
...Dari banyaknya laki-laki yang pernah aku temui, hanya dia yang berhasil membuat getar didalam sana bekerja lebih dari seharusnya. ...
Setetes liquid bening itu jatuh tanpa aba-aba. Membuat getar dikedua bahunya meluruhkan segala sesak yang menghimpit dada. Hingga tetesan demi tetesan meluncur tanpa henti. Tubuhnya seakan mati rasa ketika ingin lari dari kenyataan yang baru saja ia terima.
"Zoya bangun! Ngelindur ya kamu? Ayo bangun!"
Isakan itu masih ada bersama tetes air mata yang tidak ingin berhenti. Namun, tetes air dari sumber lain membuat kedua kelopak mata itu mengerjap.
"Jangan sampai keblabasan Nak. Bangun! Heh, Zoya!"
Sampai tepukan mendarat dipipinya cukup keras- Zoya terperanjat sampai terduduk dengan napas terengah engah. Apa yang barusan terjadi?
"Kamu itu mimpi apa? Bikin orang khawatir aja," ujar Nenek dengan gayung yang masih ada ditangannya. Menatap Zoya dengan kebingungan anak itu.
"Makanya kalau habis shalat subuh itu jangan tidur! Bantu beres-beres rumah."
"Udah bangun! Jangan tidur lagi."
Detik setelah Nenek keluar dari kamar, Zoya spontan mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata. Jadi, itu mimpi atau nyata?
"Alhamdulillah cuma mimpi," gumam Zoya.
Detak yang sebelumnya berdegup kencang itu mulai mereda. Sampai atensinya teralih kepada gawai yang berada tak jauh dari tempatnya. Meraih benda itu segera, bergumam tak jelas sembari memohon agar apa yang baru saja menjadi bunga tidurnya tidak akan pernah terjadi. Ya, semoga.
Ruang obrolan yang pertama kali Zoya buka adalah grup pramuka yang menampilkan jejeran nama regu untuk games chalange nantinya. Entah kebetulan atau rencana semesta yang membuat kedua bola mata juga debar didalam sana kembali berpacu.
"Aisshh kenapa sama tuh anak sih?!"
...)( ...
Gerutuan kecil itu terus keluar dari mulut Zoya. Disiang bolong seperti ini seharusnya dia berada didalam kasur. Menikmati tidur siang yang tidak pernah absen kecuali hari sekolah. Apalagi tujuannya ini ke rumah orang yang masih ingin ia hindari. Ingat, aksi marahnya belum usai kepada orang yang bernama Arex dan juga Varo.
Sekarang, Nenek malah menyuruh untuk kerumah sepupunya itu hanya untuk sekotak roti bolu cokelat.
Motor itu memelan ketika dua netra Zoya menangkap sosok yang ia kenali berada disebuah warung. Dan entah kenapa hati dan otaknya bertolak belakang. Berakhir dengan rasa penasaran yang harus ia selesaikan. Dan pada akhirnya membelokkan motor itu tepat didepan warung yang cukup sepi.
Kedua alis Zoya menyatu kala melihat lebih jelas keadaan laki-laki yang belum menyadari keberadaannya itu. Dengan wajah yang tidak bisa dibilang baik, juga keadaan baju yang benar-benar kusut membuat perasaan cemas itu timbul. Langkah mantapnya ia bawa mendekat, hingga kepala itu menoleh menepukan hadirnya.
Terkejut. Itu yang Zoya nilai pertama kali ketika laki-laki itu menangkapnya.
"Bayarin rokok sama kopi gue!"
Zoya sedikit terkejut ketika suara itu mengalun begitu lantang. Begitu juga dia yang baru saja keluar dari dalam warung. Namun secepatnya wajah orang asing bagi Zoya itu berubah datar.
Senyum kikuk Zoya layangkan kala keduanya masih bersitatap. "Cewek lo?"
Zoya menggeleng ribut. Beralih menatap laki-laki itu- Vero yang juga menggelengkan kepalanya.
Suasana sangat canggung sebelum orang asing itu yang tak lain Juna kembali membuka suara. Sedang Zoya yang masih berdiri kaku disana. "Lanjut dilain waktu, boy!"
Setelah menepuk satu kali bahu Vero, Juna beranjak. Namun tubuh tegap itu kembali berputar menatap Zoya yang sudah salah tingkah ketika tatap tajam menghunus kedua netranya.
"Lo kenal adek gue kan? Anterin pulang ke rumah nyokabnya!"
Zoya melongo. Tunggu, adik? Siapa yang dimaksud orang itu- Vero?
"Kak-."
"Itu tadi siapa?!" seloroh Zoya yang langsung mengambil tempat didepan Vero.
"Ngapain Kak Zoya disini?"
Alis Zoya menukik tak suka. Bukannya menjawab, malah balik tanya. "Gue tanya Ver! Dia, siapa?"
Vero diam. Cukup lama memberi jeda sampai akhirnya status Juna mengalun begitu tenang. "Abang tiri."
Zoya tidak membalas maupun bereaksi. Karena atensimya kali ini direnggut paksa oleh bau menyengat yang ia yakini adalah bau alkohol. Dan gelengan pelan juga ingatan yang kembali berputar seketika menyadarkan. Menatap Vero penuh intimidasi.
"Ver!"
Vero mendongak perlahan. Jujur, degup jantungnya kali ini melebihi kata normal. Melihat sendiri bagaimana tatap Zoya yang seakan ingin menerkamnya. Bagaimana bisa ia ketahuan dalam keadaan seperti ini?
"Lo, nggak lagi mabuk kan?"
Bibir pucat dengan wajah merah itu menegang. Apa yang harus Vero lakukan sekarang. Berkelit pun tidak akan masuk akal jika melihat kondisinya sekarang.
__ADS_1
Kedua netra Vero kembali menunduk. Tidak berani bersitatap dengan sang lawan yang malah membuatnya semakin tersudut. "Benar apa yang gue bilang?" lanjut Zoya.
"Nggak mungkin kan Ver?!"
Hela napas berat keluar begitu saja dari bibir Zoya. Mengusap wajahnya kasar.
"Varo tahu?"
Vero menggeleng ribut bersamaan dengan raut wajahnya yang berubah panik. "Jangan kasih tahu Varo, Kak. Please!"
"Astaga Ver! Gue masih nggak habis pikir sama jalan pikir lo. Kenapa minum minuman keras kayak gitu, hm? Kalau nanti Varo tahu-"
"Jangan sampai tahu Kak! Please, jangan bilang ke Varo," seloroh Vero.
"Terus ngapain lo berani minum gituan hah?! Lo nggak ingat umur, Ver?"
Vero diam. Membiarkan amarah Zoya melebur bersama terik matahari yang semakin panas.
Sedang dilain tempat, satu nyawa itu terus saja mengeluarkan kata umpatan kala lagi dan lagi balasan dari operator wanita itu yang ia terima. Hingga gawai pipih yang tidak bersalah sama sekali menjadi pelampiasan. Terlempar begitu keras dilantai.
"Ya ampun Varo, itu kasihan HP nya!"
"Mama nggak mau beliin lagi kalau sampai rusak," lanjut Miranti.
Varo menghembuskan napas berat. Sedari tadi emosinya masih belum reda ketika tahu bahwa saudara kembarnya itu tidak ada dikamar.
"Tuh anak pasti balik kerumah sialan itu!"
Miranti menggeleng pelan. Mengelus dadsnya sabar menghadapi emosional Varo yang sudah mengacaukan barang-barang di rumah. "Positif thinking aja. Mungkin Vero jogging tadi pagi terus main dulu ke rumah temennya."
"Sampai lupa waktu Mah? Nggak mungkin. Masa iya dari pagi sampai siang bolong nggak ingat rumah!"
Zoya memakirkan motornya didepan rumah Arex. Melangkah masuk diikuti Vero. Mungkin, untuk sekarang ini keputusan yang ia ambil hanya bersifat sementara. Sampai ia melihat sendiri apa janji yang beberapa saat lalu bisa Vero tepati.
"Vero nggak bakal minum lagi Kak. Janji! Tapi jangan kasih tahu Varo ya."
Ketukan tiga kali berhasil menampakkan laki-laki dengan boxer warna hitam selutut juga kaos oblong putih. Hingga kedua mata itu terbuka sempurna melihat dua orang tamunya.
"Heh! Lo pada ngapain disini?!"
Arex menyembunyikan tubuhnya dibelakang pintu dan hanya menyembulkan kepalanya. "Ganggu orang tidur aja lo!"
"Bodo amat! Awas gue mau masuk!"
Zoya mendorong kasar pintu hingga membuat Arex terpaksa mundur. "Tante sama Om mana?"
"Nggak ada!"
Arex beralih menatap Vero dari atas sampai bawah. Membuat anak itu kembali mematung dengan perasaan cemas.
"Awwhhh," rintih Arex kala remot TV itu mendarat mulus dikepalanya.
"Sakit Zoy!" sungutnya sembari mengelus bekas timpukan.
"Nggak nanya!"
"Numpang kamar mandinya bentar. Sama pinjem baju buat dia."
"Heh! Apa apaan?!"
...)( ...
Kedua sudut bibir itu terangkat. Kembali menenangkan sosok yang ada disampingnya. Menepuk bahu anak itu sebelum akhirnya mengangguk mantap.
"Tenang aja, gue yang bakal ngomong."
"Makasih, Kak."
Belum sempat Vero membuka engsel pintu rumahnya, kayu tinggi didepan itu sudah terbuka dari dalam. Menampakkan wajah sang Kakak yang terkejut. Entah karena hadirnya atau karena sosok disebelahnya.
"Var awwhh...awwwhhss... sakit," rintih Vero ketika sebuah tangan menarik daun telinganya.
"Kemana aja lo?! Pergi nggak pamit! Bikin orang panik!"
"Var, lepasin!" ujar Zoya menarik mundur tubuh Vero dari kemurkaan Varo.
Tatap tajam itu masih mengintimidasi Vero. Tapi tak khayal pikirannya penuh tanya. Kenapa kembarannya itu bersama Zoya?
__ADS_1
"Eh ada siapa ini?"
Fokus ketiganya teralih kearah Miranti yang membuka lebar pintu. Menatap ketiganya bergantian dengan senyum lebar.
"Astaga Vero, kamu itu dari mana aja? Bikin abang kamu bingung sendiri tahu nggak."
"Maaf Ma tadi-."
"Bukan salah Vero kok Tan. Tadi waktu saya lihat dia lagi jogging malah saya ajak cari beberapa barang keperluan camping. Jadi lupa waktu sampai siang. Maaf banget ya Tan udah bikin khawatir," seloroh Zoya.
Astaga, maafkan lah dirinya yang telah membohongi orang tua.
Tatap Varo beralih kearah Vero. Mencari pembenaran dari sang adik yang langsung menganggukkan kepala.
"Ohh gitu ceritanya. Tuh Var! Jangan pikir negatif mulu kamu. Sekarang udah terbuktikan, kalau Vero nggak kerumah Papa."
"Heemm," balas Varo memutar bola matanya.
Maaf Mah, Var. Batin Vero.
"Kenapa nggak ajak gue sih lo?" bisik Varo disebelah adiknya.
Vero menggeleng. Bingung harus menjawab seperti apa.
"Jangan bilang lo cuma jalan berdua sama Kak Zoya?"
"Ck, awas ya lo kalau main tikung!"
Zoya memutar bola matanya malas. "Ekhmm gue masih bisa denger ya!"
Tanpa sadar, Miranti ikut terkekeh melihat sikembar menggaruk tengkukknya secara bersamaan. Lantas menarik lengan Zoya masuk kedalam tanpa adanya penolakan.
"Main dulu ya! Sekalian kita makan siang bareng."
"Aduh Tan, nggak usah repot. Saya langsung pulang aja," balas Zoya kikuk.
Sedang duo twins itu saling lirik. Varo dengan tatapan tidak suka. Dan Vero dengan tatapan malas.
"Nggak apa sekali kali. Oh ya, nama kamu siapa?"
"Zoya Tan."
Langkah keduanya terhenti diruang tengah. Kedua perempuan itu sudah duduk disofa panjang. Tidak menghiraukan laki-laki kembar itu yang berdiri mengamati.
"Pacarnya Vero, ya?" celetuk Miranti yang mendapat delikan dari ketika remaja itu.
"Bukan Mah!" teriak Varo.
"Mama nggak nanya kamu."
"Cuma menjawab apa yang sejujurnya juga."
Zoya mengangguk membenarkan.
"Jadi masih jomblo nih," ujar Miranti dengan senyum menggoda. Tidak tahu saja ada getar hebat didalam dada Zoya yang semakin tak nyaman. Sial, kenapa terjerat didalam situasi canggung seperti ini? Bahkan, didepan wanita yang selama ini ia tahu dari cerita si Varo.
"Enggak Mah. Udah ada pawangnya."
"Siapa?"
Varo mengangkat telunjuknya dengan senyum lebar seperti biasa. Dan berhasil membuat wajah yang ada disana panas dingin.
"Restuin ya Mah," celetuk Varo mendapatkan dua jempol dari Miranti. Tidak menghiraukan pelototan tajam dari Zoya yang semakin malu dibuatnya.
"Nggak usah didengerin Tan. Anaknya emang agak kurang sadar diri."
...♡♡♡...
...Nggak janji setiap hari Update. Udah mulai 100% masuk offline. Paling lama dua hari sekali Updatenya. ...
...Sambil nunggu Update mampir yuk di CERPEN 'AWAN SANG BIRU'...
...Disana kalian akan ditemani Awan si humoris, dan Biru si keras kepala. #brothership #notromance...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1