
...Kita hanya seorang pemeran yang hanya bisa pasrah mengikuti alur skenario. Hanya bisa berharap tanpa bisa memutuskan. Karena semua sudah dirancang apik oleh sang penulis kehidupan. ...
Ditengah hiruk pikuk manusia malam ini, ia mendesah pelan. Tidak pernah mengira bahwa teman yang baru ia kenal memiliki sejuta cara. Hanya agar dirinya bisa datang diacara pesta penyambutan direktur baru. Sungguh, Zoya menyesal berdiri ditempat ia beranjak sekarang. Dimana banyak orang tengah tertawa lepas tanpa beban. Sedangakan dirinya mati matian memikirkan cara agar bisa kabur dari sana.
Caca dengan segala ide busuknya berhasil menyeret Zoya hingga sampai didalam gedung bertingkat itu. Ditengah tengah lautan manusia yang asyik bersenda gurau.
"Ayolah Zoy buka tuh masker. Udah hilang juga coronanya."
"Malu kali dia Ca," sahut Angel.
"Kalian sih! Udah aku bilang nggak mau kesini juga, main ancam-ancam segala."
"Ya emang kamu aneh banget. Masa diajak pesta malah nggak mau. Ini kesempatan langka loh, kita bisa nikmati berbagai macam makanan enak. Sekalian cuci mata. Siapa tahu dapet yang bening."
"Ck, pikiran kamu itu cowok bening mulu Ca."
"Yaelah Ngel, kamu mah santai udah ada pawangnya. Kalau aku wajarlah, masih fresh."
"Kamu kira aku udah nggak fresh?!"
"Husstt! Kok malah ngelantur sih?" geram Zoya.
Dentuman musik sedikit meredamkan suara ketiganya. Jika tidak, mungkin mereka sudah menjadi pusat perhatian.
"Udah ya aku balik aja-"
"Eh- eh enggak ya! Enak aja main balik. Udah capek-capek seret kamu sampai kesini juga," tahan Caca mencekal lengan Zoya yang hendak membalikkan badan.
"Kamu tuh kayak ketakutan banget sih Zoy? Padahal cuma pesta kayak gini loh, tempat umum. Santai aja, toh juga ada kita. Biar sekalian kenalan sama kariyawan yang lain."
"Bukannya gitu Ngel. Aku itu nggak suka tempat ramai kayak gini."
Bulshit Zoya
"Halah, udah! Ayo kita duduk disana."
"Eh- enggak mau ya Ca! Ngapain duduk didepan, kita ambil meja disana aja ya."
"Kamu mau lihat apa Zoy duduk paling belakang? Enakan juga didepan. Biar bisa lihat jelas wajah penyambutan Pak Direktur."
Zoya kepalang panik kala tangannya digenggam Caca dan Angel. Ditarik menuju meja kosong yang letaknya dibarisan kedua paling depan. Astaga, matilah riwayatnya jika sosok yang ingin ia hindari itu tahu.
Bukankah, dia sudah mengetahuimu Zoya?
"Udah duduk disini aja. Diem! Nggak usah banyak protes."
"Itu masker buka dong Zoy. Ya ampun malu aku, masa kamu aja yang pakai masker," sahut Angel.
"Biarin. Emang salahnya apa coba? Masa pakai masker aja nggak dibolehin."
"Heh! Ini tuh udah bukan zaman virus ya. Kuno banget kalau pakai masker. Sini, lepas!"
Sial, Caca begitu gesit ketika melepas masker hijab yang Zoya kenakan. Sempurna sudah dirinya terkena apes saat ini. Tepat setelah Caca merebut masker itu, dan memasukkannya kedalam tas- suara mix dari depan berhasil membuat semuanya terdiam. Dan kini, Zoya hanya bisa mengumpati Caca dengan wajah yang ia tutupi dengan tasnya.
"Baik semua para hadirin dimalam hari ini. Mari tidak berlama lama kita menunggu sepatah dua patah dari direktur baru kita...Yang ternyata masih sangat muda para hadirin sekalian! Woaahh senang bukan jika Direktur kita ini masih terbilang single, eh- kalau memang itu benar karena saya sendiri juga tidak tahu," ujar pembawa acara diakhiri kekehan.
"Oh ya, sebaiknya tanpa menunggu lebih lama lagi- mari kita panggilkan Direktur baru kita....Tuan Alvaro genandra dipersilahkan naik keatas!"
Gemuruh tepuk tangan mengakhiri beberapa patah kata itu. Tidak hanya gemuruh diluar saja, namun ada gemuruh didalam sana yang berusaha sang empu enyahkan.
"Zoy! Kenapa ngumpet sih?" heran Caca menarik tas yang menutupi wajah Zoya. Sedang sang empu buru-buru menutupi wajahnya kembali saat menyadari sosok yang sudah bertambah tinggi itu berada ditengah tengah panggung.
"Malu banget dia kayaknya," balas Angel.
Aduh, moga aja nggak ketahuan deh
"Astaga tampan banget sih pak direktur, ihhh jadi pengen bawa pulang."
"Suutt diem Ca!"
Kalau kabur sekarang, pasti bakal naruh atensi banyak orang, batin Zoya celingukan. Pasalnya tempat yang ia duduki sekarang bisa dijangkau dari banyaknya penjuru. Apalagi, jika si mantan juniornya itu menyadari- oh good. Tidak boleh!
Entah sudah berapa lama Zoya menahan napasnya, namun terasa begitu lega kala gemuruh tepuk tangan mengakhiri pidato singkat yang sialnya tidak bisa Zoya tangkap sepenuhnya. Dia hanya sibuk menundukkan kepala tanpa tahu sosok didepannya itu sudah lebih dulu menemukannya. Tepat, setelah Zoya ditarik paksa Caca dan Angel duduk dimeja itu.
Seulas senyum tipis menghiasi wajah pria yang kini mulai berjalan menuruni tangga.
"Aarrghh keren bangett! Astagaa aku bener-bener kepincut deh sama Pak Al."
Angel menimpuk lengan Caca dengan tasnya, yang membuat sang empu mengaduh. "Jangan mimpi! Nanti kalau jatuh sakit."
"Biarin wleee!"
Dari tempatnya duduk, pikiran Zoya masih terbawa akan suara Varo yang mengucapkan beberapa kata yang seharusnya tidak diucapkan. Atau, hanya sekadar menghormati perbedaan? Tapi, kenapa dia merasa seperti ada yang aneh disini.
"Heh! Malah ngelamun nih anak."
Bibirnya mencebik kesal, menatap Caca yang sama sekali tak merasa berdosa.
"Eh itu si Zafir," ujar Angel menunjuk sosok jangkung itu sedang berbicara dengan beberapa orang.
"Kesana yuk!"
"Kalian aja. Aku mau pulang."
"Tuh kan Zoya! Nggak suka deh aku kalau mainnya mau pulang mulu. Belum juga incip-incip makanan udah mau pergi aja. Mending kita makan dulu aja, yuk!"
"Enggak ah Ca. Beneran deh, aku capek banget hari ini."
"Capek ngapain, hm?!"
"Udahlah Zoy, kita makan dulu aja ya. Baru deh boleh pulang!"
__ADS_1
Zoya mengembuskan napas lelah kala tangannya sudah ditarik oleh Angel. Sedang disisi lain, Alvaro genandra itu duduk disalah satu meja bersama dua orang dewasa berbeda generasi.
"Makasih Oma sama Sahira udah mau datang."
"Nggak perlu bilang makasih. Seharusnya Oma yang berterimakasih sudah diundang dipesta ini," balas Oma sembari mengusap lembut punggung tangan Varo.
"Iya Kak, sama-sama. Sahira seneng deh bisa datang diacara Kakak. Apalagi, ini acara penyambutan kakak naik pangkat."
"Bukan hal yang istimewa, jangan berlebihan."
"Enggak, Sahira nggak berlebihan. Semua ini pantas Kakak dapat, setelah semua usaha kakak selama ini. Alhamdulillah, Allah itu maha adil... Sahira yakin, Kakak bisa mendapat ini semua juga karena doa dan usaha Kakak yang nggak pernah putus."
"Dan semua itu juga berkat kalian berdua," sambung Varo dengan seulas senyum tulus. Menatap bergantian dua orang didepannya itu.
"Oh ya nak, bagaimana soal tempat magang buat Sahira? Apa sudah ketemu tempat yang pas?"
"Oma, Sahira bisa cari sendiri kok. Nggak perlu ngerepotin Kak Al."
"Gimana Oma bisa percaya sama kamu kalau kamu sampai salah pilih kayak kemarin. Bisa-bisanya cari kerja ditempat maksiat kayak gitu."
"Ya kan Sahira nggak tahu Oma. Sahira aja ditipu, kalau Sahira tahu tempat itu tempat jual anak-anak kecil, Sahira juga nggak akan mau ambil."
Varo terkekeh melihat interaksi kedua orang didepannya. "Sudah ada Oma. Tenang saja, Sahira bakal magang dikantor Al."
Sahira membulatkan matanya. Sedang Oma tersenyum lebar mendengar keputusan Varo yang menurutnya sangat tepat. "Loh Kak, nggak mau! Sahira nggak mau masuk lewat orang dalam. Nanti-"
"Siapa bilang masuk lewat orang dalam? Kamu pikir Kakak bakal langsung terima?"
"Tapi Kak-"
"Tenang, nanti ada tes masuknya. Aku juga udah bikin pengajuan dikampus kamu kalau kantor kakak menerima anak magang, jadi kamu bisa ajak teman kamu yang lain. Tapi tetap lewat jalur tes. Dan itu sudah lepas dari tanggung jawab Kakak, jadi jangan berpikir kamu masuk atau enggaknya itu karena Kakak. Mengerti?!"
Sahira memajukan bibirnya, yang menambah kesan imut dimata Varo. Hingga akhirnya anggukan kecil ia dapat.
Tanpa sadar, sedari awal ada sepasang mata yang mengamati ketiganya. "Loh Zoy, mau kemana?!" teriak Caca ketika Zoya melangkah pergi dari stand makanan yang sedang antri panjang.
Tanpa Caca tahu, sebelum Zoya pergi- kedua pasang diantara banyaknya mata disana saling bersitatap. Namun, hanya sedetik sebelum Zoya memutus sepihak dan berlalu dari sana.
"Hei, Kak! Lihat apa?"
"Ah, enggak."
...)( ...
Denting jarum jam malam ini terasa sangat lama. Entah karena pikirannya yang berlarian atau karena kodratnya malam ini terasa lama menjumpai esok. Hingga pagi ini, lingkar hitam dibawah matanya tercetak jelas. Sungguh mirip seperti mata panda.
"Ya ampun Zoy, kamu begadang ya tadi malam? Tuh mata jadi serem banget."
"Ck, nggak usah diperjelas dong. Malu tahu!" sahut Zoya menutup wajahnya degan kedua telapak tangan. Sedang Caca yang mengejek terkikik geli.
"Oh ya, kemarin main pergi gitu aja! Dasar nggak berperikawanan, main tinggal."
"Ya maaf. Kan udah aku bilang, aku nggak suka tempat ramai kayak gitu."
"Sebenarnya suka, tapi-"
Caca mengernyit, memandang curiga Zoya yang tak kunjung melanjutkan ucapannnya.
"Tapi apa?!"
"Enggak ada. Udah ayo balik! Nanti dicariin sama Zafir," sahut Zoya beranjak dari kursinya.
Keduanya kini berjalan keluar kantin. Sesampainya didepan lift, detak jantung keduanya berpacu lebih cepat ketika kedua pasang mata mereka menangkap sosok direktur baru melangkah mendekat.
Sial, batin Zoya yang lantas menunduk sembari merapatkan tubuhnya disamping Caca. "Astaga Zoy, lihat itu Pak Direktur mau kesini, arrghhh nggak kuat Zoy," bisik Caca yang langsung mendapat cubitan kecil dilengan dari Zoya.
Plis, jangan sampai tahu.
Zoya hampir saja berlari ketika pintu lift terbuka bersama beberapa orang yang beranjak keluar, naun usaanya gagal karena Caca menariknya telak masuk lift diikuti Galih dan Varo. Benar-benar takdir yang tidak bisa diajak kompromi.
"Zoy, ngapain sih?" bisik Caca sembari membalikkan tubuh Zoya secara paksa. Hingga netra Zoya dapat secara langsung melihat punggung tegap tinggi itu tepat didepannya.
Tubuhnya bahkan sudah panas dingin bersama degup tak beraturan. Tidak memperdulikan Caca yang menyenggolinya.
"Tuan, nanti ada pertemuan dengan pemilik perusahaan setelah makan siang."
"Hm."
Ting
Zoya melebarkan mata ketika sadar bahwa lantai yang ia tuju sudah didepan mata. Dan artinya, dia dan Caca harus melewati dua manusia didepannya saat ini. Oh good!
"Ayok!" ucap lirih Caca sembari menarik tangan Zoya. Sedang dua lelaki itu bergeser memberi jalan. Dengan Zoya yang masih setia menundukkan kepalanya. Namun, baru saja langkahnya melewati pintu lift- suara familiar sosok itu berhasil membuat tubuhnya membeku bersamaan suara lift yang kembali tertutup.
"Lama tidak bertemu."
...)( ...
Daripada pusing memikirkan kejadian pagi tadi, malamnya sehabis shalat maghrib Zoya berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah mini market yang tidak jauh dari tempat kosnya.
"Apa maksudnya tadi? Apa dia udah tahu-"
Suara Zoya tercekat, tidak saggup memikirkan kemungkinan kemungkinan yang membuatnya semakin pusing.
Tanpa ssdar, pintu mini market sudah berada didepan matanya. Hari ini, Zoya berencana membeli bahan makanan untuk beberapa hari kedepan.
"Selamat malam!" sapa petugas kasir dibalas senyum ramah Zoya.
Langkah kakinya ia bawa menuju tempat bagian bumbu-bumbu masakan. Namun detik selanjutnya, tangan itu serasa kaku ketika tatapnya bertemu dengan sorot yang tak asing.
Detik berjalan konstan kala keduanya melengkungkan senyum sapaan. Hingga suara Zoya yang pertama kali memecah canggung diantara keduanya.
"Hai! Vero, kan?"
__ADS_1
Lelaki dengan kemaja warna hitam itu mengangguk. Menyunggingkan senyum teramat tipis. Lantas memangkas jarak antara keduanya.
"Kak, Zoya."
Zoya tidak habis pikir, sudah enam tahun dirinya tidak bertemu dengan dua anak kembar itu. Dan sekarang, dalam waktu satu hari dia bisa bertemu dengan kedua anak itu.
"Apa kabar?" tanya Zoya memecah hening yang hampir menyiksa keduanya. Disini, dibangku depan mini market keduanya saling bersitatap.
"Baik. Kak, Zoya sendiri?"
"Alhamdulillah, baik."
Hening kembali mengambil alih beberapa menit. Sampai Vero kembali membuka suaranya. "Sekarang, Kak Zoya disini kerja, kuliah, atau ngapain?"
Zoya terkekeh sebelum membalas pertanyaan Vero yang terdengar kaku. "Nggak usah panggil Kak. Aku bukan lagi senior kamu. Panggil Zoya aja, jangan terlalu kaku."
Vero mengangguk pelan.
"Udah nggak sedingin dulu ya, kamu." lanjut Zoya lirih. Merasa aneh dengan panggilan baru aku-kamu.
Vero terkekeh pelan.
"Emm sekarang sih aku baru aja diterima kerja."
"Di mana?"
Pertanyaan Vero berhasil menegangkan urat-urat Zoya. Sial, pasti Vero tahu jika tempat kerjanya sama dengan sang kembaran, pikir Zoya.
Padahal, Vero tidak tahu apa-apa.
"Ah-emm itu diperusahaan penerbit buku."
Ya, Zoya tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang bekerja diperusahaan penerbitan buku, tanpa memberitahu nama perusahaan itu.
"Oh..." balas Vero mengangguk anggukkan kepala tanpa menaruh curiga.
"Kalau kamu sekarang?"
"Dirumah sakit."
Kedua alis Zoya menyatu. "Rumah sakit, maksudnya?"
"Kamu jadi Dokter?" tebak Zoya setelahnya.
Vero hanya tersenyum tipis. Hingga dia bisa melihat pancaran kedua bola mata Zoya. "Woaahh kamu hebat Ver!"
"Belum. Belum jadi Dokter sungguhan. Masih coass."
"Sama aja, habis ini kamu bakal jadi Dokter. Bahkan sekarang udah bisa dipanggil Pak Dokter dong."
"Belum. Masih proses."
Zoya memutar bola matanya jengah. Masih saja sama. Jika berdebat dengan dua anak itu pasti berujung lama.
"Oke, terserah kamu."
Zoya memutar otaknya, masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Vero. Tentang semuanya, tentang mereka yang sempat ia lupakan.
"Emm..gimana kabar tante Miranti sama- Varo?"
Cukup lama tidak ada jawaban. Sampai Vero tersenyum samar bersama anggukan pelan yang terlihat aneh dimata Zoya. Seperti ada yang Vero sembunyikan dari perubahan rautnya yang meredup.
"Baik."
"Alhamdulillah, emm- sekarang tinggal dimana?"
"Udah malam, aku antar pulang sekalian ya," ujar Vero sembari melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sedang Zoya mengernyit heran, seakan Vero sengaja mengalihkan pertanyaan yang ia beri tanpa memberi jawaban.
"Ah- aku pulang sendiri aja. Nggak apa-apa, dekat kok."
"Enggak apa aku antar, sekalian biar tahu rumah Kak Zoya dimana."
"Hmm, Zoya aja!"
"Ah- iya. Lupa."
"Ayo!"
"Eh-"
Zoya tidak lagi mengelak saat Vero mengambil alih belanjaannya. Memasukkannya kedalam mobil Vero.
Zoya menggigit bibir dalamnya, masih terdiam meski tempat tujuannya sudah didepan mata. Menoleh perlahan kearah Vero yang menatapnya seakan bertanya ada apa?
"Emm- itu, jangan bilang sama Varo ya kalau kamu ketemu sama aku."
"Kenapa?"
"Ya, eng- gimana ya..pokoknya jangan, oke?!"
"Iya."
Lagian, aku juga nggak akan bisa bilang. Ketemu aja, baru kemarin.
...♡♡♡...
...MAAF BARU BISA UPDATE...
...TUGAS MAINNYA KEROYOKAANN:(...
...VOOTTEEE🥺❣...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^