tentang hubunganku dan Ganesh. Kedatangan gadis polos bernama Tyas. Semuanya benar-benar membuat kepalaku hampir meledak jika memikirkannya.


Aku mengambil ponsel dan menyalakan lagu kesukaan ku di aplikasi musik di ponselku. Hanya ingin sedikit menyamarkan suara tangisanku denga lagu yang aku setel di ponselku. Saat ini aku hanya ingin menangis untuk meluapkan semua sesak di dada. Lagu mulai berputar, lagu yang benar-benar berkisah tentang aku dan Ganesh.


Aku untuk kamu.. kamu untuk aku...


Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda.

__ADS_1


Tuhan memang satu, kita yang tak sama...


Haruskah aku lantas pergi, meski cinta tak 'kan bisa pergi...


Aku semakin menangis sesenggukan mendengar setiap lirik di dalam lagu itu. Lirik lagu itu benar-benar seperti berkisah tentang hubunganku dengan Ganesh.


Aku tidak tahu apa akan ada solusi kedepannya selain aku yang mengalah tentang iman dan keyakinan ini? Tapi, Ganesh pernah mengatakan jika pindah keyakinan itu bukan karena cinta tapi karena hati kita sendiri. Dan sampai saat ini, aku tidak tahu akan hal itu. Yang jelas aku hanya ingin melakukan apapun demi cintaku dan Ganesh bisa bersatu selamanya. Bahkan jika aku harus berpindah keyakinan.


Tapi, bagaimana dengan Ayah dan Ibu? Mereka pasti akan kecewa padaku. Jelas-jelas mereka tidak mengizinkan aku mengambil keputusan itu. Tuhan... Kenapa begitu rumit..


Aku terus menangis seiring lagu yang terus berputar di ponselku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku terbangun saat terdengar suara Ibu yang membangunkan ku sambil mengetuk pintu kamar. Jelas Ibu tidak akan bisa masuk karena aku mengunci pintu semalam.


"Bangun Ra, sudah siang. Kamu kerja hari ini kan?" teriak Ibu di balik pintu kamar


"Iya Bu, aku sudah bangun"


Aku meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Ponselku mati, mungkin karena semalaman aku biarkan memutar musik hingga baterainya habis.


Selesai mandi dan berganti pakaian, aku duduk di depan meja rias untuk merias wajahku yang kacau ini. Aku menekan kelopak mataku yang bengkak akibat menangis semalam.


Huh...


Aku harus segera menutupi mata sembab itu dengan make up. Setidaknya tidak akan terlalu terlihat nanti.


Selesai bersiap, aku keluar dari kamar menemui Ayah dan Ibu yang sudah menunggu di ruang makan. Aku segera ikut bergabung untuk sarapan.


"Matamu kenapa Ra?" Tanya Ibu yang selalu peka dalam keadaan apapun.


Aku menyuapkan sarapan terakhirku dengan sedikit menggigit sendok saat mendengar pertanyaan Ibu.


"Gak papa Bu, terlalu nyenyak tidur"

__ADS_1


Alasan masuk akal untuk menjawab pertanyaan Ibu. Meski aku yakin jika Ibu tidak akan percaya begitu saja. Tapi, setidaknya aku bisa berkilah nanti.


"Yakin?"


Tuhkan, benar apa yang aku duga. Ibu tidak mungkin langsung percaya begitu saja dengan alasan klasik itu.


Aku mengangguk yakin "Iya Bu, aku berangkat dulu ya"


"Habisin dulu susunya, Ra" kata Ayah, yang selalu mengharuskan aku minum susu saat pagi dan malam hari. Entah apa alasan nya, padahal aku sudah sebesar ini.


Aku meminum lagi susu itu, meski tidak sampai habis karena perut ku akan kembung jika harus menghabiskan susu itu. Apalagi aku akan bekerja, bisa-bisa aku mengantuk nanti.


Aku berdiri dan menyelempangkan tas di bahu lalu mencium pipi Ibu dan Ayah secara bergantian.


"Aku pergi dulu ya"


"Kamu di jemput Ganesh Ra?" tanya Ayah membuat aku menghentikan langkahku.


"Iya, mungkin Ganesh belum sampai. Biar aku tunggu di depan"


"Nanti suruh Ganesh mampir dulu ke rumah ya, ada yang ingin Ayah bicarakan"


Ayah mau bicara apa sama Ganesh? Apa Ayah ingin menyuruh Ganesh meninggalkan ku? Tidak.. Ini tidak boleh terjadi.


"Ayah mau bicara apa sama Ganesh?"


"Cuma ingin ngobrol saja, memang salah ya jika Ayah ingin mengobrol dengan pacar anak gadis Ayah?"


Gak salah si, tapi aku takut jika mengobrol yang di maksud oleh Ayah menyangkut hubunganku dengan Ganesh.


"Sudahlah, sana kamu berangkat kerja nanti kesiangan. Nanti saja pas pulang kerja kamu suruh Ganesh mampir"


Akhirnya aku hanya mengangguk saja, tidak mungkin juga menolak permintaan Ayah.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga...


Sebenarnya aku bikin cerita ini karena terinpirasi dari lagu peri cintaku.. Ziva Magnoliya.. hehe


__ADS_2