BERBEDA

BERBEDA
Chap 33 (Tanpa Pamit)


__ADS_3

...Kehilangan adalah perihal patah hati yang sangat menyakitkan. Tanpa adanya obat yang bisa menyembuhkan luka itu. ...



Mega diatas sana mengintip malu-malu. Bahkan, matahari yang seharusnya menampakkan diri masih betah bersembunyi dibalik gelapnya sang awan. Angkasa kali ini seperti tahu keadaan. Mendukung suasana yang berbalut tangis itu dalam dekap dingin yang menyakitkan. Satu nyawa itu mendongak, menatap mega kelabu yang seakan ikut merasakan duka. Jerit tangis didalam sana masih terngiang, semakin menusuk relungnya yang kini terbuka kembali. Di isi oleh gelap kelam luka kehilangan.


"Var, ayo masuk!."


Anak itu mengalihkan fokus kepada Vero yang berada disampingnya. Sebelum mengangguk samar. Lantas memantapkan hatinya yang tak akan pernah siap menerima kenyataan secepat ini.


Mendengar pecah tangis dari dalam rumah itu saja berhasil menghantam hatinya. Akan kenyataan yang benar-benar nyata. Didepan matanya.


Fokus pertama kali yang keduanya lihat ketika masuk kedalam rumah duka itu adalah tubuh kaku yang ditutupi kain batik cokelat hingga batas dada. Menampakkan wajah yang tidak memiliki warna itu terekspos. Hingga detik seakan berhenti. Menghantam kembali luka masa lalu itu bangkit perlahan.


Kaki keduanya terasa berat untuk melangkah. Bahkan, untuk bergerak saja rasanya mati kutu. Oksigen disekitar serasa habis perlahan. Membuat dada keduanya bertambah sesak. Namun, keduanya kembali ke alam sadar kala suara seseorang menelusup.


"Mas, silahkan masuk! Jangan ditengah jalan," ujar seorang pria paruh baya.


"Iya Pak. Maaf," sahut Vero lantas menarik perlahan tangan Varo mendekati kedua orang tua yang masih menangis disamping jasad- Reihan.


Reihan aditama, remaja yang memasuki umur 17 tahun itu dinyatakan meninggal pukul empat dini hari. Setelah kemarin melepas tawanya bersama dua sahabatnya itu- ternyata ada alasan dibalik tawa Reihan. Mungkin, itu yang bisa Reihan lakukan sebagai salam perpisahan tanpa mereka sadari. Trombosit yang tiba-tiba menurun drastis itu kembali membuat keadaannya drop. Hingga tubuh Reihan menyerah begitu saja. Tanpa salam perpisahan.


Ibu dan Ayah Reihan bergeser ke belakang kala mengetahui hadir keduanya. Meski hubungan mereka tidak selama itu, tapi, ketiganya benar-benar saling melengkapi sejak dibangku SMP.


Keduanya tidak mampu membuka suara. Hanya ada suara isakan tertahan dari Varo yang hanya membuat sesak dadanya. Sedang Vero, memejamkan mata erat. Berusaha menghalau air matanya yang siap keluar kapan saja.


Ternyata, kehilangan seorang sahabat itu lebih menyakitkan. Sama sakitnya ketika kedua anak itu kehilangan orang tua mereka.


Gue ikhlas Rei. Tidur yang tenang ya. Jangan kangen sama kita berdua, batin Varo.


Sedang dilain tempat, Zoya dan Lia baru saja menampakkan kakinya dikelas. Keduanya disambut suara tangis Laila yang membuat mereka berlari menghampiri dua sahabatnya itu.


"Yu, lo apain Laila?."


Ayu yang merasa tertuduh itu menukikkan alisnya. Lantas menggeleng mantap. "Nggak gue apa apain kok."


"Terus kenapa nangis?," sahut Lia.


Kelas masih dihuni beberapa anak. Belum banyak dari mereka yang datang sebelum jam tujuh kurang lima menit.


"Kalian belum tahu kabarnya?," tanya balik Ayu yang semakin membuat Laila menangis. Menenggelamkan kepalanya diatas meja dengan bahu begetar hebat. Zoya dan Lia yang baru saja datang itu semakin panik, pasalnya Laila tidak pernah menangis didepan mereka. Dan sekarang, ada apa?


"Kabar apasih?," tanya Zoya. Yang kemudian tubuh anak itu membeku kala balasan dari Ayu menguar.


"Reihan udah nggak ada. Meninggal."


Butuh beberapa detik hingga otak Zoya dan Lia kembali bekerja. Mengutarakan tanya secara bersamaan. "Kapan?."


"Tadi pagi katanya. Coba deh lo buka grup, masih ramai tuh."


"Lo, serius?," tanya Zoya sekali lagi. Sungguh, kabar pagi itu benar-benar membuatnya percaya tidak percaya. Anak sebaik dan selucu Reihan yang baru saja ia kenal, tiba-tiba pergi secepat ini. Meski sedikit waktu yang mereka habiskan selama kegiatan pramuka, tapi- jasa Reihan mengungkap kejahatan Siska itu sangat berharga bagi Zoya. Tidak hanya itu, bagaimana keadaan si kembar saat ini?


Setelah anggukan singkat dari Ayu, Zoya merogoh teleponnya disaku. Hendak mencari nomor Varo, tapi- apa yang harus ia katakan?


Lia menyatukan alis bingung, kenapa Laila menangisi kematian adik kelasnya itu? Sedang sekarang, Zoya meraih tubuh Laila untuk ia peluk. Ya, dia masih ingat ungkapan Laila waktu itu. "Ikhlas Lai. Allah lebih sayang Reihan," bisiknya semakin membuat Laila terisak.


Ada hening panjang sampai Laila kembali tenang. Lantas alunan suara Zoya membuat kedua netra Laila berbinar meski dibalut kaca bening yang siap tumpah kembali.

__ADS_1


"Kita ke makamnya yuk. Gue ijinin sebagai perwakilan organisasi."


...)( ...


Tanah basah yang menggunung itu siap ditaburi bunga. Hingga bunga mawar dan melati itu menutupi seluruh permukaan tanah yang menenggelamkan jasad Reihan. Sampai ditempat peristirahatan terakhir, Varo dan Vero masih diam. Bahkan, air mata yang ingin keluar sejak tadi  seakan mati. Mengering didalam sana. Terlalu menyakitkan hingga air matanya saja enggan menetes yang hanya membuat luka itu semakin nyata.


"Nak, ikhlaskan Reihan ya. Dia udah bahagia disana," suara lembut Ayah Reihan itu dibalas senyum tipis kedua anak kembar itu.


Perlahan, satu persatu orang yang mengantarkan Reihan dirumah barunya itu pergi. Hingga meninggalkan Varo dan Vero disana.


Cukup lama hening memeluk dalam dingin. Berganti suara serak Varo mengalun begitu lirih.


"Nyamuknya jahat ya, Rei?."


Seulas senyum dari bibir Varo bersamaan dengan jatuhnya setetes air mata. Pertahanannya runtuh, setetes air mata itu disusul setetes demi setetes lainnya tanpa henti.


"Kenapa Rei? Lo jahat banget gagalin rencana kita, hm?."


Vero mendongak, menatap angkasa yang kelabu itu dengan mata yang sudah dilapisi kaca bening. Kenapa Semesta akhir-akhir ini senang sekali mempermainkan mereka dalam dekap kehilangan? Kenapa harus mereka yang merasakannya terus menerus? Apa setelah Reihan, Semesta akan kembali memberikan luka kehilangan itu kembali? Lantas, siapa korban selanjutnya?


Rei, makasih udah jadi sahabat terbaik kita, batin Vero.


Suara langkah kaki yang mendekat itu membuat Varo segera mengusap air matanya. Ikut berdiri ketika Vero disampingnya beranjak. Seulas senyum tipis itu Varo berikan kepada satu nyawa yang menatapnya. Seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tapi kenyataannya, anak itu tidak dalam kata baik.


Empat orang yang baru saja datang itu duduk. Tanpa sepatah kata, mereka menggadahkan tangan. Mengagunggkan doa untuk kepergian Reihan yang baru saja mereka kenal. Singkat, namun sangat membekas.


Laila kembali terisak melihat nama Reihan tercetak jelas dipapan nisan itu. Hingga rengkuhan dari Ayu semakin membuat tangis Laila pecah. Rasa yang belum tersampaikan itu yang menjadi luka tersendiri bagi Laila.


"Balik sekarang?," tanya Vero.


Varo hanya menoleh sekilas. Kembali membaca berulang nama yang tertulis dibenda mati itu. Rasanya, baru kemarin dia bertemu Reihan. Tapi, secepat itu juga Reihan pergi terlalu jauh. Hingga tidak ada tempat lagi untuk keduanya bertemu.


...)( ...


Tujuh hari yang kedua anak itu lewati tidaklah mudah. Rasa kehilangan yang membunuh mentalnya secara perlahan itu masih butuh pelampiasan. Dimana Varo yang lebih sering menghabiskan waktu libur Semesternya dibascamp. Sedang Vero yang lebih sering berdiam diri dikamar meski sering sekali Jeslyn datang yang pada akhirnya diusir mentah-mentah.


"Diminum dulu susunya Var," tegur Miranti.


Varo mengerucutkan bibir. Kembali duduk lantas menegak habis segelas susu itu. "Mau kemana?."


"Latihan Ma," balasnya sembari mengusap bekas susu dibibirnya dengan tisu.


"Varo berangkat ya Ma."


"Eh- kamu masih ikut latihan silat kayak gitu?."


"Iya. Buat jagain Mama juga. Kan kita disini cuma tinggal berdua."


Miranti tersenyum. Mengelus puncak rambut Varo lembut. Mengecup kening anak itu sebelum benar-benar berlari kecil meninggalkan Sang Mama.


"Hati-hati, jangan ngebut!."


Varo menancap gasnya membelah jalanan yang ramai akan roda dua. Niatnya ingin melaju lurus ketempat bascamp Warios, namun urung kala netranya menangkap motor yang sangat ia kenal melaju berlawanan. Tanpa pikir dua kali Varo membelokkan motornya. Menyusul dibelakang tanpa sepengetahuan sang empu.


Sepanjang perjalanan pikiran Varo hanya tertuju pada tujuan targetnya. Hingga motor itu berbelok disebuah gang kecil. Varo menghentikan motornya cukup jauh dari sang empu yang memakirkan motor didepan minimarket.


"Ngapain tuh bocah jauh-jauh kesini kalau didekat rumahnya aja banyak minimarket," gumam Varo.

__ADS_1


Anak dengan kekepoan tinggi itu memacu langkahnya masuk kedalam minimarket yang ternyata tatapnya langsung bertemu dengan target. Hingga detik selanjutnya kedua bola mata Varo menajam ketika seorang kasir itu memasukkan botol hijau dan menyerahkannya kepada- Vero.


Sedang Vero membeku ditempat dengan detak jantung bertalu talu. Tangannya yang semula mengambang diudara hendak membayar terjatuh seketika. Bahkan, suara mbak kasir yang sudah hapal dengan pakaian serba hitam Vero itu tidak bisa masuk kedalam gendang telinganya.


"Mas, ini barangnya!," sarkas Mbak kasir yang kemudian mengembalikan Vero dalam dunia nyata.


"Ah, enggak jadi mbak," getar suara Vero itu membuat kedua alis kasir itu menukik. Hendak bersuara namun terpotong oleh suara dingin itu.


"Kenapa nggak jadi?."


Tatap tajam netra Varo menusuk hingga detak jantung Vero tak normal. Membuat keringat dingin mulai menetes dari keningnya.


"Atau perlu gue yang bayar?."


"Maaf ya Mas jadi atau tidak? Kalau tidak jangan menghalangi pembeli lain," seloroh Mbak kasir mengalihkan atensi kedua kembar itu. Benar saja, dibelakang mereka sudah ada beberapa yang mengantri.


Varo merogoh dompetnya, lantas menarik uang seratus ribu. Menaruh diatas meja kasir bersama tarikan kasar keresek yang berisi pesanan Vero.


"Kembaliannya ambil aja."


"Makasih Mas," balas Mbak kasir dengan senyum sumringah.


Varo keluar disusul Vero dengan ketengan yang benar-benar hancur. Bagaimana Kakaknya itu bisa sampai kesini? Dan bagaimana cara dia menjelaskannya nanti? Pikiran anak itu terus bertubrukan. Dia tidak yakin jika setelah ini perang antara dua Abangnya itu terelakkan.


"Bang-."


Tangan Vero ditepis kasar Varo. Menetap lurus netra Vero yang kehilangan tenangnya. "Setelah ini, permainan selesai Vero!."


Varo melangkah cepat kearah motornya dengan menggenggam erat keresek hitam itu. Amarahnya benar-benar naik kepermukaan kali ini. Sudah cukup dia melihat Vero membeli barang  keras itu. Jangan sampai Vero juga mengonsumsinya. Tidak tahu saja, jika Vero sudah pernah meminumnya karena paksaan dari Juna. Bagaimana jika sampai Varo tahu kejadian waktu itu? Apa amarahnya akan sama besarnya seperti sekarang?


Sejak melihat yang dilakukan Vero tadi, Varo tidak pernah punya pikiran adiknya akan meminum minuman itu. Kecuali satu yang ada dipikirannya sekarang, Juna. Siapa lagi dalang dibalik ini semua jika bukan iblis itu?


"Bang tunggu! Gue bisa jelasin.


"Jelasin apa?! Gue nggak butuh, Ver!."


"Lo mau ke mana?," tanya Vero panik melihat Varo yang hendak menancap gasnya. Apalagi, Vero masih membawa minuman itu.


"Bang please! Dengerin Vero dulu," teriak Vero tanpa balasan.


Anak itu berlari menuju motornya yang masih terpakir didepan minimarket. Menancap gas dengan kecepatan tinggi. Takut kehilangan jejak Varo dengan amarahnya yang sangat kentara.


"Please Bang, jangan bergerak gegabah."


Kedua anak itu saling kebut-kebutan tanpa menghiraukan suara klakson dari pengendara lain. Perasaan Vero semakin gelisah ketika tahu arah yang dituju Varo. Ingin menghentikan Abangnya itu pun dia kalah jauh. Bahkan, ketika Varo berhenti didepan gerbang tinggi itu- Vero masih berada dibelakang sana.


Dengan satu tendangan kasar, gerbang itu terbuka yang menimbulkan suara gaduh. Nyawa yang ada didalam rumah itu mengumpat kala terkejut, hingga membuat kopi yang ingin ia minum menumpahi tangannya.


"Keluar lo, brengsek!."


...♡♡♡...


...Al-fatihah buat Reihan🤲...


...Reihan anak baik, Allah lebih sayang sama Reihan. Dia udah tenang disana. Jadi nggak bisa ikut main peran lagi:(...


^^^...Tertanda...^^^

__ADS_1


^^^Naoki Miki^^^


__ADS_2