BERBEDA

BERBEDA
Chap 30 (Penyerangan)


__ADS_3

...Jika takdir membawamu kepadaku, aku tidak akan pernah menyesalinya. Karena, dengan tanganku sendiri akan kubalas semua perbuatan kejimu itu! ...



Sekarang tidak ada lagi tempatnya untuk benar-benar pulang. Setelah rumah juga kedua orang dewasa itu retak, kini perlahan satu-satunya saudara yang menjadi alasannya bertahanpun perlahan mulai menjauh. Membentangkan jarak sejauh langit dan bumi. Hanya karena keegoisan keduanya yang dari dulu tidak pernah berubah. Iya, mereka sama. Sama-sama mempunyai watak keras kepala yang tak terbantah. Hingga akhirnya, tempat inilah yang menjadi sasarannya untuk melampiaskan semua masalah yang senang sekali datang.


"Lebih kencang lagi! Jangan kendor."


Intruksi berulang itu terus menggema bersamaan dengan suara samsak yang ia tinju. "Bang Arex nggak ke sini?," tanya Varo sejenak, lantas kembali memukul samsak itu.


"Enggak, dia masih kena hukuman sama bokapnya gara-gara nilainya anjlok," balas Devan yang sedari satu jam lalu melatih kemampuan tinju Varo.


Sedang disana, juga ada beberapa anak Warios yang masih semangat berlatih dimalam hari seperti ini. Dan banyak juga dari mereka yang hanya duduk-duduk menikmati secangkir kopi.


"Anak bokap ternyata," celetuk Varo tersenyum kecil.


"Tumben lo semangat banget latihannya. Gue kira udah nggak gabung lagi."


"Iya Bang. Pengen nambah ilmu bela diri biar bisa hajar iblis itu."


Varo beralih mengambil lompat tali yang ada dirak dekat mereka. Lantas memainkannya dengan cepat. Devan yang mendengarpun mengernyitkan alis bingung. "Iblis, maksudnya siapa?."


"Adalah," balasnya dengan napas putus-putus.


"Istirahat! Jangan diforsir. Lo punya asma kan?."


"Iya, bentar lagi."


Baru saja Devan ingin mendudukkan dirinya disofa, namun urung kala suara bising motor itu memekakkan gendang telinganya. "Ck, siapa sih berisik banget!."


Semua anggota Warios itu keluar, termasuk Varo yang langsung mepetakkan lompat tali itu kembali.


"Woy siapa sih kalian! Jangan bikin ribut, lo buta atau apa?! Udah malam juga!."


"Udah jack, tunggu dulu mau mereka apa," ujar Devan yang sudah berada disamping Jack. Teman sekelasnya.


Jumlah orang bermotor itu cukup banyak. Setelah beberapa detik memainkan atraksi yang membuat bising telinga, akhirnya mereka membuka helm yang sedari tadi menutupi. Hingga detik berikutnya, Varo yang berada disebelah Devan mengeraskan rahang dengan tangan terkepal.


Tepuk tangan yang berasal dari salah satu geng motor itu mendominan. Yang kemudian turun dari motor diikuti semuanya. Mendekat dengan tatap tak lepas dari Varo yang baru saja ia tangkap keberadaannya.


"Siapa lo?! Kalau cari ribut jangan disini! Salah tempat lo pada," teriak Jack kembali mengalun.


"Oh, tenang aja. Kita nggak salah tempat kok."


Balas laki-laki yang kini mulai melangkah mendekati Varo. Dan jangan lupakan senyum merendahkan itu.


"Ternyata takdir baik banget ya? Bisa ketemu lo disini."


Varo tersenyum miring. Ah, sepertinya takdir memang sudah merencanakan ini semua dengan sangat teliti. Tapi, Varo bersyukur kala mengetahui ternyata dia bisa punya alasan lain untuk melawan orang didepannya ini- Juna, selain membalas dendam karena masalah keluarganya- juga bisa beralasan lain karena Juna sendiri yang menantang anggota Warios yang sudah Varo anggap sebagai keluarganya sendiri.


"Lo kenal sama mereka, Var?," bisik Devan.


"Lo pengen tahu kan Iblis yang gue maksud tadi?."


"Sekarang, dia ada didepan gue Bang," lanjut Varo yang mendapat senyum miring dari Devan.


"Wuihh, kebetulan banget Var. Kalau dia cari masalah, gue juga bisa bantu lo sekalian."


"Ck, nggak seru banget omongan lo. Tapi, sayang- gue kesini khusus mau ketemu sama ketua kalian. Tolong dong dipanggilin," ujar Juna.


"Dia nggak ada disini. Kalau mau berantem ayo sama kita aja!."


"Jack, jangan gegabah. Lo lupa kita ada di mana?," sahut Devan.


Ah, jika saja bascamp mereka tidak dekat dengan rumah warga yang tak terlalu jauh dari rumah dua tingkat itu- mungkin mereka akan dengan senang hati melawan.


"Bilang aja pada takut sama kita, ya nggak?! Ah, cemen!."


Hendak saja Jack memukul wajah Juna jika saja tidak terhalang oleh tangan Devan yang menariknya mundur. "Kurang ajar lo! Gue nggak takut ya sama kalian semua!."


Juna tertawa renyah. Tatapan merendahkan itu lagi yang ia tunjukkan. "Kalau gitu, panggil ketua kalian dong. Baru deh gue juga mau lawan kalian semua!."

__ADS_1


"Ada masalah apa lo sama Bang Arex?," tanya Varo.


"Oh, namanya Arex," gumam Juna.


"Nggak perlu tahu lah. Yang penting panggil dia sekarang!."


Devan dan Jack saling pandang. Harus memanggil atau tidak? Pasalnya sekarang Arex tidak dibolehkan keluar malam. Sial, kenapa harus dalam situasi seperti ini?


"Gue nggak bakal cabut sebelum Ketua kalian datang nemuin gue!."


"Ternyata, selain jadi pengganggu keluarga gue- lo juga suka banget ya cari masalah sama orang lain!."


Varo tersenyum miring, menatap tangan Juna yang berhasil ia tangkap sebelum benar-benar mendarat dirahangnya. Lantas melepasnya begitu kasar. "Kenapa? Kalau salah nggak usah marah dong. Apa, emang benar?."


Suara ringan Varo itu benar-benar membuat api dikedua bola mata Juna merangkak kepermukaan. Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya timbul. "Sekarang masalah utama gue cuma sama ketua cemen kalian. Setelah masalah ini selesai, lo- berhadapan sama gue!."


"Silahkan, dengan senang hati!."


"Var, udah. Lo masuk aja! Biar gue, Jack, sama yang lain urus mereka sampai Arex datang," ujar Devan lantas menarik Varo ke dalam.


"Apaan sih Bang. Biarin gue hajar dia dulu! Udah gatel banget ini tangan."


"Ck, nggak sekarang waktunya Var. Kita tunggu Arex dulu. Entar kalau kita jadi ribut disini, baru deh lo boleh gabung."


Bibir Varo terangkat, membentuk senyum lebar dengan mata berbinar. "Gitu dong!."


"Ck, pengen banget lo adu jotos sama dia. Emang lo kenal dia dimana?."


"Ceritanya panjang Bang. Kapan-kapan aja Varo cerita.


Sedang dilain tempat, Arex dengan cepat memutar otaknya. Bagaimana cara beralasan kepada sang papa yang berada diruang tamu bersama mamanya. Namun, setelahnya senyum lebar itu terbit.


"Pah, Arex pergi ke rumah Nenek sebentar ya. Kata Zoya, Nenek buat puding mangga kesukaan Arex, makanya disuruh  kesana."


Alis Papa menuatu, menatap anak tunggalnya itu penuh selidik. Sedang Arex langsung mengangkat dua jarinya ke atas. "Benar Pah. Nggak bohong, serius!."


"Yaudah, awas aja kalau kamu bohong. Motor Papa sita."


"Iya, nggak bohong. Yaudah Mah, Pah Arex pergi dulu," teriaknya lantas beranjak begitu saja tanpa mencium tangan orang tua itu.


Suasana riuh adalah yang pertama kali menyambut Arex. Hingga suasana kembali senyap kala Arex turun dari motornya.


"Nah ini nih orangnya! Lama banget," celetuk laki-laki yang tak asing dimata Arex. Dan setelahnya dia mengingat ketiga orang diantara mereka, adalah laki-laki yang ada dicafe sore tadi.


"Oh, kalian lagi. Kenapa? Mau minta uang lagi buat beli laptop baru?."


Juna terkekeh, melangkah mendekati Arex. Lantas membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Arex menahan amarahnya.


"Baru tahu gue, salah satu pengikut lo ternyata udah masuk list santapan gue. Dan, sekarang ketemu lagi sama dia disini. Tambah semangat banget habisin kalian semua."


Juna menjauhkan wajahnya setelah beberapa patah kata itu ternyata sangat berefek. Dan benar, kala Arex menarik kerahnya dengan wajah merah  padam.


"Kalau lo ngerasa punya masalah sama gue, selesaiin sama gue! Nggak usah cari masalah sama anggota Warios anjing!."


"Bang!."


Arex menoleh, mendapati Varo yang memacu langkahnya mendekati mereka berdua. "Ayok Bang hajar mereka! Udah gatel banget nih tangan buat hajar manusia iblis kayak dia!," tunjuk Varo tepat didepan wajah Juna yang semakin tertawa keras.


"Bocil-bocil, lo itu nggak usah belagu! Masih anak bau SMP aja sok-sok an jadi jagoan. Gue sentil juga udah pingsan," celetuk Juna yang langsung mendapat bogeman lebih dulu dari Varo yang sudah murka.


Hingga tindakan itu membuat semua penjuru saling menantang, lantas perkelahian antar dua kelompok tak terelakkan lagi. Karena percuma jika sang ketua- Arex juga menghajar Juna yang dibantu Varo. Tapi, tak lama Varo ditarik paksa oleh anak motor lainnya. Hingga Juna benar-benar berada ditangan Arex.


...)( ...


Zoya menggeram kesal saat tombol merah itu ia geser. Menandakan panggilan sudah terputus setelah beberapa kata yang ia tangkap membuatnya kesal.


"Suka banget bawa-bawa nama gue sama Nenek kalau dihukum. Dasar Arex resek!."


Meski dengan rasa kesal, anak itu mencari nomor kakak sepupunya itu dengan setengah hati. Setelah beberapa deringan, suara diseberang terdengar.


"Halo?."

__ADS_1


"Lo di mana sih? Suka banget makanin nama orang! Yang ribet kan gue, harus bohong sama Om. Untung guenya cepat tanggap, kalau nggak habis lo kena marah!."


Ditempat  berbeda, Arex mengusap telinganya yang berdengung. Lantas menempelkan benda pipih itu ketelinga.


"Udah ngomelnya?."


"Arex gue udah baik ya nolongin lo! Nggak usah nambah darah tinggi gue kumat. Sekarang pulang! Gue nggak mau ditelponin terus sama Bokap lo!."


"Iya-iya bawel. Lagian gue nggak nyuruh lo buat bohong. Lo sendiri yang bilang, bukan gue."


"Oh gitu ya. Oke, gue bilang kalau lo-."


"Iya Zoya, oke gue ngalah. Makasih udah tolongin gue kali ini. Puas?."


"Ck, nggak ikhlas banget lo bilang makasih!."


"Lo yang nggak ikhlas nolongin gue!."


"Kok-."


"Udah Zoy, gue masih sibuk. Nggak usah ganggu."


Zoya mengernyit kala mendengar lirih suara yang ia kenal. Juga suara bising diseberang telepon.


"Tunggu Rex! Lo, ada dibascamp?."


"Iya. Kenapa?."


"Ada Varo, ya? Kok gue kayak dengar suaranya."


"Ck, hapal banget ya lo sama suara Varo. Kenapa?kangen? Ke sini aja nggak apa-apa, sekalian obatin tuh mukanya bonyok semua. Gue tutup, bye!."


"Heh! Jangan ditutup. Rex, Arex!."


Percuma, teriakan Zoya sudah tidak bisa Arex dengar. Namun suara Arex yang terakhir terus menguar. Dan- membuat ketenangannya perlahan hancur. Berganti rasa gelisah yang seenaknya hinggap.


Tanpa pikir panjang, Zoya menyambar kerudung yang berada dikursi. Yang kemudian menancap gasnya setelah berpamitan mencari Arex yang sedang dicari kedua orang tuanya.


Hela napas lelah itu menguar setelah gadis itu mengamati keadaan sekitar. Dimana semua anggota Warios yang ada disana tidak dalam kondisi wajah baik-baik saja. Kecuali Arex, Devan, dan Jack yang hanya terdapat memar sedikit dibagian tulang pipi.


Setelah kejadian baku hantam kedua kelompok itu gagal karena warga yang datang, sebelum menemui akhir siapa pemenangnya. Kedua kelompok itu sama-sama mendapatkan luka dibagian wajah yang sagat kentara. Namun, Arex dan Varo puas kala mendapati Juna yang terluka lebih parah. Dengan wajah penuh lebam juga kaki pincang itu pergi dengan amarah yang belum sempat padam. Dan, lebam diwajah Varo lebih banyak dibanding anggota Warios lainnya.


"Pokoknya lo harus sering latih gue lagi Bang," celetuk Varo yang kemudian meringis ketika tekanan kuat kain berisikan es batu itu mengenai lukanya.


"Isshhh sakit Kak. Pelan-pelan aja."


Zoya mencebik. Kembali mengompres lebam-lebam diwajah Varo. "Gue udah bilang dari awal kan, nggak usah ikut-ikut Arex yang nggak jelas itu! Bukan nambah ilmu bela diri, tapi nambah musuh iya!."


Arex yang mendengar itupun mendelik tidak suka ke arah Zoya. "Enak aja lo! Kita disini itu buat lindungi diri sendiri. Bukan cari musuh, merekanya aja yang cari masalah dulu," sahut Arex.


"Iya kan masalahnya juga dari kalian! Nggak mungkinkan mereka nyerang tanpa alasan."


"Zoy! Lo tuh nggak tahu apa-apa. Jadi diam aja!."


Zoya langsung mati kutu kala suara Arex yang tiba-tiba meninggi. Melenyapkan lirih suara disekitarnya yang juga ikut menghilang. Sungguh, emosi Arex untuk sekarang tidak bisa di buat main-main.


Devan berdehem. Mencoba mencairkan susana yang menegang itu. Lantas mengeluarkan pertanyaan yang mampu membuat Varo terdiam.


"Ekhmm, Var. Sebenarnya lo kenal sama cowok itu dimana?."


Ada hening sebelum suara ringan Varo menguap. "Dia, anak tiri Bokap gue."


...♡♡♡...


...Like👍...


...Sabar ya, ini masih part Varo dan Vero. Setelah itu part Zoya. Terus akhir kisah mereka direal mulai dekat & dilanjut dengan kisah mereka berdua full imajinasi author😎...


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^

__ADS_1


__ADS_2