BERBEDA

BERBEDA
Chap 15 (Pelampiasan)


__ADS_3

...Terkadang kita juga butuh pelampiasan dikala rasa sakit itu sudah tak lagi bisa dibendung. Bahkan, tangispun belum tentu bisa mengurangi rasa sakit....



Mega diatas sana telah berganti menjadi kelam. Ditemani sinar bulan yang memberi setitik cahaya yang menerangi bumi dalam gelapnya. Persis, seperti apa yang dirasakan ketiga orang  itu. Kelam, seakan dihimpit oleh kegelapan yang tak ada ujungnya. Kabar dari Dokter beberapa saat lalu menghantam semua orang yang ada disana. Tidak hanya ketiga orang yang terikat dalam nama keluarga, tapi juga ada dua orang lain yang kini menatap ketiganya sendu.


"Maaf kami harus mengatakan ini dengan berat hati. Kondisi pasien kritis, jika tidak sadar dalam dua puluh empat jam, pasien dinyatakan koma."


Suara itu terus berdengung ditelinga mereka. Penuturan Sang Dokter benar-benar meremukkan harapan yang sempat mereka genggam. Berharap jika orang didalam sana akan baik-baik saja dan segera sadar. Tapi, harapan hanyalah sebuah harapan yang menguap begitu saja.


"Zoy, kita pamit aja. Nggak enak disini, kita bukan siapa-siapanya mereka," bisik Arex. Ya, setelah sambungan telepon terputus Arex langsung menancap gas nya ke rumah sakit. Ia salah mengira jika adik sepupunya itu mengalami kecelakaan. Namun, setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, remaja itu tak habis pikir kenapa Zoya bisa terseret sampai ke sini.


"Nggak enak lah Rex. Gue suruh lo ke sini buat nemenin mereka berdua, bukan buat cabut gitu aja."


Plak


Zoya meringis tak kala tangan besar itu mendarat di belakang kepalanya. Dasar, kelakuan tangan Arex yang tak pernah hilang dari dulu. "Sakit ogeb! Suka banget nggeplak kepala orang."


"Lo yang bego! Udah tahu gue nggak kenal sama mereka lo suruh gue buat nemenin duo kembar itu?!."


"Banyak omong juga ya lo," balas Zoya acuh, kembali menatap Varo dan Vero yang masih terduduk dengan raut wajah yang tak bisa dibilang baik-baik saja.


"Bu biar saya aja ya yang  bawa mobilnya," ujar Via yang hendak masuk ke dalam kemudi.


"Nggak usah Vi, biar saya aja. Kamu kan baru belajar satu bulan ini, saya takut kalau kamu bawa mobil jauh. Biar saya aja, mana!," sahut Miranti mengambil alih kunci dari tangan Via lalu masuk kedalam kemudi. Via hanya mengangguk membenarkan, ia belum terbiasa membawa mobil sampai ke luar kota.


Satu jam perjalan sudah mereka lewati, kini mobil hitam milik Miranti itu mulai memasuki gerbang tol agar mempercepat perjalanan mereka. Dan tanpa Via sadari, Bosnya itu sedari tadi terlihat murung. Bahkan cenderung tak fokus kala  suara-suara yang terasa menusuk hatinya kembali ia dengar. Bagaimana suara getar juga rasa kecewa keluar dari mulut Varo. Tentang bagaimana sikapnya selama ini. Sikap yang selalu menuntut agar keduanya bisa mendapatkan posisi yang pertama.


Apakah Ia sudah keterlaluan? Tentang apa yang sebenarnya Miranti lakukan selama ini, apa ia benar-benar menyayangi keduanya? Atau hanya sekedar menjadikan keduanya pelampiasan karena kehilangan anak semata wayangnya?


Entahlah, berbagai pertanyaan juga rasa bersalah itu terasa menghujaminya sekarang. Dan tanpa ia sadari kedua tangannya mencengkram erat kemudi. Hingga kesadarannya ditarik paksa oleh suara Via yang menjerit kala fokusnya menatap pembatas tol dan- terlambat. Dentuman  itu tak bisa lagi mereka hindari.


Mobil Miranti dengan kecepatan tinggi itu menabrak pembatas Tol sampai terguling melewati batas yang sudah remuk bersama mobilnya yang tak lagi berbentuk sempurna.


Dalam sadar yang hampir hilang, nama kedua anak kembar itu keluar dari bibirnya yang perlahan tertutup. Tubuhnya serasa meringan, seakan terbang ketempat yang lebih tinggi sampai akhirnya hanya kegelapan yang ia temui. Begitu juga dengan Via, yang sudah pergi lebih dulu. Pergi ke tempat yang lebih jauh. Dan tetes demi tetes air mulai jatuh, seakan menyambut keduanya dalam dekap dingin yang menenangkan.


"Varo,"


Lidah Zoya terasa kelu, tak sanggup mengucapkan sepatah kata. Melihat kedua mata Varo yang memerah juga tetesan air mata yang terus mengalir itu membuatnya membeku. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Meninggalkan anak itu dalam keadaan seperti ini juga tak akan membuatnya tenang.


Hanya sebuah pelukan yang bisa ia berikan. Menepuk nepuk punggung rapuh itu hingga suara isakan kembali terdengar memilukan. Sedang disana, Arex ragu antara mendekat ke arah Vero atau tidak. Pasalnya ia tak pernah sekalipun berbicara dengan Vero, tapi melihat kondisi sekarang apa salah jika ia mencoba menenangkan anak itu?


Dengan satu tarikan napas, Arex berjalan mendekati Vero. Duduk disamping anak itu yang masih menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut. Hingga tepukan berulangkali di bahu Vero membuatnya mendongak, jelas dengan kedua mata memerah juga sisa air mata yang masih membasahi pipi.


"Yang kuat ya."


Tiga kata yang keluar dari mulut Arex berhasil membuat bola mata Vero kembali bergerak gusar.


Didalam ruangan itu, ada tangis yang berusaha Genandra enyahkan.


...)(...


"Serius lo?!."


"Lo nggak becanda kan, Zoy?."


"Terus, sekarang keadaan Mamanya Varo Vero gimana?."


Tiga pertanyaan beruntun dari Laila, Ayu, dan Lia hanya dibalas helaan napas kesal Zoya. Setelah bel pulang berbunyi, kini keempat anak itu berada di pinggir lapangan. Dan tentunya setelah berdebat panjang dari sahabatnya agar mau bercerita kemana ia semalam sampai-sampai Nenek mencarinya ke rumah Ayu dan Lia yang lebih dekat dengan rumahnya.


"Kalian pikir gue ngada-ngada gitu?!."

__ADS_1


"Ya nggak mungkin sih, ya. Soalnya bawa-bawa nyawa ini mah," balas Ayu dengan tampang polosnya.


"Terus keadaannya gimana Zoy?!," tekan Lia sekali lagi.


"Rekan kerja Tante Miranti meninggal ditempat. Sedangkan....Tante Miranti masih kritis, kalau nggak sadar dalam waktu dua puluh empat jam berarti dinyatakan koma."


Mulut ketiga sahabatnya itu terbuka lebar dengan mata melotot sempurna. Ya, sudah Zoya duga sebelumnya.


"Ihh merinding gue. Nggak kebayang gimana jadinya, mobilnya aja sampai ringsek gitu," ujar Laila kembali mengamati berita terkini yang masuk di beranda facebooknya. Menampangkan gambar mobil ringsek juga keadaan pembatas Tol yang sudah rubuh.


Bugh


"Doain supaya cepet sadar, jangan ngomong aneh-aneh lo!," sahut Zoya setelah menimpuk Laila dengan buku paket yang ia bawa.


"Tunggu deh Zoy, kok lo bisa di rumah sakit sih? Emang lo tahu dari mana?."


Pertanyaan dari Lia membuat Zoya mengalihkan pandangannya kearah lapangan Basket, yang langsung menampamgkan Arex bersama teman-temannya disana.


"Nah iya ya, kenapa bisa lo di rumah sakit Jayangka? Itu kan jauh banget dari sini," sahut Laila.


"Lo kesana sama siapa? Terus kenapa lo ada di sana? Tahu dari siapa? Kok jadi bingung ya gue," kini ganti Ayu bersuara dengan tampang penuh tanya.


Sial, benar pikir Zoya. Sahabatnya itu tak akan berhenti di satu pertanyaan. Pasti ujung ujungnya sampai ke akar-akarnya. Berasa di interogasi kan jadinya!


"Ck, pokoknya gitulah. Tau, gue mau pulang."


"Gue curiga deh kalau lo ada main dibelakang kita."


Perkataan Laila sukses membuat Zoya menghentikan gerakannya dengan kedua mata membola. Berbalik menatap sengit Laila. "Ada main apa maksud, lo?!."


Laila tersenyum miring, kemudian berdiri sembari menatap lurus tepat dimanik mata Zoya. Berjalan mundur tanpa melunturkam senyum yang membuat detak jantung Zoya tak tenang.


"Ada main sama Varo, kan?! Ngaku deh lo! Dasar Zoya sok alim, ngaku aja kalau suka mahh...."


...)(...


Tangan itu meremat ponsel berulang kali. Menimang berulangkali sebelum suara hela napas kasar keluar dari mulutnya. Ya, nyalinya masih sedikit ciut hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Tante Miranti kepada Varo. Sehari ini, batang hidung anak itu tak muncul dihadapan. Dan hal itu merasa ada yang kurang. Aneh. Entah, rasa gelisah itu terus menghantuinya.


Zoya membuka instan story whatsaap, hingga desir tak nyaman itu menggelitiki hatinya. Disana, terpampang dua anak perempuan bersama kedua orang tuanya yang sedang berada di pasar malam yang ia kenal betul itu dimana. Ya, bukan lagi hal biasa Zoya melihat keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia- tanpa dirinya.


Bibir Zoya terangkat tipis, namun perlahan senyum itu terbuka lebih lebar. Seperti, menertawakan keadaannya sendiri. Tawa miris yang sering kali ia keluarkan, hanya karena melihat bagaimana kebahagiaan itu terpancar- tanpa hadirnya.


"Apa salah iri sama keluarga sendiri?," gumam Zoya menahan gemuruh dimatanya yang mendesak keluar.


Dering dari ponselnya mengalihkan atensi Zoya, hingga kerutan didahinya tercetak jelas.


"Tumben si berandal telpon."


Belum sempat bertanya, suara akan syarat perintah itu kembali membuat lipatan bingung didahinya.


"Cepat ke  Bascamp Warios! Gue tunggu."


"Eh eh- tunggu! Main suruh aja lo. Kenapa?."


"Anak lo nih kesurupan," sahut Arex terdengar kesal.


"Anak?! Maksudnya?."


"Udah deh lo buruan kesini! Gue nggak tahu cara henti-in dia gimana, daripada dihajar beneran sama anak-anak lain."


Tut

__ADS_1


Sambungan terputus begitu saja sebelum Zoya kembali membuka suaranya. Tapi, menit setelahnya notifikasi dari Arex terpampang paling atas. Menampakkan foto sosok yang sangat Zoya kenal. Dan, setelahnya gadis itu buru-buru beranjak dari ranjang. Mengambil asal kerudung yang tergeletak diatas kursi lalu memakainya. Perasaannya sekarang benar-benar buruk.


...)(...


Kepalan tangan dengan balutan kain itu tak henti hentinya memukul samsak yang menjadi pelampiasan sejak satu jam belakangan. Tak peduli dengan rasa panas yang berasal dari dalam balutan kain itu. Juga tatapan lelah dari banyaknya pasang mata yang tertuju.


Malam itu, Bascamp Warios terasa mencekam entah kenapa. Suasana hati yang dibawa oleh remaja yang gila akan pukulan itu seperti merambat. Tak ada yang berani mendekat, mungkin membiarkannya seperti itu akan mengurangi sakit yang sedang dirasakannya.


"Rex, itu anak kesurupan beneran apa gimana?."


Namanya Devan, sahabat Arex sekaligus anggota Warios.


"Iya kali."


Devan mengendikkan bahu, mengikuti Arex yang melangkah kearah pintu. Berdiri sembari menatap lurus jalan remang-remang itu. "Ngapain sih lo? Lagi nunggu siapa?."


Arex tak menjawab, namun setelahnya sebuah jawaban yang Devan inginkan terjawab sudah tak kala dari jauh ia melihat cahaya lampu motor.


"Tuh Zoya ngapain kesini?," monolog Devan setelah Zoya melepas helm nya dan bergegas menghampiri kedua kakak kelasnya itu.


"Varo masih disini Bang?," tanyanya dengan suara begetar.


Zoya tak lagi peduli dengan balasan Arex ketika suara keras dari samsak yang dipukul anak itu terdengar sampai keluar. Langkah nya ia bawa masuk kedalam yang disambut tatapan terkejut dari banyak pasang mata- yang jelas mereka anggota Warios. Dan banyak dari mereka mengenal siapa Zoya, karena menuntut ilmu di tempat yang sama. Tanpa tahu bahwa Zoya sepupu Arex, kecuali Devan.


"Ngapain tuh bocah kesini," ujar kakak kelasnya- Andra yang masih bisa didengar sang empu. Namun langkahnya tetap ia pacu menuju titik dimana sosok yang lepas kendali itu.


"Varo stop!."


Tubuh yang sudah basah akan keringat itu berbalik seiring dengan tarikan dipundaknya. Iris keduanya menatap satu sama lain, hingga tatap dari iris kelam itu memutus lebih dulu.


"Lo apa apaan sih?."


"Mau lukain tangan lo sendiri, iya?!."


"Jawab Var!."


Varo kembali mengarahkan pandangannya ke netra coklat Zoya. Tapi, Zoya tidak sebuta itu sampai tak bisa melihat bagaimana iris kelam milik Varo seakan berteriak menahan sakit. Juga tatapan penuh syarat pertolongan itu membuat sesak didalam sana. Apa, apa yang sebenarnya terjadi?


Zoya menatap sekeliling yang kini seperti tontonan bagi mereka yang ada disana. Tanpa banyak bicara Zoya mengambil pergelangan Varo yang masih enggan membuka suara. Membawa langkah mereka berdua keluar hingga mendudukkan anak itu dikursi dekat pohoh mangga yang ada dihalaman depan Bascamp Warios.


Hening yang cukup panjang untuk Zoya memahami situasi saat ini. Sedang Varo hanya menduduk dalam sembari meremat jari-jarinya yang masih berbalut kain putih.


Sampai setelahnya tubuh Zoya terpaku tak kala penuturan lirih Varo yang tak disangka keluar begitu saja tanpa ia tanya.


"Mama koma."


Zoya yakin, ini pertama kalinya Varo mendengar dan menghadapi secara langsung tentang apa itu koma. Dan juga pertama kalinya bagi Zoya. Ternyata memang benar adanya. Orang bersama pejam lama, bersama waktu yang tak bisa dipastikan kapan orang koma bisa terbangun, lagi.


Tangan Zoya terulur merengkuh tubuh yang mulai begetar dengan suara isakan yang begitu pilu. Gerakan refleks itu tak perlu pikir panjang hingga tubuh Varo sempurna tenggelam dalam dekap hangat yang sedari tadi ia cari. Menenggelamkan wajahnya agar tangis itu bisa bebas ia keluarkan. Sungguh, sakit yang dirasakan Varo sekarang melebihi rasa kecewanya kepada dua orang dewasa itu. Yang tak lain Tante dan Paman yang sudah beralih menjadi kedua orang tua sambungnya.


"Nggak apa-apa, nangis aja. Nangis sepuas lo, Var."


Entah sejak kapan, tetes demi tetes luruh dari kedua kelopak mata Zoya. Mengelus punggung yang kehilangan tegapnya itu dengan tangan begetar.


Varo takut, takut akan kehilangan. Dia, tak ingin merasakan sakitnya kehilangan. Cukup ketika melewati masa-masa kelam disaat tuhan mengambil dunianya. Kedua malaikat yang membuat anak kembar itu lahir kedunia yang penuh rahasi ini. Bahkan, luka kehilangan itu belum sirna seutuhnya. Apa ia akan sekuat dulu? Jika kehilangan itu kembali menyapanya.


...♡♡♡...


...Jangan jadi Sidders ya😊 Tingglkan jejak...


...Like👍...

__ADS_1


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2