BERBEDA

BERBEDA
Chap 51 (Gagal Total)


__ADS_3

...Aku sedang belajar tentang arti penantian selama ini. Penantian akan do'a yang selalu kupanjatkan. Dan tentang rasa sabar menanti sang pemilik hati datang....



Kedua mata itu berbinar ditengah gelapnya malam yang bersinar rembulan. Bahkan, sudut bibirnya tak berhenti membentuk bulan sabit. Menatap penuh suka jalanan malam ini yang terlihat lenggang. Dengan setelan jaz mahal juga tatanan rambut salon yang sangat mewah itu ia terus bersiul. Ketika memasuki sebuah gang yang dipenuhi rumah-rumah, ia kembali memeriksa pantulan wajahnya dari balik spion kecil yang ada dimobil itu. Namun naas kala tak terlalu memperhatikan jalan, sebuah motor dari belokan pertigaan itu muncul dan berhasil terdorong oleh mobil mewahnya.


"Oh good," lirihnya.


Suara hantaman keras itu berhasil menyita beberapa warga yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian. Belum sempat ia menetralkan deru napasnya, suara ketukan dari luar jendela terpaksa membuat laki-laki itu keluar.


"Tolong dilihat korbannya Mas, kalau-kalau butuh ke rumah sakit," ujar bapak-bapak yang mengetuk jendela tadi.


Netranya menatap laki-laki yang ia tabrak itu sudah berdiri dengan dikelilingi beberapa warga. Perlahan, langkah kaki itu ia bawa mendekat.


"Maaf, apa ada yang terluka?"


"Gimana sih, Mas? Bisa bawa mobil nggak? Kalau bawa dijalan kecil kayak gini tu pelan-pelan! Jangan kayak di jalan raya," seloroh bapak-bapak berkaca mata yang masih setia memegangi lengan korban.


Tatapannya tak goyah meski mendapat banyak pandangan tak suka. Tetap tajam dan dingin.


"Mentang-mentang orang kaya bisa seenaknya gitu?! Nggak mikirin bisa bahayain orang lain?!" sahut Ibu-ibu berdaster.


"Udah-udah saya baik, kok. Paling cuma kesleo aja."


"Enggak apa-apa gimana Mas? Itu kakinya luka."


"Nih!"


Semua mata beralih menatap beberapa lembar uang merah yang laki-laki itu beri.


"Kurang? Saya nggak bawa uang ces, nanti kalau kurang telepon aja nomor saya. Ini kartu nama saya sama alamat perusahaan saya, anda bisa datang kesini," lanjutnya kala uang itu tak segera diambil.


"Maaf saya buru-buru, ini uang dan kartu nama saya."


Setelah meletakkan uang dan kartu nama, ia beranjak dari sana. Tanpa memperdulikan cacian dan tatapan tak suka dari beberapa warga, terutama tatapan tajam dari korban.


"Alvaro genandra," gumamnya menatap lekat kartu nama itu.


Yeah, dia Alvaro genandra. Sosok yang baru saja melaju dengan mobilnya.


...)( ...


Zoya kembali merapikan jilbabnya, dan itu sudah ia lakukan beberapa kali dalam lima belas menit terakhir. Entah karena apa, detak jantungnya terus berpacu lebih cepat disetiap dentang jarum jam. Kembali melihat arloji yang ada dipergelangan tangannya.


"Katanya jam tujuh, ini udah lewat jam tujuh juga. Jadi nggak sih?"


"Eh- kalau nggak jadi tambah enak dong. Nggak repot-repot kejebak canggung."


Baru saja selesai bermonolog, suara klakson dari luar membuat Zoya membuang napasnya kasar. "Datang juga, tck!"


"Udah siap?"


Hampir saja Zoya tersedak air liurnya sendiri, mendapati sosok didepan pintunya yang sangat berlebihan menurutnya. Dengan pakaian mahal yang melekat ditubuh tegap laki-laki itu, sedang dirinya yang hanya memakai celana kulot dipadukan dengan kemeja ala-ala anak zaman sekarang. Owhh sangat berbeda jauh.


"Tu-tunggu, ini kita mau kemana, sih?" 


"Rahasia."


Varo dengan wajah lempengnya itu beranjak lebih dulu tanpa menghiraukan tatapan tersembunyi dari beberapa teman kos Zoya. Sedang sang empu kembali tertegun melihat mobil keluaran terbaru itu.


"Zoy! Siapa?" tanya perempuan yang berada dikamar kos seberang Zoya.


Wanita itu langsung salah tingkah kala menangkap beberapa tatapan tersembunyi dari balik cendela kos.


Tin!


Suara klakson mobil lain berhasil mengalihkan atensi semua orang, termasuk Varo yang senantiasa memegang pintu mobil yang sudah terbuka untuk Zoya.


Detik kala penumpang dari taksi itu keluar, kedua bola mata Zoya melebar sempurna bersama langkah yang ia bawa mendekat.


"Darwin?! Astaga! Kenapa kamu disini?! Ini juga kenapa luka, huh?!"


Bukannya menanggapi pertanyaan beruntun Zoya, Darwin lebih tertarik menatap nyalang laki-laki yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Maaf Mbak ini barang-barangnya," ujar Supir taksi.


"Ah iya Pak, makasih. Kalau boleh tahu ini Abang saya kenapa, ya Pak?" balas Zoya sembari menerima tas yang diberikan.


"Kecelakaan digang sebelah Mbak. Tadi motornya udah dibawa sama warga ke bengkel. Kalau begitu saya pamit."


Setelah taksi itu pergi, Zoya menatap tak percaya Darwin yang berada didepannya sekarang. "Kamu juga ngapain kesini? Motor, jangan bilang kamu naik motor Surabaya-Bandung?!"


Darwin melengos, mendengus kasar. Berjalan pincang memasuki gerbang tempat kos Zoya. "Telpon Ibu kos nya, aku udah pesan satu kamar diatas."


Lagi, Zoya dibuat geleng-geleng kepala. Tanpa sadar bahwa disana ada sepasang mata yang mengamati keduanya.


Zoya segera mengejar Darwin ketika melihat laki-laki itu kesulitan menaiki tangga. Meninggalkan Varo dengan wajah penuh tanya laki-laki itu. Siapa dia?

__ADS_1


"Mas! Sini masuk dulu, jangan diluar atuh. Dingin loh, duduk dulu saya temani," teriak Perempuan dengan roll rambut memenuhi kepalanya.


Tanpa memperdulikan perempuan itu, Varo melangkahkan tungkainya kearah tangga. Tempat dimana Zoya menghilang bersama laki-laki bernama Darwin.


"Ibu kosnya mana?!"


"Sabar dong, baru aja di telpon."


"Tahu dari siapa kalau ada kos baru buat laki-laki disini? Terus kenapa kamu kesini tanpa kabar? Sampai kayak gini juga! Pokoknya nggak mau tahu, jelasin semuanya!"


Varo yang melihat keduanya berada didepan salah satu pintu kamar kos itu berjalan mendekat. Tanpa peduli sepasang mata yang menyadarinya dengan tatapan sengit.


"Zo-"


"Dia siapa?" seloroh Darwin memotong ucapan Varo yang baru saja ingin memanggil Zoya.


Zoya menatap Varo dan Darwin bergantian. Menggigit bibir bawahnya gelisah. Tapi, kenapa juga ia harus gelisah. Toh dengan adanya Darwin bisa menjadi alasannya agar tidak jadi keluar.


"Di-dia..."


"Nggak penting dia siapa," potong Darwin.


"Nih! Gue nggak butuh!"


Mulut itu sedikit terbuka melihat Darwin melempar banyaknya lembar uang bewarna merah sekaligus kartu nama yang ia kenali tepat didepan Varo. Detik itu, Zoya sadar. Dari cara Darwin menyebut dirinya dengan panggilan 'Gue' juga apa yang baru saja ia lihat, dia bisa menyimpulkan- bahwa Darwin sedang marah besar. Dan semua ini ada sangkut pautnya dengan sosok yang masih menampakkan wajah datarnya.


Alvaro, apa yang sudah kau lakukan?


...)( ...


Brak!


Pintu apartemen itu terbanting oleh Varo sebagi pelaku. Sedang disana, sosok yang baru saja akan memejamkan mata itu terpaksa membuka matanya bersama degup jantung yang berpacu lebih cepat. Menangkap sosok Tuannya yang mengacak acak ruang tamu. Dan yeah, dia bisa menebak apa yang terjadi.


"Tuan, jangan menghancurkan isi rumah ini. Cleaning servise sudah bosan bolak balik kesini," ujar Galih yang sudah mendekati Tuan mudanya itu.


"Telepon Owner Caffe, batalkan semuanya!"


"Nona tidak mau, kah Tuan?"


"Aahh iya baik, saya telepon sekarang," ujar Galih seketika, kala mendapat aura tajam dari Varo.


Rencananya untuk melamar Zoya malam ini benar-benar gagal total. Dan ditambah tanda tanya penuh dikepalanya tentang siapa laki-laki itu?


"Minum dulu Tuan."


Galih menatap tak percaya gelas yang sudah kembali ketangannya. Kosong sempurna, tanpa setetes air tersisa. Ini Tuannya benar-benar sedang haus, kah?


"Nggak!" balas Varo ketus.


"Dicoba lain kalo Tuan. Anda belum beruntung kali ini."


Detik kemudian, suara Vas pecah memenuhi ruangan itu.


...)( ...


"Ngapain telpon pagi-pagi gini? Emang nggak lagi ngajar?"


"Iya ini juga siap-siap mau berangkat. Eum kamu nggak lagi sibuk?"


"Woah lama nggak kasih kabar sekarang jadi panggil aku kamu, ya?"


"Kebiasaan di Bandung, jadi panggil aku kamu. Kamu juga nanti kebiasaan pakai aku kamu."


"Udah biasa, Lia. Terus kenapa nih tanya sibuk enggak, hm?"


"Mau temu kangen, lah. Masa kamu nggak kangen sama aku? Enam tahun loh Zoy kita nggak pernah ketemu."


"Iya sih, mau ketemu dimana? Jam berapa? Kapan?"


"Caffe annada, nanti habis maghrib aja gimana?"


"Oke! Udah ya aku tutup."


"Ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam Ibu Guru yang cantiikk!"


Zoya terkekeh sembari menatap ponselnya yang mulai meredup. Selama itu ya, dia tidak berjumpa dengan sahabatnya. Belum lagi dua sahabat lainnya, Laila dan Ayu yang sekarang masih menetap di Jakarta.


Ceklek


"Zoy laper."


"Astaghfirullah, ngagetin aja sih," ujar Zoya sembari mengelus dadanya. Sedang sosok dibalik pintu yang tak lain Darwin hanya tersenyum tanpa dosa.


"Laper ya tinggal makan. Ngapain pakai laporan?"

__ADS_1


"Ya masakin kek, atau beliin gitu. Nggak tahu kaki aku pincang, nih?!"


"Iya-iya Tuan muda. Makanan segera saya pesankan!"


Cengiran dari bibir Darwin itu membuat Zoya berdecak. Namun ketika kejadian kemarin kembali terekam, wajahnya berubah kecut seutuhnya. Menatap ragu Darwin yang asyik memainkan gawainya.


"Win..."


"Hmm?"


"Kamu, dendam sama orang itu?"


Darwin mendongak, memfokuskan atensinya kepada wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. "Pria sok yang semalam itu?"


Zoya mengangguk patah-patah.


"Enggak. Dosa dendam sama orang."


"Syukurlah."


"Kenapa emang? Lega banget kayaknya."


"Bukan apa-apa. Biasa aja, tuh."


Kedua mata Darwin memicing, memandang Zoya yang detik itu salah tingkah. "Iya, sih. Enggak dendam. Tapi nggak suka aja sama orang modelan dia."


"Tck, itu mah sama aja Darwin!"


"Kenapa? Masalah sama kamu? Jangan bilang dia pacar kamu, hm?!"


"Bukan ya! Aku nggak punya pacar tahu."


"Terus? Kenapa dia ada disini? Kalian saling kenal, kan?"


Zoya terdiam sejenak. Menimang apa yang pantas ia ucapkan kepada Darwin.


"Jangan cari alasan. Bilang aja kali kalau dia pacar kamu. Tapi satu yang perlu kamu tahu, nggak bakal mudah dia deketin kamu kalau ada Abang."


Telak! Kedua bahunya merosot sempurna. Darwin dengan mode seperti ini tidak pernah aman bagi Zoya yang merasa sangat kecil. Tidak bisa membantah maupun menjawab.


"Bu-bukan pacar. Sumpah bukan pacar. Cuma..."


"Dia direktur di perusahaan aku."


Tatapan Darwin semakin intens, membuat wanita didepannya itu menundukkan kepalanya. "Tapi, kenapa semalam disini? Ada yang belum kamu jelasin."


"Urusan kerjaan. Mau rapat diluar," balas Zoya cepat. Kebohongan pertama yang ia lakukan hari ini.


...)( ...


"Galih lebih cepat! Kau tidak tahu hari ini kita rapat dengan siapa, huh?! Jangan kayak siput kalau nyetir, atau berhenti saja! Biar aku yang nyetir."


"Jangan Tuan, biar saya saja."


"Tapi kau lama sekali! Tidak lihat sekarang jam berapa?!"


"Bukan saya yang salah Tuan, jalannya yang macet. Kita sudah kesiangan dari awal."


"Masih membantah?! Turun! Biar aku yang mengemudi!"


Galih tidak bisa melawan. Terpaksa menghentikan mobilnya, berpindah disamping kemudi. Memasang sabuk pengamannya rapat-rapat. Karena ia paham, bagaimana Sang Tuan ketika memegang kendali setir. Dan yah, detik setelah setir itu berpindah tangan- mobil hitam mewah itu melesat bagaikan pembalap internasional.


"Tuan, pelan-pelan!"


"Diam Galih!"


Varo tak mengindahkan suara klakson yang saling bersahutan seakan menghujatinya. Sampai matanya menangkap pemandangan yang sudah leluasa. Tidak penuh dengan mobil yang berjejer. Mobilnya kini bisa leluasa dengan kecepatan penuh.


"Tuan, biar saya gantikan," ujar Galih dengan suara bergetar. Pasalnya, Varo sekarang benar-benar mengemudi dengan penuh kegilaan.


"Kau diam saja!"


Didepan sana, lampu lalu lintas akan berubah warna menjadi merah. Namun bukannya memperkecil lajunya, Varo semakin menancap gas. Membuat Galih yang melihat situasi sekarang menutup rapat matanya. Hanya bisa pasrah akan nasibnya kemudian.


"Tuan, saya belum merasakan malam pertama. Jangan ajak-ajak kalau mau mati."


CCCIITTTTT!!!


BRAK!


DUMN!


...♡♡♡...


...Like & Komen...


...SAYANG KALIAN BANYAK-BANYAK😘...

__ADS_1


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2