Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Makan Siang


__ADS_3

Alex


Ra, ada waktu? Aku ingin makan siang bersama.


Aku sedikit heran dengan pesan yang Alex kirimkan. Dia mengajakku makan siang bersama, tidak seperti biasanya. Aku fikir, Alex hanya mencari alasan saja untuk bisa bertemu denganku. Entah ada yang ingin dia bicarakan atau mungkin ada tujuan lain.


Aku gak bisa Lex, maaf.


Aku memang tidak bisa untuk makan siang bersamanya. Karena setiap makan siang, aku pasti makan bersama Ganesh jika pria itu sedang tidak ada jadwal makan siang bersama rekan kerjanya.


Ting...


Notifikasi pesan itu sudah aku pastikan pesan balasan dari Alex. Aku segera membukanya. Namun, ternyata itu bukan dari Alex tapi Ganesh yang mengirimkan pesan.


Ganeshku


Sayang, makan siang di ruanganku saja. Aku sudah memesan makanan untuk kita.


Aku tersenyum membaca pesan dari Ganesh itu, sudah lama juga aku tidak makan siang di ruangannya. Mungkin dengan tujuan ini, Ganesh tidak mengumumkan pernikahannya dengan Tyas di perusahaan. Karena kami bisa bebas seperti sebelumnya, saat ini aku sedikit senang dengan keputusan Ganesh.


Waktu makan siang akhirnya tiba, aku segera merapikan beberapa berkas di atas meja kerja juga menutup laptop. Aku menenteng tas dan mengambil ponsel, lalu berjalan menuju lift untuk segera menemui Ganeshku.


"Ra, ayo makan siang" ajak salah satu teman kerjaku, aku menggeleng pelan dan tersenyum "Emm. Aku makan siang bersama Tuan Ganesh"


Temanku tentu mengangguk saja, semua karyawan GE sudah tahu tentang hubungan kami. Jadi, mereka sudah biasa dengan kemesraan kami yang sebenarnya Ganeshlah yang selalu menunjukan kemesraan di depan banyak karyawan. Aku tidak mungkin melakukan itu, terlalu malu.


Ting...


Lift terbuka dan aku segera melangkah keluar, berjalan menuju ruangan Ganesh. Tapi, aku sedikit ragu untuk terus melangkah saat melihat Erland dan Ganesh sedang berbicara di depan ruangan Ganesh.


Aku manjadi ragu untuk melanjutkan langkahku, takut jika Erland akan mengetahui hubungan kami yang masih berlanjut meski Ganesh telah menikah sekarang.


"Jangan menyesal jika suatu saat nanti hal yang kau ucapkan tadi tidak sesuai dengan hatimu. Ingat Bang, karma masih berlaku"

__ADS_1


Aku samar mendengar ucapan Erland pada Ganesh. Dengan nada dingin dan suara yang datar. Sudah pasti seperti itu nada bicara Erland, karena dia memang pria dingin yang sangat sulit tersentuh.


"Sudahlah, kau tidak perlu ikut campur urusanku. Kau hanya perlu diam dan tidak membocorkan masalah ini. Maka semuanya akan baik-baik saja" kata Ganesh


"Tidak akan baik-baik saja jika kau masih egois seperti ini, Bang. Ingat Bang, jangan bermain api jika tidak mau terkena panasnya!"


Erland berlalu pergi setelah mengatakan itu, aku menundukan wajah saat dia menatapku dengan tatapan dingin dan tidak suka.


"Sayang, ayo kesini"


Ganesh memanggilku sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum dan melangkah pelan menghampirinya. Aku masih memikirkan perkataan Erland barusan, kenapa ucapannya sama dengan yang pernah Alex katakan padaku.


Jangan bermain api jika tidak mau terkena panasnya.


"Kenapa hmm?" tanya Ganesh saat aku sudah sampai di depannya, dia mengecup keningku sekilas.


"Tidak papa, ayo makan siang. Nanti keburu habis jam makan siangnya"


Ganesh menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke dalam ruangannya "Kalau jam makan siang habis juga kenapa? Kau adalah pacarku, tidak akan ada yang memarahimu"


Sudah resikonya mempunyai kekasih adalah bos sendiri, apalagi ini adalah pewaris utama perusahaan ini. Tentu akan menjadi rumor dan gosip tidak enak di dengar. Meski semuanya tidak pernah mengatakan secara langsung, tapi aku tahu jika mereka selalu membicarakanku di belakang.


"Makanannya sudah datang, kau siapkan ya. Aku mau ke kamar mandi dulu" kata Ganesh sambil tersenyum padaku


Aku mengangguk "Iya Sayang"


Ganesh berlalu ke kamar mandi dan aku menyiapkan makanan yang di pesan oleh Ganesh itu. Menatanya di atas meja. Ponselku yang bergetar mengalihkan fokusku pada hal yang sedang aku lakukan ini. Aku mengambil ponsel yang aku letakan di atas meja.


Ada apa lagi si Alex menelepon ku?


"Hallo, Iya Lex ada apa?" Aku sedikit kesal dengan sikap Alex ini. Kenapa dia selalu menggangguku akhir-akhir ini.


"Ra, kau dimana? Ayo makan siang bersama. Aku menunggumu di depan tempat kerjamu nih"

__ADS_1


Aku mengerutkan kening, semakin bingung dengan sikap Alex ini. Aku bahkan sudah menolak ajakan makan siangnya, lalu kenapa dia malah datang ke kantorku? Apa dia sengaja ingin mengacaukan makan siangku dengan Ganesh. Tapi, aku tidak percaya jika Alex sengaja melakukan itu. Alasan dia apa coba?


"Aku 'kan sudah bilang kalo aku tidak bisa makan siang sama kamu. Kenapa kamu malah datang ke kantorku sekarang?"


"Emm. Sebenarnya aku ada yang ingin di bicarakan sama kamu. Jadi, ayo makan siang sekarang"


Kenapa Alex seolah memaksa aku untuk makan siang bersamanya hari ini? Ada apa sebenarnya? Apa dia memang sengaja ingin menghancurkan acara makan siangku dengan Ganesh?


"Gak bisa Lex, aku beneran gak bisa. Maaf. Kamu makan siang saja sendiri, mungkin lain waktu saja"


Aku segera mematikan sambungan telepon saat mendengar suara pintu yang terbuka. Ganesh keluar dari kamar mandi.


"Sudah di siapkan semuanya, Ra?" tanya Ganesh, pria itu duduk di sampingku.


"Sudah, ayo kita makan"


Ganesh mengambil makanannya dan mulai menyuapkan ke dalam mulutnya. Aku juga sama, mulai memakan makan siangku hari ini.


"Buka mulutnya Ra, cobain punya aku" kata Ganesh sambil menyodorkan satu sendok makanannya ke arah mulutku. Aku tersenyum dan menerima suapan dari Ganesh dengan senang hati, tentunya.


Tepat pada saat itu pintu ruangan di ketuk dua kali dan langsung terbuka. Aku mematung saat melihat siapa yang berada di ambang pintu ruangan Ganesh. Sendok Ganesh masih menempel di mulutku, dengan segera aku melepaskan sendok Ganesh dari mulutku.


Tyas... Tuhan kenapa dia datang kesini di saat aku sedang bersama Ganesh. Aku semakin merasa bersalah sekarang, melihat wajahnya yang murung itu membuat aku semakin tidak enak hati padanya. Meski dia masih mencoba menutupi wajah sedih dan kecewanya itu. Sudah pasti Tyas melihat adegan tadi, dimana Ganesh sedang menyuapiku makan.


Ganesh berdiri dan berjalan mendekati Tyas, dia menarik tangan wanita itu keluar dari ruangannya. Dia menoleh ke arahku "Tunggu sebentar Sayang" Setelah itu Ganesh menutup pintu rapat.


Aku bingung sendiri sekarang, Ganesh akan membawa Tyas kemana? Apa dia akan memarahi Tyas? Atau mungkin memukulnya.


Tidak..Tidak.. Ganesh tidak mungkin seperti itu.


Aku menggeleng, mengusir segala fikiran buruk tentang Ganesh. Apalagi ini berada di kantor, Ganesh sudah pasti tidak akan bertindak di luar kendalinya. Aku yakin dia juga tidak akan melukai Tyas. Ganesh bukan pria seperti itu.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih


__ADS_2