
...Sebaik apapun kamu, jika mereka tidak menyukaimu percuma saja. Karena, apa yang kamu lakukan dimata mereka akan selalu salah....
Mega diatas sana terbentang begitu indah. Pagi dengan awal cuaca yang sangat indah itu tak membuat salah satu dari sekian banyak manusia ikut merasakan indahnya angkasa diatas sana. Berulang kali rasa gelisah itu berusaha ia enyahkan, namun tetap saja. Sepertinya Dewi Fortuna hari ini sedang tak berpihak pada dirinya.
"Udahlah Zoy jangan terlalu dipikirin kayak gitu."
"Gimana bisa sih Lia?."
Zoya menarik napas dalam, mencoba meredakan gejolak yang semakin membuncah didalam dadanya. Bahkan, angin Rooftoop itu tak bisa mendinginkan pikirannya sekarang. "Gue percaya lo paham sama gue, tapi..."
"...Belum tentu mereka bisa percaya begitu aja sama gue!."
"Banyak kok yang percaya sama lo."
"Siapa? Coba sebutin, siapa?," balas Zoya cepat, tanpa sadar meninggikan suaranya. Ah, sudahlah. Ia sudah muak dengan kejadian tadi pagi.
Bagaimana bisa dompet Siska ada dilokernya? Padahal ia sama sekali tak pernah mengambilnya dari tas Siska. Namun, kenyataan yang ada didepan mereka lebih membuat semua orang termakan oleh apa yang mereka lihat tadi. Bisik-bisik tentang dirinya yang nencuri dompet itu kembali berdengung. Sangat memuakkan.
"Cuma lo doang, kan yang percaya?."
"Nggak Zoy, Kak Hariz sama Kak Joy percaya kok kalau lo nggak nyuri itu dompet. Dan nggak mungkin lo lakuin itu."
"Hah, lo bilang mereka percaya?."
Zoya tertawa lirih. Kembali menghirup udara siang itu dalam-dalam. Sebelum kemudian berujar setengah putus asa. "Kalau pun mereka percaya, kenapa nggak bela gue tadi? Mereka diem aja tuh."
"Ya mungkin-."
"Udahlah, nggak usah bahas ini lagi. Pusing gue."
Keduanya saling diam cukup lama hanya untuk memandangi lalu lalang siswa yang ada dibawah. Sedang dilain tempat, Fathur dengan segala ocehannya itu mampu membuat Reihan bungkam. Menjadi pendengar baik akan lebih menguntungkan kali ini. Karena, topik yang mereka bahas menyangkut Kakak senior yang sedang sahabatnya taksir. Siapa lagi kalau bukan Zoya.
"Be- benaran itu Kak?."
Fathur membuang napas lelah sebelum mengangguk mantap. "Gue denger dari temen gue yang ikut pramuka inti. Tadi pagi sih katanya kejadiannya."
"Waahh makasih Kak infonya," balas Reihan lantas menepuk dua kali bahu yang lebih tua sebelum melenggang pergi menuju kelasnya.
Sesampai kaki itu memijak lantai, netranya langsung mencari sosok yang ia tuju. Hingga lari kecil Reihan bawa menuju bangku paling belakang. Dimana sahabatnya itu sedang asyik bermain game digawainya.
"Var, gue bawa berita ternews nih!."
"Apa?," balas Varo masih enggan mengalihkan netranya pada benda pipih itu.
Reihan mendengus, dengan sekali tarikan Hp itu beralih dalam genggamnya. "Apaan sih Rei! Tuh kan game over," teriak sang empu.
"Heh! Dengerin dulu gue mau cerita tentang crush lo."
Detik itu, Varo memperbaiki duduknya tepat menghadap Reihan. Hingga tatap keduanya bertemu dalam garis lurus.
"Apa? Kenapa, berita apa?."
Varo meludah kecil kala tangan Reihan mengusap kasar wajahnya. "Asin Rei tangan lo!."
"Makanya diem dulu, biar gue jelasin."
Reihan mulai menjelaskan persis seperti yang Fathur ucapkan. Sedang Varo menjadi pendengar yang baik, namun setelahnya raut wajah itu setengah terkejut. "Lo serius, Rei?."
"Serius! Tapi, gue nggak seratus persen percaya sih."
Reihan berteriak kala sahabatnya itu melompat dari kursi meninggalkannya tanpa sepatah kata. Entah kemana kaki itu ia pacu. Namun setelah berada diambang pintu tetangga kelasnya, tubuhnya terdiam dengan sepasang netranya menatap Laila yang juga menatapnya heran.
"Ngapain lo lari-lari?."
"I- itu Kak, apa namanya-."
"Ya apa?."
Varo cengengesan, membuat kerutan dalam dikening Laila. "Oh, mau cari Zoya?."
"Nah," balas Varo sembari menjentikkan jarinya.
"Ck, nggak ada disini dia. Ntar aja kalau mau ketemu pulang sekolah."
"Yah, nggak bisa sekarang aja? Emang Kak Laila nggak tahu di mana Kak Zoya?."
"Kalau gue tahu udah gue kasih tahu dari tadi!."
"Gini aja Kak, bilangin sama Kak Zoya ditunggu Varo ditenda biru. Oke?!."
Laila hanya berdehem, lantas menggerakkan telapak tanganya dengan gerakan mengusir. Adik kelasnya itu tersenyum lebar, melangkah mundur kemudian berbalik menuju kelasnya.
...)(...
Suara riuh disekitar tak mengalihkan atensi kedua mata itu kepada lalu lalang orang didepannya. Jam masih menunjukkan pukul empat sore, namun sosok yang ditunggu lima belas menit terakhir tak kunjung tertangkap netranya. Hingga helaan napas lelah menguar begitu saja. Mengamati sekeliling dimana para orang tua itu terlihat bergurau senda ditemani secangkir kopi. Sampai bibir itu tertarik kesamping kala orang yang ditunggu tiba.
"Udah lama?."
"Enggak kok, duduk Kak," balasnya tersenyum semakin lebar, membuat mata itu berbentuk sabit.
Keduanya saling diam. Sebelum sesaat suara cowok itu mengalun begitu tenang. "Kak Zoya udah makan siang?."
"Belum."
"Langsung ngomong aja, gue belum shalat ashar," lanjutnya.
Cowok itu menggaruk tengkuknya. Bimbang, mulai bicara dari mana agar Kakak kelasnya itu tidak tersinggung.
__ADS_1
"Emm itu Kak, soal-."
"Soal dompet itu?," potong Zoya.
Hendak Varo mengeluarkan suaranya, namun urung ketika suara Zoya kembali menguap. "Nggak usah ikut campur soal itu. Dan lo nggak perlu tahu juga."
"Bukannya Varo mau ikut campur, tapi-."
"Tapi apa?."
"Varo yakin bukan Kak Zoya yang naruh itu dompet-."
"Langsung bilang nyuri itu uang aja, nggak usah bertele tele Varo! Gue juga nggak bakal tersinggung kok kalau itu yang lo takutin. Karena emang bukan gue yang nyuri itu uang."
Lagi, bibir Varo kembali tertutup kala suara Zoya memotong. "Iya Kak. Varo ngerti, tapi masalahnya disini kenapa dompetnya bisa ada diloker Kak Zoya?."
Ada hening diantara keduanya. Hening yang membuat pikiran keduanya berkelana. Benar, apa yang diucapkan Varo memang benar. Tidak mungkin kan dompet itu bisa berjalan sendiri kedalam loker Zoya?
"Lalu, siapa yang naruh dompetnya diloker gue?."
"Nah, itu yang harus kita cari tahu Kak."
Zoya menunduk dengan lipatan dalam didahinya. Apa mungkin ada orang yang berani mengerjainya sampai seperti ini?
"Kak!."
Zoya mendongak, menatap Varo dengan sebelah alis terangkat seakan bertanya apa?
"Akhir-akhir ini Kak Zoya ada masalah sama siapa?."
"Masalah?."
"Iya, coba pikir dulu deh Kak. Pernah nyinggung atau punya masalah sama teman Kak Zoya di Pramuka gitu?."
"Ck, gue nggak pernah punya masalah sama orang."
"Musuh? Ada nggak?."
Refleks Varo mengaduh kala tangan gadis itu menampar lengannya hingga bunyi nyaring sedikit mengalihkan atensi orang yang ada disana. "Aduh sakit Kak," keluh Varo mengelus lengannya.
"Biarin. Dibilang gue nggak pernah punya masalah apalagi musuh!."
"Semua cewek sama aja ya. Apa-apa suka main tangan," lirih Varo yang masih bisa Zoya dengar.
"Oh, jadi cewek lo juga suka main tangan? Iya?."
"Cewek? Siapa, Varo nggak punya cewek."
"Halah ngeles!."
"Var-."
Zoya terdiam kala terlintas kejadian dimana saat Hariz mengungkapkan perasaannya. Nggak mungkin kan jika dia pelakunya? Hanya karena Zoya tak membalas pengakuannya waktu itu?
"Kenapa Kak?."
"Udah tahu siapa kemungkinan yang lakuin itu?."
Zoya mengerjap berulangkali. Tidak itu tidak mungkin. Hariz yang Zoya kenal itu orangnya sangat baik. Bahkan terkenal pendiam juga orang yang alim.
"Nggak mungkin."
"Hah, nggak mungkin apa?."
Zoya menggeleng. "Nggak, udah gue mau pulang."
"Eh, tunggu Kak!."
"Apa lagi?."
"Varo nebeng ya," balasnya tersenyum lebar-lebar.
...)(...
Decitan pintu kayu yang terbuka itu megalihkan fokusnya. Hingga sosok yang berwajah sama dengannya itu melangkah mendekat. Namun, beberapa detik selanjutnya tatapan sinis ia layangkan pada saudara kembarnya itu.
"Ck, santai aja tuh muka. Untung ada yang sayang, kalau nggak gara-gara tuh cewek juga gue ogah jadi pacar boongannya," ujar Varo lantas duduk diatas meja belajar Vero.
"Terus mau kalian apa?."
"Bukan gue sih yang mau. Tapi Jeslyn noh yang mau cepet-cepet jadi pacar adek gue yang paling judes ini!."
"Gue nggak suka sama dia," balas Vero dingin.
Detik itu nyaring tawa Varo menggema memenuhi sudut kamar Vero. Bahkan, suara jangkrik diluar tak lagi bisa menembus diding dinding itu.
"Bener mggak suka? Kalau gue pacaran beneran sama dia, gimana? Yakin nggak bakal sinis ke gue?."
Vero mendesah kasar, menatap tajam ke arah Abangnya itu. "Pergi! Nggak usah ganggu."
"Yaelah, gengsi kok ditinggiin. Nanti keburu dibawa orang tuh si Jeslyn. Sama-sama demen juga."
Vero melotot tajam, lantas menimpuki tubuh Varo dengan bukunya. Sampai sang empu melompat dari tempatnya semula.
"Iya-iya gue pergi! Dasar adek kurang ajar lo," ujarnya sembari mengelus lengannya.
Setelah tubuh itu menghilang ditelan pintu barulah suara hela napas kasar keluar dari mulut Vero. Mengusap wajahnya kasar. Sial, dia sudah dipermainkan oleh dua manusia itu.
Hingga menit selanjutnya tangan Vero bergerak lincah diatas layar gawainya. Mengetik beberapa kata yang langsung menampilkan cara-cara paling romantis menembak cewek. Ah, otaknya itu ternyata hanya diisi oleh banyaknya rumus pelajaran. Sampai-sampai tak sanggup memikirkan cara yang romantis mengungkapkan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Dilain sisi, Varo mendesis kala nyeri hebat itu menyerang dadanya. Juga debar hebat didalam sana membuat mata itu terpejam erat. Tangannya sudah bertumpu pada nakas jika saja tubuhnya tidak oleng. Jari jemarinya meremat dadanya yang berbalut kaos tipis, namun percuma. Debar dan nyeri didalam sana masih bisa ia rasakan.
"Aarrgghhh..."
Tubuhnya terduduk kala nyeri itu perlahan merambat ke lengan hingga belakang lehernya. Namun, beberapa detik setelahnya rasa itu menghilang begitu saja. Hingga napasnya kembali teratur.
"Apa itu tadi," gumamnya.
...)(...
"Sarapan dulu Varo," seru Miranti dari meja makan. Langkah ringan itu membawanya tepat disamping Vero yang sudah menyantap sarapannya pagi ini.
"Mau nasi goreng atau roti sayang?."
"Roti aja Mah."
"Papa mana?," lanjut Varo.
"Udah berangkat pagi-pagi tadi. Ada meeting katanya."
"Nih habisin!," lanjut Miranti menyodorkan dua lapis roti yang sudah diolesi selai.
"Makasih mah."
Namun, belum sempat roti itu masuk kedalam mulutnya...Gejolak aneh itu terasa berputar didalam perutnya. Hingga rasa mual itu tak lagi bisa Varo tahan. Lantas kakinya ia pacu menuju wastafel yang ada disana.
"Ya ampun Varo kenapa?," ujar Miranti panik sembari memijit tengkuk Varo.
Kening itu mengernyit dalam kala perut kosongnya itu memuntahkan cairan bening. Hingga tangan itu beralih mencengkram dadanya kala debar hebat itu lagi ia rasakan.
"Lo hamil Var?."
"Hustt kamu itu ngaco deh Dek. Masa Abangmu hamil, ada-ada aja," sahut Miranti yang dibalas kekehan Vero.
Varo berusaha mengatur napasnya lalu kembali kekursi dibantu Miranti yang masih dengan raut cemas. "Kamu sakit Kak?."
Varo menggeleng lantas menuang air putih kedalam gelas. Ya, seperti kemarin. Detak jantungnya yang bertalu talu itu kembali normal setelah ia merasakannya beberapa menit, mungkin.
"Masuk angin ya? Makanya jangan sering begadang buat main game."
"Hm, cuma masuk angin aja kayaknya."
"Libur aja ya hari ini?."
"Nggak usah Mah. Ada ulangan harian hari ini."
"Tumben lo mikirin ulangan. Biasanya malah seneng kalau disuruh libur," sahut Vero kemudian meraih tasnya lantas mencium punggung tangan Miranti.
Varo tak meladeni ucapan adiknya itu. Mengikuti Vero mencium punggung Mamanya. "Kita berangkat dulu Ma."
"Loh nggak dimakan dulu ini rotinya?."
"Entar aja makan dikantin," teriak Varo berlari kecil mengikuti Vero yang sudah didepan.
...)(...
Terik matahari tepat diatas sana tak menghalangi para siswa siswi itu berlari mengelilingi lapangan. Hari yang cukup terik seperti ini yang menjadi boomerang bagi mereka yang mendapati jam olahraga disiang hari.
"Udahlah berhenti dulu, capek gue!."
"Baru tiga kali putaran aja. Lemah lo!."
"Istirahat dulu lah Var! Iya kalau nggak panas gitu kuat gue," balas Reihan masih berlari patah-patah dibelakang Varo.
Tak cukup lama setelah ucapan Reihan selesai, langkahnya terhenti ketika suara erangan didepannya terdengar memilukan. "Woy lo kenapa Var?!," panik Reihan ikut berjongkok didepan sahabatnya yang sudah terduduk dengan salah satu tangan memegang pergelangan kaki kanannya.
"Aduh sakit Rei! Kram kayaknya aarrgghh....."
"Tuh kan apa gue bilang, disuruh istirahat dulu aja nggak mau. Sok sok an kuat lo!."
"Makanya kalau pemanasan yang bener!."
"Jangan ngomel dulu! Sakit ini," teriak Varo.
"Lo kenapa?," tanya Vero yang baru saja datang. Hingga tak lama kemudian beberapa teman mereka ikut bergerombol.
"Kram kakinya. Bawa ke UKS aja," usul Reihan.
"Nggak usah AWWHH SAKIT REI!."
Pekikan Varo membuat teman-temannya bergidik ngilu. Tanpa banyak bicara, Vero meraih kedua tangan Varo hingga benar-benar mengalung dilehernya. Lantas, menggendong anak itu menuju UKS tanpa perlawanan. Karena, lagi dan lagi rasa aneh itu kembali Varo rasakan.
"Kenapa diem aja? Tambah sakit apa gimana?," tanya Vero mencoba menjangkau wajah Abangnya yang ada dibelakang.
"Ada yang aneh sama tubuh gue, Ver."
"Apa?."
Langkah Vero memelan kala suara seseorang melenyapkan pertanyaannya yang jelas tak ingin Varo balas. "Varo kenapa?."
...♡♡♡...
...Like👍...
^^^Tertanda^^^
__ADS_1
^^^Naoki Miki^^^