
...Mungkin saja dia sudah lelah. Kamu nggak tau apa yang mereka lalui, kamu nggak tau sebanyak apa beban yang dia topang. Sebanyak apa tangis yang dia sembunyikan, sebanyak apa tawa yang dia palsukan. Kamu nggak pernah tau. ...
...Masing-masing dari kita menempuh jalannya sendiri. Dengan ceritanya masing-masing. Dengan pedihnya masing-masing. ...
Tidak pernah terpikir ketika semua kata yang terlontar kala itu berakibat lebih. Setelah beberapa minggu kejadian Arex memaksa Zoya menginap dirumahnya terungkap. Dikarenakan Nenek masuk rumah sakit. Hingga dua minggu Zoya harus tinggal dirumah sepupunya itu.
Genap satu bulan sejak tanggal satu januari terlewatkan. Akhir bulan yang membawa cerita tersendiri bagi Zoya. Banyak perubahan yang terjadi selama itu. Dan semuanya karena seorang Alvaro yang tidak lagi seperti dulu.
Jika dulu sikap anak itu selalu punya cara mengusik hidup Zoya, kali ini berbeda. Tidak ada lagi Alvaro yang selalu datang ke kelasnya. Bahkan sekadar duduk-duduk didepan gazebo kelas sebelas ipa emlat itu. Sama sekali tidak. Yang lebih parah adalah ruang obrolan keduanya kini semakin tak bernyawa. Tidak ada lagi Alvaro yang selalu mengirim deretan pesan tidak jelas hanya sekadar menanyakan makan maupun keadaan. Tidak ada lagi. Dan itu semua masih terasa aneh bagi Zoya. Yang entah malah membuat sisi hatinya tidak enak. Perasaan aneh itu selalu menghantui. Apalagi, belakangan ini dia mendengar gosip bahwa anak itu sedang mendekati teman seangkatannya yang tidak terlalu Zoya kenali.
"Masih pagi loh ini. Kok udah nggak ada nyawanya tuh muka. Ketinggal dijalan, ya?"
"Jangan diganggu Lai. Orang lagi patah hati itu kalau marah bisa bahaya," sahut Ayu.
"Hust! Bukannya nenangin malah mancing kalian berdua."
Kedua mata Zoya berkaca kaca menatap Lia yang sangat pengertian itu. Dari pada kedua sahabatnya yang tak pernah membuatnya tenang barang sedetikpun. "Lia, gue bodoh banget ya?!"
"Iya. Baru nyadar lo?!"
"Laila?!" pekik Lia menatap horor Laila yang malah dengan santainya memakan batagor.
"Udah lah Zoy. Lo tuh galau kenapa sih? Baru dateng udah kecut aja muka lo?!"
Zoya tidak menjawab. Juga tidak tahu mau menjawab seperti apa. Karena perasaannya sekarang benar-benar kacau. Sampai dia sendiri tidak tahu disebabkan oleh apa. Dan yang dia bisa lakukan sekarang hanya menggigit bibir dalamnya sembari menatap Lia penuh pertolongan.
"Jangan kayak gini dong Zoy. Kalau ada masalah cerita aja," ujar Lia sembari mengelus punggung Zoya.
"Halah, paling juga galau gara-gara nangisin cowok fiksi."
"Makanya Zoy, jangan terlalu kebawa sama fiksi! Sadar! Sampai kapanpun cowok fiksi tetap fiksi! Tokoh karangan author. Bukan tuhan. Nggak bakal jadi kenyataan!" timpal Ayu.
"Nggak usah sok tahu! Gue juga ngerti kali kalau cowok fiksi itu nggak nyata! Dan nggak akan pernah jadi nyata!"
"Terus kenapa mellow gitu? Risih tahu nggak pagi-pagi lihat muka asem lo!"
"Yaudah nggak usah dilihat!" ngegas Zoya lantas membenamkan kepalasnya diatas meja. Argh! Sungguh hatinya sekarang sedang berantakan. Ingin mengeluh pun dia tidak bisa mengungkapkan. Atau, hanya karena egonya yang terlalu meninggikan kata gengsi?!
"Lagi datang bulan nih anak!"
"Enggak ya!" balas Zoya mendongakkan kepala.
"Berarti lagi kumat darah tingginya," celetuk Ayu yang semakin membuat wajah Zoya merah padam.
"Tahu lah! Tambah pusing gue disini."
Ketiga orang yang menatap cengo punggung Zoya yang perlahan hilang itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tingkahnya benar-benar seperti ABG labil. "Aneh ya. Dulu aja nolaknya mentah-mentah. Eh sekarang giliran ditinggal malah mencak-mencak. Gila emang!"
Masih ada tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi itu Zoya manfaatkan untuk sekadar membaca buku di perpustakaan. Meski keadaan hatinya buruk, tetapi kalau sudah dihadapkan dengan buku akan membaik. Namun sialnya ia salah mencari tempat. Bukannya menenangkan diri, malah semakin membuatnya seperti disiram air mendidih.
"Var, bagus yang mana? Ini atau ini?"
"Kalau dari judulnya sih, bagus yang ini. Soalnya lo suka misteri, kan?"
Zoya bisa melihat bahkan mendengar jelas apa yang dua sejoli itu perbincangkan dari balik rak buku. Sejak Varo memutus silaturahmi yang entah tanpa sadar kapan itu, membuat Zoya semakin tidak punya muka didepan Varo. Bukankah itu tidak masuk akal? Kenapa harus malu jika dirinya saja tidak mempunyai salah apa-apa. Tapi, kenapa bentangan jarak yang Varo buat seperti mencekiknya?
"Lo nggak mau ambil buku?"
"Ah- enggak lain kali aja."
Zoya terhenyak kaget kala kedua bola matanya bertubrukan dengan sepasang netra hitam kelam itu. Walaupun hanya dari celah-celah rak, keduanya hampir memahami ketertegunan masing-masing.
"Var, tolong ambilin yang itu dong!" ujar Inggit. Cewek yang Zoya kenal berada dikelas sebelas Ipa lima.
"Oh, yang ini?"
Inggit mengangguk sembari tersenyum. Kemudian menerima uluran buku yang baru saja Varo ambil dari rak bagian atas. Hingga atensinya beralih kearah Zoya yang sudah berjalan keluar perpustakaan. "Var!"
"Ha?"
"Kok bengong? Kenapa?"
"Eng- enggak. Udah itu aja yang mau dipinjam?"
"Iya ini aja dulu."
Varo mengangguk. Tersenyum tipis lantas keduanya melangkah ketempat guru yang bertugas.
Sedang dilain sisi, kedua langkah itu berjalan cepat. Tidak menghiraukan sapaan dari beberapa adik kelas. Menatap tajam kedepan sampai langkahnya terhenti dipinggir lapangan bola basket tanpa sadar. Hendak berbalik, namun urung kala teriakkan mengalihkan fokusnya.
"Zoy!"
"Pulang sekolah entar jangan pulang dulu ya!" ujar Arex setelah berada tepat didepan Zoya. Mengelap peluh yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. Zoya sampai mengernyit tidak paham dengan sepupunya itu yang sangat exited bermain basket sepagi ini. Belum apa-apa saja seragam Arex sudah basah kuyup karena keringat. Dasar jorok!
"Emang kenapa?"
"Bantuin gue buat kerjain tugas bahasa indonesia."
"Nggak! Kerjain aja sendiri," balas Zoya. Tubuhnya yang baru saja ingin melangkah itu kembali tertahan ketika Arex menghalangi tepat didepannya. "Plis bantuin ya ya ya! Gue nggak bisa kalau soal bikin cerpen. Lo kan pintar tuh kalau soal halu menghalu jadi-"
"Lo muji atau nyindir?!" seloroh Zoya sedikit berteriak. Sampai Arex saja mengelus dadanya sabar. "Ck! Lo kenapa sih? Lagi PMS ya?! Dari tadi jelek amat tuh muka."
"Arex!" kesal Zoya menatap tajam pemuda yang menyatukan alisnya bingung. "Masa bodoh lo mau ngomong apa. Gue nggak mau ya nggak mau! Titik! Bye!"
Arex berdecak kesal menatap punggung Zoya yang mulai mengecil dari pandangannya.
"Beneran lagi PMS tuh anak!"
...)( ...
Bulan Februari terlewati begitu saja. Tidak ada yang special, hanya ada perasaan yang terasa ambigu bagi Zoya. Dipertengahan bulan Maret, semua orang gempar akan berita virus corona yang sempat viral diakhir 2019 kini menjadi berita hot di Indonesia. Apalagi kabar lockdown yang tiba-tiba berhasil membatalkan ulangan tengah semester yang mereka hadapi. Banyak yang bersorak senang kala mengetahui ulangan dihentikan sejenak sampai dua minggu kedepan. Namun yang mereka kirakan tidak seperti apa yang dibayangkan.
Kata pemerintah pusat, hanya libur dua minggu. Tapi nyatanya apa? Bukan dua minggu. Tapi, dua tahun lamanya.
Langkah kecil itu terus terpacu seiring banyaknya langkah yang juga meraungi pijakannya. Ini adalah awal dimana tahun baru 2021 akan mereka sambut. Bahkan, mereka tidak menyangka selama tahun 2020 ini adalah tahun dimana kehidupan berubah. Tapi, bagi satu nyawa itu tahun ini adalah tahun yang sangat membosankan. Hingga hari ini, tepat memasuki akhir bulan Desember 2020 dirinya terpaksa memberanikan diri pergi ke Surabaya, sendiri. Dan jangan lupakan transportasi darat kereta api lah yang menjadi tujuan akhirnya. Dan itu adalah pertama kalinya.
"Astaga, ini gue beneran naik kereta? Sendiri?"
"Gimana nanti kalau nyasar, ya?" gumam Zoya memandang gelisah keluar jendela. Sekarang, dia sudah sedikit lega ketika menemukan tempat duduknya.
"Nggak apa-apa. Tenang aja Zoy, masih ada HP sama uang. Kalau nggak kayak gini, lo nggak bisa pulang."
Menarik napas dalam, lantas membuangnya secara perlahan. Bibir itu terangkat membentuk senyuman meski tidak terlihat karena masker yang menghalangi.
Dan ya, satu yang pastinya kalian ketahui. Bahwa semenjak virus mematikan itu menyerang- semua nyawa wajib memakai masker setiap keluar rumah.
Sedang dilain tempat, dua laki-laki itu saling diam dalam gemuruh pikiran masing-masing. Sampai cukup lama salah satu dari keduanya memecah hening. Menguarkan kata yang sempat menggantung. "Jadi, buku itu cuma iseng lo beli?"
Varo melirik buku yang berada diatas meja belajarnya. Keduanya kini sedang duduk ditepi ranjang milik Varo. Sedang Vero masih menatap penuh intimidasi kepada sang Kakak.
"Nggak tahu."
"Var! Gue serius!"
"Gue juga serius. Nggak tahu!"
"Ck! Jangan aneh-aneh Var."
Kedua tangan Vero tanpa sadar mengepal. Kembali menatap buku bewarna hijau itu. Lantas beranjak mendekat hingga tangannya meraih benda persegi itu.
"Kalau lo emang nggak ada niatan buat beli buku ini- mending dibuang aja."
Varo melotot. Spontan berlari kearah Vero, merampas buku yang beberapa bulan lalu ia beli. "Sembarangan main buang! Lo kira beli buku ini nggak pakai uang huh?!"
"Jadi, lo sengajakan beli buku itu?" tekan Vero.
"Iya. Gue sengaja!"
Ekspresi Vero benar-benar campur aduk. Antara marah dan kecewa sangat mendominasi. Hingga perlahan tatapannya berubah sendu. "Kenapa Var?"
"Nggak tahu," balas Varo enteng. Tanpa peduli wajah Vero yang hampir dibuat menangis. Bahkan, embun dibalik netra Vero kini semakin memburam.
"Bisa jawab pertanyaan gue selain jawaban nggak tahu?!"
Varo berdecak. Menatap tepat kedua mata Vero yang berkaca-kaca. Menarik napasnya dalam sebelum berujar lembut. "Maaf Ver, sekarang mungkin belum waktunya lo tahu apa yang ada dipikiran sama hati gue. Tapi, gue mohon- kalau suatu saat nanti pilihan gue bikin perasaan lo kecewa bahkan hancur...."
"...Plis, jangan pernah benci sama gue Ver."
"Termasuk itu nyakitin perasaan Mama?!"
Varo terdiam. Ada jeda sebelum anggukan kaku ia beri. Dan berhasil meloloskan setetes air mata dari pelopak Vero.
__ADS_1
"Bu-bukannya lo udah nggak suka lagi sama Kak Zo-"
"Bukan karena Kak Zoya," balas Varo cepat. Tatapannya begitu mantap membelah iris Vero yang kehilangan warnanya.
"Terus, kenapa-"
"Udah Ver! Gue nggak mau bahas ini lagi. Nggak usah mikir kejauhan dulu. Balik ke kamar lo!"
Sebelum langkah Vero berbalik, Varo sempat menggumamkan kata yang mampu membuat adiknya itu menggigit bibir dalamnya erat. "Perbedaan tidak akan pernah mengubah apapun, Vero."
Varo menatap lekat buku bewarna hijau yang bergambarkan bulan sabit itu. Lengkap dangan bahasa yang tidak lagi asing bagi Varo.
Tepat pukul empat sore Zoya tiba didepan rumahnya dengan jasa ojek online. Rumah dimana kedua orang tua juga kedua adiknya tinggal. Tepat setelah ia membuka helm, netranya menangkap sosok bertubuh tinggi itu mendekat dengan kursi roda yang dibawa.
"Ayah!"
Keduanya saling membalas senyum. Bahkan Zoya bisa melihat wajah kaget dari Ayahnya. Jelas, karena kepulangannya tidak ia beritahukan kepada Ibu maupun laki-laki paruh baya itu.
"Loh, kamu naik apa kesini?!" tanya Ayah setelah Zoya mencium punggung tangan itu.
"Naik kereta."
"Ya ampun nak, kenapa nggak bilang kalau mau pulang? Kan bisa Ayah jemput. Nggak usah naik kereta sendiri, nanti kalau ada apa-apa dijalan gimana? Nggak ngomong lagi kalau mau pulang. Kan bisa Ayah jemput di stasiun," balas Ayah dengan wajah cemas.
Zoya tersenyum lebar mendengar kata-kata yang terselip akan kekhawatiran itu. "Enggak apa-apa Yah. Buat kejutan, toh Zoya baik-baik aja kan? Selamat sampai tujuan."
"Kamu itu. Berhasil bikin Ayah kaget lihat kamu tiba-tiba disini."
Ayah mengusap rambut Zoya yang tertutup hijab. Dan itu semakin membuatnya ingin menangis. Sungguh dia rindu, sudah hampir dua tahun dia tidak berjumpa dengan sosok pahlawan didepannya ini. Ingin sekali memeluk Ayahnya itu, tapi sedari dulu Zoya terlalu malu hanya sekadar memeluk. Tidak seperti adiknya yang pertama, lebih dekat dengan sang Ayah. Sedang adiknya yang kedua lebih dekat dengan sang Ibu. Mungkin, karena jarang bertemu bahkan tinggal tak seatap yang membuat perasaan canggung ataupun malu menjadi pembatas interaksi.
"Oh ya, itu kursi roda buat Uti?"
"Iya. Kasihan Uti kalau dikamar tidur terus. Jadi Ayah cariin kursi roda bekas tetangga sebelah. Udah nggak kepakai, suruh pakai aja katanya."
Zoya mengangguk. Tahu akan keadaan Nenek- Ibu kandung Ayah yang sudah satu tahun ini mengalami sakit bawaan orang tua. Umurnya bahkan hampir menginjak sembilan puluhan. "Yaudah ayo masuk!"
Keduanya melangkah memasuki rumah yang langsung mendapat sambutan dari ketiga orang beda generasi yang sama-sama melebarkan matanya. Ya, dia berhasil membuat satu rumah terkejut akan hadirnya. Puas sekali rasanya. Sampai malam tahun baru itu tiba, suara gelak tawa juga senyum dibibir tidak pernah luntur.
"Apa yang gue pikirin tentang Ayah dan Ibu selama ini salah.Semoga, tahun baru ini semakin mempererat kekeluargaan kita. Ayah, Ibu, kedua bocil yang nakalnya naudzubillah, sama Uti," gumam Zoya ditengah tengah gaduh yang dibuat kedua adiknya itu. Juga senyum kedua orang tuanya yang melihat demo antar saudara didepan mata.
"Perut Ayah akhir-akhir ini kok nggak enak ya," celetuk Ayah membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Nggak teratur makan ya, Yah?"
"Nggak teratur makan apa sih Zoy. Ayah mu itu nggak pernah telat makan. Makanannya aja banyak banget. Tiap malam apalagi, masih suka bikin ini itu padahal tadi sorenya juga udah makan sepiring penuh," balas Ibu.
"Nggak enaknya gimana, Yah?"
"Kayak diremas remas gitu. Sakit lah pokoknya," balas Ayah sembari menepuk nepuk perutnya.
"Coba minum obat magh. Milanta kalau nggak promagh."
"Udah. Tapi masih nggak ngaruh apa-apa."
"Makanya jangan ngerokok Mas!"
"Tahu tuh Ayah, suka banget ngerokok. Padahal baunya aja nggak enak," sahut Ivel- anak kedua. Lebih tepatnya, anak kesayangan Ayah.
"Nah itu juga bisa jadi."
Zoya terkikik geli melihat raut wajah Ayah yang berubah masam.
Sudah waktunya Zoya kembali pulang setelah satu minggu penuh ia habiskan bersama keluarga kecil itu. Matanya tak pernah lepas dari pergerakan Ayah yang memasukkan sebotol air mineral kedalam tasnya. "Nanti kalau sudah sampai kabarin ya."
"Pasti," balas Zoya sembari mengangguk.
"Hati-hati dijalan. Sana masuk! Ayah tungguin sampai naik kereta."
"Pulang duluan aja Yah nggak apa-apa."
"Udah sana! Tuh pada chek in."
"Yaudah Zoya pamit pulang ya Yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah mencium punggung tangan Ayah, Zoya beranjak kedalam. Tepat ditempatnya berpijak, kedua pasang netra itu masih bisa saling bertemu. Karena ruang stasiun yang tanpa dinding pembatas itu masih bisa terlihat dari luar. Bahkan saat kereta itu datang, Ayah bisa melihatnya. Hingga tatapan keduanya harus terpaksa terputus. Namun, Zoya merasa ada yang aneh dengan tatapan Ayah ketika menatapnya. Tidak ada senyum perpisahan. Hanya ada pandangan kosong yang entah mengapa membuat perasaan Zoya tidak enak. Tatapan itu, tidak seperti biasanya. Atau hanya perasaan Zoya saja yang belum siap kembali berpisah? Entahlah.
"Zoya! Kenapa nangis?" tanya Nenek mengambil tempat duduk disebelah Zoya.
"Besok Zoya ke Surabaya lagi ya Nek."
"Ngapain? Kemarin udah dari sana juga. Nggak tahu kondisinya sekarang ya? Jangan sering keluar kota dulu. Mentang-mentang stasiun nggak di lockdown bukan berarti Virusnya udah ilang," cerocos Nenek.
"Ayah sakit."
Dua kata itu berhasil melebarkan kedua mata Nenek. Lantas mengernyitkam dahinya seakan bertanya penjelasan yang lebih rinci. Namun, suara Zoya yak kunjung keluar. "Sakit apa?"
"Hepatitis B."
...)( ...
Tanpa sadar sudut bibir itu terangkat. Seperti tersenyum miris. Menyadari bahwa kali ini hidupnya terasa berantakan. Mungkin menertawakan dirinya sendiri. Disini, tempat dengan banyaknya lalu lalang orang dengan tas besar disetiap tangan mereka- itu menjadi pemandangan yang sering kali dilihatnya. Entah sudah berapa kali dirinya bolak balik ketempat ini. Dan satu alasan hanya karena sosok pahlawannya yang kini berjuang. Sungguh, Zoya tidak pernah berfikir setelah satu minggu lalu dirinya pulang dan hari ini dia harus kembali pulang kerumah kedua orang tuanya. Karena kabar duka setelah Zoya pulang tepat satu hari itu- kabar kematian Utinya ia dapati. Namun, saat itu Zoya tidak bisa langsung ke Surabaya karena sekolah offline mulai berjalan. Hingga baru hari ini- tepat tujuh hari sang Nenek Zoya baru bisa berkunjung.
"Capek Nak? Langsung bersih-bersih dulu ya. Sekalian dicuci bajunya."
Zoya mengangguk. Melewati Ibu yang sedang meracik bumbu. Lantas masuk kedalam kamar mandi. Perjalanan yang sangat melelahkan. Mungkin bisa Zoya hitung selama tiga bulan ini dia sudah tiga kali menginjak kota Surabaya. Jika saja tidak ada sekolah online, mungkin sekarang dia tidak bisa bolak balik Jakarta-Surabaya.
"Zoya, sampai kapan disini?" tanya Ibu ketika Zoya keluar dari kamar mandi.
"Mungkin setu mingguan Bu. Toh masih sekolah Online."
Ada hening yang keduanya biarkan. Sampai suara Zoya kembali mengalun. Menghentikan pergerakan sang Ibu yang sedang mengaduk sayuran. "Em- kemarin hasil USG nya bagaimana Bu?"
Raut wajah Ibu seketika berubah. Dan hal itu membuat detak didalam sana semakin menjadi. "Bu, gimana?" tanya Zoya sekali lagi.
"Sekarang udah ke Hepatitis C."
Seperti ada tangan yang tak kasat mata meremas dada Zoya. Menatap kedua iris Ibu yang juga menatapnya lelah. Entah, kenapa Zoya merasa ada yang Ibu coba sembunyikan. "Terus kata Dokter harus apa? Nggak perlu nginap di rumah sakit aja Bu?"
"Enggak perlu sampai menginap. Ini masih menunggu hasil tes darah sama USG lagi."
"Kenapa harus USG lagi?"
"Ibu juga nggak paham. Katanya biar tahu perkembangannya. Sudah jangan bahas ini dulu, kamu beresin baju kamu dulu gih!"
Zoya menghela napas berat. Ibunya selalu seperti itu jika diajak membahas perkembangan penyakit Ayahnya. Sempat Zoya mengintip dari luar kamar Ayah ketika melewati. Semenjak Ayah divonis penyakit Hepatitis yang awalnya ditahap B sampai sekarang ditahap C- Zoya bisa merasakan perubahan drastis dari perkembangan Ayah. Berat tubuh itu mulai menurun, bahkan saat ini untuk berjalan saja susah.
"Cepat sembuh, Yah."
Hari mulai gelap. Setelah acara pengajian tujuh harian itu selesai, rumah kembali sepi. Semua keluarga terdekat pun juga mulai pulang satu persatu. Menyisakan Ibu yang berada diruang tamu sendiri. Tanpa sadar anak sulungnya itu sudah berada disampingnya. Melihat bagaimana jari lincah Ibu menscrol layar gawai. Dan detik setelah Zoya membaca apa yang sedang Ibunya itu cari, detik itu juga getar didadanya mendadak tidak normal.
"Eh Zoya, udah selesai cuci piringnya?" tanya Ibu ketika menyadari anak itu berada disamping. Dan segera mematikan gawai yang malah membuat Zoya semakin curiga.
Dengan seulas senyum Zoya mengangguk. "Yaudah Ibu mau kedapur dulu. Kalau mau tidur, tidur aja dulu ya."
Sepergian Ibu, Zoya masih terdiam. Memikirkan kenapa sang Ibu mencari tentang penyakit kanker hati di internet. Dan tidak mungkin bukan jika Ibunya itu mencari hal yang tidak ada alasannya?
"Nggak mungkinkan?" lirih Zoya tanpa sadar kedua bola matanya memanas. Meremas ujung bajunya sembari merapalkan doa, agar apa yang sempat terlintas dalam pikiran buruknya tidak menjadi nyata.
Namun Zoya dengan perkiraan buruknya itu ternyata menjadi kenyataan. Ketika sepulang dari chek up sang Ayah, kedua netranya itu tak henti mengeluarkan air mata. Setelah penjelasan sang Ibu membuat dunianya seakan hancur detik itu. Kembali mengingat keluhan sang Ayah waktu tahun baru. Keluhan yang sudah mendapat jawaban sekarang.
"Mbak, kenapa nangis?"
Zoya menoleh, mendapati adik kecilnya- Mela sudah disamping. Beralih menatap Ayah yang terpejam, terlihat tidak nyaman dengan kerutan didahi. "Enggak nangis kok."
"Bohong! Itu ada air matanya," celetuk bocah yang masih duduk dibangku SD kelas lima.
"Cuma kelilipan. Udah sana kamu makan sama Ivel."
"Tunggu mbak aja, nggak mau sama Ivel."
"Masih aja ya kamu, nggak pernah akur sama mbaknya sendiri."
"Dianya nyebelin!"
"Emang kamu nggak?"
"Ih apaan sih mbak. Enggak ya! Udah ayo makan dulu!"
Zoya pasrah kala tangannya ditarik oleh Mela. Setelah acara makan selesai, langkahnya ia bawa memasuki kamar Ayah. Disana juga ada Ibu yang sedang mengecek berkas-berkas Chek Up Ayah hari ini. "Bu, adik nggak tahu soal ini?"
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
__ADS_1
"Ya, cuma nanya aja. Tapi mereka juga nggak nanya soal sakit Ayah."
"Kata siapa? Ya mereka nanya kok, tapi waktu pas awal aja. Dan mereka juga tahunya Ayah sakit lambung. Itu aja Ibu harus bohong."
Zoya menghembuskan napas berat. Ingin sekali mengenyahkan pikiran buruk yang selalu menghantuinya disetiap saat. Tapi, kenyataan yang ia ketahui membuat semuanya buyar. Kembali berpikir apakah ada penyakit yang diderita sang Ayah, ada yang menemui titik kata sembuh?
"Kata Dokter berapa lama Bu?"
Lirih suara Zoya itu masih bisa Ibu dengar. Bahkan pertanyaan yang terdengar ambigu itu masih bisa Ibu artikan. "Kamu tahu jawabannya. Bukannya kamu anak Ipa, ya? Masa nggak tahu sih?" balas Ibu sembari tertawa pelan. Dan Zoya tahu itu bukan tawa bahagia. Yang bisa ia dengar adalah tawa keputus asaan Ibu. Bahkan dari sorot matanya saja membuat hati Zoya kembali terkoyak.
Stadium akhir. Empat sampai enam bulan mungkin, batin Zoya.
"Udah jangan nangis. Doain aja ada keajaiban," ujar Ibu sembari menghapus setetes air mata yang tidak sadar keluar dari pelopak matanya.
Sudah satu minggu, dan sekarang Zoya kembali pulang kerumah Nenek. Membuat pertanyaan besar bahkan cercaan dari keluarganya yang ada disana. Seperti disidang, Zoya harus dihadapkan dengan tiga orang yang menatapnya penuh intimidasi.
"Sebenarnya Ayah kamu sakit apa Zoy?" tanya Tante- Mama Arex yang sedari tadi mendesak. Tidak hanya Mama Arex, Nenek juga Arex sendiri sudah muak dengan diamnya gadis itu.
Zoya menarik napas dalam sebelum membalas yang kemudian membuat ketiga orang dewasa disana membeku.
"Kanker hati."
...)( ...
Memasuki bulan april adalah awal dimana bulan ramadhan mereka sambut. Sudah hampir dua minggu mereka menjalani puasa. Keadaan semakin buruk ketika lonjakan pasien covid-19 bertambah banyak. Dan itu berdampak kepada pembelajaran yang masih dalam jangka daring.
Pagi gadis itu terusik kala suara panggilan dari luar rumah membuatnya terpaksa bangun dari tidurnya yang baru saja terpejam. Hingga langkah gontai ia bawa menemui anak dari adiknya Nenek yang sudah berada didepan rumahnya. "Ada apa Mas?" tanya Zoya dengan suara seraknya.
"Dari tadi ditelepon Ibu loh. Kenapa nggak diangkat?"
"Hah? Nggak tahu. Belun buka HP."
"Yaudah buka sekarang. Penting katanya."
"Ah, iya makasih."
Zoya dengan segera mengambil gawainya. Lantas membuka data internet. Dan benar saja, sudah banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Ibu dan juga adiknya- Ivel. Baru saja ia akan kembali menelpon balik, tapi urung kala gawainya berdering lebih dulu. Nama sang Ibu lah yang tertera dilayar pipihnya.
"Halo?"
"Zoya sekarang pulang ya Nak. Naik Bus aja kalau tiket keretanya nggak ada."
Zoya mengernyit mendengar suara Ibu yang terdengar serak. Seperti habis menangis. "Ada apa Bu? Kok tiba-tiba banget?"
"Udah jangan banyak tanya! Pulang sekarang juga ya. Naik Bus aja."
"Aduh Bu Zoya nggak berani naik Bus. Kenapa kok suruh Zoya pulang? Ada apa?"
"Pulang Zoya! Kamu nggak kasihan sama Ayah?"
"Emang Ayah kenapa?"
Terdengar suara hela napas dari seberang. Zoya semakin kalut. Pasalnya besok hari senin, dan dia mendapati bagian masuk sekolah offline. Tapi disisi lain perasaannya tidak enak.
"Udah ya, Ibu mohon Nak pulang!"
"I-iya Zoya pulang sekarang," final Zoya. Tanpa pikir panjang dia segera membersihkan diri. Dan untuk pertama kalinya, Zoya memberanikan diri naik Bus. Hanya dengan modal sisa-sisa keberaniannya gadis itu sudah berada didalam Bus. Semoga, semuanya akan baik-baik saja.
Perasaannya cemas, sepanjang perjalanan terasa semakin jauh. Hingga ia membuka rang obrolannya bersama Lia. Ingin sekali meluapkan semuanya kepada sahabatnya itu. Namun, setelah mendapat balasan dari sang empu semuanya sirna. Dan kembali ia berusaha memendamnya sendiri.
^^^Lia ^^^
Bestiee [ Iya, Zoy? ]
^^^Ah, nggak jadi ^^^
Bestiee [Kebiasaan, ada apa? ]
^^^Beneran, nggak jadi ^^^
Bestiee [Soal kapal nanggal ya? ]
...(Awalnya aja ya, masih ada chtnya^)...
Zoya sempat tertawa kecil membaca pesan Lia. Kenapa menjadi ke topik kapal yang masih panas itu? Tenggelamnya kapal KRI nanggala memang sempat mereka bahas malam harinya, mungkin itu yang membuat Lia kembali menerka ketopik semalam.
Sesampainya dirumah, Zoya langsung bertemu dengan Ibu diteras. Dan langsung menyuruh anak itu masuk kedalam kamar Ayah yang sudah ada Ivel disana. Entah adik satunya lagi kemana. Yang Zoya tangkap sekarang hanya suara napas Ayah yang terdengar berat. Juga adiknya yang berada disebelah dengan isak tangis. Melihat itu semua tidak khayal meluruhkan tetes demi tetes air mata dari kedua sudut mata Zoya. Dadanya sesak melihat sang Ayah bernapas dengan susah payah. Matanya terbuka, tapi pandangannya terasa kosong.
Tidak ada sepatah kata yang Zoya keluarkan. Mengambil tempat disebelah sang adik. Lantas membisikkan kalimat-kalimat tasbih tepat ditelinga sang Ayah. Bersama buliran bening yang tidak mau berhenti itu.
"Bu, nggak kita bawa Ayah ke rumah sakit aja?"
Ibu diam sejenak. Mungkin yang Ibu pikirkan sekarang sama seperti Zoya. Hanya dengan melihat kondisi Ayah yang sudah seperti ini, apakah rumah sakit bisa menolong?
"Nanti kita lihat dulu. Kalau masih kayak gini, baru kita bawa ke rumah sakit. Kamu tahu kan Zoy, ibu takut kalau kita bawa ke rumah sakit dalam kondisi covid kayak gini bakal tambah runyam."
Hari menjelang petang. Dan keadaan Ayah masih saja sama. Napas yang terdengar menyakitkan itu membuat Zoya semakin tak karuan. Tidak, ini bukan akhir dari semuanya. Selama ini Zoya sudah bolak balik untuk menemani Ayah jika Ibunya bekerja. Dan Ayah tidak akan secepat itu untuk menyerah bukan?
Setelah berbuka puasa selesai, semua berkumpul didalam kamar Ayah. Kedua adik Zoya pun ikut menemani disana. Suara napas berat yang keluar dari mulut Ayah semakin keras. Semuanya menangis dalam diam. Sembari terus membatu Ayah yang sedikit-sedikit bisa mengikuti tuntunan bacaan tahlil dari Ibu.
Berulangkali Zoya menghapus air matanya. Berusaha kuat didepan kedua adiknya yang sudah terisak hebat. Ibu terus membacakan kalimat tahlil itu, tanpa sadar perlahan kedua mata Ayah tertutup bersamaan tiga hembusan terakhir yang tidak lepas dari pandangan Zoya. Dan detik itu, Zoya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menahan jeritan yang hampir saja terlepas. Berulangkali Ibu memanggili Ayah, namun mata itu tidak lagi terbuka. Tidak lagi mendapat respon. Tidak ada lagi suara napas yang terdengar seperti orang mendengkur. Sekarang ruangan itu benar-benar dipenuhi raungan tangis yang tidak lagi bisa ditahan.
Hari ini, tanggal 25 april 2021 pukul 18.00, dimana tepat hari ke empat puluh sang Nenek pergi- Ayah juga ikut pergi. Menyusul Ibunya ketempat yang lebih tinggi. Menutup mata untuk selamanya. Meninggalkan semua kenangan. Menorehkan kata kehilangan yang teramat dalam.
Zoya kira, dia yang paling kuat dari Ibu dan kedua adiknya. Bahkan Ivel yang paling menjadi anak kesayangan Ayah sekalipun. Ternyata, setelah beberapa hari dugaannya salah. Zoya merasa sekarang dirinyalah yang pantas menyesal. Menyesal karena tidak sempat menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang Ayah. Bahkan selama ini memeluk Ayah pun hampir tidak pernah dia rasakan. Zoya menyesal, menyesal tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya. Tapi, dia sangat bersyukur masih bisa bersama sang Ayah selama empat bulan terakhir ini. Empat bulan yang terasa singkat. Merawat Ayah, juga sempat tidur bersama Ayah. Menyuapi Ayah setiap hari, hal yang tidak pernah Zoya lakukan. Dan semua kenangan itu tidak akan pernah hilang ditelan waktu.
Terima kasih Ayah. Sudah menjadikan Zoya kuat diakhir keputusasaan menghadapi cobaan di awal tahun 2021 ini.
...)( ...
Gadis itu kembali dihadapkan dengan pahitnya kehilangan. Disini, dibawah langit sore, Zoya menaburkan bunga diatas gundukan tanah yang baru saja menenggelamkan jasad keluarganya. Setelah Ayah pergi, selang dua bulan adik laki-laki Nenek yang juga berada disurabaya ikut meninggalkan dunia ini. Dan sekararang, adik perempuan Nenek yang juga ikut pergi. Peremouan paruh baya yang sudah Zoya anggap sebagai Neneknya itu pergi selamanya. Ya Tuhan, kenapa tahun ini sangat menyakitkan? Kenapa kabar kehilangan selalu menyapanya? Sudah berapa kali dalam enam bulan ini Zoya dengar kabar duka dari keluarga terdekatnya?
"Cukup, jangan lagi."
Tapi nyatanya, Tuhan sedang menghancurkan mentalnya secara perlahan. Beberapa bulan kedepan, tepat dibulan September- Zoya kembali mendengar kabar duka. Ternyata, mimpi yang pernah ia alami itu sebuah pertanda. Pertanda yang akan menjadi nyata.
Tanggal 28 September ini, satu nyawa itu menyerah. Memilih pergi untuk selamanya.
"Tahun ini, sungguh berat bagi gue Var. Kenapa lo juga tega hancurin mental gue kayak gini?"
"Maaf. Maaf untuk semuanya Alvaro."
Tetesan cairan bening itu lagi-lagi lolos. Hingga pandangannya memburam, menatap batu nisan berbentuk salib dengan goresan nama Alvaro Genandra disana.
Luka direlung hatinya yang belum sempurna tertutup, kali ini semakin terbuka lebar. Hanya satu kata yang ia benci ditahun 2021 itu. Yaitu, kematian.
Kenapa? Kenapa harus ada pertemuan jika akhirnya semenyakitkan ini? Ia benci akan kehilangan. Apalagi, kehilangan dengan sekat kematian.
"Sekarang lo bisa ketemu sama Ayah gue disana Var. Tolong sampaiin rasa sayang gue ya. Bodoh emang, selama ini gue nggak pernah bilang kalau gue sayang banget sama Ayah. Cuma karena malu. Lucu emang."
Dua hari lalu, Zoya baru mengetahui bahwa Varo menderita penyakit jantung. Mengetahuinya sendiri dari anak itu. Zoya sendiri seperti dihantam kembali oleh ombak yang menenggelamkannya dalam kegelapan. Setelahnya, semua benar-benar gelap.
Hampir gila rasanya kala satu tahun itu hanya dihadapkan dengan rasanya kehilangan yang mencekiknya. Sampai Zoya kembali bangkit dengan melampiaskan semuanya pada tulisan. Hingga tahun berganti, hanya ada satu harapan. Semoga, tahun ini tidak akan ada lagi kabar kematian. Maupun kehilangan.
...♡♡♡...
...⚠️⚠️⚠️...
...Aku percepat alurnya di real. Selesai sudah perjalanan Zoya dan Varo ditahun 2021. Sekarang, biarkan Author menceritakan kisah mereka secara abadi. Dalam imajinasi author....
...Jadi, selama ini kita menceritakan sosok yang sudah tiada? Iya, itu benar. Tapi namanya tidak akan pernah tiada dengan adanya book ini....
......⚠️⚠️⚠️......
...Siap menyambut keduanya di tahun yang baru? Didunia yang baru?!...
...Ada yang mau kalian sampaikan? Luapkan dikolom komen sebanyak banyaknya. ...
...AUTHOR UCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK ATAS DUKUNGAN KALIAN SELAMA INI. LOVE ALL FRIENDS❣...
...Banjir banget aku nulis chap terpanjang sepanjang 41 chap ini. 4000+++ kata🔥🔥🔥...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
__ADS_1