BERBEDA

BERBEDA
Chap 43 (Tuan-Dokter?)


__ADS_3

...Sebuah kebetulan itu tidak ada! Yang ada hanya takdir Tuhan. Semua sudah dirancang oleh sang pencipta dengan sangat elok....



Kedua netra itu mengamati sekekeliling. Tempat dimana ia akan menghabiskan banyak waktu digedung pencakar langit itu. Masih enggan bicara dengan para staf yang setia menunggu Boss baru mereka membuka suara. Hingga sepasang matanya terfokus pada salah satu orang diantara banyaknya nyawa disana.


"Galih, Masker!"


Galih yang sudah paham akan watak dingin tuannya itu segera mengambil masker yang tuannya minta. Setelah masker terpasang sempurna, sosok tinggi tegap itu mulai melangkah diikuti Galih dan Bu Indira.


"Eh- itu ya direktur barunya?" celetuk Caca menunjuk tiga orang yang baru saja masuk kedalam lift.


"Mana?" tanya Zoya tidak menangkap orang yang dimaksud Caca. Hanya ada para staf dengan baju Love Story- mana mungkin direktur memakai pakaian itu?


"Duh, itu tadi yang masuk lift."


"Emang iya?" sahut Angel.


"Kayaknya sih iya. Soalnya ada Bu Indira tadi."


"Gimana mukanya? Ganteng nggak?"


"Ingat sama tunangan," celetuk Zafir yang membuat Angel mengerucutkan bibirnya.


"Nggak lihat mukanya. Pakai masker tadi."


"Wah, masih antisipasi ya sama virus corona? Jangan-jangan nanti kalian juga diwajibkan pakai masker lagi."


"Jangan gitu dong Zoy. Aku nggak mau pakai masker lagi. Udah nyaman gini."


"Ya siapa tahukan. Direkturnya aja pakai masker tadi," balas Zoya sembari mengedikkan bahu.


Ruangan besar berwarna creame itulah yang pertama kali Tuan Al masuki. Sudah terpasang papan namanya dimeja kebesarannya.


"Bisa saya minta berkas penulis yang lagi meet and greet sekarang?"


Bu indira mengernyit sebelum sadar dan langsung mengangguk. "Ah- iya Tuan. Sebentar saya ambilkan."


Galih kembali menutup pintu sehilangnya Bu Indira. Selang tak lama pintu itu kembali terbuka. Menampakkan Bu Indira dengan map merah ditangan.


"Ini tuan."


Tuan Al mengambil, lantas membukanya. Dan pertama kali yang ia lihat adalah foto profi Zoya. Tidak ada ekspresi yang keluar dari wajah tegas itu. Tapi, detik setelah membaca sekilas deretan huruf disana- Tuan Al membuka suara yang berhasil membuat Bu indira terheran.


"Kontrak dia jadi penulis tetap disini. Sekaligus editor!"


Bu Indira mengatupkan mulutnya yang sedikit terbuka. Cukup terkejut dengan reaksi Tuan Al. Pasalnya, Tuan Al disini orang baru. Juga tidak ada yang berani sembarangan mengontrak penulis untuk menjadi penulis tetap diperusahaan itu. Lantas, kenapa hanya dengan melihat profil Zoya, Tuan Al langsung mengontrak seorang Zoya prameswari?


"Se- serius Tuan?"


Bu Indira langsung menunduk dalam kala tatapan Tuan Al menghunus kedua bola matanya. Ah- sepertinya dia salah menanyakan hal itu. Sepengetahuan yang ia dapat, orang didepannya ini terbilang sangat tegas, dingin, dan tidak suka dibantah.


"Tidak ada pengulangan!"


"Baik Tuan. Segera saya akan mengurusnya."


"Kamu urus acara dibawah. Saya tidak akan ikut. Lanjutkan saja!"


Bu Indira mengangguk. Kemudian berjalan mundur hingga sosoknya hilang dibalik pintu.


Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Lihat saja sekarang, dia sedang menangis haru. Beberapa saat setelah acara meet and greet selesai- Zoya dipanggil langsung oleh Bu indira diruangannya. Dan yup! Zoya sudah menandatangani kontrak kerja itu tanpa harus berpikir dua kali. Bagaimana bisa menolak jika ia saja mendapat tawaran boombastis seperti itu tanpa adanya usaha yang ia lakukan.


"Waahh beneran Zoy kamu bakal kerja disini?!" teriak Caca heboh. Sekarang tiga perempuan itu sedang makan siang dikantin perusahaan.


"Iya! Aku nggak nyangka banget bakal jadi penulis tetap di perusahaan besar ini. Astaga! Kayak mimpi tahu nggak."


"Wahh seneng banget! Kita jadi bisa sering ketemuan dong," sahut Angel.


Yah, tidak bisa dipungkiri meski rasa senang itu terlalu besar- namun seperti ada yang mengganjal bagi Zoya. Bagaimana bisa seklise itu alasan Bu Indira memgajukan kontrak? Hanya karena book love story terjual melebihi yang diperkirakaan. Bukannya sudah banyak penulis yang Zoya ketahui juga menerbitkan bukunya di Booksmart sampai best seller, tapi tidak sampai dikontrak menjadi penulis tetap. Bahkan sampai menjadi editor juga!


Entahlah, Zoya hanya bisa terus mengucapkan syukur dalam hatinya.


...)(...


Galih merasa heran dengan kelakuan Tuannya itu. Bukankah tadi tuannya menyuruh untuk membuat jadwal rapat bersama Mr.Jick bukan? Tapi kenapa sekarang ia disuruh membatalkan rapat penting itu? Bukankah selama ini Tuan Al yang Galih kenal itu sangat ambisius jika masalah bisnis?


"Sekarang kita mau kemana Tuan?"


"Aku ingin menemui Sahira. Dia bilang, sekarang dia ada di Bandung."


Mulut Galih membentuk huruf O- Sekarang ia baru paham kenapa rapat penting itu seketika batal. Ya, hanya karena seorang Sahira!


"Ke jalan merpati, Pak Budi!"


"Baik Tuan."


Mobil itu melaju, membelah padatnya Kota Bandung menjelang malam hari. Hingga hampir satu jam, mobil itu berhenti disalah satu rumah yang cukup sederhana.


"Sepertinya aku akan lama. Kalian cari makan saja diluar. Nanti kalau sudah selesai balik kesini," ujar Tuan Al sembaru membuka pintu mobil.


"Kak Al!"


Senyum dibibir merah muda itu mengembang hanya karena melihat hadirnya Tuan Al disana.


"Assalamualaikum Sahira."


"Waalaikumsalam Kak!"


"Wah nggak nyangka Kakak langsung kesini," ujar lembut perempuan berjilbab itu.


Sahira, perempuan berumur 22 tahun, bertubuh mungil dan memiliki wajah yang sangat imut. "Masuk yuk Kak."


"Eh ada Nak Al toh," ujar wanita yang sudah berumur dengan jilbab panjangnya sampai batas perut.

__ADS_1


"Iya Oma. Tadi waktu Sahira kabarin kalau aku disini, nggak tahunya Kak Al benar-benar langsung kesini."


Tuan Al mencium punggung Oma. Hingga detik berikutnya, ia sudah duduk dimeja makan. Ya, karena ulah Oma yang langsung menarik tangannya kedepan hidangan rumahan itu. "Oma tahu kamu belum makan dari siang kan?"


Tuan Al tersenyum tipis dengan anggukan kepala. "Kak Al mah kebiasaan nggak makan siang. Padahal makan itu penting loh Kak. Tiga kali sehari. Jangan dua kali sehari."


"Sibuk sama-"


"Pekerjaan," potong Sahira cepat. Wajahnya bakan tertekuk. Ada rasa kesal ketika laki-laki itu selalu menomorsatukan pekerjaan.


"Sudah ngobrolnya dilanjut nanti. Sekarang makan dulu ya," seloroh Oma sembari menuangkan nasi kepiring. Lantas menyodorkannya kepada Tuan Al.


"Makasih Oma."


"Nggak perlu! Makan yang banyak sekarang."


"Nih udang krispi kesukaan Kak Al."


Tuan Al tidak menolak kala Naya menaruh udang krispi kepiringnya. Bahkan, nasi yang ada dipiring itu tidak lagi terlihat karena tumpukan udang yang Naya beri.


Tuan Al diam-diam tersenyum. Walaupun tipis, tapi Oma bisa menyadari itu. Tuan Al yang jarang sekali tersenyum. Dan Oma tidak lagi heran jika Al hanya akan tersenyum begitu samar saat berada didekatnya dan Sahira.


Sosok pemuda yang pernah ia tolong waktu itu- kini sudah tumbuh menjadi orang hebat.


"Kamu sekarang tinggal di mana Al?"


"Emm- tinggal di apartemen Oma."


"Kenapa nggak tinggal disini aja? Eh- tapi kalau kamu betah tinggal dirumah sederhana ini."


"Kenapa Oma bilang seperti itu? Al pasti seneng banget kalau tinggal disini bareng Oma. Tapi ada-"


Sahira yang sadar akan lirikan Al memalingkan wajahnya kesembarang arah. Sedang Oma langsung mengangguk paham.


"Iya, Oma ngerti kok."


"Meskipun rumah ini sederhana, Al sangat nyaman setiap datang kesini, Oma. Jadi stop seakan merasa kalau Al tidak betah dan tidak suka tinggal dirumah ini."


"Iya Nak. Maafin Oma, ya. Nggak ada maksud buat kamu jadi tersinggung."


"Aku nggak kesinggung kok Oma."


"Oma, Kak Al- udah ya jangan debat. Makan nggak boleh sambil bicara."


"Iya Bu Ustadzah," balas Tuan Al sembari menundukkan kepalanya.


"Ihh Kak Al!"


...)(...


Hari ini ia menginjakkan kaki di Surabaya lagi setelah tiga hari berada dikota asing itu. Zoya sangat tidak sabar akan memberitahukan langsung kepada ibunya. Dan, yup! Ibunya sangat senang mendengar kabar baik itu. Namun, ada hal yang membuat Zoya merasa sedih. Apa dia bisa meninggalkan Ibu, adik-adiknya, dan juga sahabatnya- Darwin?


Lihat saja sekarang, raut wajah Darwin yang berubah sendu ketika baru saja Zoya selesai dengan cerita panjangnya. Keduanya kini duduk disalah satu cafe yang menjadi tempat biasa mereka bertemu.


"Emm- iya."


Elingga Darwin Prasetya, sahabat baik Zoya selama ia menempuh pendidikan dibangku kuliah. Hanya Darwin teman yang ia punya. Padahal, Darwin dan Zoya tidak satu jurusan. Mereka saling kenal berawal dari perkumpulan mahasiswa islam yang ada dikampusnya.


Darwin yang menganggap Zoya sebagai adiknya, dan Zoya yang menganggap Darwin sebagai kakaknya itu membuat hubungan keduanya melebihi kata sahabat. Mungkin sudah seperti saudara.


"Nggak usah khawatir gitu dong. Aku In Sya Allah bisa jaga diri."


Darwin mengembuskan napas berat. Ada keraguan dikedua bola mata Darwin yang bisa Zoya tangkap dengan jelas. "Nanti janji deh, bakal aku telepon setiap hari cuma buat kasih kabar, gimana?" lanjut Zoya sembari tersenyum manis.


Keluarga mereka berdua juga sudah sangat akrab. Seperti layaknya saudara yang mempunyai ikatan darah. "Bulshit!"


"Enggak, beneran! Tapi kalau nggak lupa."


"Tuh kan," sahut Darwin dengan wajah kesal.


Keduanya sama-sama terdiam. Zoya yang dengan santainya memakan kentang goreng. Tidak lagi peduli melihat Darwin yang masih terlihat berpikir.


Ya, Zoya tahu orang yang akan khawatir dengan keadaannya selain Ibu adalah Darwin. Bagi Zoya, Darwin seperti sosok pengganti Ayahnya meski umur mereka hanya terpaut dua tahun. Juga seperti sosok abang yang selama ini Zoya inginkan. Tapi, sayangnya Zoya anak perempuan pertama. Dan dia sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan sosok seperti Elingga Darwin Prasetya.


"Kamu udah bilang sama Umi?"


"Be-belum sih. Baru ke Ibu sama kamu aja."


"Ibu setuju kamu kerja disana?"


"Ibu setuju. Malah seneng banget kelihatannya."


Darwin mengambil napas panjang lantas memijit pangkal hidungnya. "Kenapa sih? Kamu nggak setuju aku kerja di Bandung?"


"Bukannya gitu, aku seneng kamu dapat kontrak kerja tanpa susah payah. Tapi, kamu tahu kan disana nanti-".


"Hey Darwin! Apa kamu lupa kalau umur aku udah dua puluh empat tahun?! Aku udah dewasa-"


"Dewasa belum tentu bisa menjaga diri, Zoya!"


Zoya melihat tatap tegas mata Darwin. Yah, sekarang Darwin dalam mode serius jika sudah menatapnya intens, yang membuat Zoya terasa dipojokkan.


"Kenapa nggak tunggu CV yang udah kamu kirim ke perusahaan kemarin?"


"Darwin, percuma aja kalau emang aku diterima disana. Toh aku juga nggak bisa cabut kontrak gitu aja. Aku udah tanda tangan kontrak, kalau aku batalin pasti kena denda."


Zoya menatap Darwin penuh permohonan. Dia juga merasa berat pisah dari Darwin. Tapi, bagaimana lagi?


"Aku janji bakal jaga diri. Nggak akan macam-macam."


"Janji nggak boleh deket sama laki-laki! Kamu tahu maksud aku, kan?"


Zoya tersenyum lebar sebelum mengangguk paham. "Kalau yang itu yang nggak usah diperjanjikan, Darwin. Kamu juga tahukan prinsip aku?"

__ADS_1


"Iya, nggak ada namanya pacaran dalam sejarah hidup Zoya prameswari," balas Derwin diakhiri kekehan.


"Nah itu tahu!"


"Ada lagi."


"Hemm, apa lagi?!"


"Aku antar kamu ke Bandung besok. Buat cari tempat kos yang aman."


"Setuju!" teriak Zoya mengacungkan gelas minumnya dengan senyum lebar.


"Emm- selama di Bandung aku titip Ibu sama adik-adikku ya."


"Nggak usah minta juga aku bakal lakuin," balas Darwin sembari menyesap kopinya.


"Makasih!"


"Jangan lupa bilang langsung sama Umi."


"Iya habis ini mampir ke rumah kamu."


...)(...


Rumah sakit besar yang ada di Kota Bandung itu yang membuat Tuan Al tertahan disana. Ia sedang punya janji dengan sahabatnya yang bekerja menjadi dokter bedah. Langkah tegapnya ia bawa memasuki lift setelah berpisah dengan Galih yang sedang membeli obat di Apotek Rumah sakit.


"Dokter Al tumben pakai jas. Biasanya juga cuma pakai kemeja."


Tuan Al menatap bingung suster yang ada disampingnya. Juga beberapa suster yang menatapnya dengan senyum ramah. Apa barusan suster itu berbicara dengannya?


Tanpa Tuan Al peduli, ia memilih kembali menatap lurus kedepan.


Ting


Lift terbuka, memacu langkah Tuan Al ke ruangan yang langsung ia buka tanpa permisi. Dan dibelakang sana masih ada suster-suster tadi yang menatap heran.


"Masih aja dingin. Tapi nggak apa-apa, yang penting ganteng."


"Ck, ganteng sih ganteng. Kalau jutek-jutek amat mah mundur kalau aku," balas Suster lainnya.


"Bentar deh, Dokter Al ngapain masuk ke ruanganya Dokter Elang?"


"Eh?!"


Sedang didalam ruangan berdominan putih itu, keduanya saling tatap dingin. "Kenapa nggak ngabarin kalau kesini?!"


Tuan Al sekadar mengendikkan bahu. Meraih botol mineral yang masih disegel lantas membukanya hingga tandas separuh.


"Nggak penting."


"Ck, dasar! Kalau bilang kan bisa aku jemput dibandara."


"Kayak punya waktu aja."


"Duh, pusing ngomong sama orang jelmaan kulkas kayak kamu Al."


"Bakalan pusing lagi, soalnya aku bakal sering kesini."


Elang mengernyit, mencoba mencari jawaban dari kedua mata sahabatnya itu- yang sialnya hanya ada tatapan dingin khas Tuan Al terhormat.


"Maksudnya?"


"Aku udah pindah perusahaan."


"Wow! Serius kamu bakal tinggal di Bandung?!" ujar Elang menggebu.


Tuan Al mengangguk.


"Eh- mau kemana?" tanya Elang kala melihat sahabatnya itu berdiri.


"Pulang."


"Loh- main pulang aja. Baru juga nyampe. Belum cerita dimana sekarang tempat kerja barunya, traktirannya juga belum ada."


"Kapan-kapan," balas Tuan Al yang langsung melenggang pergi tanpa peduli Elang mendengus sebal ditempat.


Sesaat sampai dilantai bawah, Al tidak menyangka jika dirinya ditarik paksa oleh dua perawat. Sedang Tuan Al hanya bisa menunjukkan wajah tolol mendengar ucapan panik kedua perempuan itu.


"Ayo Dokter Al cepat! Pasiennya baru tiba."


"Keadaannya cukup parah," sahut suster disisi kirinya.


Tuan Al memaksa menghentikan langkah kakinya, tapi kekuatan dua perawat itu malah membuatnya terseret. Sial, martabatnya akan hancur jika orang yang mengenalnya melihat kejadian itu! Bahkan beberapa pasang mata kini tertuju kepada mereka.


"Berhenti! Kalian salah-"


"Ayo Dokter kita tidak punya waktu lagi!"


"Eh- Dokter Al kenapa pakai pakaian ini?! Mana jas Dokternya?!"


Mata Tuan Al berbinar ketika menangkap sosok Galih yang berjalan keluar dari apoteker. Tuan Al spontan berteriak kencang. Hingga membuat kedua perawat itu memegang dadanya terkejut.


"Galih tolong, GALIH!!!"


...♡♡♡...


...AYO MAIN TEBAK-TEBAKKAAANNNN!!!!...


...SPAM KOMEN!!!! BARU NEXT UPDATE🔥🔥🔥🔥🔥🔥...


^^^Tertanda^^^


^^^Naoki Miki^^^

__ADS_1


__ADS_2