BERBEDA

BERBEDA
Belum Selesai (2)


__ADS_3

Tak berselang lama setelah kepergian Senja dan Rina, mereka akhirnya sampai di warung seblak yang dimaksud. Mereka duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sana.


"Mang, biasa. Seblak pedes level 3, dua ya mang!" ucap seorang gadis SMA yang duduk tepat di samping Senja, seakan sudah berteman baik cukup lama dengan penjual seblak itu.


"Eh neng Rina, kemana aja neng? Kok baru mampir lagi? Pasti sama neng Senja ya? Haha, siap amang buatin deh!" jawab seorang lelaki yang tidak lain adalah mang Ujang, penjual seblak yang dikenal dengan keramahannya.


"Akhir-akhir ini Rina lagi gak punya duit mang. Tapi hari ini si Senja mau traktir seblak, ya udah Rina ikut aja hehe. Rezeki kan gak boleh ditolak." ujar Rina cengengesan.


"Heleh, lo kali yang minta ditraktir seblak sama gue. Kalo lo ga minta juga gue mah ogah traktir lo seblak." gerutu Senja pada Rina.


Hanya butuh waktu beberapa menit, seblak yang mereka berdua pesan sudah sampai. Mereka mengucapkan terimakasih dan mulai memakan seblak yang panas itu perlahan.


"Hmm enak banget! Seblaknya mang Ujang gak pernah berubah ya, malah makin enak perasaan!" Puji Rina kegirangan mencicipi seblaknya.


"Hehe neng Rina bisa aja." ucap Mang Ujang tersenyum.


Saat Rina dan mang Ujang sedang asik bercanda, sementara itu pikiran Senja dipenuhi oleh kegelisahan. Senja bolak-balik membuka ponselnya hanya untuk mengecek apakah ada pesan dari Laut. Namun, setelah beberapa menit mereka di sana, bahkan sudah hampir 1 jam, Senja belum juga mendapatkan pesan dari Laut.

__ADS_1


"Laut baik-baik aja kan, ya? Laut pasti udah pulang, kan? Ah udahlah nanti juga ngabarin." batin Senja.


Ekspresi gelisah terlukis jelas di wajah Senja, Rina tentu menyadarinya dan bertanya.


"Woy, Nja! Ngapa muka lo gitu dah? Sakit lo? Atau lagi gak nafsu makan? Udahlah kalo lo gak bisa lanjutin makan, kita pulang aja." tanya Rina khawatir.


Tapi Senja saat itu segera menolak karena ia rasa dirinya baik-baik saja. Namun tiba-tiba Senja mendengar suara motor yang tidak asing lagi di telinganya.


"Laut!" sahut Senja kegirangan. Ia segeralah keluar dari warung untuk mengecek apakah benar itu Laut?


Benar saja. Tak berselang lama, Laut melihat Senja di depan warung dan langsung berlari memeluk Senja.


Senja yang melihat itu tentu keheranan, tapi Senja tidak mau menanyakan apa yang terjadi sekarang. Senja membalas pelukan Laut sembari mengelus punggung Laut dengan lembut.


"Udah.. Masuk dulu, yuk?" tawar Senja dengan lembut menarik tangan Laut membawanya ke dalam warung. Senja menyuruh Laut duduk di bangku kosong yang tepat berada di depan bangku Senja.


"Yeuh, si Laut dibilangin jangan ganggu momen gue sama Senja dulu malah datang langsung ke sini. Lengket banget ya, ut. Kayak permen karet haha" gerutu Rina.

__ADS_1


"Stt! Diem dulu lo." ucap Senja segera menghentikan pembicaraan Rina yang menurutnya kurang sopan untuk didengar Laut pada situasi sekarang.


"Mang, minta teh angetnya satu." sambung Senja.


"Nih, minun dulu. Tenangin diri lo, jangan kayak orang abis dikejar hantu gitu." pinta Senja menyodorkan teh hangat itu pada Laut.


Laut pun meminum teh itu dan merasa jauh lebih tenang setelah meminumnya.


"Lo kenapa sih? Kok kayak abis dikejar-kejar gitu? Ohh, gue tau nih. Lo pasti abis dikejar-kejar sama si Anis kan? Hahaha" ucap Rina pada Laut yang saat itu akan menceritakan semuanya.


"Iya. Tapi lebih tepatnya gini, jadi informasi yang gue kasih tau ke kepsek tadi itu gagal. Pak Bimo bilang dia gak percaya bahwa foto itu editan. Terus Pak Bimo juga bilang, katanya kalo emang bener foto itu editan, dia bakal mempertimbangkan keberadaan Anis di sekolah itu. Sedangkan kalo kita salah dan ternyata foto itu asli tanpa editan, kita yang bakal di keluarin dari sekolah. Sebenernya gue udah b aja sama masalah itu, tapi tadi pas kalian pergi ke warung mang Ujang, si Anis tiba-tiba muncul minta anterin balik ke rumahnya. Gue udah nolak berkali-kali tapi tu kutu bener-bener pengen gue anterin pulang. Jadi, terpaksa gue harus nganterin dia pulang, dan lebih parahnya, pas udah sampe di rumahnya, gue ditarik dan hampir dicium sama si Anis. Untung aja gue berhasil ngehindar, kalo gak pasti gue udah abis sama si Anis. Gila emang tu cewek, bisa-bisanya." jelas Laut, "Jadi, please maafin gue Nja.. maaf gue gak bisa nepatin ucapan gue buat gak ngelakuin hal yang sama. Lagi-lagi gue nganterin si Anis pulang, maafin gue." sambung Laut merasa bersalah.


Rina sontak berdiri dan berkata "Woy, Laut! Ngapain lo minta maaf? Harusnya si Anis yang minta maaf. Sumpah dah, sebenernya gue gak peduli sama gosip aneh tentang kalian yang akhir-akhir ini muncul di sekolah, karena gue tau kalian gak bakal ngelakuin hak gila kayak gitu. Tapi kali ini gue udah bener-bener gak tahan sama sifat tu kutu, sinting banget gila." gerutu Rina dengan kesal menghentakkan tangannya ke meja hingga membuat mang Ujang terkejut.


"Ah, ini bener-bener gak bisa dibiarin. Mending kita pulang terus pikirin cara buat nyelesain masalah ini. Gue bakal bikin gc (group chat) biar kita bisa lebih enak ngobrolin masalah ini di rumah masing-masing." ucap Senja.


Mereka berdua setuju dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing seperti apa yang dikatakan oleh Senja. Senja membayar semua makanan dan minuman yang dipesan oleh mereka dan segera pulang.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, mang! Senja, Rina sama Laut pulang dulu. Kapan-kapan kita pasti sering mampir. Duluan ya, mang!" ucap Senja yang segera naik ke motor Laut.


BERSAMBUNG


__ADS_2