BERBEDA

BERBEDA
Belum Selesai


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah Senja dan Laut terkena diskors, akhirnya mereka dapat kembali masuk sekolah.


Seperti biasa, Senja menunggu Laut di depan rumahnya. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, terdengar suara klakson motor yang berhenti tepat di hadapan Senja.


"Good morning, cantik. Yuk berangkat." ajak pengendara motor itu yang tidak lain adalah Laut.


"Udah, yuk berangkat." jawab Senja yang kemudian menaiki motor Laut, memeluk Laut dari belakang.


Laut segera menarik gas motornya, dan berangkat menuju SMA 1 DIRGANTARA.


Di perjalanan, mereka berdua terus mengobrol mengenai masalah yang memang sudah mereka pecahkan beberapa hari lalu.


"Senja, gue mau nanya. Menurut lo, apa hal yang bakal lo lakuin biar si kutu ngaku, bahwa foto yang Pak Bambang punya itu editan?" tanya Laut.


"Menurut gue sih gak usah diladeni, nanti juga capek sendiri tuh kutu." jawab Senja.


"Hmm.. Ok, ok." Laut hanya berdehem, kembali fokus mengendarai motornya.


Sesampainya mereka di sekolah, belum sempat turun dari motor, mereka dikejutkan oleh kedatangan empat siswi yang tidak asing.


"Ck, lo lagi lo lagi. Bisa gak sih satu hari aja lo gak usah gangguin kita?" tegas Laut kepada empat orang siswi itu yang ternyata adalah kelompok Anis.


"Laut, udah yuk. Gak usah diladeni, biarin aja.." bisik seorang gadis yang berada tepat di samping Laut.

__ADS_1


Laut yang mendengar bisikan lembut itu langsung luluh dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Senja. Tanpa banyak basa-basi, Laut menarik tangan Senja menuju kelas, melewati empat siswi kelompok Anis. Anis jelas kesal dengan hal itu dan ingin bertindak lebih jauh untuk mencelakai Senja.


"Liat aja lo cupu. Gue bakal buktiin yang harusnya jadi milik Laut itu gue, bukan cewek murahan kayak lo!" tantang seorang gadis bernama Anis yang menjadi ketua kelompok itu. "Udah gengs, ayo cabut." perintahnya.


Selama jam pelajaran berlangsung, Anis kembali mengganggu Laut dengan segala cara yang ia bisa. Membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu, Laut jelas merasa sangat marah dan risih. Hingga saat jam istirahat tiba, Laut mengajak Senja untuk pergi ke taman sekolah, berbicara terkait dengan kasus yang terjadi beberapa hari lalu.


"Senja, gue udah gak tahan. Gue risih banget sama tu cewek. Please biarin gue bertindak langsung sama kepsek, kemungkinan kepsek belum tau pasti latar belakang dari kasus kemarin." ujar lelaki yang membawa Senja ke taman, hanya untuk menjelaskan hal itu.


"Ok, kali ini gue setuju. Gue juga udah risih banget tiap sekolah liat lo sama tu cewek. Bener apa yang lo bilang, kemungkinan kepsek gak tau pasti soal masalah ini. Coba dulu aja buat lapor kepsek." jawab Senja menyetujui apa yang disampaikan oleh Laut.


Setelah berbincang cukup lama, mereka memutuskan mampir ke kantin untuk membeli beberapa jajanan sebagai pengganjal rasa lapar. Namun, baru saja mereka masuk pintu kantin, sudah banyak orang yang menatap mereka dengan sinis sembari berbisik "Eh, itu yang kemarin kena kasus itu kan?" "Pakaiannya sih berhijab, tapi otaknya perlu disuciin," "Kebanyakan nonton drakor jadi kayak gitu," "Kalo gak salah itu Laut sama Senja yang dari kelas XII-1 kan?" "Gila sih, kok bisa berani ngelakuin hal yang kayak gitu di sekolah?" "Cowoknya sih cakep, tapi ceweknya modelan opet. Kok bisa sih Laut suka sama tu cewek haha,"


Senja dan Laut dapat mendengar dengan jelas bahwa hampir semua orang di kantin membicarakan mereka. Namun, mereka mencoba tetap diam agar tidak terjadi keributan yang berakhir kasus. Hingga akhirnya kedua pemuda itu memutuskan untuk jalan berpisah.


Senja menerobos masuk, memesan makanan seperti biasanya, seolah-olah tidak ada hal yang terjadi, begitu pun dengan Laut. Setelah mendapatkan makanannya, Senja bergegas kembali ke kelas. Sesampainya Senja di sana, ternyata lelaki tampan yang ia cintai sudah berada di bangkunya, memakan makanannya.


Rina hanya menjawab "He'em.." menunjukkan ekspresi malas.


Senja kebingungan dengan ekspresi yang muncul di wajah Rina, "Dih, kenapa lo?" "Ada masalah lagi? Jahat banget ekspresinya malah kayak gitu." tanyanya.


"Pikirin aja sendiri," Rina diam selama beberapa detik "Abisnya lo jadian sama Laut kagak bilang-bilang. Minimal PJ, gue doain hubungan lo gak lancar baru nyesel lo." gerutu Rina.


"Aelah, kirain kenapa lo. Siap deh, nanti pulang sekolah, gue traktir seblak mang Ujang." ucap Senja dengan lega karena Rina tidak menanyakan soal kasus yang menimpa Laut dan Senja beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Pada saat jam istirahat kedua, Laut sudah memutuskan untuk melaporkan masalah itu kepada Kepala Sekolah. Laut meminta izin kepada wali kelasnya untuk menemui Kepala Sekolah. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya wali kelas Laut menyetujui perkataan Laut, memutuskan untuk mengantar Laut menuju ruang Kepala Sekolah.


Beberapa menit kemudian, sesampainya Laut di depan ruangan Kepala Sekolah, Laut bisa melihat dengan jelas seorang Pria tua berjas hitam sedang duduk di kursi mewah yang terdapat tulisan 'Kepala Sekolah' di mejanya. Di situlah Laut yakin bahwa itu adalah Pak Bimo, Papa kandung Anis yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA 1 DIRGANTARA.


Setelah diberi izin, Laut mulai memasuki ruangan itu, mencoba untuk tetap bersikap sopan meskipun hatinya sudah terlalu banyak menahan amarah, "Permisi, Pak.." ucapnya


"Ya, silahkan duduk. Ada keperluan apa hingga kamu datang kemari?" tanya Pak Bimo, sembari menyuruh Laut untuk duduk di hadapannya.


Laut duduk dan mulai menyampaikan apa yang memang ingin ia sampaikan. "Jadi begini, Pak. Sebelumnya saya Laut dari kelas XII-1 meminta izin untuk menyampaikan sesuatu pada Bapak terkait kasus beberapa hari yang lalu." "Langsung ke intinya saja, apakah Bapak tahu bahwa foto yang Anis kirimkan kepada Pak Bambang sebagai bukti kasus saya dan Senja yang berciuman itu editan?" tanya Laut dengan sedikit gugup tapi ia masih terlihat tenang.


"Hah? Editan? Apakah kamu bisa melihat dengan benar? Jelas-jelas foto yang dikirimkan oleh Anis itu asli tanpa diedit sedikit pun." tegur Pria berjas hitam itu, sedikit kesal dengan pertanyaan Laut.


"Dengar ya, jika memang benar foto itu editan. Saya akan mempertimbangkan keberadaan Anis di sekolah ini. Tapi, jika kamu berbohong mengenai informasi ini, saya akan langsung mengeluarkan kamu dari sekolah ini. Mengerti? Kamu boleh kembali ke kelas sekarang." pinta Pak Bimo menyuruh Laut untuk segera keluar dari ruangannya.


Untuk terakhir kalinya, Laut kembali berterimakasih karena telah diberi kesempatan untuk menyampaikan informasi tersebut. Laut keluar dari ruangan Kepala Sekolah, berjalan menuju kelas dengan pasrah, berharap semua sesuai dengan rencananya.


Sementara itu, dari bangkunya, Senja dapat melihat sosok Laut yang berjalan menuju kelas dengan pasrah, "Laut kenapa ya? Apa jangan-jangan rencananya gagal?" batinnya.


Singkat cerita, terdengar suara bel akhir berbunyi yang menandakan semua siswa diperbolehkan untuk pulang.


"Senja, yuk pulang." ajak Laut


"Eh, maaf ya Laut. Gue mau mampir ke warung mang Ujang dulu sama si Rina. Lo duluan aja deh. Btw, gimana tanggapan kepsek-" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba lengan Senja ditarik oleh siswi perempuan, yang ternyata adalah Rina, sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Woy! Ngebucin mulu aelah. Eh, Laut. Gue pinjem Senjanya bentar yak, si Senja udah janji mau traktir gue seblak mang Ujang. Bye!" ucap Rina yang langsung menarik Senja keluar dari kelas, menuju warung seblak yang dimaksud. Menurut Senja, sifat Rina memang seperti itu dari dulu, jadi ia tidak terlalu mempermasalahkan perilaku Rina kepada Laut.


BERSAMBUNG


__ADS_2