Benteng Penghalang Kita

Benteng Penghalang Kita
Belum Siap Untuk Membuka Hatiku Kembali!


__ADS_3

"Kenapa meninggalkan aku, menghilang tanpa kabar? Semua akses sosial media dan nomor ponselku kamu blokir. Apa sebenci itu kamu sama aku, Ra? Aku tahu aku salah karena telah menikahi wanita lain di saat kita masih bersama dan saling mencintai. Tapi, apa harus dengan cara seperti ini Ra? Aku kelimpungan mencarimu dan berusaha agar bisa bertemu denganmu, bagaimana pun caranya"


Aku masih memikirkan ucapan Ganesh, semua pertanyaannya bahkan tidak bisa aku jawab. Semuanya berakhir saat Ganesh mendapat telepon, dia keluar dari ruangan untuk mengangkat telepon itu. Dan di waktu seperti ini aku jadikan kesempatan untuk lari, berlari dari semua pertanyaan Ganesh yang pastinya akan menyudutkanku.


Aku masih ingin bungkam akan semua ini, rasanya belum bisa aku menjelaskan semuanya tanpa ada tangisan disana. Aku hanya menghindari itu, aku tidak ingin terlihat sangat lemah. Karena aku yakin, jika aku menceritakan semuanya pada Ganesh. Tentang kenapa aku menghilang tanpa kabar? Aku yang mengundurkan diri dari GE tanpa sepengetahuan dia. Dan Alasannya hanya satu, perbedaan kita.


Benteng Penghalang Kita yang sulit untuk di gapai, karena perbedaan kita yang terlalu jauh. Restu Ayah dan Ibu yang juga tidak aku dapat. Restu Kakek juga sama, tidak aku dapatkan. Semua itu adalah alasannya Nesh, dan aku tidak akan siap untuk menceritakan semua itu sekarang. Air mata ini bahkan bisa mengalir begitu saja hanya dengan aku mengingat semua kenangan kita. Bagaimana aku bisa menahan tangisan ini ketika menceritakan semuanya. Aku juga sama terluka denganmu, Ganesh.


Aku termenung di atas sofa yang berada di depan jendela kamarku. Lagi-lagi cairan bening ini terus mengalir membasahi pipiku. Sudah tidak bisa lagi aku menahannya.


Bertemu dengan Ganesh lagi setelah beberapa minggu ini kami tidak lagi saling bertukar kabar. Lebih tepatnya, aku yang menghalangi semua akses Ganesh agar tidak dapat menghubungiku.


Semuanya ku lakukan demi kita, agar Ganesh bisa bahagia bersama Tyas. Dan aku akan mencoba memulai hidup baru tanpa dirinya, meski aku tidak yakin jika semua itu akan berjalan baik-baik saja. Hidupku tanpa sosok Ganesh, pria yang aku cintai dan sosok penyemangat dalam hidupku.


Aku mengusap kasar air mata nakal yang terus mengalir tanpa bisa di kendalikan "Kuat Ra, kamu pasti bisa melewati semua ini. Biarkan Ganesh bahagia bersama istrinya. Dia dan Tyas sama, tidak seperti kau dan Ganesh. Kami terlalu berbeda"


Aku bermonolog hanya untuk mencoba menguatkan diriku sendiri. Di saat seperti ini, hanya diriku sendiri yang bisa menguatkan. Orang lain tidak akan tahu apa yang sebenarnya benar-benar aku rasakan. Mereka hanya menilai semuanya dari sisi luar saja. Tidak tahukah jika aku sangat rapuh dan terluka sekarang? Orang lain hanya melihat diriku yang ceria dan baik-baik saja. Tidak tahu bagaimana hancurnya hatiku.


Tok..tok...tok


"Ra, boleh Ayah masuk"

__ADS_1


Aku menoleh ke arah pintu kamar yang di ketuk dari luar. Menghapus sisa air mataku segera, takut jika Ayah mengetahui aku sedang menangis. Dan kenapa tiba-tiba Ayah datang menemuiku ke dalam kamar?


Tidak seperti biasanya, jika Ayah ada yang ingin di bicarakan denganku. Maka dia akan menyuruh Ibu untuk memanggilkan aku. Tapi, sekarang kenapa Ayah sendiri yang datang ke kamarku langsung?


"Masuk saja Yah, tidak di kunci kok"


Aku merapikan rambut dan penampilan yang sedikit berantakan. Belum lagi bekas air mata yang masih terlihat di sudut mata. Aku segera mengusapnya.


Ayah masuk dan duduk di kursi depan meja rias, dia menatapku dengan lekat membuat aku gugup dan segera menundukan wajah. Takut jika Ayah tahu kalau aku baru saja menangis. Karena selama ini aku selalu memperlihatkan jika aku baik-baik saja. Tidak terluka atau kecewa dengan keputusan yang telah aku ambil atas keinginan Ayah dan Ibu. Padahal, kenyataannya aku sangatlah rapuh dan terluka.


"Emm. Ada apa Yah?" Aku memilih untuk bertanya duluan, karena Ayah hanya diam saja. Mungkin dia ragu akan hal yang ingin dia katakan atau memang tidak ada yang ingin dia katakan? Entahlah...


"Ayah tahu ini pasti berat untuk kamu, tapi cobalah untuk menerima semuanya. Kamu buka hati kamu untuk yang lain, semoga saja kamu bisa lebih cepat move on dari Ganesh" kata Ayah


"Maksud Ayah apa?"


Aku jelas tidak ingin berkomitmen lagi dengan pria manapun. Takut jika semuanya akan berakhir seperti ini lagi. Aku tidak ingin gagal lagi dalam mempertahankan hubungan dan cinta.


"Dengarkan Ayah Ra, kamu masih mencintainya 'kan?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Ayah itu. Tentu saja aku masih mencintainya, bohong jika aku bilang aku telah melupakan Ganesh. Empat tahun bukanlah waktu sekejap untuk bisa dengan mudah melupakan kisah cinta kita.

__ADS_1


"Kamu akan selamanya terjebak dengan perasaan itu jika kamu tidak mencoba untuk membuka hatimu untuk yang lain, Ra. Bukannya Ayah egois, hanya saja Ayah tidak akan rela anak gadis Ayah di cap sebagai perebut suami orang. Mau bagaimana pun kisah kalian, disini kamu tetap perebut suami orang. Karena Ganesh telah menikah secara sah, mau bagaimana cerita di balik semua itu. Ayah hanya tidak mau kamu terluka dengan cap perebut suami orang, masa depanmu juga akan hancur Ra"


Sungguh aku mengerti apa maskud Ayah, semua yang di ucapkan Ayah memang benar. Tapi aku bukan pelakor! Dan untuk membuka hatiku untuk pria lain, rasanya aku belum siap.


Aku menghela nafas kasar, dari tadi aku sama sekali tidak menatap wajah Ayah. Aku tahu jika pria paruh baya itu pasti sangat sedih dengan keadaanku dan kisah cintaku. Mau seperti apapun, Ayah tetap seorang Ayah yang tidak ingin putrinya terluka.


"Aku sudah memilih untuk meninggalkan Ganesh Yah, seperti yang Ayah mau. Tapi, untuk bisa membuka hatiku kembali untuk pria lain dan memulai kisah cinta yang baru, aku belum siap. Tolong beri aku waktu, biarkan aku sendiri dulu dan mencoba menyembuhkan luka ini, Yah"


"Ayah berdo'a semoga saja ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatimu itu" Ayah berdiri dan berjalan mendekat ke arahku yang masih duduk di sofa, dia mengelus puncak kepalaku lalu mengecupnya.


"Selamat malam, istirahatlah putrinya Ayah"


Aku mengangguk pelan dengan seiring air mata yang jatuh. Sedari tadi aku hanya menundukan wajah, takut menatap wajah Ayah yang sudah tidak lagi muda itu terlihat sedih dengan keadaanku sekarang.


Ayah, aku sangat menyayangimu.


Aku aminkan do'amu, Ayah. Semoga saja benar-benar ada seseorang yang akan menyembuhkan luka hatiku.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. Dukungan kalian bisa memberikan semangat baru untuk aku, jadi tolong jangan pelit-pelit kasih dukungan kalian ya..

__ADS_1


Sambil nunggu novel BPK update chapter terbaru.. kalian boleh mampir di karya temanku ini..



__ADS_2