
...Ada yang pernah berkata, jangan bicara jika sedang emosi. Karena apa yang keluar dari emosi hanyalah awal dari penyesalan....
Mega diatas sana mulai menampakkan warna orange ketika dua bus besar itu berhenti didepan Sekolah Adi Bangsa. Setibanya mereka sudah disambut oleh para orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka kemarin. Hingga pelukan hangat beberapa dari mereka rasakan. Salam perpisahan untuk bertemu kembali dihari esok. Tepat tanggal empat semua kembali belajar tatap muka. Menjalani rutinitas sebagai seorang pelajar seperti biasanya.
Hendak saja langkah Zoya dan Lia melangkah masuk kedalam sekolah guna mengambil motor Lia. Namun urung kala cekalan dari Lia mengalihkan atensi Zoya.
"Zoy, itu bukannya Bang Arex ya?"
Zoya mengikuti arah pandang Lia. Dan, benar. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada Arex duduk diatas motornya yang juga menatap kearah mereka berdua. "Ngapain tuh orang disini?"
"Samperin gih!"
Belum sempat Zoya membalas ucapan Lia, Arex lebih dulu menganggukkan kepala. Memberi isyarat agar Zoya mendekat. "Tuh, dipanggil! Buruan samperin. Gue tunggu disini."
Kedua alis Zoya mengernyit. Antara malas mendekat, tetapi jiwa penasaran juga muncul dibenaknya. Hingga mau tak mau ia melangkahkan kaki menghampiri Arex.
"Ngapain?" tanya Zoya setelah sampai didepan Arex yang masih memasang wajah datar.
"Udah selesai?"
"Udah. Ini juga mau pulang."
"Naik!"
Zoya menukikkan alis. Menatap wajah dingin Arex yang entah mengapa membuat Zoya memiliki banyak pertanyaan. Kenapa laki-laki itu bisa ada disini? Lebih ngaco lagi menyuruh Zoya naik, maksudnya?
"Apaan sih Rex nggak-"
"Gue bilang naik!" seloroh Arex penuh penekanan disetiap katanya. Dan jangan lupakan tatapan yang berubah tajam itu. "Gu- gue bareng Lia aja."
"Nggak. Naik!"
Zoya memekik tak suka kala Arex merampas tas punggungnya. "Iya-iya, dasar! Bentar gue bilang dulu sama Lia," ujar Zoya lantas berlari kecil menghampiri Lia yang tak beranjak sejengkal pun dari tempat semula.
"Ada apa Zoy?"
"Nggak tahu tuh si Arex! Nggak jelas banget. Masa gue disuruh naik! Naik! Lagi kumat jiwa irit bicaranya. Kesel banget gue ihhh," gerutunya dengan wajah memerah.
Lia terkikik geli. Menepuk pundak Zoya lalu membalikkan tubuh sahabatnya itu. "Udah sana pulang! Jadi adik yang penurut sekali ini aja. Okey?!"
Tubuh Zoya terdorong. Melambaikan tangan ke Lia tanpa membalikkan badannya lagi. Moodnya sudah buruk.
Lia mengamati kedua orang beda generasi itu hingga hilang ditelan belokan. Lantas dirinya masuk kedalam sekolah.
Sepanjang perjalanan pulang, Zoya hanya diam. Enggan membuka suara meski banyak pertanyaan yang ingin ia tanya. "Lo disuruh Nenek buat jemput?" tanya Zoya pada akhirnya.
Tidak ada balasan. Hanya suara kendaraan lain yang menjadi backsound diantara keduanya. "Rex! Denger nggak sih?"
"Berisik!"
"Nyebelin!"
Sesampainya dirumah, mega diatas sana sudah berubah gelap. Berganti cahaya bulan dan bintang menerangi bumi. Namun, detik setelah Zoya merasa tidak menemukan keberadaan Neneknya, anak itu menatap Arex penuh tanya. Sedang yang ditatap hanya menunjukkan wajah datar.
"Nenek di mana?"
"Beresin baju-baju lo yang penting! Terutama seragam sekolah. Bawa sekalian buku-"
"Lo ngomong apaan sih? Jawab dulu, Nenek mana? Kok nggak ada."
"Nurut aja dulu. Bisa?!"
Keduanya saling melemparkan tatapan mengintimidasi. Membuat ruang kosong disana terasa lebih dingin. Merasakan aura keduanya yang saling menolak memberi ketenangan. "Gue tanya sekali lagi. Lo tahu kan, Nenek dimana?" lanjut Zoya penuh penekanan.
"Besok gue ajak ketemu Nenek. Sekarang beresin barang-barang lo. Beberapa hari kedepan tinggal dirumah gue. Dan itu termasuk perintah Nenek."
"Hah? Jangan ngaco deh, Rex. Lo tiba-tiba jemput gue, terus suruh beres-beres mau tinggal dirumah lo. Nenek juga nggak ada di rumah, maksudnya ini gimana sih?!"
Arex menghela napas berat. Mengusap wajahnya kasar sebelum kembali mengeluarkan suara dengan emosi yang berusaha ia redam. "Nggak usah banyak tanya kalau lo pengen tahu Nenek di mana. Sekarang ikuti apa yang gue suruh!"
"Siapa yang suruh gue nginep dirumah lo?" tanya Zoya tanpa ekspresi. Sudah muak dengan sikap Arex yang terlalu berada di ambang ketidak warasan.
"Nenek sama Tante Yuli."
"Hah, Ibu?"
"Hm."
Zoya makin tidak paham dengan kondisi sekarang. Kenapa Ibunya juga Arex bawa dalam situasi ini? Sebenarnya apa yang terjadi?
"Serius, Ibu gue?"
Mata Arex melotot tajam hingga membuat Zoya mengangkat kedua tangan dengan senyum pepsoden. Lantas berlari kecil memasuki kamarnya tanpa bertanya sepatah kata lagi. Dari pada membangunkan emosi Arex yang sudah berada di ubun-ubun.
Kini, motor dengan dua nyawa diatasnya itu mulai membelah jalan yang cukup padat. Tanpa sadar ada tiga nyawa yang mengikuti dari belakang. Hingga lampu merah keduanya tetap belum menyadari. Namun, ketika Zoya menangkap sosok dari balik spion- kepalanya tertoleh ke belakang. Hingga kernyitan didahi tercetak jelas disana.
Lampu berubah hijau, melajukan kembali kuda besi itu. Berulang kali Zoua menoleh ke belakang, sampai detik setelah Arex menangkap satu sosok dari balik kaca spionnya- detik itu suaranya mengalun begitu lantang.
"Pegangan!" teriak Arex sembari menarik tangan Zoya agar memeluknya. Dan setelahnya, motor itu melesat begitu cepat tanpa peduli teriakan Zoya dibelakang.
Dan benar saja, tiga orang itu juga menancap gas. Mengikuti Arex yang sudah kalap ditengah kemerlap lampu kendaraan.
"WOY REX KALAU MAU MATI NGGAK USAH NGAJAK-NGAJAK! BERHENTII GUE BELUM SIAP MATI!"
"BERISIK!"
Pasrah. Sungguh, Zoya hanya bisa memeluk erat Arex sembari menutup rapat matanya. Trauma akan kecelakaan sewaktu kecil dahulu perlahan bangkit. Tanpa sadar, kedua sudut matanya mulai berair. Juga getar dari kedua bahunya. "Pliss pelan-pelan," gumamnya yang masih bisa Arex dengar.
"MINGGIR PENGECUT!"
__ADS_1
Arex tersenyum miring mendengar teriakan dari lawannya yang sudah berada disamping. Sebelum motor itu berbelok, Arex sempat mengacungkan jari tengah. Memberi salam perpisahan ketika tiga motor itu melesat lurus. Sedang Arex sudah berhenti didepan kantor polisi. Mungkin, ini pilihan yang tepat. Pasalnya kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk melawan tiga orang itu. Apalagi melihat Zoya yang masih mengeratkan pelukannya dengan isakan yang semakin menjadi.
"Lepasin Zoy. Turun dulu."
Mata itu perlahan terbuka, lantas melepas tangannya dari perut Arex. Menghapus air matanya kasar. "Arex gila! Bodoh! Jelek! Nggak punya hati! Benci gue sama lo! Hiksss...hikkss..."
Arex yang sudah turun dari motornya masih setia bersedekap. Menatap datar Zoya yang berusaha mengatur napasnya. Benar-benar tidak berperikemanusiaan. Bukannya menenangkan malah bersikap tak acuh. Bukannya tidak tahu jika adik sepupunya itu punya trauma dengan sepeda motor.
"Maaf ini ada apa ya? Ada yang bisa kami bantu?"
"Ah, tidak ada masalah apa-apa kok Pak," balas Arex menatap kedua polisi yang menghampiri.
"Terus ini mbaknya kenapa nangis?"
Zoya segera turun dari motor. Memaksa isakannya untuk berhenti. Takut-takut jika kedua polisi itu salah paham akan keadaan keduanya.
"Itu Pak tadi adik saya habis kecopetan. Makanya nangis, tapi tenang aja kita nggak jadi lapor. Percuma, copetnya juga udah kabur jauh," balas Arex diakhiri senyum meyakinkan.
Sengaja nyumpahin gue kecopetan, ya! Batin Zoya.
Setelah perbincangan panjang lebar dengan kedua polisi itu, Arex bernapas lega. "Pulang sendiri sana! Gue mau naik taksi," ujar Zoya lantas beranjak pergi tanpa balasan maupun cegahan dari Arex.
"Shoopee jual orang nggak ya? Pengen banget gue jual sepupu nggak punya perasaan kek Arex!" gerutu Zoya.
...)(...
Denting sendok yang bersentuhan dengan piring itu menjadi satu-satunya suara diantara diamnya kedua orang disana. Menikmati sarapan pagi dalam hening meski diawali dengan adu mulut sebelum menyantap nasi goreng yang kelebihan kecap itu. Sampai akhirnya, Arex mau tidak mau menelan nasi goreng super duper manis ala chef Zoya.
"Telen!" tekan Zoya kala Arex hendak memuntahkan isi didalam mulutnya itu.
"Gini nih kalau cewek nggak pernah masuk ke dapur," lirihnya setelah meneguk segelas air putih.
"Enak aja! Gue biasa masak ya."
"Iya. Masak air."
Zoya menggeram. Mengeratkan sendok yang ia genggam. Menatap bengis wajah didepannya yang sangat menyebalkan. "Semua orang ke mana sih Rex?"
"Ke Mars," balas Arex asal. Sembari terus menyuapkan nasi goreng hitam itu. Ya, terpaksa. Perutnya terlalu lapar tanpa memperdulikan rasa manis yang membuatnya mual.
"Gue serius!"
"Tante juga nggak ada. Kalau Om jelas udah balik ke Surabaya. Lah ini, Nenek sama Mama lo ilang gitu aja. Kalian lagi ngeprank gue atau gimana?!"
"Nggak ada gunanya ngeprank lo! Kurang kerjaan."
"Terus? Dari kemarin lo berbelit mulu kalau ditanya!"
Arex mendengus sebal. Menatap kedua manik mata Zoya tajam yang membuat sang empu berdehem.
"Entar pulang sekolah lo juga tahu sendiri. Stop tanya ini itu!"
Hanya ada decakan yang keluar dari mulut gadis itu. Lantas kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda.
"Kenapa tanya gitu?"
"Ya, karena gue kenal sama dia. Lo, juga kenal?"
Arex spontan meletakkan sendoknya. Mengalihkan fokus sepenuhnya kepada Zoya. "Lo kenal sama, Juna?!"
Zoya mengangguk. "Jadi, namanya Juna?"
"Dia, saudara tirinya Varo sama Vero kan," lanjut Zoya.
"Kok bisa kenal? Tahu dari Varo?"
Diamnya Zoya semakin memicingkan kedua mata Arex. Hingga cukup lama akhirnya Zoya memberanikan diri untuk jujur. Mungkin, Arex adalah orang yang tepat untuknya bercerita tentang masalah itu.
"Lo masih ingat waktu kemarin gue bawa Vero kesini terus pinjam baju?"
Arex mengangguk. Membiarkan Zoya kembali bersuara.
"Nah dari situ gue ketemu sama si Juna-Juna itu. Lebih tepatnya sama mereka berdua di warung. Dan asal lo tahu, gue ketemu Vero dalam keadaan mabuk. Makanya gue suruh dia mandi disini."
Arex mengangguk anggukkan kepala seakan paham. Tidak menunjukkan ekspresi kaget sama sekali. "Lo, nggak kaget gitu tahu Vero mabuk?"
"Enggak. Udah tahu dari lo bawa dia kesini."
"Terus gue juga mau kasih tahu kalau waktu dia pinjam KTP lo itu juga buat beli minuman."
"Hah? Lo serius?!"
Kali ini, raut Arex benar-benar tidak percaya. Pantas, Zoya melarang meminjamkan KTP nya kepada Vero. "Iya. Serius, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri."
"Jadi itu alasan lo dulu ngelarang?"
Zoya mengangguk. Keduanya diam sejenak dalam pikiran masing-masing. Jujur, masih sulit untuk keeduanya pahami. Kenapa anak sependiam Vero bisa berbuat seperti itu?
"Varo tahu?"
"Enggak. Kalau pun Varo tahu pasti udah habis Vero kena damprat."
"Kenapa nggak lo kasih tahu?"
"Gue juga bingung. Dilain sisi gue udah janji sama Vero buat nggak bilang sama Varo. Tapi gue pikir-pikir lagi, Varo berhak tahu."
Arex mengelus dagunya sembari menatap langit-langit dapur. Hingga kernyitan didahinya semakin dalam. "Gue nggak yakin Vero lakuin itu kalau nggak ada penyebabnya. Ada yang ganjal."
"Maksudnya?"
"Gue curiga sama si brengsek Juna."
__ADS_1
...)(...
"Sepi ya nggak ada Reihan."
Vero membuang napas berat. Menoleh kearah sang kembaran yang menatap angkasa biru diatas sana. "Dia udah tenang."
"Hm. Tungguin gue ya Rei," balas Varo yang mendapat tatapan tak suka dari Vero.
"Ngaco!"
Varo terkekeh. Lantas berdiri dari duduk sembari meregangkan otot-ototnya. Menatap lurus kedepan dimana teman-temannya sedang asyik bermain basket.
"Ada Jeslyn, samperin gih!"
Vero mengikuti arah pandang Varo, dimana ada Jeslyn bersama satu temannya sedang duduk disalah satu bangku taman. "Males."
"Ck, kapan jadiannya kalau PDKT aja nggak ada kemajuan."
"Biarin. Dari pada lo!"
"Emang kenapa sama gue?!"
"Udah jelas-jelas ditolak. Masih aja nggak sadar diri!"
Varo yang tidak terima akan hinaan adiknya itu lantas mengapit leher Vero. Membuat sang empu menggeram kesal. "Mulutnya nggak bisa disaring dulu, ya?!"
"Suka bener lagi. Ck!"
Vero terkekeh ketika tangan Varo lepas dari lehernya. Menatap sang Kakak dengan wajah yang tertekuk lesu. "Ganti cari yang lain."
"Yang penting, seiman."
Detik itu, suara Vero kembali menggema. Membuat orang-orang disekitar mengalihkan atensi kepada dua orang yang kini bergelut diatas rerumput.
Suara bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Tetapi tidak membuat salah satu nyawa itu beranjak. Sebelumnya, kepala itu terbenam diantara kedua tangan. Namun suara ketukan membuatnya mendongak. Menemukan satu makhluk yang sedari tadi terus menngganggu.
"Kok, nggak pulang?"
"Ck! Pulang aja sana. Nggak usah ganggu."
"Nggak ada yang mau ganggu," balas Varo mendudukkan tubuhnya didepan Zoya yang kembali menenggelamkan kepala. Sesaat setelah suara Varo kembali menguar detik itu juga kepala Zoya kembali terangkat.
"Sekarang bukan waktunya Kak Zoya bersihin perpustakaan, ya?"
"Hah? Emang tanggal berapa sekarang?"
"Tanggal empat."
"Astaga iya. Kok bisa lupa sih?!" ujar Zoya sembari menepuk jidatnya.
"Tunggu..."
"...Lo tahu dari mana kalau sekarang jadwal gue piket? Terus kok lo tahu kalau gue bagian dari pustakawan remaja?"
Varo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membeberkan cengiran andalan sebelum melontar balasan yang membuat Zoya tercengang. "Kan, Varo punya mata-mata. Varo juga tahu, besok Kak Zoya ada les matematika di Jalan Anggrek. Sama dua hari lagi Kak Zoya bakal sibuk latih smaphore buat anak-anak pramuka. Mau ada lomba kan, ya Kak?"
"Heh! Lo tahu dari mana?!"
"Ada lah."
"Nggak usah main-main, ya! Gue nggak suka sama orang yang main cari tahu privasi orang seenaknya!"
"Stop cari tahu tentang gue, Varo!"
Cukup lama hening menguasai keduanya. Sampai hela napas berat keluar begitu saja dari mulut Zoya. Menatap serius kearah Varo yang juga membalas tatapannya dengan binar menyala.
"Gue tahu Var, lo suka sama gue. Tapi plis jangan kayak gini. Lo tuh bikin gue malu sama kelakuan lo selama ini. Lo nggak tahu kan rasanya di ejek sama teman-teman pas mereka salah paham sama hubungan kita?! Gara-gara lo ngaku kita pacaran, gue jadi bahan omongan tahu nggak! Dan gue paling nggak suka jadi bahan sorotan. Lo belum paham deh apa yang gue omongin di chat waktu itu?!"
Zoya menarik napas dalam sebelum kembali mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini ia pendam. "Gue hargai perasaan lo Var. Tapi kalau lo terus-terusan kayak gini, gue jadi ilfeel sama lo!"
Binar dikedua bola mata hitam pekat itu seketika meredup bersamaan dengan senyumnya yang luntur. Memandang sendu wajah Zoya yang memerah dengan napas naik turun.
Sungguh, Zoya benar-benar mengeluarkan rasa tidak nyamannya selama ini. Dia tidak suka saat Varo selalu mendatanginya dikelas dan berakhir dengan ocehan menggoda dari teman sekelas. Dia tidak suka menjadi bahan sorotan seperti itu. Apalagi Varo dan Vero adalah salah seorang yang sedang naik dalam kalangan gosip sekolah karena bakatnya dalam bernyanyi. Dan itu membuat gosip tentang Zoya dan Varo merambat begitu cepat.
Sudah cukup kerisihan yang Zoya tahan. Mungkin mengatakan terang-terangan kepada anak itu adalah hal yang tepat. Tapi kenapa disela sela kelegaannya, ada rasa sesal yang menyakitkan? Dadanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata.
"Maaf Kak," ujar Varo teramat pelan.
Ya, mungkin caranya terlalu kekanak kanakan. Tapi, kenapa rasanya semenyakitkan itu?
Zoya membuang wajahnya kala kedua netra itu hampir bertemu. "Gue nggak pantas buat lo, Var."
Karena sampai kapanpun kita berharap. Iman yang akan menjawab. Menolak kata bersatu menjadi nyata.
"Tapi, Varo masih mau tepatin janji. Dan, Kak Zoy juga harus tagih janji itu."
Zoya terdiam. Mencermati kata demi kata yang Varo lontarkan. Hingga detak didalam sana kembali berpacu melebihi batas normal.
Iya, dia masih ingat apa 'janji' yang dimaksud. Janji yang berawal dari candaan Zoya kala itu. Keseriusan.
"Nggak akan bisa. Dan nggak akan pernah terkabul, Varo."
...♡♡♡...
...《Setelah sekian purnama akhirnya kembali》...
...VOOTEEEE FRIENDSS🥰...
...Masih ingat Janji yang semula terlontar?...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^