
...Serumit apapun keadaan yang ada didepanmu, jangan pernah takut melewatinya. Jika tidak berlari, berjalanlah! Asal jangan berhenti....
Seperti tak mengerti situasi, angkasa diatas sana terus mejatuhkan tangis seakan akan pagi ini terlalu indah untuk matahari menghangatkan Bumi. Kaki-kaki kecil itu berlarian mencari tempat berteduh. Pukul setengah tujuh yang seharusnya menampakkan secercah sinar itu sirna tak kala tetesan air terus menghujami tanah tanpa peduli aktivitas orang-orang pagi ini. Dan disinilah gadis itu berada, depan ruko yang masih tutup bersama beberapa orang yang juga berteduh. Seragamnya sedikit basah, dengan gerutuan kecil keluar dari mulutnya.
"Please deh jangan hujan dulu, ini masih pagi loh. Yang bener aja," gumamnya sembari menggosok nggosokkan kedua telapak tangannya.
Dilihatnya lalu lalang orang yang mulai berlari menghindari hujan juga orang-orang yang nekat menerobos. Hingga iris coklat itu berhenti tepat pada sosok yang turun dari motornya. Ikut berdiri diantara orang-orang yang ada di sana. Namun, sosoknya itu belum menyadari akan hadirnya disini.
Bibir itu terangkat tipis melihat anak itu kedinginan dengan kedua tangan mengusap lengannya berulangkali. Hingga langkahnya ia bawa mendekat, dan baru sosok itu menyadarinya. Terlihat dari bagaimana mata anak itu sedikit membola.
"Dingin ya?," ujar Zoya setelah berdiri tepat disamping dia- yang tak lain Varo.
"Nggak kompromi banget emang. Udah tahu mau sekolah juga."
Varo tersenyum kecil, mengangguk membenarkan. Keduanya terdiam lama, menatap hujan yang semakin deras tiap detiknya. Sampai beberapa orang disana nekat menerobos, mungkin karena kesibukan yang tak bisa ditinggal.
"Ini mau sampai kapan nggak berhenti? Udah jam tujuh kurang sepuluh menit lagi," gerutu Zoya melirik jam dipergelangan tangannya.
Netranya beralih menatap Varo yang hanya diam memandang lurus kedepan yang terlihat buram akan derasnya hujan. Zoya menghela napas pasrah, anak itu tak seperti biasanya yang suka berisik. Bahkan, sedari tadi suaranya belum Zoya dengar sama sekali. Dan itu, membuat Zoya semakin cemas akan keadaan yang jelas tidak baik-baik saja.
"Var!."
Varo menoleh dan hanya mengangkat kedua alisnya seakan bertanya ada apa?
Nah, bukan balasan itu yang Zoya inginkan. Hanya sekedar mengangkat kedua alis? Itu seperti bukan dirinya.
"Yakin mau sekolah?."
Varo mengernyit, pertanyaan Zoya membuatnya tak mengerti. Bahkan Zoya sendiri tidak tahu kenapa ia mempertanyakannya. "Ahh lupakan," sahut Zoya mengibaskan tangan kanannya.
Dan hening sialan itu kembali menelusup diantara keduanya. Canggung yang terasa menyekat sama sekali tak Zoya sukai. Dia, dia ingin mendengarkan ocehan tak jelas dari anak itu.
"Lo sakit gigi, ya?."
"Hah?."
Zoya memutar bola matanya kesal. Lihatlah, Varo sekarang seperti orang tolol didepannya. "Ya dari tadi diem aja, kayak orang gila tahu nggak gue ngomong sendiri."
"Ah sorry kak."
"Udahlah, kembaran lo mana? Nggak sekolah?."
"Udah berangkat tadi pagi, paling udah sampai Sekolah."
Suara Varo sedikit berbeda hari ini. Dan wajahnya kini tak luput dari netra Zoya yang menelisik setiap incinya. Benar saja, saat punggung tangannya ia tempelkan didahi Varo- panas menjalar dilapisan kulitnya. Apa itu artinya, Varo demam?
"Badan lo panas, lo sakit ya? Kenapa masuk sekolah sih kalau sakit? Hujan hujanan lagi."
Varo menempelkan punggung tangannya didahi, sedetik kemudian senyum anak itu mengembang. "Nggak panas Kak, tangan Kak Zoya tuh yang dingin."
"Nggak panas apanya, jelas-jelas lo deman. Tuh lihat muka lo aja pucet."
Hendak Varo kembali membuka suara, tapi intrupsi dari remaja lain mengalihkan atensi keduanya. "Woy, lo mau telat? Terobos aja lah! Nunggu reda mah sampai lumutan lo di sini."
Cowok berseragam itu melangkahkan kakinya, lalu menancap gas meninggalkan Varo dan Zoya disana. Benar, semua orang sudah pergi. Tidak peduli akan tubuhnya yang basah.
"Terobos aja yuk Kak! Hujannya masih lama, nggak bakal terang ini."
Zoya mengernyit tak setuju. Sekarang bukan masalah telat atau hujan yang tak mau berhenti- tapi masalahnya anak itu sedang tidak baik-baik saja.
"Nggak ya! Gue nggak mau lo tambah sakit kena hujan."
"Tapi sampai kapan mau disini terus kak? Varo juga nggak sakit, nggak apa-apa beneran deh,"balas Varo mengangkat kedua jarinya.
"Keras kepala banget sih lo! Nggak mungkin juga guru marah kalau kita telat gara-gara hujan. Toh gue yakin mereka bakal ngelarang kita hujan-hujanan."
Iya, Varo dan keras kepalanya itu tak akan pernah terpisah. Jelas-jelas wajah anak itu sekarang semakin terlihat pias. "Varo ada ulangan matematika jam pertama Kak. Kak Zoya tahu kan wataknya Pak Satya gimana?."
Ya, Zoya tahu bagaimana disiplin dan tegasnya aturan yang dibuat Pak Satya. Telat satu menit dalam kelasnya saja sudah tidak diijinkan mengikuti pelajarannya sampai selesai. Apalagi ini ulangan, tidak akan ada remidi atau ulangan susulan bagi guru Matematika kelas sepuluh itu.
"Masih bisa mikirin ulangan ya lo?! Lihat keadaan lo dulu dong Var!."
__ADS_1
"Tapi Varo nggak apa-apa Kak!."
"Nggak apa-apa gimana? Badan lo aja demam, tuh muka juga pucet banget lagi. Masih bilang nggak apa-apa?."
Zoya dengan kesal menarik lengan Varo agar duduk dikursi panjang yang ada dibelakang mereka. Tak banyak menolak, Varo mengikuti Zoya tanpa ada bantahan lagi. Percuma jika berdebat terus. Karena kenyataannya memang benar, tubuhnya merasa sedang dalam keadaan yang tak sehat sekarang. Dengan bagaimana denyutan dikepala yang semakin terasa, apalagi hawa dingin membuat tubuhnya terasa beku.
Zoya membuka tasnya, mengambil jaket yang selalu ia bawa. Meletakkannya diatas paha Varo yang kemudian menatapnya dengan tanda tanya.
"Pakai! Biar nggak masuk angin."
"Nggak usah Kak Zoya pakai-."
"Udah pakai! Gue pakai lengan panjang nih, nggak dingin kok."
Hendak Varo kembali berujar sebelum kalimat mutlak Zoya kembali terdengar. "Pakai sendiri atau gue bantu pakai-in?!."
Varo mendengus, mau tak mau memakai jaket berukuran besar itu hingga hangat bisa ia rasakan. Detik selanjutnya atensi Varo beralih ke iris coklat Zoya yang menuntut balasan. "Lo udah sarapan?."
Hanya gelengan yang Varo berikan. Dan helaan napas kasar lagi-lagi keluar dari mulut Zoya. "Lain kali jangan telat makan. Sarapan itu penting, kalau lo nggak mau rasain sakitnya punya magh. Jangan coba-coba sama masalah lambung," cerocos Zoya sembari membuka kembali tasnya dan mengambil kotak bekal yang selalu Zoya bawa setiap ada ekstra.
"Nih makan dulu! Nggak usah ditolak, tinggal makan aja!."
"Eng-."
"Makan sendiri atau gue suapin?!."
Varo kembali mendengus menerima paksa kotak bekal yang sudah ada ditangannya. "Beneran nggak usah-."
"Diem! Makan! Paham?!."
Selesai sudah perdebatan kecil itu tak kala Varo menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya dengan terpaksa. Membantah sekali saja mungkin sekarang bukan tangannya yang menyuapkan makanan itu, melainkan tangan Zoya yang memaksa anak itu menelannya.
"Kak Zoya makan juga, ya?!," ujar Varo teramat lirih. Takut jika perkataannya akan salah lagi nantinya.
"Hah?."
Zoya tahu maksud Varo saat bekal ditangan anak itu sedikit terangkat dengan raut seakan menawarkan dirinya untuk ikut memakan bekal itu. "Nggak usah makan aja. Gue udah sarapan tadi."
Suapan demi suapan yang terasa hambar dimulut Varo itu juga tak membuat hujan didepan sana berniat untuk menyudahi guyurannya. Dihening yang cukup panjang, lamunan Zoya perlahan berlari kemana mana. Cukup gila untuk memikirkan kejadian ini seperti di novel-novel yang ia baca. Sangat noveleable banget nggak sih? Ah gila, jangan terlalu melantur.
"Udah? Kok nggak dihabisin?."
"Udah kenyang Kak."
Zoya menerima kotak bekal itu, kemudian memasukkannya kembali kedalam tas. Melirik jam dipergelangan tangan yang menunjukkan setengah delapan. Waktu berjalan cepat tanpa mereka sadari.
"Entar biar gue bantu bilang sama Pak Satya. Biar bisa ikut ulangan susulan."
"Emang Kak Zoya berani?."
"Berani lah, ngapain takut kalau nggak salah."
Keduanya kembali terdiam dalam pikirannya masing-masing. Sampai suara Zoya merayap diantara gemuruh hujan itu. "Semalam, lo tidur di mana?."
Ada jeda sebelum Varo membalas pertanyaan Zoya.
"Di rumah sakit."
"Vero juga?."
Varo mengangguk. Mengalunkan kata maaf didalam hati kala ia berbohong. Iya, benar jika semalam keduanya ada di rumah sakit. Tapi, untuk masalah tidur- Varo dan Vero tak bisa membenarkan itu. Pasalnya semalaman mereka hanya diam di ruang tunggu degan pikiran negatif yang terus menghantui keduanya.
"Ngerasa pusing, nggak?."
"Enggak, dibilangin Varo baik kok."
Zoya berdecak, dia tahu. Bahwa kata baik yang anak itu katakan berbanding terbalik dengan sorot wajahnya.
Varo memejam tak kala denyutan itu kembali membuat kepalanya terasa sakit. Sekedar bersuara untuk membalas pertanyaan Zoya saja sangat sulit, membuka matanya hanya akan membuat pening itu semakin menyiksanya.
"Sepulang sekolah lo mau balik ke rumah sakit?."
Mendapati respon lama Varo, gadis itu menoleh. Mendapati Varo bersandar dengan mata terpejam saja sudah membuatnya takut. "Var, lo kenapa?," tanyanya menggoyang bahu Varo.
__ADS_1
Varo bergumam tak jelas sembari memijit pelipisnya. Dan itu semakin membuat Zoya kalut. "Aduh hujan nggak reda-reda lagi, ck."
"Sakit banget Var? Pusing, atau gimana? Mana yang sakit? Badan lo tambah panas nih. Jawab Var, jangan bikin gue takut dong," gerutunya ikut memijit kepala Varo yang enggan membuka mata.
"Nggak apa-apa Kak. Cuma pusing aja, ntar juga ilang."
"Ck, lo tuh nggak apa-apa aja dari tadi. Kalau sakit bilang! Nggak ada yang bakal marahin lo kok."
Varo tersenyum, perlahan membuka kedua matanya yang langsung menangkap jelas pancaran dari kedua netra Zoya yang terlihat mencemaskannya. Ah, sungguh anak itu tidak ingin terbang tinggi sekarang. Tapi, apa boleh buat. Momen seperti ini yang selalu dirindukannya. Di mana ada yang mengkhawatirkannya ketika ia sakit. Sudah lama rasanya tak melihat pancaran cemas kala dirinya dalam keadaan jatuh.
"Makasih, Kak."
...)(...
"Keadaan pasien masih dibilang stabil sekarang. Tapi, jika henti jantung itu kembali- kita hanya bisa berharap kabar baiknya saja."
Perkataan Dokter itu membuat amarah Varo tersulut, mencengkram kerah Dokter dengan mata memerah.
"Apa itu yang sepatutnya anda sampaikan sebagai seorang Dokter, hm?!."
"Sadarkan Mama saya apapun yang terjadi!."
Tangan Varo terlepas dari jas putih itu kala tarikan di tangannya juga elusan dipundak meredakan amarahnya. Kejadian beberapa saat lalu hampir membuat ketiga remaja disana menahan napas. Kala suara nyaring dari alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi nyaring.
Setelah Dokter pamit undur diri, tubuhnya luruh bersama segala kelegaan juga tangis akan ketakutan keluar tanpa perintah.
"Var, udah ya. Lo harus kuat, kasihan Vero."
Varo beralih memandang Vero yang sudah duduk dengan wajah yang ia sembunyikan diantara kedua lututnya. Ya, benar kata Zoya...dia tidak boleh seperti ini. Ada Vero yang juga tak kalah rapuh dari dirinya. Dan Varo sadar, sejak kemarin keduanya tidak ada yang membuka suara. Seakan menyimpan sendiri rasa sakit itu tanpa membagi satu sama lain.
"Ajak makan Vero gih! Biar gue yang jaga Tante Miranti."
"Lo, masih pusing?,"tanya Zoya sebelum Varo melangkah mendekati Vero.
Varo menggeleng sebagai jawaban. Setelah minum obat dari UKS tadi, denyutan itu tak lagi ia rasakan. Badannya masih terasa lemas, tapi tidak apa jika denyutan yang menikam itu tidak ia rasakan lagi.
"Vero butuh lo Var. Lo harus kuat!."
Langkah Zoya ia bawa masuk kedalam ruangan Miranti setelah kedua anak kembar itu berjalan menuju kantin. Dengan perlahan ia mendudukkan tubuhnya di kursi samping brankar.
"Assalamualaikum Tante."
"Perkenalkan, saya Zoya. Emm..teman Varo sama Vero, mungkin."
Zoya tersenyum geli, teman? Ah bisa dibilang seperti itu.
"Tante nggak mau cepat bangun apa? Nggak kasihan sama si kembar?."
Zoya menatap lekat setiap inci wajah Miranti yang terlihat pucat. Seperti yang ia ketahui, entah itu benar atau tidak...kalau orang koma itu masih bisa mendengar suara disekitarnya. Dan, Zoya berusaha melakukan itu. Mengajak wanita paruh baya itu mengobrol meski tak mendapatkan balasan.
"Tante tahu, Varo sama Vero sayang banget sama Tante. Kalau Tante kayak gini, mereka juga bakal sedih banget loh Tan. Buktinya aja, dari kemarin Varo sama Vero mukanya lecek banget. Nggak enak dilihat, jadi ilang ngganteng nya," ujarnya diakhiri kekehan.
"Zoya tahu, Tante pasti juga sayang banget kan sama mereka berdua?."
"Kalau Tante sayang sama mereka, Tante cepat bangun ya. Jangan bikin mereka sedih lagi."
Zoya membuka tasnya, dan mengeluarkan benda kecil dari dalam. Al-quran bewarna hijau itu ia amati sebelum beralih menatap Miranti.
"Zoya tahu Tante beragama non muslim. Tapi yang Zoya tahu, kalau orang koma dibacain ayat-ayat al-quran in syaa allah bakal cepat sadar. Nggak apa-apa kan Tan, kalau Zoya bacain buat Tante?."
"Meski pun Tante bukan seorang muslim, tapi kalau dengerin orang ngaji nggak bakal dosa kan Tan?," tanya Zoya yang tak butuh jawaban.
Ia membuka al-quran kecil itu. Lalu perlahan membaca basmalah dan ayat-ayat itu ia baca dengan penuh permohonan. Setiap jengkal jarinya menunjuk ayat demi ayat, setiap itulah Zoya memohon agar Tuhan mengembalikan sadar sosok didepannya itu. Sosok yang sangat berarti bagi si kembar.
Lama Zoya mengaji, tanpa sadar lima menit setelah ia selesai...selama itu ada dua pasang netra yang mengamati dari kaca kecil pintu ruang inap. Senyum kecil terpampang dari keduanya.
...♡♡♡...
HOLAP HOLAAPPP👋
PART KHUSUS ZOYA MA VARO INI MAH🤧
...Like👍...
__ADS_1
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^